Thursday, September 14, 2006

"SaAt PeNyAKiT iTu MeNyErAnG"

“Mao, aku harus ke Rumah Sakit sekarang!”, teriakku, coba meredam sakit yang semakin tak tertahankan. Melihat itu, ma-mao (baca: panggilan istriku) segera lari menghambur keluar rumah. Mencoba memanggil Asri-sobat karibku, yang baru saja tiba di kost-an. Untungnya, sobatku itu langsung tanggap dengan kondisiku yang lemah lunglai. Tak punya tenaga lagi!

Begitu mendengar penjelasanku, Asri langsung membopong. Mencoba menuntunku menyusuri Gang Damai yang berdebu, pertanda musim kemarau segera tiba. Membayangkan bisa tiba di Rumah Sakit, rasanya mustahil. Apalagi untuk menuju kesana, aku harus berjalan kaki ke depan gang untuk menunggu taxi. Sebuah penderitaan yang sangat menyiksa. Belum lagi, kondisi di dalam taxi mungkin semakin bertambah buruk, jika aku muntah dan buang air lagi. Sungguh memalukan! Pasalnya, sudah tak terhitung berapa kali aku muntah dan BAB (Buang Air Besar: red) sejak pagi tadi.

Untungnya semua yang kukhawatirkan tak terjadi. Hanya muntah, -berisi air yang kuminum sebelum berangkat tadi-, yang sempat keluar saat taxi mulai melaju. Ketika supir menanyakan arah, kita bertiga (aku, ma-mao, asri: red) masih belum punya tujuan pasti. Usulan pertama, kita coba mengarah ke RS. MEDISTRA. Tapi, karena arah ke kuningan macat banget, si supir menawarkan alternatif kedua, “RS. TEBET”. Pasalnya, arah ke RS ini lancar tak ada halangan. Sedangkan jika ingin mencapai RS. Tria Dipa (baca: option terakhir), pasti sulit, karena akan terhalang kemacetan di Pancoran dan putaran Kalibata. Jadilah sore itu, kami berlabuh di RS. TEBET.

Setibanya disana! Uh…, dengan kekuatan penuh, kupaksa tuk melangkah meniti rangkaian ubin menuju ruangan IGD (Instalasi Gawat Darurat; red) di sebelah kanan pintu masuk. Karena jarang dirawat di RS, aku gak tahu harus memulai dari mana? Apakah menanti di ruang tunggu, atau harus mendaftar dulu. Sungguh, aku gak paham. Yang aku ingat dulu, kalo sedang sakit, hanya “mak Lambok” (baca: bidan desa) yang jadi tempat pelarian. Ntah kenapa, setiap orang yang ditanganinya selalu sembuh. Apa karena sugesti, atau obatnya emang manjur. Gak ada yang tahu? Jadi, dengan perawatan yang namanya RS, aku kurang familiar. Sebab, bagiku RS adalah ajang tuk menjenguk orang-orang yang sakit, apakah itu saudara atau teman. Tapi, kini kondisinya berubah 180 derajat. Akulah yang butuh dijenguk!

Lagi-lagi, untungnya ma-mao dengan cekatan membenahi semua persyaratan yang diminta pihak RS. Sementara Asri, dengan sigap menuntunku ke salah satu bangsal di pojokan ruang IGD tersebut. Sekarang, tinggal menunggu penanganan medis.

Ntah mengapa, yang namanya RS selalu saja lambat dalam memberi pertolongan pertama. Itu yang kualami disana. Kalo saja Asri dan Benu –yang datang belakangan- gak cerewet kepada para suster yang belagak pilun, mungkin aku masih tergelak layu, untuk beberapa waktu berselang. Padahal saat itu kondisiku sangat mengkhawatirkan. Bayangkan saja, selain dehidrasi karena kehilangan cairan tubuh, tiba-tiba aku merasa ingin muntah, sementara wadahnya gak ada. Belum lagi, rendahnya suhu udara pendingin ruangan, membuatku hypothermia (baca: kehilangan panas tubuh). Sampai-sampai bibir, tangan dan kakiku terasa beku. Sungguh, aku berada di titik nol. Ingin bertahan tapi tak punya tenaga.

Menanggapi ocehan temanku itu, para suster segera bergerak cepat. Mulailah mereka memeriksa kondisiku. Ada yang nanyain gejala awal, ada yang meriksa denyut nadi, dan ada yang memasang alat-alat pendeteksi, yang aku gak tahu apa nama dan fungsinya. Tahunya, itu adalah presedur standar sebelum pasien dibawa ke dalam ruangan perawatan.

Sejurus kemudian, aku sudah berada di atas kereta dorong, lengkap dengan sebotol infus larutan elektrolit, -pengganti cairan tubuh-. “Ruangan Bapak ada di nomor 403, tepatnya di lantai 4”, ucap seorang perawat yang ikut mendampingi. Ternyata, dari klaim asuransi yang diajukan, aku berhak atas perawatan kelas I dengan jatah ruangan Rp. 250 ribu/ hari. Untung, aku bisa mendapat kelas itu, sebab jika tidak, fasilitas yang memadai pasti jauh dari harapan.

Masih dengan kondisi lemas yang menggigil kaku. Benu menuntun kereta dorongku memasuki koridor RS ini. Tak tampak keramaian di lorong-lorongnya. Semua terasa lengang, berbeda dengan RS kebanyakan, yang selalu riuh dengan lalu lalang orang. Setelah melewati meja pendaftaran di lantai 4, kami berbelok ke arah kiri. Tepatnya, 2 kamar dari ujung di sebelah kiri, menjadi tempat peristirahatanku untuk beberapa hari kedepan.

@!@!@!@!

Pagi itu, ada sedikit keganjilan. Tak seperti biasanya, keinginan buang air begitu memuncak. Perasaan sembelit pun ikut-ikutan meraja sejak tengah malam tadi. Itu yang membuat aku gelisah, gak bisa tidur hingga pukul ½ 4 pagi. Begitu tertidur, keinginan BAB tadi segera memanggil, minta diekspresikan.

Tak lama berselang (baca: 30 menit), keinginan keparat itu muncul lagi. Hanya, BAB kali ini sudah tak ada ampasnya, yang keluar hanya cairan kental berwarna keputihan. Melihat itu aku jadi takut. Sebab, kejadian serupa yang dialami bubu -anakku- sebulan lalu. Itu juga yang membuatnya harus di rawat inap selama 4 hari di RS, akibat kekurangan cairan tubuh.

Mencermati kondisi itu, kucoba bertahan dengan meminum larutan oralit sebanyak-banyaknya. Tapi, hasilnya tetap saja gak berubah. Malah, keinginan muntah mulai ikut menyerang. Jika keinginan BAB muncul, pasti aku akan muntah sebanyak-banyaknya. Gak ada tenaga yang bisa menahan keinginan itu. Dan, jika itu terjadi, aku akan semakin lemas. Hanya dalam kurun waktu sejam, sudah 6 kali aku harus mondar-mandir ke kamar kecil.

Awalnya, orang rumah (baca: sebutan untuk semua penghuni rumah) gak terlalu khawatir dengan kondisiku. Mereka pikir keadaanku masih dalam taraf wajar dan bisa bertahan sampai sore nanti. Itu yang membuat mereka menyempatkan pergi ke rumah saudara di Kebun Jeruk untuk sebuah keperluan penting. Mereka gak tahu, kalau itu adalah waktu-waktu terberat dalam penantian panjangku. Sebisa mungkin kucoba bertahan, sampai mereka datang. Sehingga setiap saat, kerjaku hanya menghitung putaran sang waktu. Tapi, lagi-lagi kondisiku semakin drop. Bahkan semakin buruk. Disaat itulah aku berpikir untuk ke RS seorang diri. Tapi, untuk beranjak dan berdiri saja, sakitnya bukan main. Selain lemas, karena banyak kehilangan cairan, rasa mulas yang melilit perut ini semakin menjadi-jadi. “God, pliz give me a power!”

Menit berganti menit, jam berganti jam. Kini kondisiku semakin parah. Tiap 10 menit, kerjaku hanya buang air sambil muntah. Karena gak ada yang tersisa di lambung, setiap muntah, hanya cairan -sisa air yang kuminum tadi- yang keluar. Biasanya setelah itu, perasaan sedikit tenang. Tapi itu tak berlangsung lama. Satu-satunya solusi penyelesaian, hanya tidur. Itupun dengan posisi miring. Jika coba terlentang, rasa mulasnya semakin parah. Sepertinya, sudah 20 kali aku buang air disertai muntah-muntah sejak pagi tadi.

Dalam kondisi yang semakin tak menentu. Tepat pukul 16.45, ma-mao pun muncul di depan pintu. Saat itulah, keputusan rawat inap di RS menjadi pilihan terakhir, yang harus dilakukan. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapat perawatan dokter sesegera mungkin.

@!@!@!@!

Empat hari di RS, kupikir cukup tuk istirahat panjangku. Apalagi, kini kondisiku semakin baik sejak malam tadi. Keesokan paginya, perawat yang telaten mengurusku beberapa hari ini, mulai melepaskan 2 buah infus yang selalu setia mendampingi. Nafsu makanku pun semakin menggila. Rasanya, aku gak puas dengan menu bubur yang mereka tawarkan. Aku butuh nasi putih dengan porsi yang sedikit jumbo, tuk mengimbangi rasa laparku.

Akhirnya, saat yang ditunggu pun tiba! Sudah menjadi aturan wajib, sebelum meninggalkan RS, aku harus membenahi semua administrasi yang tersisa, selain menunggu visit dokter yang akan memeriksa keadaan terakhirku. Tapi, saat hari semakin tinggi, kehadiran sang dokter belum menunjukkan tanda-tanda. Akhirnya dengan berat hati, pihak RS pun memberiku pulang, walau tanpa sang dokter. Ternyata, pihak RS gak bisa menahan keinginan pasien tuk pulang, jika kondisi pisiknya telah pulih.

Saat menandatangani klaim asuransi tadi, iseng-iseng aku bertanya perihal biaya perobatan selama empat hari ini. Samar-samar mereka menyebut angka 3,5 juta rupiah. Saat kuperjelas angkanya, mereka gak bisa merinci pasti. “ya, sekitaran itulah!”, jawab mereka ketus. Mendengar itu aku jadi senyum sendiri. Mungkinkah mereka tak jujur, atau…??? “Whatever lah! Peduli amat, yang penting aku sembuh. Lagian yang bayar, kan kantor”, gumanku lirih, sambil beranjak pergi menyandang LOWE alpine (baca: ranselku), tempat semua pakaian kotor berada.

Wednesday, September 13, 2006

"....CaTaTaN dARi BaNDuNg..."

Akhirnya sampai juga! Kini, sebuah resort, lengkap dengan beberapa villa segera akrab menyapa. Inilah tempat persinggahan kami kali ini. Mungkin, karena mengantuk tadi, aku gak memperhatikan arah perjalanan. Tahu-tahunya sudah sampe di Villa Air, Lembang, Bandung. Lokasinya yang berada di dataran tinggi, menghadirkan sebuah panorama alam yang begitu indah. Hembusan udara sejuk, ciri khas pegunungan, tak ketinggalan membalut tubuh-tubuh penuh semangat ini.

Yup, di tempat ini kami akan melakukan pengambilan gambar (baca: taping) presenter sebuah acara stasiun televisi swasta. Seperti biasa, semua alat segera diturunkan. Masing-masing orang terlihat sibuk membawa setiap jenis barang. Peralatan seperti; kamera, lighting, audio, kabel dan monitor segera di pasang di tempat yang telah ditentukan, tepatnya di lantai tiga bangunan utama resort ini.

Tak lama berselang, semua telah stand by. Kini, tinggal menunggu sang presenter. Sedetik kemudian, produser mencoba membuka komunikasi lewat hp. Menghubungi presenter, yang tak tahu rimbanya, tapi hasilnya tetap saja nihil. Lama menunggu, ternyata kehadirannya belum menunjukkan tanda-tanda. Sampai tak terasa sudah dua jam lebih kami beradu dalam kebekuan. Sementara udara dingin membuat perut mulai bergemericing, minta segera diisi.

Usut punya usut, ternyata sang presenter gak bisa hadir, karena masih berada di Sentul. Disana dia terlibat kontrak dengan pihak lain, yang kami gak tahu sebelumnya. Untuk tanggal 5-7 September ini, harusnya dia sudah tahu, kalau hari itu kita ada taping. Pasalnya, semalam dia sudah dihubungi untuk konfirmasi kebersediaannya. Dan, dia pun menyanggupi. Tapi ntah mengapa dia mengingkari kesepakatan itu, dengan alasan masih ada sisa waktu esok. Nah, dengan pertimbangan itu, akhirnya dia menerima tawaran lain. Sementara untuk jadwal taping, dibutuhkan perencanaan yang sangat matang. Sebab penentuan hari, kru dan peminjaman alat, ternyata memang gak gampang. Sepatutnya dia bisa menolak jadwal syuting di tempat lain, ketika berbenturan dengan skedul taping.

Melihat itu, mau gak mau kita harus mutar otak, gimana caranya agar taping tetap berjalan. Sebab kalo sampai batal, hancur deh semuanya. Mulai dari jadwal, tempat, sampai uang spj (baca: uang tugas luar kota) pasti gak mungkin sampai di genggaman. Akhirnya, mencari presenter dadakan untuk di casting, menjadi sebuah solusi. Mulailah tiap-tiap orang mengundang kenalan mereka, dengan harapan semoga layak jadi presenter untuk membawakan program tersebut.

Dari beberapa orang yang ikut, kayaknya sang produser –yang sedari tadi terlihat khusyuk mengamati gestur dan vokal para kontestan (baca: yang ikutan casting)- masih merasa belum ada yang cocok. Padahal sudah 4 jam lebih waktu yang terbuang untuk kegiatan ini.

Kini, tinggal sedikit waktu dan kesempatan yang tersisa. Satu-satunya harapan yang ada hanya mengandalkan kenalan teman koresponden Bandung. Kabarnya, dia punya teman yang dianggap cocok untuk membawakan acara tersebut. Dan, waktu bertemu tinggal malam ini.

@!@!@!@!

Keesokan harinya, saat semburat sang fajar menyala merah di ufuk timur, kami sudah berbenah lagi. Rasanya, istirahat malam tadi masih saja kurang. Pasalnya tidur yang kemalaman plus udara dingin begitu menusuk tulang. Sejurus kemudian, semua peralatan kembali ditata, siap untuk digunakan. Rencananya, untuk episode I-III, kami akan mengambil gambar di kawasan ini. Selain karena viewnya memang indah, intensitas cahaya matahari cukup mendukung, jadi gak perlu lighting tambahan.

Setahap demi setahap, pengambilan gambar berjalan mulus. Dari sisi teknis presenting, gak banyak masalah. Ternyata presenter dadakan –baca: namanya yeri- ini, cukup lihai membawakan satu demi satu lead –pendahuluan- yang dibuat. Penjiwaan dan vokalnya yang bulat turut memperkuat karakter presenter yang dibutuhkan program ini. Hanya sedikit masalah teknis yang kerap mendera, seperti: suara orang lalu lalang, suara riuh buruh bangunan, dan deru kendaraan.

Tak terasa, pukul 13.45 wib menjadi akhir cerita di resort ini. Di sebuah pojokan bungalow, tepatnya disamping kolam, pengambilan gambar untuk episode III berakhir sudah. Lega rasanya, melihat beban sedikit terkurangi. Kini, tinggal 3 episode lagi, menanti di sebuah tempat yang berbeda.

@!@!@!@!

Sejenak, perut yang sedari tadi keroncongan minta segera diisi. Sebuah rumah makan, -yang aku gak tahu namanya- menjadi persinggahan selanjutnya. 20 menit waktu yang kami habiskan ditempat itu, menikmati aneka hidangan yang tersaji. Ah, akhirnya stamina yang mulai redup kini fit lagi, siap untuk tantangan berikutnya.

Selanjutnya, iring-iringan kami melaju membelah jalan-jalan kota Bandung yang berdebu, berlomba dengan derap langkah di trotoar, dan arah matahari yang mulai condong ke barat. Tujuan berikutnya, adalah “Beverly Hill’s”, sebuah kompleks hunian mewah di utara Bandung, tepatnya di Ci-situ, dekat kawasan terkenal, “Dago”.

Setelah permisi dengan pengelola gedung, kembali kami harus bergelut dengan aneka kabel dan seabrek peralatan yang telah terpacking rapi. Sedetik kemudian, di sebuah rumah yang ditawarkan, semua peralatan mulai digelar lagi, siap tuk digunakan. Kini, tinggal menunggu aksi presenter dadakan.

Sama seperti di Villa Air tadi, sang presenter masih terlihat luwes membawakan beberapa buah lead. Tak tampak kecanggungan di wajahnya, seperti pagi tadi. “Mungkin karena sudah terbiasa dan merasa akrab dengan para kru, kali”, gumankku lirih.

Kalo tadi, yang jadi kendala adalah soal teknis. Kini, masalah yang sama pun muncul kembali. Intensitas matahari yang berubah drastis, salah satunya. Untuk masalah ini, mau gak mau, kita harus mutar otak. Pemilihan lokasi indoor disepakati menjadi solusinya. Hanya saja, ruang yang terlalu sempit dengan background yang flat (baca: datar), menjadi permasalahan selanjutnya. Untungnya, sekali lagi, dengan sigap kita (baca: kru) bisa memecahkan halangan itu.

Lepas dari satu lokasi, kita pindah ke lokasi berikutnya. Kali ini, kolam renang menjadi pilihan. Tata lampu yang ditawarkan tempat ini, menjadi daya tarik tersendiri yang sayang untuk dilewatkan. Seperti sudah dibayangkan, tak banyak rintangan yang menghalang, selain audio di luar yang cukup kencang. Lagi-lagi, untuk masalah ini, kita harus pintar-pintar cari penyelesaian. And, akhirnya semua berjalan mulus.

Kini, tinggal satu episode lagi. Rencananya, ruang kafe yang ada di pojokan tempat ini menjadi option terakhir. Mungkin, karena sudah terlalu lelah, banyak teman-teman yang mulai terlihat lesu. Maklum, sepertinya kita sudah bekerja sejak pagi tadi tanpa istirahat, kecuali makan. Kembali dengan semangat penghabisan, kami harus menuntaskan misi hari itu.

Ya, sedikit demi sedikit, sebuah kerja keras mulai membuahkan hasil. Satu persatu segmen -yang terlihat membosankan- berhasil dilewati, berganti dengan segmen selanjutnya. Karena masih berada dalam satu ruangan, tak terlalu banyak halangan berarti. Kini, tinggal segmen terakhir yang agak membingungkan. Pasalnya, lokasi sedikit berubah yang berujung pada perpindahan alat.

Begitu tahu, ini adalah segmen terakhir. Sontak kawan-kawan bergairah kembali. Spirit baru langsung terpompa. Dengan semangat penghabisan, kami harus menuntaskan segmen terakhir malam itu. Akhirnya, semua kerja keras itu usai sudah, berganti dengan derai tawa.

@!@!@!@!

Keesokan harinya, aku masih belum sanggup bangkit dari pembaringan. Mungkin terlalu lelah dengan semua aktivitas itu. Sayup-sayup antara sadar dan tidak, sebuah tangan mulai mencengkram. Membangunkan tidur panjangku. “Bang, ayo berenang mumpung masih pagi. Ntar gak sempat lagi, kalo keburu pulang”, ujar seorang teman yang coba menyadarkanku. Rasanya, aku gak menggubris ajakan tadi. Tidur pulas masih lebih baik dibanding tawaran tadi. Sedetik kemudian, terdengar: Zzzzttss…..Zzzttss….Zzzttss….







Saturday, September 02, 2006

"TaMAn PuRiNg & PeNjUaL BuKu"

Sudah satu jam lebih, kami beputar-putar di sebuah kawasan, yang terkenal dengan nama “Taman Puring”. Letaknya sangat strategis dan mudah dijangkau, berada di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tempat ini begitu familiar bagi mereka-mereka yang hobi berburu barang bekas (baca: barang-barang langka nan unik) dengan harga murah. Untuk sebuah barang, selain harus teliti, proses tawar-menawarnya jadi keunikan tersendiri. Pasalnya, harga yang ditawarkan biasanya sangat tinggi. Untuk itu kita harus bisa menaksir setengah harga, kalau gak mau tertipu.

Jujur, di tempat ini, aku gak berencana untuk belanja. Abis, uang di saku lagi cekak. Rencananya, teman-teman pergi kesini untuk survey tempat liputan. Sementara aku, yang sedari tadi bosan di kantor, merasa tertantang saat tawaran itu datang. Hitung-hitung bisa memecahkan kejenuhan .

Sejurus kemudian kami terbagi dua kelompok. Yang perempuan sibuk dengan pencariannya sendiri, sementara kami masih belum punya arah pasti. Sepertinya, hanya oji –salah seorang teman-, yang punya hajat ditempat ini. Abis, dia berencana mengganti sepatu bututnya dengan yang baru.
Letaknya yang melebar dengan posisi kios yang berhadap-hadapan, cukup menyulitkan kami untuk melakukan penyisiran berburu barang yang diingini. Kita sedikit kewalahan, tak tahu harus memulai dari sebelah mana. Untungnya oji cukup kenal kawasan ini. “…..dari sebelah sini aja bang, ntar baru ke sana”, tuturnya merujuk pada sebuah pojokan.

Setelah lelah berkeliling, akhirnya oji mendapatkan barang yang dicari. Sebuah sepatu treking bermerek “HEAD”. Ntah kenapa dia tergila-gila dengan merek ini, padahal kualitasnya masih kurang baik. Pasalnya, aku juga punya sepatu sejenis. Hanya kurun waktu tak terlalu lama (baca; tak sampai setahun), sepatuku sudah mengalami kerusakan di beberapa sisinya. Jadi, kupikir-pikir sepatu itu gak kuat bagi seorang pejalan kaki sepertiku.

Tapi cerita seru perburuan sepatu tadi tak selesai sampai disitu. Setelah membeli sepatu HEAD seri 100 berwarna coklat, ia masih belum puas. Pasalnya, ukuran yang dibeli tadi ternyata tak sesuai kesepakatan. Harusnya dia mendapatkan ukuran 41, bukan nomor 39. Mungkin karena terlalu serius dalam menawar, oji gak memperhatikan ukuran sepatu yang dibungkus. Untungnya kesedihan itu tak berlangsung lama. Disebuah lorong sempit yang agak menjorok ke selatan, terdapat sebuah kios kecil yang menjajakan aneka jenis sepatu. Ditempat inilah kami menawarkan sepatu yang baru di beli tadi untuk di tukar tambah. Dengan alasan, bahwa sepatu ini masih baru plus nomor dan modelnya yang gak pas di hati. Oji pun mulai meyakinkan si penjual. Karena sepatu tersebut memang masih baru, si pedagang pun sepakat untuk menukarnya, dengan syarat harus menambah Rp. 20.000 saja. Bedanya, HEAD yang satu ini serinya 500 berwarna hitam dengan ukuran 41 yang cocok untuk ukuran kakinya. “Nah, ini dia nih bang, yang aku cari, warna dan modelnya keren bangat!”, ucapnya dengan raut muka sumringah.

Sejurus kemudian, kami mulai berkeliling lagi. Rasanya ini jadi akhir perburuan. Kini, tinggal mencari teman-teman yang sempat terpencar tadi. Kembali menyusuri satu persatu lorong-lorong sempit dengan riuhnya pembeli dan penjual yang berkumpul jadi satu. Tapi, tak satupun dari mereka yang berhasil kami temui. Bahkan, Fery dan driver yang sedari tadi selalu bersama, kini tak kelihatan batang hidungnya. Ntah dimana mereka kini?

Tak terasa, setiap sudut sudah kami telusuri. Kini, tinggal lantai dua yang belum terjamah. Awalnya kami tak terlalu tertarik naik ke atas, karena kebanyakan adalah penjual kaset dan piringan hitam bekas. Tiba-tiba, sebuah tempelan kertas yang tertera di pojok tangga begitu mengusik keingintahuanku.

“Ada jual buku bekas”, begitu tulisan yang tertera di kertas kumal itu. Berhubung aku sangat tergila-gila dengan benda yang namanya buku, tanpa memandang jenis dan judul. Aku begitu bersemangat. Seperti ada energi baru yang merasuk tubuh ini. Memaksa untuk melihat koleksi buku bekas, yang dijual oleh satu-satunya pedagang buku di tempat itu. Untungnya, oji masih berbaik hati menemani.

@@@@@

Setiba di tempat itu. Lagi-lagi aku gak berencana untuk membeli buku. Pasalnya, uang yang kumiliki sangat terbatas. Belum lagi masih ada 2 mulut yang harus diberi makan. Ya, merekalah istri dan bubu anakku. Rasanya uang 200 ribu yang kumiliki sekarang, takkan cukup sampai akhir bulan. Mungkin banyak yang gak menyangka, bagaimana aku bisa bertahan hidup sampai hari ini. Sungguh, itu semua karena kasih anugrah-Nya. Even selalu kekurangan, selalu saja Dia yang diatas sana, mencukupi kebutuhan kami. Mujizat selalu menjadi pemecahan masalah, membuat kami begitu terheran-heran. Dan, jika itu terjadi, hanya ucapan syukur yang sepadan membalas keajaiban tadi. Ternyata rancangan-Nya sangat luar biasa. Itu yang membuatku tak pernah khawatir dengan hidup ini. Sebab Dia menjaga dan memelihara kami dengan kekayaan-Nya. (Maaf, agak melankolis!)

Puas melihat-lihat koleksi buku yang ditawarkan. Tiba-tiba terbersit hasrat tuk membeli beberapa buah buku. Tapi, kupikir-pikir uangku pasti akan berkurang lagi. Gimana neh?

“Asmat”, itulah buku yang menarik perhatianku dari awal. Pasalnya buku jenis ini sangat langka, dan kalaupun ada, harganya pasti selangit. Saat kutanya berapa harganya, si pedagang langsung mematok harga 15 ribu rupiah. Sebenarnya lumayan murah sih! Tapi, bagi orang yang gak punya uang, seberapapun murahnya. Hal itu tetap saja jadi harga yang termahal.

Sejurus kemudian aku mulai melirik sekumpulan novel bekas yang ditawarkan. Ada banyak novel bagus disana. Mulai dari versi Inggeris, terjemahan Indonesia, sampai beberapa novel karya penulis Indonesia. “Dua Ibu”, karya Arswendo Atmowiloto, menjadi salah satu buku yang menarik minatku. Selain bukunya ringkas dan enak di pegang, ceritanya juga menarik, walau temanya cukup umum. Sepertinya, aku ingin membeli buku ini. Tapi, ntar aja deh!

Periksa punya periksa, sebuah novel terjemahan kembali menarik hasrat berburuku. “Mission Impossible”, demikian judul depannya. Kondisi buku yang masih baru plus cerita yang unik, karena ada banyak ketegangan disana. Kembali meretas rasa dahagaku. Tapi, lagi-lagi aku semakin pusing. Pingin membeli, sementara uangnya terbatas.

Cerita ini pun belum berhenti sampai disini. Sebuah buku berbentuk majalah, tergantung bersama majalah lain. Buku itu berisi essay foto beberapa fotografer tentang banjir yang melanda Jakarta beberapa tahun lalu. “Gile, fotonya dahsyat banget”, gumanku membathin. Lagi-lagi mengusik akal sehatku. Merayu tuk segera memilikinya.

Minat yang sangat besar terhadap dunia fotografi, membuatku selalu tertarik mengoleksi buku-buku fotografi. Abis, dulunya aku pernah berkecimpung di dunia itu. Walau bukan fotografer handal, aku masih bisa memotret dan mencetak foto secara manual dengan baik.

Itu semua buku yang mengusik akal sehatku, memanggil tuk segera memiliki. “Harganya 30 ribu aja, mas!”, ucap pedagang itu. Untuk buku bekas, aku pikir harganya masih terlalu mahal. Lagian, belum tentu akan kubeli.

Karena kalah malu jika tak membeli. Arah pembicaraan pun mulai beralih. Secara tak sengaja, dia (baca: pedagang) mengatakan berasal dari Medan, sama denganku. Sebuah celah, pikirku! Usut punya usut, ternyata rumahnya tak terlalu jauh dari ex rumahku dulu. Tepatnya di Pasar II, Medan Timur, sedangkan rumahku ada di Pasar I.

Mungkin karena unsur kedaerahan ini, lama-kelamaan sikapnya jadi lunak. Sukunya, yang sama-sama Batak seperti diriku, turut membuat jarak semakin dekat. Akhirnya harga 20 ribu disepakati untuk 3 buah buku yang telah kupilih tadi. Hanya buku essay foto yang gak jadi kuambil. Dan, eng ing eng…, akhirnya uangku semakin berkurang. Kini, si penyambung nyawa telah tergadai demi beberapa buah buku. Dasar penggila buku! Abis, udah lama nawar plus ngobrol, kalau kagak beli, gak asyik, kali! Yuuukkk…!!! Lagian, ntar rejeki pasti datang juga. Semoga!

Ternyata, unsur lokalitas membuat seseorang merasa akrab dengan yang lain, jika berada di tempat yang jauh, seperti Jakarta. Persis seperti yang kualami kini. Hanya karena satu suku dan berasal dari satu daerah, kami pun terlihat semakin akrab, berujung pada harga yang lebih murah. Hal yang aneh, tapi masuk akal, kan!

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN