Friday, March 23, 2012

Refleksi Kondisi Air Jakarta


Memaknai Hari Air yang diperingati setiap 22 Maret, dimana tema tahun ini adalah Water and Food Security, ijinkan saya menyampaikan salam sejuk dan bening air untuk kita semua.

Kiranya dipundak kita ikut terletakan amanah dan sekaligus harapan dari masyarakat ibukota NKRI ini untuk masa depan pengelolaan yang lebih baik dari sumber daya air yang ada di DKI Jakarta ini. Tantangan yang terbentang dihadapan kita sungguh sangat berat. Mulai dari tingkat ketahanan air yang hanya 2,2 persen, kelangkaan air baku (97,8 persen tergantung suplai dari luar wilayah DKI), rendahnya cakupan layanan air perpipaan (baru sekitar 36 persen), sangat tingginya ekstraksi air tanah dalam (sekitar 0,89 juta m3/hari) sementara kemampuan mengimbuhkannya sangat jauh dari yang diambil yang pada akhirnya telah ikut menyebabkan laju turun muka tanah kita sangat ekstrim sekali (sekitar rata-rata 11 cm/tahun dan sepertinya tertinggi di dunia saat ini setelah Mexico City dan Bangkok pada abad lalu.

Dalam pengelolaan air limbah (baca: air bekas) DKI juga tertinggal jauh dari kota-2 lain di kawasan ASEAN. Kita baru mempunyai sistem sewerage yang baru mampu melayani sekitar 2,8 persen, sehingga tidak mengherankan kalau hampir 78 persen air tanah dangkal kita terkontaminasi bakteri E-Coli dan 13 sungai/kali di ibukota tercemar berat.

Dalam upaya mengendalian banjir, genangan, dan rob kita seakan berpacu dengan waktu. Upaya mengentasan titik genangan dan pembenahan sistem jaringan drainase mikro, makro, dan penghubung memerlukan investasi yang tidak sedikit dan harus berkelanjutan, karena potensi genangan baru dan dampak dari perubahan iklim serta kondisi cuaca ekstrim seakan mengejar kita. Kecenderungan naiknya muka air laut dan dampak dari land subsidence membuat sistem infrastruktur tanggul kita di pantura Jakarta terancam rob permanen pada beberapa titik/kawasan. Kondisi daerah hulu DAS dari 13 sungai yang melewati Jakarta cenderung memburuk sehingga menyisakan debit ekstrim (kecil pada musim kemarau dan sangat besar pada musim hujan) pada hampir semua sungai/kali kita.

Dalam sektor penyediaan air minum (baca: air bersih) tingkat kehilangan atau kebocoran air sangat tinggi (masih rata-rata 46 persen) dengan tarif air rata-rata nomor 3 tertinggi di Asia setelah kota-2 di Jepang dan Singapura. Saudara kita yang tinggal di RW 10 dan 17 di Penjaringan dan Kamal Muara terpaksa membeli air bersih dengan harga termahal di dunia (mencapai hampir Rp. 136.700/m3 atau setara USD 15/m3).

Izinkan saya menyampaikan fakta ini untuk mengingatkan diri kita semua sebagai pemangku kepentingan SDA di ibukota ini bahwa tantangan berat tersebut bukan untuk mematahkan semangat kita untuk berbuat maksimum dan terbaik bagi masyarakat yang harus kita layani, tetapi justru sebaliknya. Jika sejarah tidak akan mencatat kesungguhan kita dalam membenahi masalah SDA di ibukota ini, Sang Maha Pencipta pasti tidak akan luput mencatat dan membalas setiap kebajikan yang kita niat dan lakukan. InsyaAllah.

Siapa yang tidak memimpikan suatu saat kita bisa meniru sukses restorasi Singapore River. Jika pemerintah Kota Seoul dalam waktu kurang dari 6 tahun mampu merevitalisai total Cheonggyecheon River, itu bukan karena mereka punya fiscal capacity yg hebat, tetapi lebih pada komitmen dan spirit untuk mewujudkan masa depan lingkungan kota yang terbaik untuk generasi yang akan datang mereka.

Banyak kisah sukses yang berawal dari komitment yang kuat pemimpin dan warganya. Charles River di Boston, Chicago River di Chicago adalah diantara contoh nyata yang saya pribadi menyaksikan sendiri prosesnya.

Akhir kata, saya pribadi sebagai warga DKI juga memimpikan masa depan lingkungan kota yang lebih baik untuk anak-anak dan cucu-cucu kita. Karena legacy terbaik kita sebagai orang tua disamping memberikan mereka pendidikan terbaik dan ahklak mulia, adalah meninggalkan lingkungan tempat tumbuh, berkembang dan berkarya yang terbaik seperti kakek-nenek dan kedua orang tua kita yang telah berhasil mengantarkan ke-kehidupan yang lebih baik dari yang pernah mereka jalani.

Salam air, salam kehidupan, dan selamat menyambut dan memaknai Hari Air tahun ini. (Firdaus Ali,Indonesia Water Institute)

Friday, March 16, 2012

Pelatihan Antisipasi Bencana Bagi Wartawan



Pentingnya bekerjasama dengan jurnalis, membuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merasa terpanggil melakukan peningkatan kapasitas wartawan. Pasalnya, media massa dianggap sebagai ujung tombak yang mampu mempengaruhi keputusan politik, mengubah perilaku, dan menyelamatkan nyawa manusia.

BNBP pun menggelar acara bertajuk “Peningkatan Kapasitas Wartawan dalam Penanggulangan Bencana” yang berlangsung di Lido mulai tanggal 13-15 Maret 2012. Pelatihan ini diikuti oleh 141 wartawan dari 86 media massa internasional dan nasional.

Metode pelatihan seperti ini diharapkan membuat wartawan mampu memahami manajemen penanggulangan bencana secara utuh.

“Mereka yang awalnya datang hanya untuk meliput, sekarang menjadi tahu bagaimana mekanisme, koordinasi dan peran media dalam penanggulangan bencana”, ujar Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Data Informasi dan Humas BNPB.

Ketidaktahuan jurnalis tentang bahaya yang kerap mengancam dan langkah antisipasi yang seharusnya diambil ketika berada di lokasi bencana, perlu menjadi perhatian serius. Jangan sampai kehadiran wartawan justru menjadi boomerang sehingga merepotkan masyarakat sekitar yang memang sedang berduka.

Hal ini diamini oleh Dina Karina, jurnalis Televisi Berita Satu yang ikut di pelatihan tersebut. “ya, pelatihan ini penting sekali, sehingga kita (wartawan) punya pengetahuan dasar saat ditugaskan di lokasi bencana. Jangan sampai kita yang jadi korban”, ungkap Dina.

Untuk menunjang tugas tersebut, wartawan seharusnya memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam penanggulangan bencana secara komprehensif. Beruntung BNPB yang memang memiliki sumberdaya rela berbagi dengan memberikan pelatihan peningkatan kapasitas wartawan.

“Ke depannya BNPB memang berkomitmen untuk terus meningkatkan kerjasama dengan wartawan dalam penanggulangan bencana”, ujar Sutopo.

Selama tiga hari, peserta memperoleh beragam materi, mulai dari manajemen penanggulangan bencana, baik materi teori maupun materi praktek di lapangan. Semua materi tersebut merupakan materi dasar yang dibutuhkan saat berada di lokasi bencana.

Beberapa materi, seperti terori konsepsi dan karasteristik bencana, prinsip dasar penanggulangan bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi, logistik dan peralatan, dan sistim informasi dan data kebencanaan, menjadi materi pendahuluan yang dilakukan di dalam ruangan.

Sementara materi praktek lapangan, yakni pendirian tenda lapangan, dapur umum dan water treatment, perahu karet, evakuasi, pertolongan pertama dan trauma healing dilakukan di luar ruangan.

Selain itu, ada juga materi tambahan seperti ice breakings trust fall, initiative games, tower building, balance beam, racing fun game roulette, skills coaching, basic emergency response tali temali, simulation.

Sayangnya pelatihan yang diikuti oleh 141 orang jurnalis ini terkesan kurang efektif karena jumlah peserta yang membludak disertai durasi pembelajaran yang relatif singkat.

“kalau saja, jumlah pesertanya dibatasi, misalnya 50 orang dengan durasi pelatihan yang lebih lama, pelatihan ini pasti lebih baik. Sayang sekali semua harus di buru-buru karena alasan durasi”, papar Dina Karina.

Rencananya pelatihan seperti ini akan dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Harapannya pelatihan bisa menjangkan semua wartawan lokal dan kontributor sehingga mereka memiliki perspektif yang sama dalam menilai bencana.

“kami berharap pelatihan serupa bisa menjangkau jurnalis di seluruh Indonesia”, pungkas Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Data Informasi dan Humas BNPB. (Jekson Simanjuntak)


*photo by Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Data Informasi dan Humas BNPB

Sunday, March 11, 2012

Mengenang Setahun Tsunami Jepang



Kemarin (11/3) tepat setahun peringatan tsunami Jepang. Hampir semua media besar di dunia mengenang kembali kejadian bersejarah itu. Peristiwa tersebut terjadi saat gempabumi besar berkekuatan 9 SR menyapu pantai timur Sendai, Jepang pada 11 Maret 2011 pukul 12.46 WIB atau 14.46 waktu setempat. Pusat gempa diperkirakan berada pada kedalaman 24,4 km. Gempa tersebut menimbulkan tsunami yang tingginya mencapai lebih dari 20 meter, tinggi gelombang run up tsunami 40,5 m. Gempa tersebut merupakan gempa terburuk dalam sejarah Jepang sejak tahun 1900.

Kevin McCue, seismolog CQUniversity, Queensland, Australia, mengatakan bahwa meski jumlah korban cukup tinggi, namun patut disyukuri karena jarak gempa dari Tokyo, kota terpadat di dunia ini cukup jauh.

“Pada tahun 1932 saat gempa dahsyat Kanto (7,9 SR), mengakibatkan 147.000 orang meninggal. Dugaan kami akan terdapat lebih banyak orang meninggal dengan kerusakan yang lebih parah,” ujar Kevin McCue seperti dilansir Telegraph.

Dampak yang ditimbulkan gema tersebut cukup besar. 15.769 orang meninggal dunia, 4.227 orang dinyatakan hilang, dan 470.000 orang mengungsi. Total kerugian ekonomi US$ 220 miliar setara 3,4% dari GDP (Gross Domestic Bruto) Jepang. Atau setara hampir seperlima GDP Indonesia saat ini. Suatu kerugian yang luar biasa besar.

Gempabumi ini sendiri dipicu akibat lempeng tektonik membentuk lipatan, memecah permukaan bumi saat bergeser satu sama lain. Tokyo yang terletak di kepulauan Honshu, berada tepat dipersimpangan tiga lempeng benua Eropa, Pasifik dan lempeng laut Philipina, yang secara perlahan-lahan bergeser satu sama lain, membentuk tekanan seismik dahsyat dengan kekuatan sangat ganas.

Ketika pusat gempa berada di dasar laut, akan mengakibatkan tsunami yang seringkali lebih menghancurkan dibandingkan dengan gempa itu sendiri. Tsunami dari kata bahasa Jepang yang berarti gelombang dan pelabuhan adalah bergeraknya air laut dalam jumlah besar akibat pergeseran kerak bumi.
Air ini berubah menjadi gelombang yang dapat menempuh jarak sangat jauh, dengan kecepatan tinggi, menyapu daratan dan menghancurkan segalanya.

Jepang Paling Siap

Jepang dianggap sebagai negara yang paling siap menghadapi gempa bumi dan tsunami. Berbagai upaya stuktural dan non struktural telah dilakukan dalam mitigasi bencana. Peradaban Jepang telah melakukan antisipasi tsunami sejak abad 9 M.

Pantai Sendai yang merupakan daerah terparah akibat gempa 2011 telah menyiapkan diri jauh-jauh hari. Pemerintah Jepang telah membangun berbagai bentuk perlindungan tsunami mulai dari breakwater lepas pantai, tanggul, hutan pantai sampai sistem peringatan dini. Mereka belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Semantara di Kota Kamaishi yang letaknya tidak begitu jauh dari pantai telah dibangun alat pemecah gelombang hingga kedalaman 19 meter yang umurnya telah mencapai 31 tahun. Diharapkan tsunami bisa dikurangi hingga 0%. Namun, Fakta berkehendak lain. Tsunami tetap terjadi.

Pengurangan risiko bencana dan kesiapsiagaan menjadi program nasional dan dilakukan secara besar-besaran di Jepang. Retrofiting bangunan tahan gempa untuk perumahan mencapai telah 79%. Sedangkan bagi sekolah sebanyak 73%, dan rumah sakit 56% dari jumlah nasional. Artinya, secara keseluruhan dari sisi prasarana mereka telah siap.

Bagaimana Dengan Indonesia

Secara umum, kondisi Indonesia tidak kalah baik dari Jepang. Pasalnya, Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi. Secara umum ilmuan menyebut Indonesia berada pada posisi yang dikenal sebagai “Ring of Fire”.

Jalur “Ring of Fire” adalah rangkaian lempeng atau patahan besar yang menjadi ancaman potensial gempa. Ring of Fire benar-benar mengepung Indonesia. Sewaktu-waktu akibat pergesaran lempeng akan menimbulkan bencana yang cukup besar, yakni terjadinya gempa bumi.

Peta Rawan Gempa juga menunjukkan 2/3 wilayah Indonesia merupakan area sumber gempa dan atau rawan dampak gempa. Hanya menyisakan area aman meliputi pantai timur Sumatera (Riau, sebagian Jambi, Sumatera Selatan), Laut China Selatan, Kalimantan dan Bagian utara Laut Jawa serta perairan Laut Arafuru sebelah Selatan Papua.

Jika dibandingkan dengan Indonesia yang sekitar 70% wilayahnya berada di daerah rawan gempa dan belum kuat strukturnya, pelatihan gladi gempa dan tsunami menjadi penting. Pelatihan ini sendiri mulai dipopulerkan dalam 5-7 tahun terakir. Belakangan kegiatan ini semakin rutin dilakukan di setiap kabupaten/kota yang berpotensi terhadap bencana. Pemerintah setempat juga telah mengalokasikan sejumlah dana untuk pelaksanaan kegiatan tersebut.

Banyaknya kendala yang masih harus dibenahi, mengingat Indonesia sangat beresiko terhadap jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar. Sebagian bangunan yang ada belum lah merupakan bangunan tahan gempa. Jalur evakuasi juga belum disipakan dengan matang.

Saat ini tak ada cara lain, selain melakukan penyadaran kepada masyarakat bahwa Indonesia berada di kawasan rawan gempa dan rawan bencana. Serta tidak ketinggalan membenahi semua sarana dan prasarana yang mampu meminimalisir terjadinya bencana.

Pelajaran Berharga

Sejumlah gunung berapi dan parit samudera disekitar Cekungan Pasifik telah menggenggam Jepang menjadi wilayah Ring of Fire. Jepang merupakan wilayah rentan gempa sekitar 20 persen dari keseluruhan yang terjadi di dunia. Rata-rata terjadi enam kali gempa dalam setiap lima menit.

Setiap 1 Oktober menjadi hari penting dalam kalender Jepang. Pasalnya pada hari itu akan dilakukan gladi nasional. Seluruh komponen masyarakat terlibat. Anak-anak sekolah dan pekerja pabrik diliburkan saat gladi berlangsung.

Gladi dinilai sangat efektif. Misal di Distrik Taro, saat gempa dan tsunami tahun 1896 jumlah korban tewas sebesar 83%. Namun saat tsunami 1993 jumlah korban berkurang menjadi 20% dan tsunami 2011 hanya 6% dari total jumlah penduduk yang jadi korban.

Selain itu, bangunan umum dan kawasan bisnis yang berada di daerah beresiko tsunami di desain tahan gempa dan dapat digunakan sebagai evakuasi vertikal. Masyarakat juga dilatih untuk segera dievakuasi ke tempat-tempat tinggi di gedung tersebut. Hidup berdampingan dengan risiko telah menjadi pilihan yang seakan tak bisa dipisahkan bagi penduduk Jepang.

Pemulihan infrastruktur juga cepat dilakukan. Pasca bencana Jalan tol di Tohoku Expressway selesai dibersihkan hanya dalam waktu 11 hari. Infrastruktur ini tidak hanya berkontribusi pada transportasi dalam pengiriman barang dan logistik saat darurat, tetapi juga memulihkan ekonomi Jepang.

Saat bencana, media massa juga tidak menyiarkan hal-hal yang menyedihkan. Mayat yang membuat masyarakat panik, misal terkait PLTN mass media tidak disiarkan secara detil dan bombastis. Justru berita-berita tentang semangat, kebersamaan, disiplin dan ketangguhan masyarakat yang ditonjolkan mass media. Ini adalah kode etik jurnalistik yang selalu dipegang oleh media Jepang.

Pasca 1 tahun tragedi Jepang, kita selaku masyarakat Indonesia layak belajar banyak dari Jepang. Terlebih lagi Indonesia adalah negara nomor satu di dunia yang memiliki ranking penduduk berisiko tinggi dari tsunami. Menurut data BNPB sedikitnya lebih dari 5 juta jiwa hidup dalam ancaman tsunami. (Jekson Simanjuntak)

Wednesday, February 22, 2012

Urban Farming Sebuah Gaya Hidup


Ket foto: saat ini warga kesulitan untuk melakukan bercocok tanam karena ketersediaan lahan yang sangat terbatas.

Ayo kawan kita berkebun... menanam jagung di kebun kita...
Ambil cangkulmu...

Masih ingat penggalan lagu itu, bukan? Ya, Kegiatan berkebun memang mengasyikkan. Apalagi jika kita ingat dulu, saat masih di sekolah dasar. Pelajaran berkebun dan bercocok tanam menjadi pelajaran yang cukup diminati. Biasanya murid-murid senang karena merupakan sebuah pengalaman baru.

Namun, kondisinya kini jauh berbeda. Terbatasnya lahan, membuat kegiatan yang satu ini semakin sulit ditemukan. Orang yang melakukannya pun lebih banyak di pedesaan ataupun di daerah-daerah pinggiran kota.

Sementara di kota seperti Jakarta, berkebun merupakan kegiatan langka. Jika kita lihat sekeliling, tak ada lagi lahan kosong. Di kanan-kiri jalan telah berderet rumah gedong. Tak jauh disana, gedung tinggi menjulang. Jika sudah begitu, di mana ya, kita bisa berkebun?

Berdasarkan literatur, berkebun ternyata bisa dimana saja. Bahkan memanfaatkan lahan kososng yang sempit pun masih dimungkinkan. Konsep ini kemudian di kenal dengan sebutan ”Urban Farming” atau berkebun di kota dalam bahasa indonesianya.

Beberapa jenis tanaman yang bisa ditanam di lahan sempit seperti: kacang panjang, cabai, tomat, sawi, melon, dll. Biasanya setelah bosan dengan jenis tanaman yang itu-itu saja, setalah panen tak ada salahnya mencoba jenis tanaman lain, tergantung kesukaan.

Apa Itu Urban Farming?

Kegiatan Urban Farming atau berkebun di kota muncul sebagai jawaban atas kegelisahan masyarakat menyikapi semakin terbatasnya lahan di kota-kota besar. Tingkat polusi yang makin parah dan minimnya kawasan hijau membuat kota semakin gersang.

Kesadaran ini yang memunculkan gerakan urban farming di kota-kota besar di seluruh dunia. Secara umum Urban Farming merupakan kegiatan pertanian yang dilakukan dengan memanfaatkan lahan sempit di perkotaan. Kegiatan Urban Farming mencakup kegiatan produksi, distribusi, hingga pemasaran produk-produk pertanian yang dihasilkan.

Martin Bailkey, seorang dosen arsitektur landscape di Wisconson Madison, AS, membuat definisi Urban Farming sebagai Rantai industri yang memproduksi, memproses dan menjual makanan dan energi untuk memenuhi kebutuhan konsumen kota. Semua kegiatan dilakukan dengan metoda using dan re-using sumber alam dan limbah perkotaan.

Urban Farming dilakukan sebagai kegiatan untuk menghasilkan pendapatan bagi petani, khususnya bagi mereka yang mata pencarian utamanya dari bertani. Sedangkan bagi masyarakat kota yang getol mengembangkan Urban Farming, kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari rekreasi.

Sejarah Urban Farming

Urban agriculture sebagai cikal bakal urban farming sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, tepatnya di Machu Pichu di mana sampah-sampah rumah tangga dikumpulkan menjadi satu dan dijadikan pupuk. Air yang telah digunakan masyarakat dikumpulkan menjadi sumber pengairan melalui sistem drainase yang telah dirancang khusus oleh para arsitek kota di masa itu.

Pada Perang Dunia II di Amerika dicanangkan program “Victory Garden” yaitu membangun taman di sela-sela ruang yang tersisa. Program ini ini kemudian berkembang menjadi gerakan urban farming. Dari program tersebut pemerintah Amerika Serikat mampu menyediakan 40% kebutuhan pangan warganya pada waktu itu.

Perhatian akan manfaat Urban Agriculture menjadi berkembang ketika masyarakat di berbagai belahan dunia menyadari bahwa semakin hari pertumbuhan penduduk semakin besar dan kebutuhan akan makanan juga bertambah, sementara luas lahan pertanian semakin berkurang. Maka mulailah lahan-lahan kosong di daerah perkotaan dipakai sebagai tempat bercocok tanam. Mulai dari lahan satu meter persegi di depan rumah hingga atap-atap gedung-gedung pencakar langit, kini dimanfaatkan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan Urban Farming.

Urban farming selain mengasyikkan juga membantu memberikan kontribusi terhadap ruang terbuka hijau kota dan Ketahanan pangan. Bisa di bayangkan jika setiap gedung mengadopsi kegiatan urban farming. Jakarta tentunya akan semakin hijau dan adem.

Jakarta Kini

Pembangunan di Jakarta dalam beberapa dedake memang menunjukkan perubahan drastis. Akibatnya, lahan yang ada habis digunakan oleh sektor permukiman, bisnis, dan industri. Karena itu, saat ini luas lahan yang tersisa di DKI Jakarta tinggal tersisa 30 persen saja.

Mengantisipasi hal tersebut, pemerintah propinsi ingin mengoptimalkan lahan yang sudah ada dan tidak berniat melakukan penambahan bangunan-bangungan besar. Pasalnya, jika tidak berhati-hati dalam melaksanakan pembangunan fisik akan berakibat fatal.

Penduduk yang mencapai 15 ribu jiwa per satu kilometer menjadi salah satu penyebab banyaknya pembangunan fisik. Di satu sisi memang bagus untuk menggenjot perekonomian daerah. Namun faktanya ada banyak dampak negatif, dan itu harus dihentikan.

Dari sekian banyak konsep, salah satu yang mulai ditawarkan pemerintah adalah dengan membangun gedung berkonsep green building dan itu bisa dilakukan di mana saja.

Konsep dimana bangunan ramah lingkungan didorong menjadi tren dunia bagi pengembangan properti saat ini. Bangunan ramah lingkungan ini punya kontribusi menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro. Hanya saja, secara umum, belum banyak gedung di Jakarta yang mengadopsi program ini.

Manfaat Berkebun di Kota

Di sadari atau tidak, ada banyak alasan mengapa warga ibukota disarankan berkebun. Hanya saja, persoalan komunikasi dan informasi sering jadi alasan mengapa hanya sedikit orang yang melakukannya. Padahal setiap orang pasti menginginkan lingkungan yang sehat. Beberapa manfaat tersebut adalah:

Pertama adalah untuk menyegarkan udara yang ada di sekeliling kita. Pasalnya, pepohonan berfungsi sebagai menghisap karbondioksida (bahan polutan) dan mengeluarkan oksigen.

Kedua, bercocok Tanam di Perkotaan akan memenuhi kebutuhan pangan, khsusunya sayur mayur dan buah-buahan dengan kondisi yang terjamin. Kebanyakan produksi sayur dan buah yang dihasilkan dari Urban Farming menggunakan pupuk organik yang tidak meninggalkan residu di tubuh.

Ketiga, berkebun dapat menyegarkan mata dan pikiran. Jika sedang penat, kita bisa keluar untuk menikmati pemandangan hijau yang tersaji di depan mata.

Keempat, makanan hasil Urban Farming ternyata lebih bercitarasa. Mereka yang telah mempraktekkan bercocok tanam di Perkotaan mengatakan bahwa ini memberi kepuasan tersendiri. Seperti banyak hobi bermanfaat yang lain, para petani perkotaan mendapatkan bahwa bercocok tanam telah memberi sebuah nilai tambah pada mereka terlepas dari manfaat pokok yang diberikan.

Kelima, yng tidak kalah berharga adalah, kita dapat membantu mengurangi laju pemanasan global. Berkebun adalah hal yang sepele namun manfaatnya segudang.

Keenam, kegiatan berkebun di kota akan mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk transportasi ketika memindahkan produk tersebut dari pedesaan. Artinya, kita juga akan menghemat penggunaan BBM dalam jangka panjang.

Ketika segudang manfaat terebut bisa dicapai dengan kegiatan berkebun di tengah kota, sekaranglah saatnya mencoba. Bingung ingin memulai dari mana? Tenang saja, ada banyak buku yang mengulas tema Urban Farming di pasaran atau jika di rasa kurang, tak ada salahnya berselancar di di dunia maya. (Jekson Simanjuntak)

Monday, February 13, 2012

Menyingkap Tabir Ciliwung



Ciliwung identik dengan sampah dan bau busuk. Ups, tunggu dulu! Ciliwung yang satu ini tidak begitu. Di sebuah tempat nun jauh disana, wajah Ciliwung terlihat berbeda. Seperti apa Ciliwung yang sesungguhnya, kami mencoba menyusuri dan menyajikannya dari dekat untuk anda.

“Ayo dayung kuat, mas! Awas, jangan sampai nyangkut!” ujar Kurawa yang jadi skipper (baca: kapten) di perahu kayak bermuatan 2 orang yang saya tumpangi. Perahu kecil kami pun mengarah ke Jeram Panjang ber-grade 2. Sejurus berlalu, byuur!!! Perahu menerjang ombak dan melaju dengan mulus.

Perahu kayak yang kami gunakan merupakan perahu leader berfungsi sebagai pembuka jalur. Semua informasi awal dikumpulkan, mulai dari kondisi jeram, rute, hambatan, hingga dapat tidaknya perahu melewati sebuah jeram. Jika semua baik, perahu berikutnya siap meluncur.

Begitu mendapat aba-aba dari kami, secara perlahan perahu-perahu berukuran sedang yang mengangkut 5 orang meliukkan tubuhnya di Jeram Panjang. Indah benar gerakannya. Bak ikan yang sedang menari. Jeram ini dinamakan Jeram Panjang, karena jeram yang terbentuk cukup panjang berada pada lintasan sejauh 100 meter.

Pada kondisi di bawah normal seperti sekarang ini, jeram yang tercipta tidak terlalu berbahaya. Hanya saja, batu-batu besar kadang merepotkan. Berbeda halnya ketika debit air sedang tinggi. Tingkat kesulitan atau gradenya bisa mencapai 2+ bahkan 3. Jika kondisi demikian, salah membaca arus bisa berakibat fatal, seperti: perahu terbalik atau wrap –nyangkut di dinding sungai--.

Puas dengan Jeram Panjang, 10 menit kemudian, saya dan Kurawa harus ekstra waspada. Pasalnya, sebentar lagi, kami akan tiba di Jeram Sablon, salah satu jeram paling berbahaya di sungai ini. Jeram ini berbahaya karena perbedaan tingkat gardien sungai dengan posisi jeram berbentuk zigzag. Kondisi ini tentu menyulitkan, meski kita berada di arus utama.

“amankan pijakan, mas, dan jangan lupa dayung kuat”, pekik Kurawa memberi aba-aba. Benar saja, sedetik kemudian, cipratan air menghantam wajahku dan membasahi sekujur tubuh. Byuuur, dingin! Tak pelak, dayung kutancapkan dalam-dalam. Sementara posisi kaki, aman berada di bawah bantalan perahu. Maklum, perahu kayak yang kami gunakan relatif kecil dan rentan terbalik. Jangankan di jeram besar, di jeram kecil saja, goncanganya sangat terasa.

Jeram ini dinamakan ‘Jeram Sablon’, karena di jeram tersebut, Sablon,--nama guide berpengalaman-- terjatuh saat melaluinya pertama kali di tahun 2008. Sablon merupakan salah satu guide yang ikut suvey, jauh sebelum wisata arung jeram mulai populer di sungai ini.

Sesuai taklimat, kami memilih jeram bagian tengah dengan pertimbangan manuver yang lebih aman agar tidak tersedot ke arah batu. Jeram tersebut berada persis diantara celah dua batu besar. Tak lama kemudian, hyuuuus, kami berhasil melaluinya. Bravo! Selanjutnya menuju tepi.

Seingatku hanya beberapa detik saja kami di guncang oleh kedahsyatan jeram ini. Saking cepatnya, yang terpikir hanya bagaimana melaluinya dengan selamat Namun, kesannya terasa lama. Selebihnya ingin mengulang lagi. Lagi dan lagi. “Inilah daya tarik arung jeram yang sesungguhnya”, gumamku lirih.

Bagi mereka yang tidak berpengalaman, sebaiknya menggunakan perahu ukuran sedang. Selain lebih aman, bentuknya kokoh dan lebih stabil saat menerjang jeram. Bagi saya, menggunakan perahu kecil, merupakan pengalaman pertama yang mengasyikkan dan penuh was was.

Sebelum perahu yang lain tiba, dengan cekatan saya mengeluarkan kamera DSLR dari drybag (baca: kantong kedap air) yang memang telah dipersiapkan. Lalu, mengambil posisi di tempat aman, sembari bersiap menekan rana, menunggu perahu masuk ke dalam frame. Dan, klik, sebuah momen terekam indah. Tak puas dengan satu jepretan, saya pun mengabadikannya dalam beberapa sekuen.

Tak lama kemudian, satu persatu perahu mengarungi ganasnya Jeram Sablon. Di mulai dengan perahu merah yang diawaki 5 orang, di susul perahu kuning. Demikian seterusnya, hingga 5 buah perahu karet meluncur dengan sempurna.

Obrolan Via BBM

Awalnya tidak menyangka, jika obrolan singkat via BBM dengan Iwan Firdaus (seorang teman lama sekaligus pemilik Soar Rafting) akan menjadi kenyataan. Pasalnya, ajakan berarung jeram memang telah lama terlontar. Hanya saja, waktu seringkali jadi kendala. Demikan akhirnya, ketika saya mengiyakan, dengan catatan diijinkan melakukan peliputan selama pengarungan.

Singkat cerita, rencana pun di gelar. Tim peliput di bentuk. Nesia di daulat sebagai reporter, sementara Sayid dan Fadzrin menjadi juru kamera. Mereka bertugas mengabadikan semua perjalanan dalam format video HD.

Jujur saja, Sungai Ciliwung tak banyak orang tahu hulunya seperti apa. Ciliwung bagi warga Jakarta hanya terkenal dengan warna yang hitam plus onggokan sampah. Namun benarkah demikian? Kami tertarik mengetahuinya. Maklum, Ciliwung memiliki peranan besar. Sungai ini merupakan salah satu penyokong kehidupan warga ibukota, dimana ia digunakan sebagai sumber air baku oleh PDAM yang dialirkan melalui kanal tarum barat (baca: Kali Malang)

Selain itu, sungai ini memang kurang familiar sebagai salah satu tujuan wisata air. Warga Jakarta telah lebih dahulu akrab dengan Sungai Citarik atau Sungai Cicatih di Sukabumi, karena gencar dipromosikan sebagai lokasi berarung jeram.

Dari kantor tujuan kami adalah Rest Area yang berada 100 m di pintu keluar Tol Ciawi. Letaknya persis di sebelah kiri jalan. Di sana Iwan telah menunggu bersama rombongan lain. Setelah bertegur sapa, ia menyarankan kami segera berganti pakaian untuk selanjutnya bergerak menuju titik start di Desa Pasir Angin. Untuk kesana, rombongan akan diantar menggunakan pick up.

Menurut Iwan, Sungai Ciliwung sangat cocok untuk olah raga arung jeram, khususnya bagi pemula. Jeramnya yang tidak terlalu besar, aman saat dilalui. Selain itu, beragam rute pengarungan tersedia. Mulai dari 600 m, 4Km hingga 8Km, seperti yang akan kami lalui. Bahkan untuk kondisi tertentu mereka sanggup menyediakan rute 12 Km. Dari sisi jarak dan waktu tempuh, Ciliwung punya banyak keunggulan, yakni waktu tempuh yang lebih singkat, ketimbang jika memilih Citarik atau Cicatih. Hanya dengan 2 jam berkendara, pengunjung bisa menikmati olahraga petualangan yang satu ini.

“Ciliwung sebenarnya sangat strategis. Letaknya pun tidak begitu jauh dari Jakarta. Kedepannya, karena kelebihan tersebut, sungai ini bakal ramai di buru pengunjung”, ungkap Iwan optimis.

Tak terasa setelah berkendara 20 menit, kami tiba di Desa Pasir Angin, Kecamatan Gadog. Lokasinya berada di pertemuan dua sungai, yakni Ciesek dan Ciliwung. Di musim-musim penghujan, debit air Sungai Ciesek cenderung lebih besar ketimbang Ciliwung. Bisa jadi karena perbedaan kemiringan dasar sungai dan volume debit air.

“Kalo musim hujan, Sungai Ciesek lebih berbahaya ketimbang Ciliwung. Tak jarang banyak rumah warga di bantaran ikut hanyut. Jika Katulampa airnya berlebih, salah satunya pasti dari sungai ini”, ujar Iwan sembari menunjukkan keberadaan sungai Ciesek.

Titik start berada persis di pertemuan ke dua sungai. Lokasi ini cukup strategis, karena letaknya yang tidak jauh dari jalan. Selain itu, volume air yang tercipta relatif stabil. Meski saat itu, debit air 50 cm di bawah normal, sungai ini masih layak diarungi.

Sebelum berarung jeram, para tamu akan beri pengarahan oleh guide berpengalaman tentang tata cara keselamatan. Tamu juga diajarkan tentang istilah yang biasa digunakan saat berarung jeram, seperti: dayung maju, dayung mundur, pindah kanan, pindah kiri dan boom.

Usai briefing, guide akan membagi tim berdasarkan kekuatan dan komposisi di dalam perahu. Hal ini menjadi penting agar kekompakan saat mendayung merata antara sisi kanan dan kiri. Sementara saya diberi kesempatan untuk menikmati perahu kayak berpenumpang dua orang.

Begitu pengecekan final selesai, pengarungan pun di mulai. Perahu kami di beri kesempatan pertama. Dengan beberapa kali dayungan, jeram pertama segera menyapa. Jeram ini tidak begitu berbahaya. Mereka menyebutnya “Jeram Selamat Datang”.

Sudah menjadi standar dalam pengarungan, setiap perahu yang berhasil melewati jeram, wajib menunggu perahu berikutnya. Baru ketika semua perahu tiba dengan selamat, perjalanan kembali di lanjutkan. Sistem ini dikenal dengan sebutan “river runing system”. Itu pula sebabnya dalam sebuah pengarungan tidak dianjurkan hanya menggunakan 1 buah perahu. Minimal dua.

Tak terasa, 13 menit kemudian, kami pun tiba di Jeram Sawah. Di tempat ini pengunjung dimanjakan dengan panorama alam berupa deretan sawah hijau membentang. Tampak pula beberapa petani sedang membajak sawah. Jeram sawah ini panjangnya kurang lebih 200 m dengan tingkat kesulitan, grade 2.

Ketika adrenalin telah menemukan bentuknya, tak ada cara lain, selain mengikuti irama yang tercipta. Irama yang hanya muncul ketika kekompakan tim berpadu. Gerakan yang menimbulkan harmonisasi yang dipadupadankan dalam ketukan ritme. Jika tim kompak, tak sulit bagi perahu meliuk indah di atas liarnya jeram.

Setengah Perjalanan

Tepat pukul 11.35 siang, tim akhirnya berhenti sejenak di sebuah tempat bernama “Galian Pasir”. Di lokasi ini tim beristirahat sembari melemaskan otot-otot yang kaku. Berhubung hari telah siang, tak sedikit diantara rombongan memilih menghabiskan bekal yang di bawa. Sementara di ujung sana, para guide sibuk membenahi perahu masing-masing. Ada yang memompa, mengecek perlengkapan dan ada yang sibuk membersihkan perahu dari lumpur yang menempel.

Lokasi ini di pilih sebagai tempat beristirahat, karena jaraknya berada persis 4 Km dari titik start. Dengan demikian, perjalanan tinggal setengah lagi.

Dua puluh menit kemudian saat puas beristirahat, pengarungan kembali dilanjutkan. Menurut Kurawa, di depan sana, masih ada beberapa jeram besar yang patut diwaspadai. Salah satunya Jeram Stres. Jeram ini dinamakan demikian, karena pola jeram yang tidak beraturan. Beberapa batu besar juga menyembul keluar. Sedang di beberapa sisinya terjadi pendangkalan. Jika tidak pintar memilih arus, perahu akan terjebak kandas. Itu sebabnya banyak guide yang stres saat melalui jalur ini.

Menggunakan perahu kecil merupakan pilihan bijak di jeram ini. Hanya dengan beberapa manuver, kami berhasil melewatinya dengan mulus. Sementara bagi perahu karet ukuran sedang, seperti yang sudah kami prediksi, banyak yang stagnan. Mau tidak mau memang harus di bantu dorong.

Etape Terakhir

Di Sungai Ciliwung, kami tidak menemukan halangan berarti, selain standing vawe, hole dan banyaknya batu. Berbeda dengan sungai di tempat lain, disini kami tidak mendapati adanya undercut (cerukan dengan arus yang menghisap) ataupun strainer (batang kayu besar) yang mampu menghambat pengarungan.

Sejak dari titik start, saya juga tidak menemukan banyak sampah. Secara umum, hulu sungai ini terbilang bersih, jauh berbeda dengan kondisi di hilir. Warga pun lebih banyak memanfaatkannya untuk mandi dan mencuci. Sehingga jangan heran, jika di sepanjang perjalanan kita akan menemukan banyak warga yang mandi atau mencuci.

Selain itu, sepanjang tahun 2008 hingga sekarang, belum pernah ada kecelakaan akibat berarung jeram di Sungai Ciliwung. Soar Rafting selaku operator tunggal menekankan pentingnya standar keselamatan disertai kemampuan guide berpengalaman. Akibatnya, tak sedikit tamu yang rela kembali untuk berarung jeram.

"biasanya gitu, mas. Jika tamu telah mencoba rute 4 Km, mereka akan datang lagi untuk mencoba rute 8 Km", tutur Kurawa bersemangat.

Di etape terakhir ini, ada bererapa jeram yang mesti diwaspadai. Salah satunya Jeram Miring. Jeram ini bentuknya miring, berada di sisi kiri dengan tingkat kecuraman yang cukup besar. Akibatnya beberapa hole (terjunan) tercipta. Jika tidak berhati-hati perahu yang melewatinya bisa terbalik atau tertahan di diatas hole.

Karena begitu berbahaya, Kurawa sempat menawarkan untuk berhenti sebelum jeram tersebut. Pasalnya, ia ragu dengan kemampuan saya. "Jika memilih berhenti, bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki", katanya. Sementara perahu akan di lining (di tarik dengan tali) melewati jeram tersebut. Setelah itu pengarungan dilanjutkan kembali.

Setelah berpikir cepat, dengan tegas, saya menolak tawaran tersebut. Saya beranggapan jika tim kompak, kami pasti sanggup melewatinya. “Ayo, kang, kita hajar saja. Saya masih kuat, kok”, ujarku lantang.

Perlahan namun pasti, perahu kami melaju di ganasnya ombak. Strateginya adalah dengan memilih arus utama yang terdiri dari standing vawe (ombak berdiri) berukuran kecil. Metode ini di pilih karena akan menghemat tenaga dan memanfaatkan energi hempasan ombak.

Persoalan pertama telah selesai, tinggal bagaimana cara melewati hole yang kekuatannya mampu menghisap perahu. Tak ada cara lain, selain mendayung sekuat tenaga. Begitu aba-aba “dayung maju” dikumandangkan, dengan cepat saya menancapkan dayung ke dalam jeram. Berkali-kali, hingga akhirnya kami berhasil melaluinya. Karena kalau terlambat sedikit saja bisa celaka. “cihuuy…berhasil!” teriakku. Kini tinggal menunggu perahu berikutnya. “Semoga mereka juga berhasil”.

Lepas dari Jeram Miring, Jeram Batu Besar segera menyambut. Jeram ini dinamakan demikian karena ada beberapa batu besar melintang persis di tengah sungai. Batu ini turut membentuk jeram. Kendati berbahaya, lagi-lagi dengan kekompakan, kami berhasil melaluinya dengan baik.

Tak lama berselang, kami menemukan aliran air yang tenang. Para rafter menyebutnya flat. Di tempat ini, setelah letih mendayung, para tamu mulai malas beraktivitas. Mereka hanya menikmati pemandangan sembari diam membiarkan perahu bergerak dengan sendirinya.

Namun, lama kelamaan rasa bosan timbul juga. Flat yang cukup panjang membuat pencapaian finish semakin terasa lama. Karenanya, skiper menyemangati tim dengan ajakan mendayung. Meski lambat, gerakan tersebut mampu membuat perahu bergerak pelan, ketimbang tidak mendayung sama sekali.

Lima menit kemudian, di ujung sana, jembatan besar muncul dari balik kelokan sungai. Ini pertanda pengarungan hampir selesai. Saya dan Kurawa yang berada di posisi terdepan segera bergegas, ingin jadi tim pertama yang tiba di garis finish. Dengan bersemangat kami memecah ombak di deretan panjang Jeram Finish.

Akhirnya, kami berhasil menuntaskan pengarungan di hulu Ciliwung sejauh 8 Km. Sebuah perjalan yang menyenangkan. Bergelut dengan liarnya jeram Ciliwung telah memberi pengalaman baru. Ciliwung ternyata masih indah di tempat ini. Betul-betul indah, seindah pesonanya yang melekat kuat di ingatan.

--End--

Sunday, January 15, 2012

MALARI dan ESEMKA


(ket. foto: sisa-sisa peristiwa 15 Januari 1974)

Mugkin sudah banyak yang tahu kalau kemarin (baca: 15 Januari) merupakan salah satu hari kelam dalam catatan panjang sejarah Indonesia. Hari itu, tepatnya 38 tahun silam, peristiwa berdarah terjadi. Sejarah itu pun dikenal dengan sebutan “Peristiwa Malari” atau Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari di tahun 1974. Begitu besarnya dampak yang ditimbulkan, sampai-sampai tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 buah bangunan rusak berat. Pun, sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.

Meski banyak perdebatan mengenai penyebab terjadinya peristiwa berdarah tersebut, yang pasti aksi ini di motori oleh mahasiswa yang menolak dominasi modal asing. Saat itu penanaman modal asing di Indonesia memang sedang getol-getolnya, Salah satunya berasal dari Negara Matahari Terbit. Pola investasi ini pun tak lepas dari restu “Smiling General”, Soeharto. Alasannya, karena saat itu Indonesia sedang bangkit dari keterpurukan panjang akibat penjajahan.

Model penolakan ini sebenarnya sudah terjadi jauh-jauh hari. Sejak tahun 1966, tak urung ratusan bahkan ribuan aksi mahasiswa turun ke jalan marak terjadi. Puncaknya ketika Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa saat itu merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Halim Perdanakusuma.

Tanaka dianggap sebagai simbol modal asing yang harus ditolak. Aksi berupa long march dari Salemba menuju Univeritas Trisakti di Grogol, pun di gelar. Saat itu kesatuan aksi mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi mengusung tiga tuntutan: pemberantasan korupsi, perubahan kebijakan ekonomi mengenai modal asing, dan pembubaran lembaga Asisten Pribadi Presiden. Saat itu ratusan ribu orang ikut turun ke jalan. Aksi ini kemudian berujung pada kerusuhan.

Dalam sebuah sesi wawancara 4 tahun silam, Hariman Siregar, salah satu pimpinan aksi menuturkan bahwa aksi mahasiswa sebenarnya telah usai pukul 14.30. “kerusuhan terjadi satu jam kemudian,” katanya. Massa yang mengaku dari kalangan buruh itu menyerbu Pasar Senen, Blok M, dan kawasan Glodok. Mereka melakukan penjarahan serta membakar mobil buatan Jepang dan toko-toko.

Bagi Soeharto, kerusuhan 15 Januari 1974 jelas merusak citra pemerintah, karena peristiwa itu terjadi di depan tamu negara, PM Jepang. Malu akibat peristiwa tersebut ia lalu menunjukkan tangan besinya terhadap setiap aksi-aksi demonstrasi yang merongrong pemerintah.

Pada tanggal 17 Januari 1974 pukul 08:00, PM Jepang tersebut akhirnya meninggalkan istana tidak dengan mobil, melainkan menggunakan helikopter dari Gedung Bina Graha ke pangkalan udara Halim Perdanakusuma. Kondisi ini memperlihatkan bahwa suasana Kota Jakarta begitu mencekam.

Hariman Siregar, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia kemudian diseret ke pengadilan dengan tuduhan melakukan tindakan subversi. Setelah empat bulan sidang, vonis enam tahun penjara mesti ia tanggung.

“Saya dianggap merongrong kewibawaan negara,” kata Hariman. Harga yang harus ia bayar pun cukup mahal. Saat menghuni hotel prodeo itulah ayahnya meninggal, istri tercintanya sakit, dan anak kembarnya meninggal.

Peristiwa 15 Januari 1974 kemudian di catat sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru. Sejarawan Asvi Warman Adam dalam sebuah artikelnya menyebutkan bahwa setelah itu Soeharto melakukan represi secara sistematis. Sejak itu pula kekerasan atas nama negara dihalalkan.

Modal Asing Di Tolak?

Aksi-aksi mahasiswa pada jaman itu merupakan bentuk kepedulian mereka terhadap kondisi yang terjadi. Modal asing di nilai tak memberi manfaat banyak bagi masyarakat. Ada kesan hanya demi kepentingan segelintir orang saja. Bukan rahasia lagi, bagaimana pejabat-pejabat Orde Baru memperkaya dirinya dengan menerima komisi saat melakukan negoisasi terkait banyak hal. Bahkan yang paling parah, ketika kontrak karya belum seleseai, kontrak baru telah di setujui. Salah satunya bisa di lihat di gunung emas Freeport.

Penolakan modal asing sebenarnya bukan tanpa alasan, mengingat kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Selain itu, beberapa orang pemuda, -- jauh sebelum Peristiwa Malari meletus--, telah memiliki ide brilian terkait membangkitkan produksi dalam negeri. Salah satunya adalah Chaerul Saleh, seorang pelajar Indonesia yang menimba ilmu di Jerman Barat. Yang lainnya adalah Semaun, ketua PKI 1920 dan Djuanda, Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir. Mereka merupakan pencetus pentingnya gerakan mobil nasional.

Peristiwa di tahun 1950 jadi pemicunya. Saat itu pemerintahan Amerika Serikat pernah menawarkan pembangunan jalan sepanjang Pulau Sumatera (Highway Standard) dengan konsesi mobil yang ada di Indonesia adalah Mobil produksi Ford, tapi pemerintah Indonesia di bawah pemerintahan Soekarno menolaknya. Alasannya, tidak ingin ada sistem monopoli atas industri otomotif. Saat itu otomotif Indonesia memang di dominasi berbagai produk dari Eropa. Saat itu, mobil-mobil Jepang mulai masuk lewat mobil niaga.

Sepulangnya Chaerul Saleh dari Jerman Barat di tahun 1956 ada obrolan menarik antara dirinya, Semaun dan Djuanda tentang Industri mobil jangka panjang. Djuanda menginginkan dibangunnya infrastruktur raksasa yang menghubungkan antara Jawa dengan Sumatera, kemudian dibicarakan tentang jalur trans Sulawesi dan pembangunan jaringan kereta di seluruh wilayah Kalimantan.

Semaun berkata “Dalam kota berbasis masyarakat sosialis, industri mobil pribadi bukan menjadi prioritas, tapi menjadi bagian dari ikutan kecil industri transportasi massal. Peran penting transportasi haruslah diletakkan pada keteraturan jalan raya yang mengedepankan sarana transportasi umum” usulan Semaun ini diargumentasi oleh Chaerul Saleh yang menghendaki dibangunnya mobil rakyat.

Chaerul Belajar bagaimana Jerman di Jaman Hitler membangun industri mobil rakyat seperti Volkswagen (VW) telah mendidik masyarakatnya untuk bangga pada produksi dalam negeri. Transportasi telah menjadi urat nadi paling penting dalam perekonomian suatu Negara. Transportasi juga memiliki varian industri ikutan yang amat panjang dan memiliki nilai tambah. Chaerul pun mengusulkan untuk dibangun pabrik baja.

Djuanda yang saat itu merupakan Menteri Keuangan tahu persis bahwa pos utama keuangan nasional hanyalah dari pampasan Jepang. Djuanda juga sudah mengestimasi, Jepang tidak akan memberikan pampasan Jepang itu ke tangan Indonesia begitu saja tapi Jepang akan menawarkan sesuatu perjanjian kerjasama. Kerjasama bisnis inilah yang di kemudian hari semakin mengukuhkan produk-produk Jepang di tanah air. Salah satunya produk mobil.

Mengapa Mobil?

Di Jerman Barat Chaerul Saleh banyak mengunjungi basis-basis perekonomian. Ia melihat kemunculan industri mobil berasal dari wilayah kaya biji besi seperti di Ruhr. Dari Industri baja di Ruhr, Jerman Barat memulai industri pertamanya dalam penaklukan dunia melalui mobil.

Sementara itu, nun jauh di pasific, usah kalah perang, pada tahun 1946 Jepang bangkit lewat program pemulihan kembali. Mereka pun memilih industri yang sama, yakni mobil.

Dalam sejarah dunia, industri mobil selalu menjadi batu loncatan kurva yang tingginya diatas rata-rata. Ketika Henry Ford memproduksi mobil jenis T, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat melesat diatas 10%, bahkan year on year untuk pertumbuhan ekonomi perdagangan meloncat sampai dengan diatas 20%.

Sukarno yang saat itu banyak mengamati, bukan saja tak tahu dengan industri mobil nasional. Ia memahami bahwa dibutuhkan uang yang tidak sedikit untuk pembangunan jalan. Ketika Dekon 1960, Deklarasi Ekonomi dengan konsep Djuanda diberikan, maka pengembangan industri mobil nasional dijadikan bagian dari pengembangan Industri Rakyat. Rakyat menjadi unsur utama dalam penyiapan suku cadang, jadi tidak menjadi Industri terpusat milik Industriawan. Seluruh jaringan produksi dikerjakan oleh industri rakyat kemudian masuk ke pabrik besar yang mengerjakannya adalah serikat pekerja profesional.

Namun sayang mimpi itu tidak terwujud. Ekonomi Politik yang dikembangkan Sukarno dengan dasar “Kemandirian Rakyat” atau “Rakyat Berproduksi Untuk Dirinya Sendiri” belum sempat dipraktekkan. Soekarno keburu dilengserkan dengan dalih terlibat PKI. Soeharto pun naik ke tampuk kekuasaan.

Lalu di tahun 1968, hal pertama yang dilakukan Suharto adalah berhutang kepada Jepang dan Amerika Serikat. Jepang melihatnya sebagai peluang baru. Bermula dari pembicaraan program Pampasan Perang kemudian berlanjut dengan memberi alternatif industri otomotif. Jepang melihat potensi pasar, karena sejak awal mereka memang punya data soal ekonomi Indonesia.

Pada tahun 1970 arus deras keuangan mulai masuk ke kas pemerintah lewat banyak hal. Regulasi ketat soal otomotif nasional peninggalan Sukarno dijadikan peluang bagi pemerintahan Orde Baru sebagai ajang penyelundupan. Banyak keluarga Cendana yang bermain di bidang ini, sampai-sampai Jenderal Hoegeng yang ingin menghajar penyelundupan mobil malah dipecat.

Arus Balik

Di tahun itu terjadi perkembangan besar pemahaman ekonomi politik baru yang dipengaruhi pemikiran-pemikiran ‘New Left’atau Kiri Baru yang berkembang setelah terjadinya Revolusi yang digerakkan Mahasiswa-Mahasiswi Perancis tahun 1968. Inti yang diambil dari gerakan Pemikiran Kiri Baru adalah anti ketergantungan. Pemikiran ini persis sejalan dengan pemikiran Sukarno soal Ekonomi Berdikari.

Tahun 1971 dunia mahasiswa panas karena modal asing begitu merusak tatanan perekonomian rakyat. Banyak modal asing, khususnya Jepang menguasai seluruh industri mobil nasional, berikut ikutannya seperti infrastruktur transportasi. Pembangunan jalan raya melibatkan bantuan Jepang yang pada akhirnya justru membuat ekonomi rakyat sangat bergantung atas modal asing.

Tahun 1973 ada rapat-rapat diantara jaringan mahasiswa Indonesia untuk menggempur begitu dominannya mobil Jepang. Bahkan seorang ekonom Liberalis macam Widjojo Nitisastro merasa tidak nyaman dengan dominasi barang-barang buatan Jepang. Saat itu jalur ekonomi Jepang dipegang oleh Sudjono Hoemardani salah satu asisten pribadi Presiden Suharto.

Widjojo lalu mengemukakan keluh kesahnya kepada Jenderal Sumitro, salah seorang jenderal berpengaruh saat itu. Soemitro yang memahami jalan pikiran Widjojo berkeinginan menyelamatkan ekonomi nasional dari cengkraman modal asing. Belakangan gerakan Sumitro malah dijadikan isu besar atas rivalitasnya terhadap Ali Murtopo yang memang telah terjadi sejak awal. Akhirnya isu “Modal Asing” lenyap berganti dengan isu suksesi.

Isu ini yang kemudian mencuat saat gerakan mahasiswa yang tadinya berlandaskan pada penolakan “Modal Asing” dimanfaatkan oleh sekelompok orang menjadi gerakan politik semata. Keadaan ini tanpa sadar, menjadi legitimasi Suharto untuk terus mengokohkan pengaruhnya, termasuk dengan mencari pemodal dari luar negeri.

Anehnya, di kalangan mahasiswa setelah itu, isu modal asing sampai gerakan mahasiswa 1998 tidak lagi jadi agenda besar. Padahal Modal Asing telah menyebabkan Indonesia begitu terpuruk akibat ketergantungan yang terus menerus.

Muncul ESEMKA

Sejarah mencatat bahwa upaya penolakan modal asing sebenarnya masih terjadi hingga sekarang. Hanya saja, upaya untuk melenyapkan gagasan tersebut masih ada dan tak kalah kuatnya. Tengok saja, saat salah satu karya anak bangsa hadir, yakni mobil “Kiat ESEMKA”. Penolakan secara bertubi tubi datang.

Bibit Waluyo yang juga Gubernur Jateng pernah menegaskan bahwa untuk menentukan kelayakan sebuah kendaraan harus memenuhi kelaikan jalan, memenuhi standar keselamatan dan harus dilengkapi dengan sertifikasi yang jelas. Tanpa memenuhi berbagai kriteria itu maka mobil Esemka belum bisa dipakai di jalan umum kecuali hanya untuk uji coba saja.

Sementara itu, hingga saat ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan belum mengeluarkan sertifikat uji tipe (SUT). Alasannya karena hasil uji emisi belum ada. Itu yang menyebabkan uji berkala juga belum dikeluarkan.

Selain itu, uji kalayakan jalan juga harus melibatkan kementerian terkait seperti Lingkungan Hidup dan Perindustrian. Ujung-ujungnya birokrasi yang jadi penghambat kemajuan teknologi. Untungnya Wali Kota Solo, Joko Widodo akrab di panggil Jokowi berkeinginan memenuhi semua persyaratan pengurusan perizinan kelayakan jalan tersebut.

Mobil ESEMKA sendiri merupakan SUV dengan 7 penumpang. Mobil ini mempunyai panjang 5.035 mm, lebar 1.690 mm serta tinggi 1.630 mm. Untuk urusan mesin Esemka menggendong mesin bensin 1.500 cc type SOHC dengan multi point injection 4 silinder bensin. Tenaga yang dihasilkannya 5.500 RPM setara 105 Hp. Angka ini sebenarnya masih kalah dibanding kebanyakan SUV yang ada. Hanya saja sebagai permulaan mobil ini cukup membanggakan.

Isu ini kemudian menjadi penting karena banyak pejabat kita bukanlah pengambil keputusan di tingkat nasional. Bukan pula sebagai panutan yang peduli dengan karya anak bangsa, melainkan beralih profesi sebagi makelar “calo” yang hanya memikirkan fee, dan tidak mengedepankan nilai tambah yang harusnya bisa dinikmati oleh bangsa sendiri. Buktinya, tak sedikit dari pejabat kita yang terlibat dengan praktek kotor korupsi. Pun, tak sedikit dari mereka yang justru turut andil memperburuk perekonomian kita. Karena itu pentingnya sosok seperti Jokowi.

Industri mobil sebenarnya industri sederhana dan industri masa lampau. Ia merupakan industri yang banyak mempengaruhi perekonomian sebuah negara. Tentu saja, karena varian ikutannya yang relatif banyak. Industri mobil biasanya secara bertahap akan membangkitkan industri lainnya, seperti baja, industri minyak bumi, suku cadang dan lain-lain. Pada gilirannya, bukan tidak mungkin industri ini akan mampu bersaing dan akhirnya dilirik oleh negara-negara lain.

Sehingga, apa yang dilakukan Jokowi dengan mobil ESEMKA-nya merupakan salah satu bentuk perlawanan. Perlawanan terhadap modal asing. Perlawanan yang harusnya terus digelorakan. Perlawanan yang hanya mungkin terjadi, ketika kesadaran telah mencapai puncaknya, dengan membangkitkan dan mencintai produk dalam negeri. (jacko agun)

*credit foto: http://serbasejarah.wordpress.com/2011/12/21/jejak-soeharto-peristiwa-malarithe-shadow-of-an-unseen-hand

Sunday, December 11, 2011

Sebuah Penantian Panjang



Hari ini (12/12/2011) merupakan waktu yang yang paling ditunggu-tunggu oleh seorang teman. Setelah berjuang cukup lama untuk memperoleh momongan, kini ia tinggal menunggu waktu persalinan istrinya. Semoga saja semuanya lancar.

Dari sekian lama membina rumah tangga, ini merupakan pengalaman ketiganya menunggu kehadiran si kecil. Penantian panjang tersebut jadi momen yang sangat berharga. Pasalnya, dua kehamilan sebelumnya berujung dengan kepiluan mendalam. Ia dan istrinya mesti merelakan buah hati mereka kembali pada sang khalik.

Dalam kondisi demikian, bisa dibayangkan betapa merindunya mereka akan hadirnya si buah hati. Tak kala banyak orangtua tengah asyik bermain dengan si kecil, mereka hanya bisa memandang dari jauh sembari mengelus dada. Berharap mereka juga akan merasakannya.

Tak ingin mengalami kejadian serupa, teman ini pun rajin memeriksakan istrinya ke dokter. Hari demi hari pembentukan janin berjalan normal. Tidak ada kelainan. Namun sayang, di tengah jalan keanehan mulai terjadi. Dokter pun menyarankan second opinion.

Singkat cerita, mereka tetap bergerak maju. Biarlah hal yang menakutkan itu menjadi rahasia Ilahi. Mereka tegar meski resiko tetap ada. Saatnya menunggu muzijat kecil terjadi. Muzijat yang akan mengubah hidup mereka. Pertanda sebuah babak baru dimulainya keceriaan plus kesibukan ekstra.

***

Sementara itu, di luar sana, ribuan mungkin jutaan anak-anak kecil yang dilahirkan dari sebuah perjuangan panjang kini sedang menunggu mati. Mati akibat ketidakramahan lingkungan terhadap mereka. Mati oleh kepulan asap yang menggerogoti setiap rongga paru-paru mereka.

Beberapa waktu lalu saya terhenyak membaca kiriman imel dari seorang teman. Dalam surat elekroniknya ia menyertakan sebuah halaman situs yang berisi tentang kondisi terkini tantangan anak Indonesia. Selengkapnya bisa ditemukan di http://lipsus.kompas.com/suaraanakindonesia.

Data Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2008 menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara terbesar ketiga pengkonsumsi rokok di dunia, setelah Cina dan India. Lebih dari 60 juta penduduk Indonesia tidak berdaya menghadapi rokok. Padahal, sedikitnya 400 ribu orang per tahun meninggal akibat konsumsi rokok di kalangan remaja yang meningkat 144% antara 1995-2004.

Berdasarkan laporan tersebut, sebanyak 76,6% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama dengan anggota keluarga lain. Akibatnya banyak anak Indonesia terpapar asap rokok, dan menanggung risiko penyakit akibat rokok.

Riset tersebut sejalan dengan Data Pusat Promosi Kementrian Kesehatan 2011 yang menunjukkan ada 40,3 juta anak usia 0 – 14 tahun terpapar asap rokok. Dari jumlah itu, 1,7% diantaranya telah menjadi perokok aktif sejak usia 5 hingga 9 tahun.

Temuan lain juga menyebutkan bahwa rokok telah merusak sumber keuangan rumah tangga miskin. Sedikitnya keluarga miskin membelanjakan 12,4% pendapatannya untuk membeli rokok, dengan mengorbankan gizi keluarga, kesehatan, dan pendidikan. Sedangkan bagi rumah tangga kaya yang perokok hanya menghabiskan 7% pendapatannya untuk membeli rokok.

Kondisi ini tentu saja mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, secara nyata rokok telah menjadi mesin pembunuh nomor wahid. Perlahan namun pasti. Di tengah ketidakberdayaan, anak-anak menjadi korban.

Dalam sebuah kesempatan, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih pernah menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya jumlah anak-anak perokok di atas usia 10 tahun di Indonesia, sejak empat tahun terakhir.

Riset Kementerian Kesehatan tahun 2010 menunjukkan jumlah perokok anak berusia di atas 10 tahun sejak tahun 2007 mengalami peningkatan prevalensi mencapai 28,2 %. Sedangkan 54,1% lebih dari separuh penduduk laki-laki berusia 15 tahun keatas mengkonsumsi rokok setiap hari. Artinya terjadi kenaikan sekitar 5% dimana mereka memiliki risiko kanker paru sebesar 20-25 persen.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) memperkirakan tahun ini lebih dari 5 juta orang akan meninggal terkait tembakau karena serangan jantung, stroke, kanker, penyakit paru-paru atau penyakit lainnya. Itu semua belum termasuk lebih dari 600.000 orang (1/4 dari mereka adalah anak-anak) yang akan meninggal karena paparan perokok pasif.

Berdasarkan perkiraan, jumlah korban meninggal per tahunnya akibat penggunaan tembakau secara global bisa meningkat menjadi 8 juta pada 2030. Sebuah angka yang mengejutkan, tentunya. Setelah membunuh 100 juta orang selama abad ke-20, penggunaan tembakau bisa membunuh satu miliar orang selama abad ke-21.

Regulasi Pembatasan Tembakau

Semakin nyatanya bahaya akibat tembakau, memaksa WHO mengambil keputusan penting, yakni diberlakukannya pembatasan penggunaan tembakau. Dengan tema “The World Health Organization (WHO) Framework Convention on Tobacco Control (WHO FCTC)”, WHO menyerukan desakan tersebut dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada 31 Mei 2011 lalu. Regulasi pembatasan terhadap tembakau pun semakin kencang didengungkan.

Konvensi Kerangka Kerja WHO dalam Pengendalian Tembakau, selanjutnya disingkat WHO FCTC dikembangkan untuk menanggapi globalisasi epidemik tembakau dan merupakan perjanjian berbasis bukti yang menegaskan kembali hak semua orang untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Konvensi ini merupakan tonggak bagi pentingnya kesehatan masyarakat dan memberikan dimensi hukum yang baru dalam menggalang kerjasama kesehatan internasional.

WHO FCTC diharapkan mampu melakukan perubahan dalam mengembangkan strategi regulasi untuk mengatasi zat adiktif dibandingkan dengan konvensi pengendalian sebelumnya. Perjanjian itu juga mengakui pentingnya kerjasama internasional dan membantu negara berkembang untuk memenuhi kewajiban perjanjian mereka. Perjanjian itu juga diharapkan mampu melindungi generasi sekarang dan mendatang dari gangguan kesehatan, sosial, lingkungan, konsekuensi ekonomi, konsumsi tembakau, dan paparan akibat asap tembakau.

WHO FCTC menjadi instrumen penting yang diharapkan mampu mengendalikan penggunaan tembakau. Awalnya, perjanjian ini dimulai pada tahun 2003, merupakan perjanjian pertama dan paling cepat yang pernah dinegosiasikan di bawah naungan WHO. Perjanjian ini telah didukung lebih dari 170 negara, merupakan prestasi tertinggi dalam sejarah kemajuan kesehatan masyarakat di dunia.

Bagaimana Dengan Indonesia?

Seorang teman yang ikut meliput Konferensi Asia Pasifik tentang Pengendalian Tembakau dan Kesehatan (Asia Pacific Conference on Tobacco or Health–APACT) di Sydney, Australia, beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi konferensi WHO-FCTC.

Saat itu, secara seluruh peserta konferensi yang terdiri dari 700 peserta dari 41 negara sepakat menekan pemerintah Indonesia agar segera menandatangani peraturan internasional mengenai kesehatan masyarakat ini.

Indonesia dianggap membahayakan efektifitas upaya pengendalian tembakau yang sudah dilakukan dengan amat baik di kawasan Asia. Saat ini di antara negara-negara dengan penduduk terbesar di dunia, hanya Amerika Serikat dan Indonesia yang belum menandatangani aturan ini.

Akibatnya begitu terasa. Ketika iklan, promosi dan sponsor rokok sudah dilarang di hampir seluruh dunia, produk rokok di Indonesia malah meraup untung besar. Mereka (baca: produsen rokok) beriklan dengan sangat gencar. Tak sulit menemukan iklan rokok di tempat-tempat umum. Selain itu, tidak ada peringatan bergambar mengenai bahaya merokok untuk kesehatan di kemasan rokok, seperti yang banyak ditemui di negara lain.

Di dalam negeri sebenarnya sudah ada pengaturan mengenai tembakau, salah satunya Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 20/PMK.07/2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.

Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) adalah merupakan penerimaan negara dari cukai hasil tembakau yang dibuat di Indonesia dibagikan kepada provinsi penghasil cukai hasil tembakau sebesar 2%. Peraturan tersebut sebenarnya sebagian telah mengakomodasi juga instrumen yang ada di dalam WHO FCTC, walaupun memang belum secara komprehensif dalam membatasi peredaran tembakau. DBHCHT dialokasikan di samping untuk mengatasi masalah dampak sosial terhadap akibat asap rokok, juga dapat dipakai untuk memperbaiki sistem produksi tembakau.

Menanggapi desakan ratifikasi tersebut, Menteri Perindustrian saat itu (2010), Fahmi Idris menolak mengenai kewajiban meratifikasi konvensi PBB tersebut. "Konvensi PBB tidak wajib," ujarnya pada salah satu media terbitan nasional.

Menurut Fahmi, Indonesia seharusnya bersikap netral atas konvensi tersebut. Tidak ada pengaruhnya antara ditandatangani atau tidak ditandatanganinya ratifikasi itu. Menurutnya, konvensi boleh ditaati, boleh juga tidak, karena bukan sebuah keharusan.

Ketidakharusan meratifikasi konvensi berskala internasional tersebut, menurut Fahmi, belajar dari pengalaman ratifikasi konvensi Kebebasan Berserikat yang dilakukan pada 1998. "Waktu meratifikasi konvensi itu, saya menjabat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, padahal konvensi dikeluarkan pada tahun 1936. Toh, dalam jeda itu tidak terjadi apa-apa," ujarnya.

Bahkan, dia menambahkan, Amerika Serikat hingga sekarang belum bersedia meratifikasi karena menurut mereka tidak perlu.

Sebuah Anomali

Meski ada anggapan yang mengatakan tidak ada perubahan berarti jika Indonesia meratifikasi WHO FCTC, setidaknya konvensi tersebut akan menjadi acuan dalam membuat aturan-aturan yang lebih detil yang berpihak pada masyarakat. Anehnya, belum lagi ratifikasi dilakukan, kecurangan telah terjadi. Bukti terbaru adalah dengan hilangnya pasal tembakau di Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Fakta ini menjadi contoh betapa sulitnya melindungi keluarga sehat agar tetap sehat terbebas dari asap rokok.

Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menjadi sangat kontroversial ketika dalam pembahasannya terdapat pasal mengenai tembakau yang tiba-tiba dihilangkan. Sontak, masyarakat pun bereaksi. Ternyata untuk mendapatkan hidup sehat tidak mudah. Padahal tolok ukur program PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), salah satu indikatornya adalah keluarga harus bebas dari asap rokok.

Mengendalikan penggunaan tembakau tentu saja harus dilakukan dengan bijak dan hati-hati. Mengingat beberapa daerah di Indonesia secara ekonomi penduduknya masih mengandalkan komoditas tembakau sebagai mata pencaharian yang sekaligus dapat meningkatkan pendapatan asli daerah. Tetapi, bukankah kesehatan lebih penting dari semuanya itu? Kesehatan akan jutaan bayi yang akan lahir sebagai pemerus bangsa ini. Salah satunya adalah kehadiran bayi teman yang sedang ditunggu-tungu itu. (Jekson Simanjuntak)



(credit foto: http://syncmed.com/wp-content/uploads/2011/07/protect-children-from-passive-smoking.jpg)

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN

KOMPAS.com - Sains