Sunday, December 31, 2006

"HaDiAh NaTaL TeRiNdAh"

Natal bagi mereka yang merayakan, pastilah sangat bermakna, tak terkecuali denganku. Bagiku, Natal tetap jadi sebuah fenomena unik yang selalu memberikan kesan tersendiri, dan rasanya sulit tuk diucapkan dengan kata-kata.

Hanya saja Natal kali ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, di tahun-tahun lalu, aku dikelilingi oleh orang-orang terdekat. Sedangkan kini, aku hanya sendiri! Mereka yang kukasihi harus pergi, demi sebuah urusan yang sangat krusial dan rahasia.

Saat dimana kebersamaan telah menjadi penanda kehidupan, terasa bermakna dengan kehadiran orang-orang terdekat. Ternyata aku gak bisa berpisah jauh dari kalian. Terutama kau, “Bubu”, buah hatiku!

Mencoba tegar disaat Natal, membuatku menjadi lebih dekat denganNya. Meniti hidup yang penuh tanya, tak lebih dari tahapan skenario yang mesti dijalani. Apalagi di saat berbahagia ini, aku..., aku harus tegar. Menurutku, Natal berawal dari saat kita benar-benar menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi. Saat itulah Yesus terlahir di hati kita. Setelah itu, kita pun patut merenungkan bagaimana melahirkan Yesus di hati orang-orang yang belum mengenalNya. Karena, hanya pada saat satu orang bertobat dan diselamatkan kelahiran Kristus benar-benardirayakan. Dan pada saat yang sama, seluruh surga pun merayakannya.

Jika dirunut lebih dalam, begitu banyak hadiah natal yang mesti disyukuri, antara lain: bakal hadirnya anggota keluarga baru, yang jadi anak keduaku. Pasalnya, istri yang sangat kucintai, sedang mengandung hasil cinta kasih kami. Menurut pemeriksaan dokter dengan USG-nya, diperkirakan bayi yang akan hadir berjenis kelamin perempuan. Pun kabarnya, persalinan akan terjadi di bulan Januari atau Februari tahun depan. Semoga saja begitu!

Awalnya, aku gak terlalu senang dengan kehamilannya yang kedua. Maklum, potensi ekonomi kami sangat terbatas. Jangankan nabung, untuk kebutuhan sehari-hari saja sangat ngos-ngos-an. Kebayang kan, apa yang terjadi jika ada penambahan anggota keluarga. Apalagi, dia (baca: si jabang bayi) membutuhkan perawatan dan pemeliharaan dengan biaya yang tak sedikit. Tapi, walau begitu, jauh dilubuk hati ini, kami tetap senang dengan kehadiran ca-ca (baca: sebutan untuk namanya). Sebab, kehadirannya memang sudah lama kami nantikan.

Hadiah kedua yang tak kalah seru adalah, sejumput rejeki yang berhasil aku kumpulkan dari kegiatan lain diluar pekerjaan. Untuk urusan yang satu ini, aku sangat berhati-hati, agar tidak bersinggungan dengan kerjaan kantor. Pasalnya, pekerjaan kantor masih menjadi yang utama. Dengan segala upaya, kucoba mencari peruntungan di hari luang, dengan ikut membantu program organisasi profesi tempatku berkumpul. Selain bisa nambah pengetahuan, kegiatan itu bisa memberi rupiah, walau tak banyak. Aku pikir, lumayan untuk menambah tabungan, sehubungan dengan persiapan kehadiran ca-ca.

Tapi, selain itu ada berita buruk yang mesti aku terima. Kabar itu berkaitan dengan penilaian yang dilakukan atasan terhadap kinerjaku selama setahun ini. Konon kabarnya, penilaian itu akan berhubungan dengan kenaikan gaji dan bonus dari perusahaan.

Kemarin malam, tak seperti biasanya aku betah berlama-lama di kantor. Keinginan untuk cepat pulang demikian memuncak, memaksaku untuk segera meninggalkan tempat yang begitu semrawut itu. Tapi, ntah mengapa, ada keinginan lain yang memaksaku tuk bertahan sejenak. Ternyata, saat hendak mengambil tas, ipul-PA segera memberitahukan, kalo aku ditunggu oleh sang produser, sehubungan dengan penilaian akhir tahun.

Sejurus kemudian aku menemuinya. Dia yang sudah duduk manis, ternyata telah menunggu dari tadi. Sebagai pembuka pembicaraan, kita berdiskusi tentang hasil capaian yang ku isi di form penilaian. Dilanjutkan dengan pemberian nilai terhadap kinerjaku. Dari semua pembicaraan yang kami lakukan, aku hanya menangkap makna, bahwa aku begitu tertutup dan kurang bisa bekerjasama dengan tim, serta tak bisa berkomunikasi dengan atasan.

Aku pikir, penilaian itu sangat subjektif. Pasalnya, apa yang salah jika aku tidak terbuka dengan banyak orang. Bukankah semua orang melakukan hal yang sama. Tapi, bukan berarti kita tidak bersosialisasi, kan? Apalagi terbuka dan tertutupnya kita tak berpengaruh apapun dengan kinerja pekerjaan.

Jika ditanya lebih dalam, apakah aku tidak bersosialisai di tempat ini? Sungguh, tidak demikian halnya. Sebab, aku punya banyak teman disini. Selain nongkrong plus curhat, kita pun sering hang out bareng. Tapi, jika dikatakan aku tak punya hubungan yang dekat dengan atasan. Jujur, aku akan mengakuinya. Menurutku, aku gak bisa terlalu dekat dengan mereka, karena takut akan disalahartikan.

Harusnya, mereka yang lebih intens memperhatikan bawahannya, bukannya bawahan yang menonjolkan diri di depan atasan. Sebab, aku bukanlah tipikal penjilat yang suka pamer di depan atasan. Aku adalah seorang kelana yang punya tipikal penyendiri dan lebih suka merendah terhadap sesuatu.

Dan, jika dikatakan aku gak bisa bekerjasama dalam tim. Lagi-lagi, aku gak bisa terima! Pasalnya, belum pernah ada reporter yang menolak liputan bareng aku. Rasanya, aku pun bisa bergaul dengan semua tim, tanpa memandang bulu. Untuk itu, mungkin bisa ditanyakan satu persatu dengan semua anggota tim. Untuk tim kecil, kerjasama mutlak diperlukan. Mustahil rasanya, kita bisa menghasilkan sebuah liputan yang bermutu, baik dari sisi visual maupun naskah, jika kerjasama tak tercipta. Sungguh sebuah pemahaman sempit yang sangat tendensius.

Dalam tim yang lebih besar misalanya, aku juga sering terlibat aktif untuk mendukung acara taping agar berjalan lancar. Seringkali aku dan teman yang lain harus begadang di kantor untuk mengidentifikasi dan menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan. Tanpa berkomentar sedikitpun, kami menjalani tugas ini dengan ikhlas. Apalagi ini demi perusahaan tercinta.

Sehingga, jika hanya karena kesalahan kecil yang pernah kulakukan, aku harus menerima penilaian yang sangat buruk. Sungguh sangat tak berimbang! Bukankah penilaian itu dilakukan lebih terhadap output yang kita hasilkan, bukan karena dekat atau tidak dekatnya terhadap atasan.

Padahal untuk kesalahan kecil itu, aku sudah mengakuinya di depan semua orang sewaktu rapat. Menurutku kejadian itu menjadi kesalahan yang tak ada pembenarannya. Dan, karena itu aku sangat berhati-hati di setiap pengambilan gambar. Jangan sampai terjadi kebocoran terhadap produk tertentu, yang berdampak pada promo gratis.

So, jika sudah begini keadaannya. Aku gak bisa berharap banyak. Sedih rasanya, melihat semua kerja keras selama setahun ini seakan tak bermakna apa-apa. Semua luluh hanya karena sebuah kesalahan dan ketidak dekatan dengan atasan. Mau mengadu kemana? Aku gak punya jawaban. Mungkin ini sebuah cobaan yang diberikanNya sebagai kado Natal terindah, untuk membentuk diriku sesuai dengan keinginan tanganNya. Semoga!

Monday, December 25, 2006

"CeRiTa DaRi ShELtEr II"

Untuk sesaat, aku masih terpaku. Diam, tak melakukan aktivitas apapun. Mencoba mengamati sekeliling, sambil menatap dunia yang mulai luruh berubah pekat. Biasanya, disaat seperti ini, kami saling bercengkerama tentang banyak hal. Tapi, kini ku tinggal sendiri ditengah dinginnya kabut Sibayak.

Berbekal ponco* yang kubawa, semua barang segera kuselimuti, ketika hujan turun mendera. Tiga puluh menit sudah hujan yang mulanya kecil berubah lebat, saat kakiku berhasil menapak di Shelter II ini.

Saat sebuah rona tanpa arti sentuh dirimu. Kau harus waspada!
Saat sebuah pikiran sempit coba hilangkan arahmu. Kau pun harus waspada!
Inilah waktu, dimana setiap pribadi menjadi sedikit dewasa, sikapi jalan yang slalu tak sama.

Bukan tanpa arti, aku melakukan pendakian solo kali ini. Hanya dalam hitungan menit, semua peralatan telah ku-packing rapi ke dalam ransel. Tujuan selanjutnya adalah -terminal Sinabung jaya-, tempat bus yang akan mengantarkanku menuju pintu rimba pendakian.

Masih menggigil menunggu redanya hujan, kembali ku teringat kejadian kemarin malam. Saat semua jadi titik akhirku, setelah menjalani peristiwa indah dalam dua tahun ini.

……., Kau, yang selama ini jadi sesuatu buatku, ternyata telah berubah. Tanpa pikir panjang, kau tinggalkanku, demi sebuah status. Sedangkan aku, masih tetap, “jadi pendaki gunung” dengan kuliah yang belum kelar……….

Segudang pergulatan terus berkecamuk. Mulai dari penyesalan akibat skripsi jahanam, friksi dengan keluarganya, sampai terberainya kembali kenangan-kenangan indah yang tlah kami rajut bersama.

Apa yang salah dengan semua ini?
Bukankah cinta menjadi sebuah ikatan murni.
Atau,… apakah kemapanan melebihi kekuatan cinta itu sendiri?
…..aku sedih, aku kecewa!

Sejurus kemudian, hujan mulai reda, berganti riuh rendah orkestra jangkrik disela-sela kabut tipis yang mulai beranjak turun. Mau tidak mau, Bivak* harus segera didirikan, berlanjut dengan acara memasak. “Sungguh!” ini suasana yang selalu membuatku tak bisa lupakan gunung, tempatku bisa kenali diri dan menikmati ciptaan kebesaran Tuhan.

Kembali aku sedih!
Ingat, saat-saat dimana kami pernah melakukan pendakian ke gunung ini enam bulan lalu. Tempat perhentiannya juga masih sama. “Shelter II”.
Bedanya, kini aku sendiri.



********

Berbekal persiapan matang, sebuah tim kecil dari mapala tempatku bergabung, berencana melakukan pendakian ke Gn. Sibayak (2025mdpl). Gunung ini cukup popular bagi masyarakat Sumatera Utara, karena rutenya yang tidak begitu terjal dan relatif aman bagi mereka yang baru pertama mendaki gunung.

Awalnya aku tak menduga, kalo dia memaksa ikut di tim ini. Karena setahuku, dia punya rencana lain, untuk mengisi waktu luang sehabis wisuda minggu lalu.

Aku, yang tak ingin merepotkan tim dengan kehadiran seorang wanita mencoba membatalkannya. Tapi, dasar keras kepala! Keinginannya yang cukup keukeuh, akhirnya membuat tim bisa menerima, apalagi dia juga terdaftar sebagai anggota.
----------
“Ngapain sih, kamu maksain ikut di tim ini?”
“Aku, ingin nikmati pendakian ini bersamamu”
“Apa gak boleh?”
“Boleh sih”
“Tapi,…”
“Tapi, apaan?
“Kamu, gak suka dengan keberadaanku, ya?
“Bukan!”
“ …. Aku hanya gak ingin, suasana di tim ini berubah nantinya.”
“ehm, ……………….!”
“Ya udah, kalo gitu! Aku, gak akan ikut!”
“Jangan gitu dong, masa gitu aja ngambek!”
“Katanya punya mental baja.”
“tapi……….., kalo gak di bolehin,………..”
“Dah, gini aja, kamu boleh ikut, and pliz jangan buat jarak dengan yang lain, ya!”

Sudah dua tahun ini, aku dan dia meniti hari-hari penuh warna. Layaknya percintaan anak muda, begitu banyak suka dan duka yang tlah dilalui.

Sudah jadi kegiatan ritualku, menjemput dia di depan gangnya, dengan kongo tua yang slalu setia menemani, menuju kampus tempat kami menuntut ilmu.

Dia yang berasal dari keluarga berpendidikan, selalu terbiasa dengan disiplin. Ini yang membuatnya berhasil di bidang akademis dan lulus tepat waktu dengan indeks prestasi yang lumayan. Sedangkan aku, masih tersangkut masalah skripsi, mencoba melupakan semua dengan nyambi sebagai fotografer freelence di berbagai media cetak di Medan. Lumayan untuk melepas semua penat sesaat.

@@@@
Saat itu, hari yang dinantipun tiba.
Berenam, kami menuju kaki Gn. Sibayak, tepatnya di kilometer 54 dari Medan ke Berastagi. Rute ini menjadi rute favorit anak-anak pencinta alam, karena keeksotisannya yang masih terjaga, berbeda dengan rute-rute yang lain.

Untuk 1 jam pertama, energi kami langsung terkuras, pasalnya kami harus beradaptasi dengan jalan menanjak, berliku sambil memanggul ransel berbobot mati 20 kg. Sebuah perjuangan yang jelas tak gampang.

“Gile, dahsyat! Jalurnya semakin licin aja!” seru salah seorang anggota tim.
“Maklum, yang daki gunung ini, kan, bukan kita aja!” sahutku.
“Tapi, aku suka dengan jalur yang begini!” ucapnya
“Kenapa …?” jawabku, sambil mengusap keringat yang mengguyur deras di dahi.
“Karena ada kamu yang slalu siap membantuku!”
“Ah, dasar!”


…………., tiba-tiba di sebuah persimpangan jalan;

“Eh…., tolongin aku, dong sayang!”
“Apaan lagi sih?”
“Ranselku nyangkut di duri, neh!”
“Ya udah, jangan gerak dulu!”
“Nah…., sekarang sudah aman, kok!’
“Makasih, ya sayang!”
“Ya…., hayo jalan lagi, perjalanan masih jauh” ucapku memberi semangat.

Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya dia menyanyikan lagu-lagu top fourty yang dia hafal, walau dengan suara yang terbata-bata karena kecapaian. Sepertinya musik sudah jadi bagian hidupnya. Sementara itu, bagiku dan teman-teman, suara kicau burung dan ongko* yang saling bersahutan terasa lebih indah.

Akhirnya, jam 4 sore, kami berhasil mencapai shelter II. Sejurus kemudian masing-masing orang terlihat sibuk. Ada yang memasang tenda, ada yang masak dan ada yang turun ke lembah untuk ngambil air.

Tak lama berselang, sang surya pun beranjak turun ke peraduannya.
Saatnya makan malam!
Ntah kenapa, suasana makan di tengah hutan seperti ini, terasa lebih nikmat dibanding makan di resto termahal sekalipun. Walau dengan menu seadanya, semua terlihat makan dengan lahap. Maklum udara dingin, membuat kami cepat lapar.

Selepas acara makan, semua kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang beresin piring, ada yang langsung sibuk dengan alat tidur, dan ada yang ngobrol di depan tenda.

Awalnya, kita berempat ngobrol tentang banyak hal, tepatnya di depan api unggun yang mulai menyala. Setengah jam kemudian, kedua rekan mulai mengantuk. Mereka pun segera beranjak ke dalam tenda. Kini, tinggal lah kami berdua.

Untuk sesaat, kami masih terpaku mengamati nyala api unggun. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Takkala angin datang berhembus, nyala api bertambah besar, perasaan pun jadi nyaman. Sedang jika nyalanya mulai redup, dengan cekatan aku meniup baranya, agar api segera muncul. Konon kabarnya, setiap binatang hutan, rada takut dengan nyala api. Itulah sebabnya, sejak dulu, api unggun selalu akrab dengan para pengembara. Selain sebagai teman untuk mengusir rasa sepi, nyala api juga terbukti efektif untuk menambah keberanian ditengah lebatnya belantara.

Untuk lima menit pertama, kami masih sibuk mengikuti lidah api yang asyik meliukkan tubuhnya kesana kemari. Ada rasa yang sulit tuk diucapkan, saat nyala api memancarkan kharismanya. Setuju atau tidak, suasana temaram yang ditimbulkannya, memberi kesan yang berbeda. Salah satu kesan itu, yang jika diidentikkan, bisa disebut “romantis!”.

Sedetik kemudian, dia pun memulai percakapan:
“Lagi mikirin apa, sih? Serius amat mandangi apinya.”
“Gak.., gak mikirin apa-apa, kok!”
“Aku,… aku hanya senang, kalo berhasil buat api di tengah-tengah dinginnya udara hutan”
“Lagian, lumayan kan! Bisa mengusir dingin.”
“Iya sih!”
“Tapi……,kamu gak nyesel ikut di perjalanan ini, kan?”
“Iya, gak lah. Kan, ada kamu, yang jagain aku!”

Sesaat kemudian kami mulai terdiam lagi.
(sayup-sayup dikejauhan suara angin bergerak kencang, sementara sang rembulan mulai disapu awan!)

“Sayang, tau gak alasanku ikut kesini!”
“Gak tau, tuh! Paling-paling, biar kita bisa naik gunung bareng lagi, kan?”
“Iya sih!”
“Tapi ada hal yang lebih penting!”

Aku hanya diam terpaku, berusaha tak menyimak omongannya. Bukan karena aku gak ingin tahu alasannya kali ini. Tapi, sepertinya ada sesuatu yang bisa membuat semua bakalan berubah. Rasa deg-deg-an dengan obrolan seriusnya mulai mengusik pikiranku. Sejurus kemudian aku pun, kembali mengutak-atik api unggun yang mulai mengecil.

“Hei, dengarin dulu dong, kalo orang ngomong!”
“Oh, ya! “
“Emangnya ada hal penting apa lagi?”
“Ada! Ini justru sangat penting untuk kelangsungan hubungan kita!”
“Omongannya kok serius banget!”
“Ya........! Kemarin itu, aku disuruh keluarga untuk berangkat ke Jakarta!”
“Secepat itu, kah?”
“Nah, itu dia yang jadi masalahnya!”
“Katanya, nyari kerja disana peluangnya lebih besar dibanding disini!”
“Tiga hari lagi aku harus berangkat. Tiketku sudah dibelikan”
“Oh……………!!!” kataku, dengan jantung yang bergedup kencang

Kembali aku diam dalam seribu bahasa.

Meretas batas, itulah impianku. Tapi tanpamu, semua kan sia-sia. Tau kah kau, saat hadirmu tiba, senyummu jadikan duniaku lebih indah. Nyalakan lentera cintaku, yang telah lama padam.

Awalnya, aku tak terlalu kenal dia, maklum kami berbeda angkatan dan berbeda jurusan. Tapi, parasnya yang cantik, membuat semua orang di kampus pasti mengenalnya. Ketertarikan pada dunia lingkungan hidup membuatnya bergabung dengan mapala tempatku berada. Aku masih ingat waktu itu, saat aku ditunjuk menjadi koordinator lapangan, yang bertanggungjawab membawa angkatannya mengikuti pendidikan dasar, sebagai suatu syarat mutlak untuk bisa diterima menjadi anggota muda. Penggemblengan selama 10 hari, mulai dari titik nol sampe titik tertinggi di gunung, merupakan perjalanan berat dan mengharukan. Bagaimana tidak, selama itu mereka harus berjalan beriringan dalam kelompok-kelompok kecil, menyusuri jalan-jalan kota yang berdebu, meniti jalur rel yang sudah mati, menyusuri jalanan kampung ditingkahi senyuman ramah penduduknya, sampai merambah lebatnya belantara, yang di dalamnya terdapat sungai deras yang harus diseberangi, serta tak ketinggalan, pada suatu ketika, tebing yang tinggi menjulang, sering menyurutkan langkah. Tapi itu bukan penghalang, Karena mereka harus “tabah sampai akhir”. Untuk itulah pengetahuan yang telah diajarkan dalam materi ruang, kini tinggal di aktualisasikan.

Persamaan cara pandang, anti birokrasi, dan punya hobi yang sama “mendaki gunung”, membuat kami cepat akrab. Saling mengenal ini terjadi ketika diskusi-diskusi kecil tanpa sengaja tentang banyak hal sering kami lakukan di sekret. Ternyata kejadian-kejadian itu yang membawa kami pada sebuah pemahaman yang sama.

Gayanya yang bersahaja, pekerja keras dan pantang menyerah, mengisyaratkan sebuah pribadi yang selama ini aku impikan. Tapi, yang tak pernah ketinggalan adalah sisi feminisme sebagai seorang perempuan. Seorang perempuan yang masih menyenangi fesyen, jalan-jalan di mal dan dunia kecantikan. Sungguh, aku mengasihimu dalam segala lakumu!

Bagiku, dia perempuan pertama yang berhasil meruntuhkan cara pandangku. Dalam urusan wanita, dulunya aku termasuk orang yang antipati dengan mereka. Untukku, seorang wanita tidak lebih dari seorang pengganggu. Pengganggu perhatian, yang akan menjauhkan dari hobi yang telah lama kugeluti. Sebab bagiku sulit untuk bisa membagi waktu antara duniaku dan dunianya. Belum lagi, untuk urusan ini, aku harus punya bajet lebih. Sesuatu yang aneh! Kalo di pikir-pikir lebih baik sendiri!

Tapi, setelah dijalani!
Fenomena unik pun, terjadi. Sebuah pengalaman, yang hanya bisa dirasakan saat kita dan pasangan saling mencinta. Karena ternyata uang bukan segalanya, tapi penting!

Ketika lidah api mulai melahap beberapa sisi kayu bakar, air yang dikandungnya mulai keluar dan menimbulkan suara desisan,

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh isak tangisnya.
Isak tangis yang sudah lama tak kudengar dalam dua bulan terakhir ini.
“Aku…, aku…!” ucapnya sambil sesegukan, seiring derai air mata yang mulai membasahi pipi.
“Aku gak bisa pisah darimu, sayang!”
“Aku juga gak pingin pisah denganmu!”, jawabku.
“Aku mau hanya kita berdua. Meniti hidup denganmu. Membesarkan anak-anak kita.”
“Tapi……….., kenapa kau harus pergi?”
“Apakah disini gak ada masa depan? Atau kau sudah bosan denganku!”

Kembali dia menangis, dan beringsut dengan irama yang makin meninggi.
Melihat itu, hatiku pun seakan tersayat-sayat. Tak kuasa aku menahan sedih.
Sedetik kemudian kupeluk dia erat, seakan tak kulepas lagi.

“Sayang, mau kah kau jadi istriku kelak? Mau kah kau, jadi ibu tuk anak-anak kecil kita?”
………Masih sesegukan, dia mengangguk!
“Mau…., aku mau…..,, sayang!”
“Aku mau jadi pendamping hidupmu! Aku mau punya anak darimu!”
“Aku mau, kau yang jadi bapak dari anak-anak kita.”
“Benarkah ucapanmu itu? Atau……?”
“Benar, aku berjanji dihadapan api unggun ini, bahwa kau seorang yang kuingini.”
“Tak seorang pun!”

Mendengar itu, aku langsung memeluknya lebih erat dari sebelumnya. Memegang tanganya yang mulai dingin diterpa udara malam. Dan, sebuah kecupan manis, segera jatuh di kening dan pipinya, tanda betapa aku mengasihinya. Sedetik kemudian, kecupan itu mulai turun ke bibir merah yang tampak merona. Bibir, yang selalu jadi tempat pertautan kami, kala rasa cinta harus segera di ekspresikan. Bibir menjadi tempat mengisyaratkan birahi tersembunyi kami. Tempat dimana kami tak pernah tahu pasti, apa batasan antara cinta dan nafsu. Bibir itu yang selalu jadi permulaan segalanya!

“Sayang, kita masuk ke tenda, yuk! Angin malam semakin tak bersahabat. lho!”
Dia mengangguk, tanpa menjawab, sambil mengusap air mata yang tertinggal.
Kamipun menuju tenda untuk melepas lelah.
Dan, sepanjang malam, tak henti-hentinya aku memeluknya, menciumnya dan memeluknya.

**********

Kemarin malam, setibanya di rumah, sehabis ketemu dosen untuk berdiskusi tentang kemajuan skripsiku. Aku dikagetkan dengan bunyi dering hpku. Dari nomor yang tertera dapat diketahui, bahwa nomor itu berasal dari Jakarta.

Awalnya aku tak menduga, kalo yang menghubungi adalah dia. Untuk urusan komunikasi, biasanya aku yang lebih sering menelpon ketimbang dia. Sementara kalo keuangan lagi seret, komunikasi lebih sering menggunakan imel ataupun sms.

Sudah enam bulan sejak keberangkatannya ke Jakarta waktu itu, hubungan kami agak renggang. Bukan karena kami sudah tak saling cinta, tapi lebih karena kesibukan masing masing. Aku sibuk dengan ujian skripsi, sementara dia sibuk dengan usaha mencari kerja.

Dari imel terakhir yang kuterima, dia bercerita panjang lebar tentang perjuangannya mencari kerja. Semua usaha telah dicurahkan untuk urusan masa depan itu. Sampai-sampai sudah tak terhitung banyaknya lamaran yang didikirim. Ada beberapa perusahaan yang melakukan walking interview dan berhasil menerimanya, tapi karena pekerjaan yang ditawarkan hanya sebatas sales dengan target yang cukup berat, akhirnya dia menolak. Background pendidikannya yang hanya Sarjana Sastra Inggeris, membuatnya cukup sulit untuk mencari pekerjaan yang sesuai bidangstudi.

Dikesempatan lain, dia juga bertutur tentang susahnya hidup menumpang dirumah saudara. Rasanya, selalu saja ada yang salah dengan tindak tanduknya. Kalo bangun agak telat, atau pulang yang kemalaman, sang empunya rumah selalu menggerutu, membuat suasana semakin tak nyaman. Padahal mereka masih saudara dekat dari pihak bapaknya. Dan karena itu, akhirnya dia memutuskan untuk ngekost bareng teman-teman.

Tapi itu bukan apa-apa dibanding dengan kabar terakhir yang aku terima darinya kemarin malam. Untuk beberapa menit pertama, kami masih saling tertegur sapa, perihal kondisi masing-masing. Dia senang dengan progressku dan aku senang mendengar kalo dia telah mendapat pekerjaan.Ternyata tempatnya bekerja adalah sebuah perusahaan kargo yang cukup terkenal di Jakarta.

Sejurus kemudian, dia mengutarakan rencana besar yang ternyata jadi musibah terbesarku. Dengan sedikit tersedu-sedu ia mengatakan, kalo dia, dia… akan segera menikah 2 minggu lagi dengan seseorang, yang tak lain adalah atasannya sendiri.

Mendengar itu, aku gak bisa berkata-kata lagi. Aku hanya diam seribu bahasa. Semua yang mulanya terasa terang, tiba-tiba menjadi gelap, ambruk menimpaku. Luruh bersama deru guntur di luar sana. Aku, gak tau harus berbuat apa. Rasanya semua yang kuperjuangkan selama ini, pupuslah sudah.

Aku juga masih ingat, saat hujan turun dengan lebatnya seperti sekarang ini, kita duduk berdua di pelataran perpustakaan. Saat itu, dia berjanji akan menungguku di Jakarta, jika semua telah kelar. Jakarta bagi kami merupakan tempat impian untuk menggapai apa yang kami cita-citakan. Tapi kini, semuanya hancur, seiring jatuhnya butiran hujan menapak bumi.

Untuk beberapa saat, aku masih membisu, sampai akhirnya dia mengucapkan kata perpisahan. Setelah itu dia pun memutus sambungan, tanda semua harus berakhir disini. Sejurus kemudian, aku balik menghubungi. Merasa belum puas dengan semua penjelasannya, kucoba mengulur waktu dengan menanyakan ikhwal kejadiannya. Akhirnya dia pun mengisahkan semuanya.

Dari semua penjelasan itu, aku bisa menangkap sebuah makna. Alasannya memilih dia, karena kekasihku berhutang budi kepadanya (baca: atasannya) dan sang penjahat itu telah jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Aku mengatakan penjahat, karena dia memang penjahat yang telah merampas kekasih tambatan hatiku.

Yang membuatku gak habis pikir, mengapa semua bisa secepat itu? Apakah selama dua tahun ini, tak berarti apa-apa baginya? Atau……, terlalu sempurnakah dia yang telah merampas kekasihku itu? Kembali aku diam membathin!

Saat rebahkan diri di pembaringan, kucoba menutup mata coba tuk lupakan semua. Tiba-tiba, secara perlahan gambaran kebersamaan itu, mulai menyeruak keluar lagi. Bak menonton film, helai demi helai scene yang kami mainkan, terpapar jelas. Mulai dari awal kedekatan, semua kejahatan-kejahatan yang coba kami lakukan, sampai janji-janji setia, meluncur laksana babak drama yang menghiasi layar kaca. Tapi, semua bohong belaka!

Sampai akhirnya, aku tiba pada keputusan; “Pergi sejauh-jauhnya”. Coba tuk lupakan semua masa indah di masa lalu itu. Dan gunung, merupakan tempat yang tepat buatku. Tempat dimana aku bisa me-refresh sambil merenung pengalaman hidupku. Tempat dimana aku harus menentukan kembali tonggak perjalanan hidupku selanjutnya.

Sepertinya, besok adalah waktunya. Waktu untuk menjauh dari semua luka dan liku hidup ini.


***********

Disini, dibelantara dilingkar garis bumi.
Kudatangkan tubuhmu.
Lewat bara api unggun.

Kini, aku masih sendiri di shelter II.
Berharap semoga sebentar lagi, ada tim pendaki lain yang lewat dan singgah disini. Lumayan untuk teman ngobrol, melupakan sejenak beban itu. Tapi, sejam, dua jam, bahkan sampai malam larut, tak seorangpun yang lewat.
Aku benar-benar sendiri.

Saat bivak berdiri, segera aku memasak untuk makan malam sambil ngobrol dengan saudara jauhku. Mulailah aku bertanya, tentang betapa bodohnya aku yang sedih hanya karena seorang perempuan.

Disaat yang sama dia berkata:
“ hei, ngapain mesti mikirin dia, masih banyak wanita lain.”
“Tapi, dia berbeda dengan perempuan lain”, sahutku!
“Ya, tapi tetap aja dia wanita, yang bisa berubah karena sesuatu”
“Tapi, dia berbeda dengan yang lain!”
“Dulu, dia memang berbeda, tapi kini, kondisi telah membutakan matanya! Masihkah kau mencintai orang yang tak mencintaimu.”
“Tapi…….., sekarang aku yang mengalaminya pedihnya, bukan kau!”
“Kalo itu, aku gak bisa berkomentar apa-apa!”

Bunyi desisan nesting* tanda beras sudah berubah menjadi nasi, membuyarkan percakapan kami. Acara makan malam pun kugelar dengan lahap, berlanjut dengan ritual tidur. Lagi-lagi, saat coba pejamkan mata, saudaraku kembali mengganggu.

“Hei…., sudah sampai mana pembicaraan kita tadi!” ucapnya
“Sudah sampe mana, ya? Aku lupa.” Kataku menimpali.
“Gini aja, karena kau bagian dariku, kamu jangan bersedih terus dong! Banyak hal di dunia ini yang bisa dijadikan pelajaran!”
“Enak aja! Sakitnya tak semudah omongan, tau!”
“Iya, aku tau!”
“Tapi, pernahkah kau sadari, bahwa dia masih orang lain buatmu!”
“Dia bukan siapa-siapamu kini. Dia bukan istrimu ataupun saudaramu!”
“Dia tetap jadi orang lain, yang pernah singgah dikehidupanmu.”
“Sebenarnya masih ada orang yang sangat mengasihimu! Mendoakanmu kemanapun kau pergi”

………….Aku masih terpaku dengan semua penjelasannya itu……..

“Siapakah dia? Aku pingin tahu.”
“Ada, tenang sebentar! Gak usah terburu nafsu!”
“Ehm,…..mereka………, mereka yang mengasihimu dari sejak dalam kandungan. Mereka yang mengajarimu bagaimana caranya berjalan dan berlari. Mereka juga yang mengajarimu bagaimana caranya berkata-kata dan bernyanyi.”
“Mereka yang selalu merawatmu dikala kau sakit dan terluka. Memberimu makan saat kau lapar dan memberi mimum saat kau haus!”
“Mereka adalah keluargamu, merekalah papa dan mamamu.”
“Mereka yang selalu menunggu kepulanganmu, kapanpun kau mau!”
“……………………………..”
“Pernahkah kau berpikir, mereka sangat cemas, saat kau tinggalkan rumah dan tak pulang dalam beberapa hari. Dan itu yang telah kau lakukan dalam beberapa tahun ini”
“Apalagi, disaat seperti ini. Kau pergi seorang diri, tanpa tinggalkan pesan. Kau hanya bilang gak pulang, karena mengerjakan skripsi bareng teman!”
“Dan………, seandainya terjadi apa-apa! Siapa yang bakalan paling menderita?”
“……..,pasti mereka! Keluargamu! Bukan yang lain. Bukan dia yang jauh disana dan telah meninggalkanmu!

…………Aku masih terdiam, coba tuk renungi semua perkataannya……..

Rasanya tak ada yang perlu kubantah dari semua diskusi ini. Aku yang selama ini terlalu sibuk dengan diri sendiri, telah lupa, bahwa dunia ini tak seremeh yang kuduga. Dan dunia masih akan terus berjalan, bahkan ketika hidup kita hancur berkeping-keping.

Diluar sana, suasana gelap semakin pekat, ditingkahi gemuruh angin yang saling beradu.
Dingin, senyap, sepi!
Di saat-saat seperti ini, aku merindukan mereka! Rindu dengan sapaan mamaku yang selalu menanyakan perihal perkembangan skripsiku. Rindu dengan obrolan papa tentang perkembangan politik sekarang ini.
Kini, bayangan itu pun bergerak semakin jauh, seiring mata yang semakin berat tuk diajak kompromi, walau sudah dua gelas kopi kuminum tuk temani sepi. Tapi ngantuk emang gak bisa dibohongi.

Sayup-sayup antara sadar dan tidak, aku masih bisa mendengar dia berucap; “mereka mengasihimu! merekalah keluargamu.”
Itu kata-kata terakhir yang terus terngiang, sampai akhirnya aku gak ingat apa-apa lagi.
Akupun tertidur!
Terlelap ditengah-tengah sahabat sejatiku. Sahabat yang tak akan pernah marah ketika aku berbuat jahat kepadanya. Sahabat, tempatku membuang hajat, mengotorinya dengan sampah, merusaknya, menambah luka-luka tubuhnya dengan jalur rintisan baru. Itulah gunung tempatku berdiam kini.

**********

Keesokan harinya.
Saat silau sang surya menembus ruang bivakku, akupun beranjak bangkit.
Mulai berbenah, tuk lanjutkan sisa perjalanan ini.
Sekonyong konyong, kulihat kanan dan kiri!
Lagi-lagi kutemukan, aku masih sendiri.
Sejurus kemudian, selepas sarapan dan bongkar bivak, aku berdoa. Mengucap syukur buat semuanya. Dia boleh ciptakan ku ada, sebagaimana aku ada saat ini, itu pun karena anugrahNya. Dia tlah sadarkanku, bahwa hidup harus terus berjalan.

Sedetik kemudian akupun beranjak pergi, menuju puncak!

Jakarta, 19 Juni 2006.
Kantor, 02.31 WIB!
“Saat semua terasa lengang”


Keterangan:
*Ponco: mantel hujan.
*Bivak: tempat berlindung sederhana.
*Ongko: sejenis lutung.
*Nesting: alat memasak praktis/ panci susun untuk memasak.

Thursday, November 02, 2006

"PeSaN SaNg PiMpINaN"

Awalnya jengah juga, ikut acara halal bihalal di Auditorium Bank Mega, Rabu (01/11/06). Selain gak ada konsumsi, peserta -yang seluruhnya dari TRANS Corp- terlihat begitu banyak, membanjiri hampir semua sisi tempat itu. Kalo dilihat sepintas, rasanya mustahil ruangan tersebut bisa menampung orang dalam jumlah ribuan. Tapi, apa ayal, auditorium -yang semua kursinya sudah disingkirkan-, ternyata mampu menampung limpahan orang sebanyak itu. Sepertinya, semua orang bisa masuk dan duduk mendengarkan pesan dari pimpinan, empunya (baca: Bapak CT ) perusahaan ini.

Berhubung belum pernah mengikuti peristiwa akbar seperti ini, ada secuil rasa ingin tahu. Apalagi, sebelum menuju auditorium, Kadiv (Bang Iwan; red) dan Om Santa (Exc Prod; red), begitu getolnya memanggil dan menyuruh semua orang -yang ada di lantai tiga- pergi kesana. Menilik belum sekali pun aku mendengar pidato sang pimpinan di depan para karyawan. Kira-kira, gimana kharismanya, ya?

Setibanya disana, ternyata begitu banyak orang menanti giliran untuk masuk. Ada rombongan TV7, Bank Mega dan grupnya, serta tak ketinggalan kru TRANS TV yang terlihat mendominasi. Kurang lebih 10 menit kita ngantri di depan pintu. Begitu masuk, seperti sudah di bayangkan, sudah banyak orang duduk rapi di tempat yang telah disediakan.

Sedetik kemudian, suasana menjadi lengang, saat secara perlahan, sang pimpinan mulai berpidato. Walau tanpa konsep, dengan nada wibawa dia mengucapkan beberapa pokok pikiran yang jadi consern perhatiannya. Tak sampai 15 menit dia berbicara dihadapan ribuan orang yang terlihat khusyuk menyimak. Selanjutnya, acara berganti doa, dipimpin oleh seorang karyawan Bank Mega, yang di tutup acara silahturahmi antara pimpinan direksi dengan seluruh karyawan.

Jika tidak salah ingat, ada dua pokok pikiran yang disampaikan di momen itu. Pertama, adalah keberhasilan TRANS Corp, untuk menampung tenaga kerja dalam jumlah cukup besar. “Jika di hitung-hitung, sekarang ini, kita (baca: TRANS Corp) sudah menampung 10 ribu lebih tenaga kerja. Sebuah angka yang cukup besar. Secara tidak langsung, kita sudah membantu program pemerintah dengan membuka lapangan kerja demikian besar”, ungkapnya.

Saat dia mengutarakan hal tersebut, aku jadi ingat sesuatu. Teringat, bagaimana aku bisa diterima ditempat ini, disela-sela kompetisi yang begitu ketat. Sudah jadi rahasia umum, peminat kerja disini begitu membludak, sementara daya tampung terbatas. Jujur, selama ini, banyak orang yang tak bisa berterima kasih, termasuk aku sendiri. Pasalnya, sallary yang diterima hampir sebagian besar karyawan begitu kecil, dibanding station lain yang notabene kerjanya tak sekompleks disini. Tapi, dengan jumlah 10 ribu karyawan, aku pikir itu bukan jumlah yang sedikit. Itu jumlah yang besar, bahkan cukup besar, dimana karyawan menggantungkan hidup dan harapannya ditempat ini. Mungkin itulah pilihan yang diambil perusahaan. Menggaji murah dengan banyak tenaga kerja atau sebaliknya. Kalau di pikir-pikir, andai seluruh karyawan dikumpulkan, kurang lebih semua bangku Stadiun Senayan pasti penuh terisi.

Dari sisi tenaga kerja, aku pikir jumlah itu begitu fantastik. Pasti begitu banyak orang tua yang bangga, saat anaknya di terima bekerja. Selain tidak menganggur, jenjang status sosial keluarga biasanya ikut terangkat. Bagaimana tidak, setiap orang yang sudah bekerja, pastilah meringankan beban orang tua. Walaupun mereka tak pernah tahu, bahwa dengan gaji sekecil itu, biaya hidup di ibukota, jelas kurang. Tapi, apa mau dikata, kemampuan kita masih segitu. Jika ada lompatan yang lebih besar, tentulah tak akan di sia-siakan. Itu sebabnya, banyak kawan yang mengadu nasib ke tempat lain, yang kata(nya) lebih baik dari sisi penghasilan tentunya.

Pokok pikiran kedua, yang menjadi perhatian pimpinan adalah; trend bisnis sekarang, (baca: seperti yang dilakukan TRANS corp, dengan: stasiun TV, Bank, ritel, perumahan, dll), kabarnya hanya butuh waktu 5-7 tahun mendatang untuk berkembang maksimal. Setelah itu akan terjadi penurunan (masa anti klimax; red). Pasalnya, menurut perkiraan para ahli, di tahun-tahun itu, trend bisnis akan berubah. Selain banyaknya pendatang baru dengan kemampuan yang lebih baik, era pasar bebas (free market competition: red) pun disebut-sebut jadi tolak ukur sebuah kompetisi. Bisa dibayangkan, jika semua investor asing, yang notabene punya modal gede dengan SDM/ peralatan canggih menguasai pasar kita. Dipastikan, pihak-pihak yang tidak siap pasti tertinggal.

Gila, dahsyat bangat, dampak yang dihasilkan oleh “Era Pasar Bebas”. Mendengar itu aku jadi tertegun. Benarkah, aku sudah memenuhi kualifikasi SDM yang memadai, untuk bisa bersaing di pasar bebas? Sebuah Tanya, yang tak bisa langsung di jawab, mungkin lebih baik di renungkan! Moga-moga saja semua pengalaman yang jadi pelajaran hidup bagiku selama ini, bisa berguna menghadapi jaman itu. Sepertinya, belajar dan terus belajar, menjadi modal penting jadi pemenang di kompetisi tersebut. Semoga saja!

Monday, October 30, 2006

"MenApAk LaNgKaH di TaNaH TeRTiNgGi RaNaH MiNaNg"

Tak banyak yang menyangka kalau Gunung Talamau (2982 mdpl) di Propinsi Sumbar menyimpan segudang pesona yang sayang tuk di lewatkan. Bagi mereka yang gemar wisata petualangan; mendaki gunung, mencoba keeksotisan gunung ini pasti memberi kesan tersendiri. Kawasan hutan yang masih perawan ditingkahi kicauan burung berpadu indah dengan puluhan telaga yang terserak di kawasan puncak, membuat perjalanan panjang ini terasa tak sia-sia.

Saat tawaran untuk menjajal keelokan gunung ini datang, hanya rasa was was yang timbul karenanya. Pasalnya, gunung tertinggi di Sumatera Barat ini terkenal angker dan tidak banyak orang yang pernah menggapai puncaknya. Apalagi, keberadaan harimau Campo, yang disebut-sebut menjadi penguasa tempat ini, konon kerap terlihat, saat pendaki tiba di puncak.

Gunung yang terletak di di Desa Pinagar Kabupaten Pasaman Barat ini, merupakan satu dari beberapa gunung yang mempunyai panorama alam yang menarik di daerah Minang Kabau. Dengan ketinggian 2982 mdpl menjadikannya sebagai laboratorium alam terlengkap sebagai kawasan hutan hujan tropis yang kaya dengan aneka sumberdaya alam.

Untuk mencapai gunung ini bisa dilakukan dari beberapa arah, baik dari arah Rau (baca: Perbatasan Sumut-Sumbar) maupun dari Padang-Sumbar. Kebanyakan para pendaki memulainya dari Terminal Bingkuang-Padang. Dengan menaiki bus jurusan Padang - Pasaman (seperti; PO. Mandala, PO Persada), kita bisa tiba di kaki gunung dengan merogoh kocek sebesar Rp. 11.000/ orang.

Berhubung pintu rimba (baca: jalan masuk) yang dikenal para pendaki hanya dari Desa Pinagar (320 mdpl). Kami pun memulainya dari tempat itu. Desa berpenduduk 300 kk tersebut berada di pinggir jalan berjarak ±179 km dari Padang. Selain dari sini, ternyata ada rute lain yang bisa dicoba, tepatnya dari Desa Durian Kandang Aia Maruek. Rutenya akan membawa kita menuju Gunung Pasaman terlebih dahulu, lalu turun menyadel ke Gunung Talamau. Sebagai informasi, Gunung Talamau terletak bersebelahan dengan Gunung Pasaman. Hanya saja, jalur ke Gunung Pasaman tak begitu jelas. Jika ingin kesana, dibutuhkan pemahaman navigasi darat yang memadai agar tidak kesasar.

Setibanya di Desa Pinagar, biasanya para pendaki akan ditawarin peta tematik sebagai penunjuk arah oleh penduduk. Walau kelihatannya aneh, -karena bukan peta topografi-, ternyata benda ini cukup membantu menggapai puncak, pasalnya tanda penunjuk arah mirip dengan kondisi sebenarnya.

Setelah semua dirasa beres, perjalanan segera dimulai. Inilah awal petualangan yang sesungguhnya. Dalam setiap pendakian, kondisi awal pasti menyiksa. Bagaimana tidak, rute yang lebar dan mulai menanjak, memaksa kami harus berjalan kaki selama 4 jam dengan beban ±25 kg. Membuat butir-butir keringat mengalir begitu cepat.

Tujuan berikutnya adalah Pondok Bang Danil. Danil adalah pendaki pertama yang berhasil menggapai puncak Talamau di tahun 1985. Berhubung dia penduduk lokal, pemerintah setempat mempercayakan pengelolaan kawasan ini kepadanya. Itu sebabnya, setiap pendaki harus mendaftar disini, jika ingin mencapai puncak.

Di pondok ini, kita harus membayar retribusi plus asuransi pendakian sebesar Rp. 5000/ orang (baca: bisa jadi sekarang terjadi perubahan), dan sebagai kenang-kenangan kita akan diberi cendramata oleh bang Danil.

Untuk mendaki gunung ini ternyata tak mudah, ada banyak syarat dan pantangan yang harus diperhatikan. Untuk syarat yang harus dipenuhi, antara lain; KTP/ SIM, surat ijin dari orang tua dan surat ijin dari organisasi, jika dia punya organisasi pencinta alam. Semua surat-surat tadi di perlihatkan saat mendaftar. Selain itu, perlengkapan dan logistik yang dibawa akan di data jumlahnya. Ini perlu, untuk mengetahui jumlah sampah yang akan dibawa turun. Di tempat ini, sama seperti Gunung Gede-Pangrango di Jawa Barat, setiap sampah wajib dibawa turun. Aturan tersebut perlu untuk menjaga gunung ini tetap lestari.

Sedangkan larangan yang berlaku di gunung ini cukup banyak, antara lain: tidak dibenarkan merusak flora dan fauna, tidak dibenarkan membawa alat-alat musik, tidak dibenarkan membawa sabun/bahan-bahan yang bisa mencemari sumber air, tidak dibenarkan membawa minuman keras, tidak diijinkan berpencar-pencar, tidak diijinkan pendaki putra dan putri tidur dalam satu tenda, tidak boleh berteriak-teriak/bernyanyi keras, tidak boleh menyalakan api di daerah yang rawan kebakaran, tidak boleh memasuki kawasan telaga seperti mandi, mencuci, kecuali mengambil air untuk minum dan memasak, dilarang keras melakukan tindakan vandalisme, dilarang keras membuang kotoran disembarang tempat. Setiap pendaki harus menghormati adat istiadat setempat. Pendaki harus mematuhi lama ijin pendakiannya serta melaporkan kejadian/ kerusakan lainnya pada petugas lapangan atau posko.

Potensi Kawasan

Perjalanan selama hampir tiga jam dari Padang via Pasaman Barat nyaris tidak membosankan. Pemandangan yang tersaji di sisi kanan dan kiri jalan memperlihatkan geliat ekonomi masyarakat.

Dengan aneka pemandangan alam yang diperlihatkan, dari mulai pegunungan hingga lahan pertanian, tak ayal, tekad Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat menjadikan pertanian sebagai sektor utama roda perekonomian tidak bisa disangkal lagi.

Setelah terpisah dari Kabupaten Pasaman. kabupaten Pasaman Barat pun mulai mengedepankan potensi ekonominya. Berbagai sektor menjanjikan prospek cerah, menunggu uluran tangan para investor.

"Usia kami memang masih seumur jagung. Sejak diresmikan menjadi kabupaten, umur Pasaman Barat baru lima tahun. Kendati demikian, kami optimistis akan mampu mensejajarkan diri dengan saudara kami," tutur Nirwan Pulungan, Bupati Pasaman Barat, saat diadakan ramah tamah dengan penduduk setempat.

Idealnya daerah yang mulai berkembang, perubahan tampak di sana sini. Langkah-langkah yang dianggap penting segera di dahulukan. Potensi yang tesedia, siap dimaksimalkan untuk menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakatnya.

Pasaman Barat, satu dari 19 kabupaten yang berada di Provinsi Sumatra Barat, mempunyai luas wilayah 4.248,40 km2 itu, kini resmi berdiri sendiri. Kabupaten yang beribukota di Simpang Empat resmi menjadi kabupaten melalui Undang-Undang No. 38/2003 tentang Pembentukan Kabupaten.

Sebagai bagian dari Kabupaten Pasaman, awalnya nama Pasaman Barat tak begitu banyak dikenal. Tak heran, muncul pertanyaan, mampukah Pasaman Barat memakmurkan warganya setelah menjadi kabupaten serta bisa menyejajarkan diri dengan kabupaten lain? Di bawah pemerintahan sendiri, Pasaman Barat bertekad mewujudkan semua itu.

Modal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah bukan tidak dimiliki. Daerah berpenduduk 323.505 jiwa ini, memiliki 67 lembaga keuangan. Selain itu, potensi pertanian masih menjadi primadona, dengan kekayaan tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura. Serta tak ketinggalan, potensi laut, tambang seperti semen, pupuk, batu bara menjadi kekayaan lain yang belum di garap secara maksimal.

Di sektor perkebunan contohnya. Pasaman Barat mempunyai areal perkebunan kelapa sawit sekitar 102.000 ha, sekitar 77.000 ha termasuk perkebunan inti dan plasma, sementara sisanya perkebunan rakyat.

Produksi kelapa sawit yang bisa dipanen hingga dua kali sebulan itu diolah menjadi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) oleh pabrik pengolahan kelapa sawit. Di Kabupaten Pasaman Barat terdapat 13 pabrik kelapa sawit, namun hanya lima di antaranya yang aktif dengan kapasitas produksi masing-masing pabrik 40 hingga 80 ton CPO per jam. Selanjutnya CPO ini dibawa ke Padang untuk diolah menjadi minyak goreng, dan sebagian lagi di ekspor ke Malaysia.
Dari hasil pertanian, jagung merupakan salah satu komoditi andalan daerah ini. Pasalnya, Pasaman Barat memiliki areal pertanaman jagung seluas 20.000 ha per tahun, dari potensi seluas 30.000 ha per tahun. Dari jumlah tersebut, 15.000 ha di antaranya sudah ditanami jagung hibrida. Melihat potensi itu, sejak tahun 2000, dimulai penanaman jagung hibrida seluas 1.000 ha. Selanjutnya di tahun 2004, luas areal melonjak secara fantastis hingga 12 kali lipat hingga mencapai 12.000 ha dalam kurun waktu empat tahun.

Dari sektor pertambangan, kabupaten ini memiliki potensi yang teramat besar, yang belum di eksploitasi. Sebagai catatan; sejak zaman penjajahan Belanda, wilayah Pasaman Barat telah terkenal dengan potensi tambang, khususnya emas. Masyarakat secara tradisional membuktikannya dengan mendulang emas di pinggir-pinggir kali ataupun di kaki-kaki bukit.

Tak kalah dengan emas, kawasan ini pun memiliki cadangan bahan baku yang bisa digunakan dalam industri semen. Tepatnya di Desa Muaro Kiawai, Kecamatan Gunung Tuleh, diperkirakan depositnya mencapai 2 miliar ton dengan luas sebaran 2.500 ha. Sedikitnya bisa produksi selama 300 tahun. Dengan kekayaan ini, Pasaman Barat berpeluang membuka industri semen.

Kekayaan lain yang tak kalah besar jika dikembangkan secara optimal adalah hasil laut. kabupaten ini memiliki garis pantai sepanjang lebih kurang 100 km. Dalam hal ini, terbuka peluang investasi pengembangan sektor kelautan seperti budi daya udang, rumput laut, dan potensi kelautan lainnya. Gubernur Sumbar, Zainal Bakar, bahkan pernah mengharapkan Pelabuhan Airbangis, salah satu pelabuhan di kabupaten ini, berpeluang untuk dikembangkan menjadi pelabuhan samudra.

Walau Pasaman Barat, yang tidak setenar Bali sebagai kawasan wisata atau Karawang di Jawa Barat sebagai lumbung pangan nasional. Banyak kalangan menilai, kabupaten ini punya potensi cukup besar untuk maju.

Sebuah Proses

Di Indonesia, gunung-gunung terletak dalam satu rangkaian yang mengikuti garis lengkung dari Pulau We (Aceh) sampai ke Indonesia bagian timur, dimulai dari Maluku, Sulawesi, sampai ke Kepulauan Sangir Talaud. Gunung berapi ini tidak hanya menyebar di daratan, namun sampai ke dasar laut. Selanjutnya gunung-gunung tersebut tersebar di sepanjang nusantara, seperti; Argopuro, Bromo, Kerinci, Krakatau, Semeru, Merapi, gunung Agung, Arjuno, Galunggung, Kawah Ijen, Leuser, Merbabu, Raung, Rinjani, Semeru, Sibayak, Gunung Tambora, Welirang, Talang, Singgalang, Sago, Tandikat, Talamau dan masih banyak lagi.

Sebagai cikal bakalnya, semua bermula dari kerak bumi, yang di dalamnya terdapat sepuluh lempengan utama, yaitu: Lempeng Afrika, Lempeng Antartika, Lempeng Australia, Lempeng Eurasia, Lempeng Amerika Utara, Lempeng Amerika Selatan, Lempeng Pasifik, Lempeng Cocos, Lempeng Nazca, lempeng India.
Lempeng-lempeng tersebut selalu bergerak. pergerakan antar lempeng-lempeng, merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif dengan daya yang begitu besar, menyebabkan misalnya; gempa bumi, gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi, seperti diungkapkan Bas Hansen dari University of New South Wales. Proses ini secara perlahan mengeluarkan batuan yang telah lama terkubur dan memusnahkan yang lainnya selama berjuta-juta tahun
Ketika dua lempengan saling bertubrukan, salah satunya biasanya akan menerobos di bawah lempengan yang kedua. Lempengan kedua yang berada bagian atas terdorong ke atas sehingga membentuk punggung gunung. Pada saat bersamaan, lempengan yang berada di bawah terus menembus, menghujam ke bawah, dan membentuk perpanjangan yang jauh ke dalam bumi. Ini berarti gunung memiliki semacam akar berupa perpanjangan yang menancap dan menghujam ke dalam bumi. Bagian ini sama besarnya dengan punggung gunung yang tampak menjulang tinggi di atas permukaan bumi. Dengan kata lain, gunung tertancap dan mengakar kokoh pada bagian kerak bumi yang disebut mantle (jaket).

Dengan cara ini, gunung mencegah kerak bumi bergerak atau bergeser secara terus-menerus di atas lapisan magma atau di antara lapisan-lapisannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung sebagaimana paku atau pasak yang menancap dan mencengkeram lembaran-lembaran papan kayu dengan erat dan kokoh. Kerak bumi yang bersifat mudah bergerak ini diredam oleh gunung, sehingga mampu mencegah guncangan hingga batas tertentu

Dari sisi geologi, kawasan Gunung Talamau didominasi oleh pegunungan Bukit Barisan yang bersifat vulkan kuarter. Bahan-bahan vulkanik ini kaya dengan plagioklas dan umumnya bersifat masam (dasitikliparitik), sedangkan pada pantai barat terdapat formasi andesit tersier yang bersifat masam - sangat masam.

Kemudian, batuan kelompok Woyla yang ditemukan di Sungai Tambang Pambaluan seperti meta batupasir termineralisasi selang-seling dengan batu sabak dan sering diterobos oleh urat-urat kuarsa. Batuan Kelompok Mengae Woyla seperti sekis glaukofan, marmer beraneka, dan batuan granit sebagai anggota Formasi Kanaikan, serta batuan tufa anggota batuan volkanik tak terbedakan. Batuan Kelompok Woyla dan Formasi Kanaikan ini juga ditemukan di S. Simpang Dingin. Batuan volkanik (basalt) produk G. Langsat, dan batuan terubah termineralisai daerah Salido.

Berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Research Center for Geotechnology The Indonesian Institute of Sciences), pembentukan Gunung Talamau berasal dari berbagai jenis batuan, yaitu batuan vulkanik produk Galau Talamau, yang dari Major Elemen menunjukkan batuan beku di kawasan itu dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu basa (basalt), menengah (andesit), agak asam (dasit), dan granit (asam).

Rute Perjalanan

Bagi pendaki yang baru tiba di posko pemeriksaan (Posko Pondok Bukik Harimau Campo; red), di ketinggian 710 mdpl, istirahat sejenak terasa begitu berarti. Apalagi tidak jauh dari lokasi ini bisa ditemukan sebuah air terjun yang cukup besar bernama air terjun Puti Lenggo Geni dengan tinggi 109 m. Lumayan, bisa melepas lelah sambil menikmati deburan air terjun.

Berhubung hari mulai senja, perjalanan di hentikan sementara. Tim memutuskan menginap disana. Berkumpul sambil bersenda gurau, menenggak coklat susu sambil melingkari api unggun yang mulai menyala, membuat suasana begitu akrab.

Keesokan paginya, selepas sarapan dan berbenah, petualangan dilanjutkan kembali. Tujuan selanjutnya adalah Pondok Rindu Alam, terletak di ketinggian 1100 mdpl. Jalur pendakian yang mulai menyempit dengan sekerumunan pacat pun mulai menampakkan diri. Walau ukuran mahluk penghisap darah ini kecil, tetapi tetap saja merepotkan. Selain bentuk yang menjijikkan, jumlahnya yang banyak, membuat pendaki enggan berlama-lama.

Dalam waktu 3 jam perjalanan, pos tersebut berhasil dicapai. Dari pos yang tidak berbentuk pondok ini, kita dapat mendengar suara aneka jenis burung. Kicauannya yang bersahut-sahutan terdengar begitu indah. Dari pengamatan sekilas, terlihat beberapa jenis burung, seperti: rangkong (Buceros rhinoceros), sempidan sumatera (Lophura inornata), burung alap-alap (Black-thighed Falconet), ayam hutam merah (Red Junglefowl). Selain itu, di sebelah pondok kita dapat menemukan sungai kecil. Disinilah para pendaki mengisi kembali pundi-pundi airnya.

Saat istirahat dirasa cukup, perjalanan kembali di lanjutkan. Rute yang mulai menanjak dengan rapatnya polulasi tanaman hutan dari famili Dipterocarpaceae, seperti; tumbuhan kemaduh (Laportea stimulans), markisa (Passiflora sp.), sirsak (Annonaceae), senggani (Melastoma sp.) membuat jalur mulai samar dan sering terputus putus. Untuk itu kewaspadaan diperlukan agar tidak tersesat. Tak terasa setelah 3 jam berjalan dengan tempo lambat, akhirnya kita tiba di Pos Bumi Sarasah (1860 mdpl). Pos ini dinamakan demikian, karena banyaknya serasah hutan berpadu dengan tanaman perdu.

Berhubung suasana mulai gelap, tim memutuskan untuk nge-camp di tempat ini. Selain jarak pandang yang mulai terbatas akibat turunnya hujan dan kabut tebal, kondisi badan pun sudah melemah. Istirahat menjadi pilihan yang logis. Apalagi, sumber air yang tak terlalu jauh dari pos, membuat perasaan begitu nyaman. Tak perlu takut kehabisan air.

Keesokan paginya, saat badan kembali bugar, perjalanan menuju puncak digelar kembali. Dengan semangat empat lima, tim memulai pendakian. Kalau kemarin, populasi tumbuhan hutan (baca: sangat rapat dan tinggi) begitu mendominasi, berbeda dengan kawasan ini. Disini tumbuhan hutan diwakili famili lauraceae dan podocarpaceae, yang tumbuh merana dan diselubungi lumut. Di ketinggian ini, kondisi yang benar-benar lembab membuat pakaian yang melekat langsung basah saat melaluinya.

Dalam kawasan yang plasmanuftahnya melimpah, keberadaan hewan penunggu kawasan ini, kerap terlihat saat pagi dan sore hari. Pasalnya, disaat-saat tersebut, mereka turun mencari minum di sumber air. Adapun binatang yang sering terlihat, antara lain: babi jenggot (Sus barbatus), musang leher kuning (Martes flavigula), owa (Hylobates muelleri), lutung dahi putih (Presbytis frontata), bajing tiga warna (Callosciurus prevostii), dan tupai gunung (Tupaia montana), beruang madu (Helarctos malayanus), musang belang (Hemigalus derbyanus), kucing batu ( Felis marmorata), rusa (Cervus unicolor) dan macan dahan (Neofelis nebulosa) yang sering disebut sebagai harimau Campo oleh masyarakat setempat.

Dengan perlahan, satu persatu anggota tim berhasil menapak di Pos Peninjauan, berjarak 2,5 jam perjalanan. Rute ke tempat ini lebih curam dibanding sebelumnya. Seringkali kita harus menggunakan tangan untuk membantu naik. Pasalnya, selain jalannya kecil, medan yang begitu licin, sering menyulitkan, jika tak hati-hati. Seperti sebelumnya, setiap pos punya pemaknaan tersendiri. Tempat ini bernama “peninjauan”, artinya kita bisa melepas pandang ke sekeliling. Dari sini, aroma puncak mulai kental terasa. Tumbuhan perdu dengan hawa dinginnya, membuat kami tak ingin berlama-lama.

Lepas dari istirahat tadi, perjalanan tahap akhir segera di mulai. Tujuan kali ini adalah Padang Siranjano (2880 mdpl), yang banyak kalangan menyebutnya “Basecamp Rajawali Putih”. Dengan berjalan kaki sekitar 75 menit, kita bisa sampai disana. Lokasinya sangat terbuka dengan luas ± 40 ha. Hanya decak takjub yang bisa kami ucapkan. Akhirnya, semua penat dan beban dilampiaskan dengan masak dan mendirikan tenda, tak jauh dari telaga yang memang banyak di kawasan ini. Dari sini juga puncak sejati Gunung Talamau tampak berdiri kokoh.

Berdasarkan informasi dari Bang Danil (baca: pengelola), kabarnya ada 13 telaga tersebar di tempat ini, yaitu: Talago Puti Sangka Bulan,Talago Tapian Sutan Bagindo, Talago Tapian Puti Mambang Surau, Talago Siuntuang Sudah, Talago Puti Bungsu, Talago Rajo Dewa, Talago Satwa Talago Lumuik, Talago Biru, Talago Mandeh Rubiah, Talago Imbang Langik, Talago Cindua Mato, dan Talago Buluah Parindu.

Berhubung masih siang, tim berencana menuju puncak hari itu juga. Diperkirakan jaraknya tak terlalu jauh. Benar saja, selepas makan siang, tim mulai menapak jalur yang sedikit berputar mengelilingi telaga menuju arah puncak. Hanya dengan waktu 1 jam, puncak tertinggi di Sumbar ini berhasi dicapai. Ternyata puncaknya terdiri dari batu-batuan yang dihiasi rerumputan. Sungguh, tak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan kami saat itu. Kembali tak henti-hentinya, hanya ucapan syukur yang bisa kami panjatkan. Semua beban itu seakan sirna berganti haru yang meluap-luap.

Kabarnya, di puncak ini (baca: Tri Martha, 2982 mdpl) terdapat titik triangulasi (baca: titik ketinggian), yang seiring waktu patok beton tersebut hancur digerus jaman. Hanya sisa-sisanya yang bisa dinikmati. Jika diamati, ternyata kawasan ini memiliki 2 puncak lain dengan letaknya agak berjauhan, yaitu: Puncak Rajawali dan Puncak Puncak Rajo Dewa. Selain itu, telaga yang kabarnya ada 13, hanya beberapa yang bisa kita nikmati, itupun telah banyak yang tak berair lagi.

Saat sayup-sayup kulepas pandang agak keujung sana. Ternyata gunung-gunung yang letaknya jauh mulai terlihat, seperti; Gunung Talang, Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan gunung Tandikat, serta tak ketinggalan Gunung Pasaman (Puncak Rajo Imbang Langik) yang letaknya bersebelahan.

Ah.., puas rasanya bisa menjelajah ke tempat-tempat tinggi seperti ini. Selain bisa mengenal alam dan masyarakat, kita pun mampu menakar diri. Rasanya, benar yang diucapkan Soe Hoek Gie, perihal kegilaannya mendaki gunung: “…hanya pemuda yang sehat jiwa dan raganya bisa menilai arti nasionalisme. Nasionalisme tidak timbul dari slogan-slogan dan hipokrisi. Nasionalisme timbul ketika kita dekat dengan alam dan masyarakatnya. Itulah sebabnya, mengapa kami mendaki gunung”























Monday, October 23, 2006

"SaMpAi BeRaPa RoLiNgAn LaGi ....."


Ada yang berbeda di newsroom beberapa hari lalu. Saat baru pulang dari buka puasa bersama bareng kru Sila (Sisi Lain), kira-kira pukul setengah delapan malam, sekerumunan orang terlihat khusyuk memandang 3 buah pengumuman yang ditempel di 3 sudut berbeda di lantai 3 ini. Kiranya ada gerangan apa, ya?

Eh.., ternyata, mereka sibuk membaca aneka program dengan komposisi kru, yang akan melibatkan mereka (baca: anak-anak news) tentunya. “Bak, menanti hasil ujian UMPTN saja”. Ini lah ritual 6 bulanan, tradisi yang begitu lekat bagi news TRANS TV sejak kemunculannya pertama.

Setelah lewat dari tenggat yang ditentukan, perhelatan panjang itu pun akhirnya datang juga. Kabarnya, momen penting ini sudah tertunda 2 kali dari jadwal yang direncanakan. Dan setiap ada rolingan, efek yang dihadirkannya masih saja penuh letupan yang mengagetkan, sama seperti waktu itu (baca: kemarin-kemarin).

Walau begitu, bagi saya, rotasi (rolingan; red) perlu untuk menjaga spirit tetap menyala. ‘Ibarat lampu teplok yang mulai kehabisan minyak, minta segera diisi, agar sinarnya kembali benderang’. Pasalnya, setiap ada perputaran program, ada energi baru yang melingkupinya. Tapi, tak selamanya perubahan selalu terjadi. Sama seperti kali ini, aku masih di tempat yang sama. Meski, tak berubah (program), sepertinya semangat baru muncul kembali. Keinginan untuk berbuat lebih baik dari sebelumnya.

Adakalanya, rolingan ini memberi sesungging senyum bagi mereka yang menyenangi sebuah program. Tapi, tak jarang raut muka berubah muram, pertanda ekspektasi negatif, jika (mereka) ditempatkan di sebuah program, yang kurang disukai.

Meski ada segudang alasan, mengapa mereka kurang bergairah di sebuah program. Tetapi, tetap saja kita tak bisa memilih. Bukankah sebagai jurnalis, harus siap sedia ditempatkan dimanapun, sesuai dengan profesionalisme kita. Sebab, untuk itulah kita dibayar. Jika ada, yang merasa tidak ‘sreg’ dengan sebuah program, itu tandanya dia belum dewasa! (baca: menurutku, lho! He..he…he…). Atau.., ada baiknya dia mencari kerja sesuai dengan keinginannya itu.

Bagi buruh media seperti saya, rolingan memang tak begitu banyak bedanya. Mau dipindah ke program apa aja, ya, harus tetap enjoy dan mesti dijalani. Sebab, itulah etika pekerjaan! Bagi rekan-rekan yang baru bergabung maupun yang sudah lama, seringkali timbul pemahaman sempit terhadap sebuah program. Adanya bias semu terhadap program-program yang kurang diminati, karena beragam alasan, seringkali berakhir pada stigma kelas. Maksudnya, ada penggolongan terhadap kelas yang elegan maupun kurang elegan. Namun bukan berarti porsi program tersebut tidak bernilai. Bagiku semua sama bermaknanya. Bisa jadi, pemahaman ini bermula dari nilai rasa yang dipahami teman-teman berbeda. Ada yang merasa magazine lebih elegan dibanding bulletin, ataupun sebaliknya. Hal ini sah-sah saja, sebab setiap orang punya pandangan sendiri-sendiri. Program-program yang berbau kriminal atau spot news contohnya. Selain terkesan tidak elit, program tersebut juga jarang melakukan liputan ke luar kota, apalagi ke luar negeri. Kalaupun ada, pasti kesempatannya sangat kecil, berhubung jumlah kru yang besar. Atau, begitu banyaknya rekan-rekan yang senang dengan program-program magazine, yang notabene “favorit”, karena sering melakukan liputan luar kota dengan uang SPJ tentunya.
Selain itu, ada yang tetap sama dengan rolingan kali ini. Saat sebagian orang dipindah ke berbagai program, sebagian lagi malah mendapat promosi di baragam program, sebagai Asprod maupun Produser.

Menurutku, jika seseorang memang dianggap mampu menduduki posisi tersebut, mengapa tidak! Setiap orang mendapat hak yang sama untuk bisa berkarir lebih baik di tempat kerjanya. Hanya saja, jika diijinkan ber-otokritik, ada kegelisahan yang mengganjal pikiranku perihal banyaknya asprod di tempat ini.

Pertama. Sepanjang pengamatanku, tak ada kriteria yang jelas perihal pengangkatan seorang asprod. Pasalnya, jumlahnya demikian banyak. Kalau dulu, setiap orang yang diangkat menjadi asprod adalah orang yang dianggap mampu dengan segudang kriteria, seperti: punya pemahaman tentang jalannya on-air, bisa ngedit gambar, ngedit naskah, dll. Sedangkan sekarang lebih kepada ‘kedekatan’. Sebab tak jarang ada teman bacth I/II yang komplain ke atasan, sehubungan banyaknya teman bacth di bawahnya (baca: bacth III) yang telah promosi asprod. Mereka menanyakan, mengapa belum dipromosikan? “karena belum ada yang promosiin kamu”, jawabnya

Kedua. Kebanyakan asprod lebih ber-orientasi roundawn ketimbang berkreatifitas. Pasalnya, dari hari ke hari, mereka hanya berkutat pada sistem kerja yang itu-itu aja. Roundawn telah menjadi panutan kerjanya. Sedangkan kreatifitas dari segi konten/ isi program lebih banyak didominasi sang produser, walau tak semua program begitu. Selain itu, usia para asprod yang relatif muda dengan segudang energi, adalah masa-masa produktif. Masa untuk menghasilkan sesuatu. Menurutku, jika mereka masih berlaku sebagai reporter maupun campers, mungkin akan lebih produktif, ketimbang jadi asprod yang kebanyakan nyata-nyata mandul. Mandul disini maksudnya kurang kreatif, yang bisa jadi karena terjebak dengan semua rutinitas tadi. Kecuali, usia mereka mulai senja seiring menurunnya kadar energi, bolehlah diletakkan di meja redaksi. Sebagai contoh, di banyak stasiun televisi, jarang ditemukan asprod maupun produser dalam usia yang relatif muda. Walau bukan berarti, usia muda jadi halangan untuk menduduki posisi tersebut. Ada juga produser maupun asprod berusia muda, tapi tak sebanyak di TRANS. Pasalnya, mereka belum matang secara psikologis, (baca: kebanyakan masih lebih baik di lapangan). Selain itu, seringkali timbul friksi antara asprod dengan kru yang sebaya, akibat salah penyampaian (“post power syndrome”).

Ketiga. Ada persepsi yang berkembang di pikiran teman-teman, bahwa seseorang dianggap berhasil (baca: dalam pekerjaanya), jika diangkat menjadi asprod. Ibarat naik kelas, untuk bisa menggapai jenjang yang lebih tinggi, sepertinya asprod menjadi tolak ukur. Apakah kulturnya memang seperti ini, saya masih butuh penjelasan? Menurutku, jika seseorang dianggap bekerja dengan baik, bukan berarti dia harus menjadi asprod. Ada kompensasi lain yang bisa diberikan, seperti: kenaikan sallary! Sebab, di tivi lain, banyak reporter maupun campers yang memiliki salary lebih besar dibanding asprod maupun produser. Itu yang membedakannya dengan reporter/campers pada umumnya. Ada nilai senioritas disana.

Keempat. Jika kita arif melihat fenomena banyaknya asprod sekarang ini, ada kegelisahan terkandung di dalamnya. Bagaimana tidak, dalam setiap rolingan, selalu ada nama-nama baru yang di diangkat. Yang jika dijumlahkan, kini besarnya bisa mencapai 50 orang lebih. Pertanyaannya sederhana: mau dikemana-kan para asprod tersebut? Sementara program-program kita lebih bersifat tambal sulam. Artinya, program baru timbul jika ada program yang almarhum. Menurutku, bisa jadi, nantinya kita akan terjebak dengan kebijakan tersebut, saat program tidak bertambah, sedangkan jumlah asprod demikian banyaknya. Bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi! Pasti mubazir! Sedangkan jika mereka diturunkan pangkatnya, jelas tak gampang.

Kelihatannya begitu ekstrim! Tapi itulah kenyataan lapangan yang terjadi, menurut sudut pandangku. Saat muncul rolingan baru, pasti terjadi perubahan disana. Jujur, aku bukan orang yang antipati dengan promosi tersebut. Aku juga bukan orang yang berambisi dengan embel-embel asprod ataupun produser. Bagiku, bekerja dengan baik dan jujur adalah ukurannya. Hanya saja, saat seorang teman berujar perihal rolingan, akal sehatku jadi tergelitik. “Sekarang bukan jamannya lagi bertanya, ada di program apa kita kini? Tapi pertanyaannya, sampai berapa rolingan lagi kita jadi asprod?” ucapnya. Mendengar itu, aku jadi senyum-senyum sendiri. He..he..he..!!!

Wednesday, October 18, 2006

"SaTu LagI JuRNaLis mATi"

Beratnya tuntutan yang harus diemban oleh seorang jurnalis profesional, seringkali membuatnya menyerempet bahaya, (yang) kadangkala memaksanya harus pintar-pintar meniti buih. Bahkan, tak berhenti sampai disitu, acapkali para jurnalis harus berkorban nyawa demi sebuah fakta yang harus diberitakan.

Kisah duka baru-baru ini datang dari Moskwa. Seorang wanita, jurnalis cetak yang terkenal gigih dalam melakukan investigative reporting, ditemukan tewas mengenaskan di depan pintu lift apartemennya, pada 7 Oktober 2006 silam. Dia adalah Anna Politkovskaya, ibu dari 2 anak yang menghabiskan separuh hidupnya untuk dunia jurnalistik yang dicintainya. Sosoknya terkenal gigih menentang upaya pendudukan soviet terhadap Checnya di tahun 1994 - 1999. Tak berhenti sampai disitu, Anna juga terkenal aktif untuk menentang pendudukan rusia tahap kedua pada tahun 2002.

Anna Politkovskaya yang lahir pada 30 Agustus 1958, memiliki sikap yang periang, menghabiskan masa remajanya di New York-AS. Dalam kegiatan jurnalistiknya dia hidup di bukit-bukit wilayah Chechnya. Menurut Situs the Guardian (15 oktober 2004), setelah lulus dari dari Fakultas Jurnalism Moscow State University tahun 1980, ia mulanya bekerja sebagai wartawan Obshchaya Gazeta, lalu pindah ke Novaya Gazeta, media harian yang cukup terkenal di Cechnya.

Rencanaya, saat itu ia akan menurunkan berita tentang praktek-praktek penyiksaan yang dilakukan oleh otoritas Chechnya yang loyal kepada PM Ramzan Kadyrov, yang kabarnya pro Moskwa. Sehubungan terjadinya kasus ini, desakan aliansi pers internasional semakin besar, agar polisi segera melakukan penyidikan terhadap kematian Anna yang sampai kini masih menimbulkan tanya. PM Ramzan Kadyrov, yang disebut sebut bertanggungjawab atas pembunuhan tersebut, tegas membantah tudingan tersebut. “saya tidak tahu menahu, perihal pembunuhan tersebut”, kilahnya dalam sebuah siaran berita.

Saat mayatnya ditemukan, di sisinya tergeletak pistol Makarov dan empat selongsong peluru. Laporan awal kepolisian setempat mengungkapkan, ia dibunuh oleh pembunuh bayaran dengan 2 kali tembakan jarak dekat, salah satu menembus kepalanya. Sungguh mengerikan!
@!@!@!

Kabar duka yang nyaris sama terjadi juga di Indonesia. Bedanya, kalau yang di Moskwa korbannya cewek, sedangkan di Indonesia sasarannya pria, yang sepak terjangnya di dunia jurnalistik tak kalah seru. Dia adalah Herliyanto (40), seorang penulis lepas yang bekerja untuk beberapa media di Jatim, seperti Delta Sidoarjo, Tabloit Visioner dan Tabloit Visual Jakarta. Jasadnya ditemukan membiru di kawasan Hutan Jati Tulupari, Kecamatan Banyuanyar, Probolinggo, Jatim, 29 April lalu.

Hasil Visum dokter menyatakan korban tewas karena mengalami luka bacok pada bagian perut sehingga usus terburai keluar lebih kurang 25 cm. Luka juga ada pada tengkuk belakang selebar 12,5 cm dan kepala bagian atas dengan lebar kurang lebih 8 cm. Polisi menduga ada motif tertentu dari pembunuhan itu, karena barang-barang pribadinya tidak hilang, termasuk sepeda motornya. Hanya kamera digital dan komputer notebook milik kantor yang dilaporkan raib.

Seperti dikutip dari Koran Surya, pembunuhan Herliyanto terjadi karena korban menulis indikasi korupsi melalui mark up pembangunan Jembatan Rejing di Desa Rejing, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.

Berbeda dengan tragedi Anna tadi, kasus ini berhasil di ungkap oleh aparat Polres Probolinggo dalam kurun waktu 6 bulan. Tiga dari tujuh orang tersangka pembunuh berhasil ditangkap petugas di beberapa tempat terpisah. Kini tinggal menciduk 4 orang lagi, yang kabarnya sudah diketahui keberadaannya.

Peristiwa memilukan yang dialami oleh Herliyanto ini, tidak hanya mendapat perhatian dari masyarakat dalam negeri. Dunia internasional melalui Badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya (UNESCO) pun ikut mengecam keras peristiwa keji itu.

"Saya mengecam pembunuhan keji terhadap Herliyanto. Kejahatan seperti ini seharusnya tidak diampuni," kata Direktur Jenderal UNESCO Koichiro Matsuura dalam pernyataannya yang dipublikasikan UNESCO melalui pusat media PBB New York, Senin (22/5) lalu.

Menurut dia, kekerasan terhadap wartawan sebenarnya bukan hanya suatu kekerasan terhadap seseorang, tetapi juga terhadap masyarakat secara keseluruhan. Kebebasan berekspresi diakui sebagai hak dasar dalam Deklarasi Universal tentang HAM.

@!@!@!

Kisah-kisah tadi mengingatkanku akan sebuah kisah klasik yang sampai saat ini belum tuntas, tak jelas siapa pelakunya. Tepatnya di tahun 1996 silam, sebuah kasus pembunuhan begitu menyita perhatian (baca: masyarakat dan pers Indonesia khususnya), menimpa seorang wartawan surat kabar harian: 'Bernas', Yogyakarta. Fuad Muhammad Syafrudin, alias Udin namanya.

Diduga berkait dengan berita-berita yang dia buat, Udin dianiaya dengan benda tumpul pada 13/8/1996. Dia akhirnya meninggal dunia (16/8/1996) di RS Bethesda-Yogyakarta setelah melewati perawatan intensif selama 3 hari.

Dalam kurun waktu 10 tahun ini, tak ada tanda-tanda atas terungkapnya kasus pencabutan nyawa secara paksa atas diri Udin. Tersangka Dwi Sumiaji, yang diyakini publik sebagai pelaku, ternyata bukanlah otak penganiayaan. Padahal, bukti-bukti awal dan sejumlah saksi sudah berhasil diwawancara oleh Polda DIY. Tapi, ntah mengapa, polisi sepertinya kehilangan spirit untuk mengusut kasus ini hingga tuntas.

Kalau melihat kronologis peristiwa yang terjadi saat itu, semua gejolak ini merupakan dampak dari akumulasi situasi politik yang mulai memanas, sehubungan maraknya musim PILKADA. Kasus Udin identik dengan isu pencalonan kembali Bupati Bantul kala itu; Kol (Art) Sri Roso Sudarmo dan keterlibatan Kepdes. Kemusu, Argomulyo, Bantul yang bernama R. Noto Soewito. Dari penelusuran, diketahui bahwa bapak Noto ini masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga Cendana. Saat itu, muncul selebaran fotokopi perihal kesediaan Bupati (baca: Sri Roso) untuk membayar uang senilai 1 Milyar kepada yayasan Dharmais, yang notabene dipimpin oleh Soeharto. Rencananya, uang itu akan dia bayarkan jika berhasil menduduki jabatan bupati untuk kedua kalinya. Padahal, dalam bakal calon pemilihan bupati yang diajukan DPRD, tak tercantum nama 'sang kolonel'. Selain itu, dalam selebaran itu, tercantum tanda tangan Noto soewito, yang menjadi perantara pembayaran antara Sri Roso dengan pihak cendana.

Inilah hanya contoh kecil perihal beratnya tanggungjawab yang harus dipikul seorang jurnalis sehubungan dengan profesionalismenya sebagai pengungkap fakta/ kebenaran berbanding lurus dengan resiko, (yang) juga tak kalah besar.

Monday, October 09, 2006

"JuRNaLiSmE dAmAi"

Kesadaran akan perlunya pendekatan spesifik dalam sebuah peliputan, khususnya yang berbau konflik, agaknya datang terlambat. Begitu banyak contoh peliputan yang keliru dalam mengurai pokok permasalahan, yang kadangkala malah menyulut konflik baru. Cara-cara seperti ini yang banyak dilakukan oleh media massa kita (baca:baik cetak maupun elektronik), selama ini. Untuk itulah, sebuah pendekatan yang terkenal dengan nama “Jurnalisme Damai”, menjadi wacana baru yang perlu mendapat perhatian.

Mungkin masih tergambar jelas dalam memori kita perihal kerusuhan Abepura beberapa waktu lalu. Peristiwa yang terjadi, akibat akumulasi kemarahan penduduk terhadap perlakuan kasar aparat yang sewenang-wenang selama ini, berujung dengan jatuhnya korban dari pihak polisi sebanyak 4 orang plus 1 orang intel AURI. Tapi dalam kejadian itu, kita tak pernah dengar bahwa ada pihak lain yang jadi korban. Ya, merekalah warga sipil, yang terlibat bentrok. Kabarnya ada beberapa korban jiwa dari rakyat biasa. Namun, info ini tak bisa tembus oleh wartawan, karena akses untuk mendapatkan berita di tutup rapat oleh aparat, dengan melakukan blokade di setiap rumah sakit.

Saat itu, dengan begitu bangganya kita menayangkan peristiwa sadistik tersebut, tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkannya. Bahkan, tak berhenti sampai disitu, kita malah melakukan re-ran (baca: penayangan ulang) beberapa hari berselang.

Sayangnya, kita tak pernah sadar, apa efeknya di lapangan. Menurut seorang teman (baca: jurnalis TEMPO), yang kebetulan ada di lokasi. Sejak pemberitaan kita dan tivi-tivi lain kala itu, eskalasi kekerasan yang dilakukan oleh aparat (baca: Brimob) semakin menjadi-jadi. Perasaan sakit hati aparat berujung pada aksi balas dendam terhadap warga sipil, sehubungan dengan jatuhnya korban di pihak mereka. Sehingga, warga sipil yang tak berdosa ikut jadi korban. Tak berhenti sampai disitu, para jurnalis televisi yang baru tiba dari Jakarta pun, harus menanggung bias tersebut. Saat hendak melakukan liputan, tiba-tiba saja anggota Brimob yang sudah terprovokasi, langsung melakukan pemukulan terhadap kru dan pengrusakan terhadap kamera yang sedang digunakan.

Para mahasiswa yang tak tak tahu-menahu ikhwal bentrokan, menjadi imbas berikutnya. Mereka takut dengan sweeping yang dilakukan petugas, sehubungan dengan banyak mahasiswa yang ditengarai ikut memprovokasi kejadian tersebut. Kabarnya para mahasiswa tersebut tinggal di kost-kostan sekitar kampus. Hanya saja, dampak dari kejadian ini, membuat banyak mahasiswa menjadi trauma. Daripada dituduh terlibat dan mendapat perlakuan kasar aparat, lebih baik mengungsi dahulu. Itu yang membuat sebagian besar mahasiswa enggan pulang ke kost-an.

Atau, mungkin masih banyak yang belum tahu cerita dari ujung nusantara, ‘Aceh’. Hanya karena pemberitaan yang tidak berimbang, atau pemberitaan tanpa sumber yang jelas. Beberapa jurnalis (baca: kru beberapa stasiun televisi swasta) harus di pulangkan sedini mungkin ke Jakarta. Bahkan, ada beberapa media tivi yang di black list oleh kawan wartawan setempat, akibat ulah jurnalisnya yang gegabah. Sampai-sampai, seorang teman jurnalis lokal pernah berujar: “hanya karena ulah kalian (baca: wartawan Jakarta), kita yang disini kena getahnya. Kalo ada apa-apa, kalian tinggal lari ke Jakarta, sedangkan kami disini, mau lari kemana. Kami gak punya tempat pelarian.”

Lain lagi penuturan teman yang satu ini. Dia adalah jurnalis wanita (baca: koresponden the Jakarta Post) yang sudah beberapa tahun ini menetap di Aceh. Pasca darurat militer yang berganti dengan darurat sipil, tak terlalu banyak yang berubah. Tingkat kekerasan yang terjadi seakan menjadi menu harian yang menghiasi halaman muka surat kabar disana. Dari pihak GAM selalu keluar rilis tentang jatuhnya korban di pihak TNI. Sedangkan pihak TNI, tak mau ketinggalan dengan mengeluarkan statement yang tak kalah seru. Hanya saja, saat teman tadi melakukan cross check ke lokasi yang disebutkan. Tak terjadi apa-apa disana. Jadi, sumber mana yang bisa dipercaya?

Selain korban yang lebih banyak jatuh di pihak sipil, para jurnalis pun, sering menjadi target dari pihak yang bertikai. Akibat tekanan yang begitu hebat, temanku tadi, sering dihantui ketakutan. Hanya pasca Tsunami, yang bisa menenangkannya. Pasalnya, kekerasan yang terjadi mulai mereda dengan datangnya bencana yang menelan ratusan ribu korban jiwa dan ditandatanganinya perjanjian damai Helsinski. Apalagi, saat itu sudah banyak wartawan yang kehilangan nyawa akibat pemberitaan yang tidak hati-hati. Ini yang membuatnya selalu siap sedia dengan pakaian rapi dengan peralatan lengkap saat malam menjelang. Setiap ada kendaraan yang berhenti di depan rumahnya, dia selalu deg-deg-an. “Jangan-jangan aku jadi korban berikutnya”, pikirnya. Ternyata peliputan daerah konflik yang dilakukannya telah menimbulkan trauma yang begitu mendalam.

Ini hanya sebagian kecil, contoh kerja jurnalistik yang dilakukan oleh rekan-rekan jurnalis perihal ringkihnya potensi sebuah konflik, hanya karena peliputan yang tidak akurat, adil dan tidak menghormati hak orang lain. Hanya karena sebuah ekslusivitas, sering kali kita menerobos semua batasan-batasan tadi. Bukankah seharusnya kita meredam konflik, dengan tidak terlarut dalam pertikaian yang ada?

@!@!@!

Sebuah kesadaran baru, tentang perlunya upaya meredam sebuah konflik, mulai diperkenalkan oleh Johan Galtung pada tahun 1970-an, dengan nama “Jurnalisme Damai”. Pendekatan ini sendiri mulai di perkenalkan di Indonesia pada tahun 2000, seiring pecahnya konflik yang terjadi di tanah air dengan aneka latar belakang.

Untuk bisa memahami jurnalisme damai, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan konflik. Konflik adalah situasi dimana dua atau lebih individu atau kelompok berusaha mencapai tujuan atau ambisi yang mereka percayai tidak bisa dibagi. Yang perlu di ingat, tidak semua konflik disertai kekerasan. Sebab, konflik yang berujung pada kekerasan, terjadi karena perselisihan tersebut tidak dikelola dengan baik

Jika ditilik lebih jauh, sebuah konflik bisa diakibatkan oleh banyak faktor, diantaranya: sumber-sumber (SDA) langka yang tidak dibagi secara adil, rumah, pekerjaan, komunikasi antar kelompok yang minim, masing-masing kelompok punya pemikirian dan kepercayaan yang tidak tepat terhadap kelompok lain, kekesalan yang tak terselesaikan, kekuasaan yang tak terdistribusi dengan baik.

Sedangkan jika memperhatikan lebih jauh perihal akar pemahaman terjadinya kekerasan, dapat dikelompokkan dalam 2 bagian besar, yaitu kekerasan kultural dan kekerasan struktural. Kekerasan kultural, diantaranya: pernyataan yang penuh kebencian, xenophobia (salah persepsi), mitos dan legenda, justifikasi religius tentang perang dan deskriminasi gender. Sedangkan kekerasan struktural bermula dari: instusionalisasi rasisme dan sexisme, kolonialisme, eksploitasi secara ekstrem, kemiskinan, korupsi dan nepotisme, serta segeregasi structural.

Saat ini, gagasan untuk menjembatani semua aksi kekerasan dengan jurnalisme damai, tidak hanya dikenal di kalangan jurnalis saja, kalangan aktivis, politisi dan pejabat pemerintahan di berbagai daerah mulai melakukan pendekatan ini. Perkembangannya cukup menggembirakan, walau masih ada keraguan apakah jurnalisme damai telah cukup dipahami dan dipraktekkan oleh media ketika dihadapkan pada situasi konflik.

Proses perdamaian yang terjadi di Aceh sejak DOM sampai pasca Tsunami tampaknya lebih karena faktor politik daripada peran media. Sedangkan di Papua, konflik mendapat perhatian saat terjadinya bentrokan/ kerusuhan, akan tetapi segera dilupakan setelah terjadi peredaan ketegangan.

Alasan mengapa begitu minimnya pemahaman media terhadap pendekatan ini, berakibat pada reportase konflik yang berorientasi pada menang dan kalah. Umumnya pendekatan ini tidak menjadi kurikulum atau topik bahasan wajib dalam kuliah jurnalistik maupun pelatihan internal di masing-masing media. Sebab, seringkali jurnalis baru mendapat penugasan pada detik-detik terakhir sebelum terjun ke medan konflik, tanpa pernah mempelajari sejarah dan karekteristik konflik suatu daerah.

Pendekatan jurnalisme damai tidak hanya relevan digunakan dalam konflik komunal atau konflik yang berkaitan dengan gerakan separatis, tetapi juga dapat digunakan untuk mengangkat persoalan berkaitan dengan konflik sumberdaya alam, tanah, konflik perburuhan, maupun konflik antar kelompok yang terjadi di masyarakat.

Seiring dengan pendekatan ini, Jacqueline Park (Direktur Asia Fasific International Federation of Journalist) menyatakan, bahwa ada tiga prinsip dasar yang harus dipegang jurnalis dalam melaksanakan tugasnya. Pertama, membuat reportase yang adil dan akurat. Kedua, dalam situasi konflik harusnya kita menghormati hak orang lain. Ketiga, konflik akan menimbulkan amarah dan menghambat perdamaian. Bagaimanapun tugasnya wartawan bukanlah menjadi pemandu sorak pada salah satu pihak.

Tugas kita lah melalui pelaporan yang komprehensip, harusnya bisa membangun masyarakat memahami perbedaan satu sama lain, baik perbedaan kultural, etnis, maupun perbedaan lainnya

Sekalipun di beberapa wilayah konflik telah terjadi peredaan ketegangan, tantangan yang dihadapi media tidaklah gampang. Media harus mampu menempatkan diri sebagai forum untuk menjembatani perbedaan dan persoalan yang menjadi akar konflik. Kultur kekerasan yang sudah menjadi bagian dari sistem masyarakat menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi media. Disini kita diuji apakah media akan mendorong terfasilitasinya keragaman yang ada, toleransi dan hormat menghormati atau malah sebaliknya, media akan mendorong segregasi dan penggunaan kekerasan dalam menghadapi perbedaan.

Saturday, October 07, 2006

"BeRbUrU dI DuNiA LaIn"

“Mas, tolong matiin lampunya! Ntar penampakannya bisa hilang”, ujar Hari, anggota tim pemburu hantu yang menemaniku malam itu. Menyimak instruksi tersebut, dengan segera kumatikan lampu ultralight yang sedari tadi menyala guna mendokumentasikan setiap momen yang terjadi.

Untuk lima menit pertama, kami diam membisu. Tak mengeluarkan kata sedetik pun. Suasananya begitu hening! Hanya pekatnya malam plus nyanyian jangkrik yang mengiringi irama syahdu tempat itu. Menurut skenario yang disusun, seharusnya posisiku berada di sebelah kanan Komar, - salah seorang tim pemburu yang ditempatkan sebagai umpan untuk memancing munculnya mahluk-mahluk ghaib-. Sedangkan posisinya Hari, berjarak ± 7m di sebelah kirinya komar, untuk merekam penampakan yang terjadi.

Awalnya, aku ingin mengambil gambar bersama Hari, tapi berhubung kamera yang kubawa tidak memiliki fasilitas infra red. Jadilah, kamera tersebut lebih banyak diistirahatkan. Hanya beberapa shot gambar yang berhasil kuabadikan. Itupun sudah sangat mengganggu tim, karena keberadaan cahaya ternyata membuat keberadaan sosok ghaib enggan muncul. Menurut mereka, frekuensi yang ditimbulkan mahluk itu sangat rendah, masuk dalam kategori infra red. Sehingga, hanya kamera dengan fasilitas infra red/ night vision yang berhasil menangkap sosok tersebut.

Merasa kehadiranku lebih banyak mengganggu, karena terlalu sering mengeluarkan cahaya, -baik cahaya lampu kamera maupun headleamp-. Hari mengusulkan agar aku bergabung saja dengan Komar, untuk menunggu penampakan dari tempat itu. Kupikir, sebuah ide yang cerdas. Lagian dari pada sendiri di pojokan, Lebih baik berdua bareng Komar.

Menurut Komar, di tempat ini, dia ketemu sosok yang mengerikan 2 minggu lalu. Saat itu menjadi perburuan mereka yang pertama. Kondisinya yang benar-benar takut, membuat pemunculan sosok tersebut begitu cepat. Tak sampai 10 menit, sosok gimbal dengan mata dan mulut yang hancur menyembul keluar, bergoyang-goyang di sela-sela pohon pisang yang memang banyak di tempat itu. Awalnya hanya sekelebatan bayangan saja. Tapi, karena yang dijadikan umpan (baca: komar) begitu takut. Dalam sekejab sosok itu berubah solid. Begitu nyata!

Berbeda dengan pengalaman 2 minggu lalu, kini komar sedikit lega dengan kehadiranku. Akhirnya kami ngobrol ngalar-ngidul tentang segala hal. Mulai dari kehidupan pribadi, sampai hal-hal mistis yang pernah dialaminya. “Jika ada yang menemani, saya jadi tak takut lagi”, ungkapnya.

Beberapa saat berlalu, kehadiaran mahluk-mahluk aneh itu mulai dirasakan Komar. Pasalnya, sejak bergabung di Padepokan SoeroengPati, indra keenamnya semakin terlatih. Benar saja, tak lama berselang, muncul bunyi lemparan benda kecil, yang kami tak tahu asalnya dari mana. Mendengar gelagat itu, sontak kuarahkan lampu ke sekeliling. Tapi, tak ada keanehan yang terlihat. Hanya seonggok tumbuhan hutan yang tampak berdiri kokoh, diselingi remah-remah gugurnya dedaunan hutan.

Lepas dari lemparan-lemparan tadi, kini sekeliling berubah menjadi dingin. Padahal sebelumnya tak ada angin yang berhembus. Tiba-tiba saja hawa dingin yang menusuk tulang segera menyergap. “Ini nih, pertanda awal munculnya mahluk ghaib”, ucap komar. Saat kutanya, dimana pastinya mahluk itu berada. Dia hanya menggeleng, gak bisa memprediksi. “Wujudnya masih terlalu halus. Ntar beberapa menit lagi, mungkin bakal kelihatan” kilahnya.

Dalam perburuan, suasana seperti ini tak terlalu baik. Pasalnya, jika kita tidak takut (baca: ditandai dengan energi kita yang lebih besar dibanding sosok tersebut), kemunculan mahluk ghaib jadi sulit. Sedangkan jika kita takut, penampakan terbilang mudah. Tapi, jika kita tidak siap, tak jarang kesurupan jadi perilaku aneh yang kerap mendera. Jadi serba salah!

@!@!@!

Jujur, aku gak terlalu mafhum dengan kegiatan yang satu ini (berburu hantu: red). Rencana untuk meliput hal-hal yang berbau mistik pun, tak pernah terbersit sebelumnya. Hanya, karena potensi share/ rating untuk tayangan yang bersifat mistik cukup besar. Mau gak mau, kami harus melakukan peliputan dengan topik aneh. “Mistik” temanya. Secara tak sengaja, saat berada di Jawa Timur, tepatnya di Pasuruan. Kami bertemu dengan mbah Warok (baca: pemimpin padepokan Soeroengpati, tempat pemburu hantu berada), yang kebetulan akan melakukan perburuan mahluk ghaib, di sebuah lokasi yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat.

Menilik ajakan tersebut, kami langsung bersemangat. Dengan harapan, semoga ada penampakan yang berhasil diabadikan. Apalagi, untuk episode mistis yang sedang kami liput, sudah 2 segmen berhasil digarap; Gua Gempyong, tempat pertapaan Raden Wijaya (Raja Majapahit I) di Pacet dan Rumah setan di Surabaya. Kini tinggal 1 segmen yang tersisa!

Malam tanpa bintang, pertanda munculnya nuansa magis semakin kuat. Secara perlahan iring-iringan tim pemburu hantu memasuki arena, setelah sebelumnya melalui jalanan kampung yang berdebu dan berakhir pada pematang-pematang sawah. Lokasi yang benar-benar senyap, membuat bulu kudukku segera bergidik. Maklum, aku agak peka dengan hawa-hawa aneh, seperti di tempat ini. Sejurus kemudian, mbah Warok mulai komat-kamit membaca mantra sambil membakar kemenyan dan koran yang telah dipersiapkan sebelumnya. Ini menjadi ritual yang sering dilakukan guna mendukung kelancaran kegiatan. “Ritual ini berguna untuk membentengi semua tim, sekaligus kulonuwon dengan penghuni tempat ini”, ungkap mbah Warok sembari menghisap rokok kemenyannya dalam-dalam.

Sejurus kemudian, tim di bagi tiga. Dua tim bergerak melakukan perburuan ke dalam hutan yang dianggap keramat, sedang sisanya menunggu di luar kawasan untuk melakukan pemantauan. Hal ini berguna, untuk siaga dan memberi bantuan, jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan. Untuk mengabadikan kegiatan ini, aku berkesempatan mengikuti timnya Hari. Kabarnya, kamera Hari yang telah diritualkan terlebih dahulu, terlihat sering menangkap fenomena magis suatu tempat dibanding tim lainnnya. Sedangkan tim satu lagi, dipimpim Ambar bergerak kearah timur.

@!@!@!

Merasa di tempatku gak terjadi penampakan. Iseng-seng ku kirim pesan singkat lewat ponsel ke seorang teman yang berada di luar kawasan. Tak lama berselang pesan balasan pun masuk. Isinya: “Segera kemari, didepan kami ada penampakan”. Membaca itu, dengan perlahan di tuntun Komar, aku beranjak meninggalkan lapak perburuan menuju lokasi tim ketiga. Disana tampak mbah Warok ditemani beberapa orang pemburu sedang mengamati sebatang pohon pisang. Jika dilihat sekilas, tak tampak keanehan. Tapi, begitu melirik handycamnya mereka, kita akan takjub dengan munculnya sesosok bentuk transparan yang lama kelamaan berubah padat. Sungguh, ini saat-saat menegangkan dimana pemunculan mahluk gaib berhasil diabadikan ke dalam bentuk audio visual.

Tak jauh dari sosok tersebut, tepatnya di rimbunan pohon di depan kami. Para pemburu hantu mulai merasakan aura kehadiran mahluk ghaib lainnya. Kini, sesosok mahluk berpakaian putih -menurut penuturan mereka-, muncul di ujung sana. Berhubung, aku gak bisa melihat keberadaan sosok tersebut, aku hanya diam saja. Apalagi saat mereka mengatakan, mahluk itu mulai terusik dengan keberadaan kami. Aku jadi bertambah bingung! “Kok, aku gak bisa lihat, ya!”, gumanku lirih! Sampai-sampai temanku yang juga punya indra keenam berujar; Nah lho, lihat tuh! Dia mulai terbang ke sebelah kanan. Gila gerakannya kayak yang di film-film aja.

Penasaran dengan penampakan yang bisa dinikmati semua orang. Aku jadi terlihat bodoh. Untungnya rasa keingintahuanku, segera dianulir mbah Warok. Untuk Itu, aku pun diajak melihat lebih dekat. Tepatnya di ujung pematang sawah, di sebelah kanan rimbunan pohon yang diduga tempat kemunculnya mahluk tersebut. Lagi-lagi, disini aku hanya melihat batang-batang pohon yang berdiri tegak begitu rapat. Saat Ambar, -tim pemburu- merujuk sesosok putih yang terjuntai vertikal. Rasa penasaranku semakin tinggi! Kini, lamat-lamat dapat kulihat sosok itu. Awalnya, aku senang dengan keberhasilan ini. “Wah, mataku semakin awas”, pikirku! Tapi saat sayup-sayup diseberang sana, muncul sinar dari senter tim pemburu lain yang menerangi sosok tersebut. Aku jadi kecewa! Pasalnya, sosok yang kuduga penampakan, ternyata hanya sebuah pohon yang memiliki garis putih disepanjang batangnya. Dasar, penampakan yang menipu!

@!@!@!

Tak puas dengan lokasi tadi, kembali kami mencoba peruntungan di tempat lain yang tak kalah angkernya. Konon, lokasi kedua ini merupakan tempat pembantaian orang-orang yang dituduh terlibat PKI dulu. Selain itu, lokasi ini menjadi ajang berkumpulnya berbagai mahluk buruk rupa, yang memang telah mendiaminya sejak dulu kala, demikian penuturan mbah Warok satelah melalui penerawangan ke alam mereka.

Terang saja, apa yang dikatakan mbah warok terasa benar. Sebab, begitu memasuki tempat ini, aroma aneh dengan suasana mistis segera menyapa. Ini yang membuatku agak malas untuk masuk kesana. Selain aku gak bisa melihat yang ghaib-ghaib, aku pun gak diperbolehkan menyalakan lampu. Jadi, kupikir gak banyak artinya aku disana. Biar mereka saja yang melakukan perburuan. Ntar, tinggal lihat hasilnya! Tapi, rekanku berpandangan lain. Pasalnya, jika aku tak ada disana, ntar pengambilan gambar yang dilakukan oleh kru pemburu hantu, bisa dikatakan rekayasa. Sedangkan untuk sebuah berita, fakta menjadi penting. Ini dapat ditunjukkan dengan keberadaan tim peliput di lokasi yang sebenarnya. Sehingga, hal-hal yang mungkin bersifat rekaan dapat ditepis, jika kita (baca: jurnalis) ada di TKP (baca: tempat kejadian perkara)

Berbeda dengan lokasi yang pertama tadi, penampakan kasat mata lebih dimungkinkan di tempat ini. Walau bentuknya tidak sesolid hasil perburuannya Komar tempo lalu, tapi kemunculannya emang ada. Mulai dari bentuk cahaya yang hilang timbul, lalu berubah banyak dengan gerakan yang melingkar-lingkar, dilanjutkan dengan pemunculan mahluk kerdil putih di dahan pohon, sampai timbulnya sosok transparan diantara batang bambu.

Fenomena ini semakin jelas terlihat saat preview (baca: melihat lewat media monitor) dilakukan berulang ulang. Pasalnya, penampakan berupa cahaya yang terlihat tersebut tidak sejelas hasil yang direkam kamera. Menurut penuturan mereka, cahaya tersebut dikenal dengan nama “Banaspati”, mahluk ghaib yang sangat mengerikan dengan wujud kepala yang menyala merah laksana terbakar api. Kabarnya, para pemburu itu pernah mengalami hal yang mengerikan, ketika melakukan perburuan di sana. Kala itu, banyak diantara mereka yang kesurupan, saat bertemu wujud tersebut. Sampai-sampai, sosok itu terus mengejar mereka, bahkan ketika sudah keluar dari lokasi. “Sumpah, seram banget bentuknya”, ujar Ambar, salah satu tim pemburu.

Pantas saja, ketika melihat gelagat cahaya merah mulai melakukan pembesaran. Ambar, yang menemaniku saat itu, terlihat panik. Siap-siap untuk melarikan diri, menjauhi lokasi perburuan. Untungnya, ntah kenapa, tiba-tiba saja cahaya itu mengecil dan langsung menghilang ditelan pekatnya malam.

Puas dengan hasil visual yang berhasil direkam kamera. Kami pun beranjak menuju rumah “Gus-Lo”, -tempat salah seorang anggota tim yang dijadikan base camp-. Disinilah, kami melakukan preview pertama, untuk melihat ada tidaknya penampakan yang berhasil di record. Dan hasilnya, sungguh luar biasa! Semua penampakan itu benar-benar nyata. Anggapan, yang menyatakan bahwa kehadiran mahluk ghaib tidak bisa tertangkap kamera gugurlah sudah. Kini semua terpampang jelas di depan mata.

Semoga saja, bahan-bahan tadi cukup layak dinikmati pemirsa, sebagai sebuah tontonan yang setidaknya bisa menghibur, dan memberi gambaran tentang sebuah dunia yang lekat dengan kita. Dunia itu adalah "dunia lain".







Thursday, September 14, 2006

"SaAt PeNyAKiT iTu MeNyErAnG"

“Mao, aku harus ke Rumah Sakit sekarang!”, teriakku, coba meredam sakit yang semakin tak tertahankan. Melihat itu, ma-mao (baca: panggilan istriku) segera lari menghambur keluar rumah. Mencoba memanggil Asri-sobat karibku, yang baru saja tiba di kost-an. Untungnya, sobatku itu langsung tanggap dengan kondisiku yang lemah lunglai. Tak punya tenaga lagi!

Begitu mendengar penjelasanku, Asri langsung membopong. Mencoba menuntunku menyusuri Gang Damai yang berdebu, pertanda musim kemarau segera tiba. Membayangkan bisa tiba di Rumah Sakit, rasanya mustahil. Apalagi untuk menuju kesana, aku harus berjalan kaki ke depan gang untuk menunggu taxi. Sebuah penderitaan yang sangat menyiksa. Belum lagi, kondisi di dalam taxi mungkin semakin bertambah buruk, jika aku muntah dan buang air lagi. Sungguh memalukan! Pasalnya, sudah tak terhitung berapa kali aku muntah dan BAB (Buang Air Besar: red) sejak pagi tadi.

Untungnya semua yang kukhawatirkan tak terjadi. Hanya muntah, -berisi air yang kuminum sebelum berangkat tadi-, yang sempat keluar saat taxi mulai melaju. Ketika supir menanyakan arah, kita bertiga (aku, ma-mao, asri: red) masih belum punya tujuan pasti. Usulan pertama, kita coba mengarah ke RS. MEDISTRA. Tapi, karena arah ke kuningan macat banget, si supir menawarkan alternatif kedua, “RS. TEBET”. Pasalnya, arah ke RS ini lancar tak ada halangan. Sedangkan jika ingin mencapai RS. Tria Dipa (baca: option terakhir), pasti sulit, karena akan terhalang kemacetan di Pancoran dan putaran Kalibata. Jadilah sore itu, kami berlabuh di RS. TEBET.

Setibanya disana! Uh…, dengan kekuatan penuh, kupaksa tuk melangkah meniti rangkaian ubin menuju ruangan IGD (Instalasi Gawat Darurat; red) di sebelah kanan pintu masuk. Karena jarang dirawat di RS, aku gak tahu harus memulai dari mana? Apakah menanti di ruang tunggu, atau harus mendaftar dulu. Sungguh, aku gak paham. Yang aku ingat dulu, kalo sedang sakit, hanya “mak Lambok” (baca: bidan desa) yang jadi tempat pelarian. Ntah kenapa, setiap orang yang ditanganinya selalu sembuh. Apa karena sugesti, atau obatnya emang manjur. Gak ada yang tahu? Jadi, dengan perawatan yang namanya RS, aku kurang familiar. Sebab, bagiku RS adalah ajang tuk menjenguk orang-orang yang sakit, apakah itu saudara atau teman. Tapi, kini kondisinya berubah 180 derajat. Akulah yang butuh dijenguk!

Lagi-lagi, untungnya ma-mao dengan cekatan membenahi semua persyaratan yang diminta pihak RS. Sementara Asri, dengan sigap menuntunku ke salah satu bangsal di pojokan ruang IGD tersebut. Sekarang, tinggal menunggu penanganan medis.

Ntah mengapa, yang namanya RS selalu saja lambat dalam memberi pertolongan pertama. Itu yang kualami disana. Kalo saja Asri dan Benu –yang datang belakangan- gak cerewet kepada para suster yang belagak pilun, mungkin aku masih tergelak layu, untuk beberapa waktu berselang. Padahal saat itu kondisiku sangat mengkhawatirkan. Bayangkan saja, selain dehidrasi karena kehilangan cairan tubuh, tiba-tiba aku merasa ingin muntah, sementara wadahnya gak ada. Belum lagi, rendahnya suhu udara pendingin ruangan, membuatku hypothermia (baca: kehilangan panas tubuh). Sampai-sampai bibir, tangan dan kakiku terasa beku. Sungguh, aku berada di titik nol. Ingin bertahan tapi tak punya tenaga.

Menanggapi ocehan temanku itu, para suster segera bergerak cepat. Mulailah mereka memeriksa kondisiku. Ada yang nanyain gejala awal, ada yang meriksa denyut nadi, dan ada yang memasang alat-alat pendeteksi, yang aku gak tahu apa nama dan fungsinya. Tahunya, itu adalah presedur standar sebelum pasien dibawa ke dalam ruangan perawatan.

Sejurus kemudian, aku sudah berada di atas kereta dorong, lengkap dengan sebotol infus larutan elektrolit, -pengganti cairan tubuh-. “Ruangan Bapak ada di nomor 403, tepatnya di lantai 4”, ucap seorang perawat yang ikut mendampingi. Ternyata, dari klaim asuransi yang diajukan, aku berhak atas perawatan kelas I dengan jatah ruangan Rp. 250 ribu/ hari. Untung, aku bisa mendapat kelas itu, sebab jika tidak, fasilitas yang memadai pasti jauh dari harapan.

Masih dengan kondisi lemas yang menggigil kaku. Benu menuntun kereta dorongku memasuki koridor RS ini. Tak tampak keramaian di lorong-lorongnya. Semua terasa lengang, berbeda dengan RS kebanyakan, yang selalu riuh dengan lalu lalang orang. Setelah melewati meja pendaftaran di lantai 4, kami berbelok ke arah kiri. Tepatnya, 2 kamar dari ujung di sebelah kiri, menjadi tempat peristirahatanku untuk beberapa hari kedepan.

@!@!@!@!

Pagi itu, ada sedikit keganjilan. Tak seperti biasanya, keinginan buang air begitu memuncak. Perasaan sembelit pun ikut-ikutan meraja sejak tengah malam tadi. Itu yang membuat aku gelisah, gak bisa tidur hingga pukul ½ 4 pagi. Begitu tertidur, keinginan BAB tadi segera memanggil, minta diekspresikan.

Tak lama berselang (baca: 30 menit), keinginan keparat itu muncul lagi. Hanya, BAB kali ini sudah tak ada ampasnya, yang keluar hanya cairan kental berwarna keputihan. Melihat itu aku jadi takut. Sebab, kejadian serupa yang dialami bubu -anakku- sebulan lalu. Itu juga yang membuatnya harus di rawat inap selama 4 hari di RS, akibat kekurangan cairan tubuh.

Mencermati kondisi itu, kucoba bertahan dengan meminum larutan oralit sebanyak-banyaknya. Tapi, hasilnya tetap saja gak berubah. Malah, keinginan muntah mulai ikut menyerang. Jika keinginan BAB muncul, pasti aku akan muntah sebanyak-banyaknya. Gak ada tenaga yang bisa menahan keinginan itu. Dan, jika itu terjadi, aku akan semakin lemas. Hanya dalam kurun waktu sejam, sudah 6 kali aku harus mondar-mandir ke kamar kecil.

Awalnya, orang rumah (baca: sebutan untuk semua penghuni rumah) gak terlalu khawatir dengan kondisiku. Mereka pikir keadaanku masih dalam taraf wajar dan bisa bertahan sampai sore nanti. Itu yang membuat mereka menyempatkan pergi ke rumah saudara di Kebun Jeruk untuk sebuah keperluan penting. Mereka gak tahu, kalau itu adalah waktu-waktu terberat dalam penantian panjangku. Sebisa mungkin kucoba bertahan, sampai mereka datang. Sehingga setiap saat, kerjaku hanya menghitung putaran sang waktu. Tapi, lagi-lagi kondisiku semakin drop. Bahkan semakin buruk. Disaat itulah aku berpikir untuk ke RS seorang diri. Tapi, untuk beranjak dan berdiri saja, sakitnya bukan main. Selain lemas, karena banyak kehilangan cairan, rasa mulas yang melilit perut ini semakin menjadi-jadi. “God, pliz give me a power!”

Menit berganti menit, jam berganti jam. Kini kondisiku semakin parah. Tiap 10 menit, kerjaku hanya buang air sambil muntah. Karena gak ada yang tersisa di lambung, setiap muntah, hanya cairan -sisa air yang kuminum tadi- yang keluar. Biasanya setelah itu, perasaan sedikit tenang. Tapi itu tak berlangsung lama. Satu-satunya solusi penyelesaian, hanya tidur. Itupun dengan posisi miring. Jika coba terlentang, rasa mulasnya semakin parah. Sepertinya, sudah 20 kali aku buang air disertai muntah-muntah sejak pagi tadi.

Dalam kondisi yang semakin tak menentu. Tepat pukul 16.45, ma-mao pun muncul di depan pintu. Saat itulah, keputusan rawat inap di RS menjadi pilihan terakhir, yang harus dilakukan. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapat perawatan dokter sesegera mungkin.

@!@!@!@!

Empat hari di RS, kupikir cukup tuk istirahat panjangku. Apalagi, kini kondisiku semakin baik sejak malam tadi. Keesokan paginya, perawat yang telaten mengurusku beberapa hari ini, mulai melepaskan 2 buah infus yang selalu setia mendampingi. Nafsu makanku pun semakin menggila. Rasanya, aku gak puas dengan menu bubur yang mereka tawarkan. Aku butuh nasi putih dengan porsi yang sedikit jumbo, tuk mengimbangi rasa laparku.

Akhirnya, saat yang ditunggu pun tiba! Sudah menjadi aturan wajib, sebelum meninggalkan RS, aku harus membenahi semua administrasi yang tersisa, selain menunggu visit dokter yang akan memeriksa keadaan terakhirku. Tapi, saat hari semakin tinggi, kehadiran sang dokter belum menunjukkan tanda-tanda. Akhirnya dengan berat hati, pihak RS pun memberiku pulang, walau tanpa sang dokter. Ternyata, pihak RS gak bisa menahan keinginan pasien tuk pulang, jika kondisi pisiknya telah pulih.

Saat menandatangani klaim asuransi tadi, iseng-iseng aku bertanya perihal biaya perobatan selama empat hari ini. Samar-samar mereka menyebut angka 3,5 juta rupiah. Saat kuperjelas angkanya, mereka gak bisa merinci pasti. “ya, sekitaran itulah!”, jawab mereka ketus. Mendengar itu aku jadi senyum sendiri. Mungkinkah mereka tak jujur, atau…??? “Whatever lah! Peduli amat, yang penting aku sembuh. Lagian yang bayar, kan kantor”, gumanku lirih, sambil beranjak pergi menyandang LOWE alpine (baca: ranselku), tempat semua pakaian kotor berada.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN