Friday, April 18, 2008

DiALoG TeRBuKa TaK BeRTiTiK TeMu


Walau sempat mundur dari waktu yang direncanakan, momen bersejarah itu pun berhasil di gelar. Sebuah perhelatan yang sangat ditunggu-tunggu oleh komunitas blogger yang sempat terpojokkan oleh komentar sang pakar. Kendati tak bertitik temu, setidaknya acara ini menyaratkan indahnya perbedaan di era demokrasi.

Hari masih pagi, tapi intensitas sang surya begitu pekat, saat kendaraan kantor yang kami tumpangi melaju di mulusnya jalanan ibukota. Perjalanan kali ini agak mengarah ke ujung selatan, tepatnya di sebuah universitas swasta, di bilangan Ciledug, Jakarta Selatan.

Kondisi jalanan yang begitu padat oleh lalu lalang kendaraan, membuat perjalanan kami sangat terhambat. Hampir satu jam lebih waktu terbuang percuma dalam iring-iringan panjang kendaraan bermotor. Padahal jika tidak macet, paling-paling dibutuhkan 30 - 45 menit, untuk tiba disana. Belum lagi, menurut panitia, pendaftaran harus dilakukan 2 jam sebelum acara dimulai. Jika kondisinya seperti ini, bisa dipastikan, kami betul-betul terlambat.

Terang saja, saat kami tiba disana, ruangan besar yang sehari-hari digunakan sebagai ruangan theater itu telah penuh sesak oleh kurang lebih 300 peserta yang kebanyakan mahasiswa. Bahkan, banyak juga peserta yang tak dapat tempat duduk. Dugaan awal, bahwa kegiatan ini akan dihadiri oleh komunitas blogger yang tidak terima dengan pernyataan Roy Suryo, ternyata salah besar. Bisa jadi, karena fasilitas video streaming –-Binus access-- yang disediakan penyelenggara (dalam hal ini universitas swasta tersebut) bisa di akses siapa saja termasuk komunitas blogger dalam format real time.

Sebelumnya lokasi ini tak begitu digubris banyak kalangan, karena hanya merupakan tempat bagi anak bangsa tuk menimba ilmu. Kampus ini mulai dilirik, terutama oleh komunitas blogger, karena disanalah akan terjadi dialog terbuka antara Riyogarta (perwakilan komunitas blogger) dengan Roy Suryo --kata(nya)pakar telematika-- yang sempat memberi komentar miring terhadap perkembangan komunitas blogger.

Perseteruan ini mencuat beberapa minggu terakhir, akibat komentar Roy Suryo di beberapa media massa, berujung dengan tawaran dialog terbuka oleh Riyogarta yang merasa komunitas blogger telah dilecehkan dengan pemberitaan yang menyebut; mereka setara dengan hacker, blogger adalah tukang tipu, stigma blogger negatif dan lain sebagainya. Belakangan diketahui, Roy Suryo menerima tantangan tersebut.

Sebelum acara ini digelar, banyak kalangan yang mengkhawatirkan jalannya dialog. Pasalnya, kemarahan komunitas blogger begitu memuncak dengan pemberitaan itu. Akhirnya, untuk menjembatani semua aspek, kata-kata “dialog terbuka’ dipilih menggantikan “debat terbuka”, yang dianggap bisa menimbulkan bias. Selain itu, tema yang diangkat pun menjadi “Membuat Blogger Positif Untuk Indonesia” bukannya “isu seputar blogger terkait dengan statemen-statemennya (baca: Roy Suryo) yang telah dikeluarkannya di media massa”. Sepertinya ini adalah win-win solution dari kedua belah pihak.

Background Masalah

Polemik ini muncul akibat komentar Roy Suryo yang dilansir beberapa media, sehubungan dengan disahkannya UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) oleh DPR pada Selasa, 25 Maret 2008 lalu. Dengan diberlakukannya UU itu, maka semua situs yang berbau pornogarfi dan pornoaksi akan di blokir. Menanggapi hal itu, saat dimintai keterangan (seperti dikutip dari situs berita antara.co.id), ia menyatakan: “... akan ada kemungkinan ada perlawanan dari para ’blogger’ dan ’hacker’ yang biasanya akan mengganggu sistem pemblokiran tersebut.”

Soal nama 'Roy Suryo' dicatut beberapa blogger, Roy mengaku tidak mempermasalahkannya. "Anggap saja blog seperti orang membuang sampah. Saya capek melayani orang kayak gitu. Itulah yang tidak saya sukai dari blog. Blog tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu," tandasnya. (detikINETSelasa, 26/02/2008)

Belakangan, wajah mirip Roy Suryo marak muncul di situs-situs internet di Indonesia yang disusupi dedemit maya. Roy mengklaim pelakunya adalah kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif. (detikINET, Selasa, 01/04/2008).

Tak berhenti sampai disitu, Roy juga menyebutkan bahwa blogger sama dengan hacker, yang berlindung di balik suatu webblog dalam melancarkan aksinya, seperti saat difacing (baca: perubahan tampilan) terjadi pada beberapa situs penting --situs Depkominfo, Partai Golkar dan beberapa bank-- beberapa waktu lalu.

Lalu, Roy Suryo kembali berkomentar perihal siapa dalang di balik semua ini. “Siapa 'mereka' yang dimaksud Roy? "Kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif adalah pelakunya. Hal ini membuktikan, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif," tegas Roy kepada detikINET, Kamis (27/3/2008)”.

Bahkan, lebih jauh, Roy Suryo juga sempat mengatakan bahwa “hal ini membuktikan, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif.”
Komentar-komentar diatas hanyalah sedikit testimony Roy Suryo yang berhasil saya kumpulkan, sehubungan dengan maraknya penolakan komunitas blogger terhadap komentar tersebut. Komunitas blogger menganggap bahwa Roy Suryo tidak memahami esensi dasar mengapa banyak kalangan membuat blog, sebagai tempat kumpulan ide ataupun sekedar ruang menyalurkan uneg-uneg.

Menyalahkan Wartawan

Saat kami tiba, Roy Suryo tengah sibuk memaparkan pandangan yang dianggapnya benar. Menggunakan pengeras suara ia mulai menghipnotis peserta dengan kemampuan verbalnya dalam berkomunikasi. Sekeliling pun tampak hening menyimak setiap uraian yang disampaikan.

Pada seorang peserta wanita yang kebetulan duduk disampingku, aku bertanya perihal sudah sejauh mana arah dialog yang terjadi. Ternyata, sekarang baru memasuki sesi pemaparan oleh Roy Suryo, demikian ujarnya. Pantasan, kami tak sempat menikmati pemaparan Riyogarta yang telah selesai sebelum kami datang.

Walau kedatangan kami ketempat itu terlambat hampir 1 jam dari jadwal yang ditentukan (baca; jam 09.00 WIB), tetapi aura perbedaan pendapat kental terasa. Bahkan, kebanyakan pertanyaan peserta lebih memihak komunitas blogger, ketimbang pada Roy Suryo yang lebih banyak senyum sembari mengelak dan bersifat defense dalam mempertahankan argumennya.

Dari sekian banyak pertanyaan, hanya beberapa saja yang berhasil kuingat dengan baik. Diantaranya, saat ditanya, mengapa ia memberi komentar yang mengatakan bahwa blogger sama dengan hacker. Padahal blogger dan hacker adalah dua hal yang berbeda.

Dalam kesempatan wawancara selesai acara, Roy membantah telah memberi keterangan seperti itu. “... jelas beda! Saya tidak pernah mengatakan blogger sama dengan hacker! Ya..., mungkin karena penjelasannya panjang dan yang termuat hanya sedikit, jadinya seperti itu. Miss – miss (baca: kekeliruan) seperti ini, saya pikir lumrah dan sah-sah saja. Jika konfirmasi langsung, pasti saya akan jelaskan”, ungkapnya.

Di dalam jawabannya, Roy juga mengatakan ada perbedaan antara apa yang ia ucapkan dengan apa yang wartawan tulis. Ini terjadi karena pemilihan ‘angle dan quote’ serta keterbatasan halaman, ketika harus menuliskan semua komentarnya. Hal ini terjadi, lebih karena ingin terlihat menarik untuk dibaca oleh khalayak. Akibatnya, ia menganggap wartawan telah memelintir omongannya.

Roy tetap bersikeras, karena menurutnya ia memiliki bukti keras yang bisa digunakan sebagai pegangan, bahwa apa yang ia katakan adalah benar. “saya masih simpan bukti rekamannya, kok!”, ujarnya bersemangat. Namun sayang, dalam kesempatan ini, ia tidak menunjukkan bukti rekaman suara tersebut, selain tentu karena tak ada peserta yang menanyakannya.

Lebih jauh, Roy menganggap bahwa itu adalah hak wartawan untuk menulis sesuai dengan keinginan mereka. Dengan begitu ia menganggap akan lebih demokratis. Padahal, jika Roy keberatan dengan pemberitaan media massa, ia berhak melakukan protes. Itulah gunanya, hak jawab. Namun, lagi-lagi, Roy tidak menggunakan hak tersebut.
Mengenai pemelintiran berita yang dituduhkannya, tentunya agak sukar diterima, ketika hampir semua media memuat komentarnya yang mengatakan blogger sama dengan hacker. Apakah, memang ada skenario media untuk menjatuhkan Roy dengan komentar-komentarnya. Rasanya, terlalu jauh.

Klarifikasi urung dilakukan

Dari semua sesi pada acara hari itu (jumat, 11 April 2008), statement yang paling ditunggu-tunggu adalah klarifikasi atau penarikan kembali ucapan Roy Suryo yang mengatakan bahwa blogger sama dengan hacker.

Tetapi, ketika pertanyaan itu dilayangkan langsung oleh Riyogarta sendiri, Roy Suryo yang terlihat menguasaai keadaan, tetap memilih berdealektika dengan mengatakan bahwa ia tidak pernah mengatakan seperti itu.

Itu yang membuat Riyo –-panggilan Riyogarta-- yang sehari-harinya bertugas sebagai seorang Independent IT Consultan, merasa tidak puas dengan kemajuan yang dicapai pada hari itu.

“saya betul-betul gak puas, harusnya ia mengklarifikasi omongannya itu” ungkap Riyo ketika saya mewawancarainya.

Menurut Riyo, harusnya Roy tidak bisa menyamaratakan antara hacker dengan blogger. Jika blogger adalah orang-orang yang memilih blog sebagai media komunikasinya, berbeda dengan hacker, yang masuk tanpa permisi ke sistem pertahanan sebuah situs yang terhubung secara online. Jika ia (baca: hacker) melakukan perubahan pada sistem tersebut, baik dengan mencuri, merusak ataupun merubah sesuatu yang telah tersusun rapi, maka gelarnya berubah menjadi “Cracker”. Cracker ini lah yang sempat meresahkan ketika defacing terjadi pada beberapa situs penting tersebut.

Walau begitu, tak tertutup kemungkinan, mereka-mereka yang berlaku sebagai hacker ataupun cracker, mungkin saja memiliki blog pribadi, yang biasa disebut ‘weblog’. Namun, pemilik blog yang dikenal sebagai blogger, belum tentu semuanya hacker. Apalagi banyak blog yang bisa digunakan, disediakan gratis oleh provider di internet, seperti; Blogger, Friendster, Multiply, Wordpress dan lain sebagainya. Sedangkan menjadi seorang hacker, tentunya dibutuhkan keahlian lebih tinggi, ketimbang menjadi blogger, yang syaratnya hanya dengan mengisi form register.

Itu sebabnya, Riyo ingin klarifikasi di forum ini. “ ... ya jelas ada keinginan, karena itu benar-benar generalisasi. Coba kalo omongannya lebih halus, dengan menyebut oknum, mungkin itu lebih bisa diterima dan tidak akan bermasalah seperti ini”, imbuhnya kemudian.

Pemberian Blog Gratis

Dialog terbuka yang sempat molor dari waktu yang ditentukan panitia, ternyata selalu membuka ruang bertanya perihal jarangnya kita menemui tulisan-tulisan Roy Suryo di dunia maya. Kemampuan Roy berkomunikasi secara lisan, dianggap jadi pembenaran, mengapa ia jarang menuangkan ide-idenya lewat tulisan. Padahal, lewat tulisan, kita bisa memahami ide-ide penulisnya.

Pertanyaan ini mengemuka, sehubungan dengan komentarnya yang banyak di kutip media massa. Ada penanya yang mengatakan, bukankah seorang pakar akan semakin diakui kepakarannya, jika ia menuangkan ide-ide cemerlangnya dalam bentuk tulisan.
Namun dalam hal ini, Roy punya pendapat lain. Menurutnya, ada bermacam cara yang bisa digunakan dalam berkomunikasi. Tidak selalu dengan menggunakan blog atau sejenis itu. Walau tidak menyebutkan secara rinci media komunikasi tersebut, tapi ia tetap tak bisa menunjukkan salah satu karya tulisannya yang bisa diakses orang banyak. Lagi-lagi, ia memilih tersenyum simpul.

Karena itu, dalam kesempatan istimewa ini, Riyogarta melakukan kejutan, yakni dengan memberi sebuah domain blog gratis yang bisa di akses Roy Suryo secara cuma-cuma. Riyo berharap dengan pemberiannya tersebut, Roy Suryo mau menuangkan ide-idenya lewat tulisan di blog gratis tersebut. “dari situ nanti, kita akan baca tulisan-tulisannya” ungkap riyo, sebelum pemberian dilakukan.

Pemberian ini tentu saja di sambut dengan tepuk tangan yang meriah oleh semua peserta dialog. Selanjutnya, Abimanyu yang kebetulan sebagai moderator, mempersilahkan Roy Suryo untuk maju, menerima pemberian tersebut. Kesempatan ini pun dimanfaatkan para juru foto untuk mendokumentasikannya.

Adapun pemberian blog gratis tersebut beralamat di http://roy.suryo.info. Meski demikian terlihat tidak adanya keinginan untuk nge-blog dari Roy Suryo. Karena menurutnya, ini adalah soal pilihan. Roy memilih untuk tidak ngeblog dan memiliki cara berkomunikasi sesuai dengan caranya sendiri. Selain itu, dia juga sempat mengklaim bahwa domain roysuryo.info itu miliknya, tapi belakangan diketahui, ternyata domain tersebut sedang tidak aktif, alias tidak beraktifitas.

Tak Bertitik Temu

Secara keseluruhan, acara pada hari itu tetap saja tak bertitik temua antara kedua belah pihak yang berseteru. Riyogarta yang mengharapkan adanya klarifikasi pada momen ini, tak mendapat apa yang diinginkan. Sementara, Roy Suryo lebih bersifat defense dengan semua pertanyaan yang diajukan padanya.

Pada kesempatan ini, Roy malah mengajak semua rekan-rekan blogger agar bertindak dan berlaku sebagai blogger positif, yang bisa memberi arti bagi bangsa ini. Menurutnya, sudah saatnya komunitas blogger melakukan tindakan nyata yang lebih bermanfaat, ketimbang hanya ngobrol di dunia maya ataupun bertemu alias kopi darat diantara sesama komunitas.

Dia bahkan menambahkan, jika saja komunitas blogger bisa membantu masyarakat, seperti yang dilakukan komunitas motor gede ataupun klub mobil, dengan aksi-aksi sosialnya, tentu sangat bermanfaat.

Hanya saja, pelebelan yang diberikannya, membuat sebagian kalangan blogger menjadi resah. Sebab, pembagian antara blogger negatif dan positif, belum pernah ada dan tak dikenal sebelumnya. Belum lagi, pernyataannya di media massa yang menyatakan bahwa perbuatan hacking itu dilakukan oleh blogger negatif, membuat banyak kalangan menganggap kegiatan membuat dan mengisi blog adalah kegiatan yang negatif.

Bahkan di awal sesi tanya jawab, salah seorang penanya yang kebetulan seorang dosen kriminolog, menanyakan keabsahan komentar tersebut. Menurutnya, akibat pemberitaan itu, banyak kalangan yang menganggap bahwa memiliki blog adalah perbuatan negatif. Ini pula yang membuat banyak orang (non blogger) enggan nge-blog karena stigma negatif yang mengikutinya.

Kendati masing masing pihak berpegang pada pendapatnya, Abimanyu –-sang moderator-- ternyata tak kurang akal untuk menyimpulkan dialog pada hari itu. Menurut catatannya, ada beberapa poin penting yang bisa diambil sebagai pelajaran penting. Salah satunya, mengenai pilihan dalam berkomunikasi. Era keterbukaan seperti sekarang ini, membuat orang bebas memilih cara berkomunikasi yang cocok dengan dirinya. Bisa jadi, dimasa depan akan muncul media komunikasi baru

Selain itu, untuk kedepannya para blogger harus bertanggungjawab dengan memberi batasan, perihal hal-hal yang layak dipublikasi dan mana yang tidak. Ini menjadi perlu agar tidak terjadi stigma blogger negatif tadi. Sebab, nge-blog merupakan kebebasan berekspresi, namun, bukan berarti bebas berbuat seenaknya.

Walau tak bertitik temu, yang penting digarisbawahi adalah rasa toleransi dan rasa saling menghargai begitu nyata di forum ini. Prediksi awal, yang mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi ajang pembantaian, ternyata tak terbukti. Kedua belah pihak tetap menghargai pendapat masing-masing dalam rasa persaudaraan. Setidaknya ini bisa disaksikan saat acara selesai, ketika sesi foto bersama, sholat jumat bersama hingga makan siang bersama di ruang rektorat. Mungkin inilah indahnya demokrasi. Berbeda pendapat tapi saling menghargai.

(photo courtasy by: Oji-oji)

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN