Saturday, December 18, 2010

Cancun: Mau Dibawa Kemana...?


Pertemuan terakhir di Cancun, mengungkapkan adanya jarak antara janji-janji negara maju yang lemah dan di mana seharusnya mereka berada. Para pemimpin KTT juga menyatakan bahwa pemotongan emisi harus sejalan dengan kenyataan ilmiah, dimana pengurangan emisi 25-40% pada 2020. Selain itu diperlukan adanya komitmen untuk menjaga kenaikan suhu global tetap berada di bawah dua derajat Celsius.

Berbeda dengan hiruk pikuk dan gaung yang ditimbulkan oleh COP (Pertemuan Para Pihak) ke-15 di Copenhagen-Denmark setahun lalu, COP ke-16 di Cancun-Mexico kali ini terasa kurang semeriah yang dibayangkan. Pasalnya , kesepakatan secara hukum yang seharusnya mengikat semua negara peserta konferensi masih belum membuahkan hasil. Padahal istilah “Hopenhagen” sempat didengungkan sebagai pembangkit kembali rasa kepedulian akibat pemanasan global.

Sejak awal banyak pihak mengkhawatirkan Pertemuan Para Pihak (COP) ke-16 di Cancun, Mexico tidak banyak membawa perubahan. Hal ini terlihat dari minimnya antusiasme menjelang COP-16 atas Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC). Dalam beberapa kali diskusi terkait Cancun, banyak pihak mengakui, ”besar kemungkinan tidak akan ada kesepakatan yang mengikat secara hukum, karena kita sudah bisa duga hasilnya”

Jepang, Kanada dan Rusia contohnya. Mereka menolak pengurangan emisi lebih banyak seperti diatur Protokol Kyoto. Padahal masalah inilah yang menjadi tuntutan utama negara-negara berkembang. Selain soal besaran pengurangan emisi, stagnasi juga diakibatkan adanya pemisahan atas usulan dana bantuan bagi negara-negara miskin terkait dengan dampak perubahan iklim.

Sikap Jepang menjadi penghambat besar dalam upaya mencapai kesepakatan di Cancun, yang dianggap penting dalam menjamin tercapainya traktat iklim baru yang menyeluruh dalam beberapa tahun mendatang. Oleh karena itu Jepang diminta agar memperlunak posisinya, bukan dengan langsung mewujudkan traktat itu, namun paling tidak sepakat untuk menyusun kata-kata yang memungkinkan pembahasan lebih lanjut seusai KTT Iklim Cancun.

Sejatinya, kesepakatan ini sangat dibutuhkan guna memastikan kelanjutan Protokol Kyoto yang pelaksanaanya akan selesai pada 2012. Protocol Kyoto memuat sejumlah kewajiban Negara-negara maju yang tergabung dalam Annex I untuk menurunkan emisi gas rumah kacanya sebesar 5,2% di bawah level emisi tahun 1990. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa pemanasan global suhu bumi disebabkan oleh energi panas matahari yang terperangkap. Dikhawatirkan pemanasan global mengakibatkan kekacauan sistem iklim di Bumi.

Kendati demikian, konferensi tersebut berhasil mengajukan draft kesepakatan terbaru, yakni mencantumkan referensi untuk sebuah periode komitmen kedua Protokol Kyoto. Usulan ini masih harus mendapatkan persetujuan dari 190 negara yang menghadiri konferensi.

Draft baru ini mengusulkan perpanjangan waktu melebihi kerangka kerja putaran pertama 2008-2012 yang menjadi isu paling diperdebatkan antara delegasi negara-negara maju dan berkembang selama 12 hari perundingan tersebut.

Cancun Cuma Persinggahan

Para Kepala Pemerintahan dalam pembicaraan di KTT Iklim Cancun telah memilih harapan daripada ketakutan dan membawa dunia menuju jalan yang sulit tapi sekarang bisa di kendalikan menuju kesepakatan global untuk menghentikan perubahan iklim yang berbahaya.

“Dari hambatan menjadi kelancaran, para kepala pemerintahan di Cancun telah menunjukkan bahwa mereka dapat bekerjasama dan dapat maju ke muka untuk mencapai kesepakatan global untuk menyelamatkan iklim,” kata Shailendra Yashwant, Direktur Kampanye, Greenpeace Asia Tenggara.

“Tahun ini dunia mengalami banyak kejadian sebagai konsekuensi perubahan iklim – suhu tertinggi dalam sejarah, bencana alam, dan hampir mencapai rekor pelelehan es di kutub. Ini sebabnya mengapa pembicaraan tahun depan di Durban, Afrika Selatan, harus menjadi tujuan tercapainya kesepakatan kuat, bukan hanya satu lagi titik singgah” tambahnya.

Sementara itu, Heru Prasetyo dari Satuan Tugas Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Lahan (REDD+) Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) menegaskan, ”Sekarang orang tidak bicara (hasil) Cancun, tetapi berbicara tentang Cape Town.” Itu artinya Cancun memang belum menjadi referensi, tapi lebih seperti tempat singgah untuk membahas konvensi perubahan iklim.

Ternyata di Cape Town, Afrika Selatan semua harapan itu diletakkan. Ari Muhammad, Koordinator Adaptasi Perubahan Iklim, World Wildlife Fund for Nature (WWF) menuturkan bahwa di Cancun akan tetap ada kesepakatan-kesepakatan kecil yang akan menjadi pijakan untuk melangkah ke legally binding.

Perseteruan Dua raksasa

Seperti sudah diduga, ada alasan klasik yang menjadi batu sandungan terkait kesepakatan yang bakal diambil dalam COP ke 16. Situasi klasik itu pun masih berlanjut, yakni perseteruan antara dua raksasa, China dan Amerika Serikat. Mereka sama-sama tidak mau memberikan komitmen pengurangan emisi dengan alasan pertumbuhan, meski secara terpisah mereka telah melakukan mitigasi dengan mengembangkan energi terbarukan.

China, berdalih telah menerapkan kebijakan pajak untuk konsumsi energi. Pajak bahan bakar sebesar 2,4 yuan (RMB), menurut riset yang dikutip World Resources Institute (WRI) diperkirakan akan mengurangi permintaan bahan bakar 10 persen pada 2010. Pemerintah China juga memberikan subsidi sebagai insentif untuk konservasi energi. Menteri Keuangan China, misalnya, menyediakan 30 persen hingga 50 persen subsidi bagi mereka yang menggunakan lampu hemat energi.

Sementara itu, Amerika berjanji menurunkan emisinya sekitar 17 persen pada 2020 dari level emisi tahun 2005, bukan dari level emisi pada tahun 1990. Agak mengherankan, karena level emisi pada tahun 2005 (5,2%) lebih rendah ketimbang tahun 1990 sekitar 55%.

Apa yang dilakukan kedua negara tersebut dianggap kurang menjawab tantangan perubahan iklim yang telah membawa penderitaan bagi banyak negara, seperti makin menyusutnya kepulauan maladewa yang sebentar lagi akan terhapus dari peta bumi, atau bencana banjir yang dialami oleh ribuan warga Afganistan, serta warga Rusia yang diserang suhu panas yang pertama dalam lima dekade, dan berbagai bencana lain akibat perubahan iklim.

Kesepakatan Kopenhagen menyebutkan untuk menahan kenaikan temperatur tidak melebihi 2 derajat celsius. Untuk itu dibutuhkan pengurangan emisi hingga lebih dari 40 persen dibandingkan level 1990.

Perdebatan Dana Hijau

Pada pertemuan COP di Cancun, salah satu masalah yang masih dirundingkan adalah usulan tentang "Dana Hijau", sebuah sarana untuk mengumpulkan dan menyalurkan dana sebesar 100 miliar US$ hingga tahun 2020.

Hingga Jumat (10/12), Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang masih bersikukuh bahwa Bank Dunia yang harus menangani "Dana Hijau" itu. Namun, usulan ketiga negara itu ditentang negara-negara berkembang karena mereka menilai Bank Dunia adalah sebuah organisasi kepanjangan tangan negara-negara barat.

Beberapa negara misalnya negara-negara Amerika Latin blok Alba yang dipimpin Bolivia juga berkeberatan dengan konsep Dana Hijau. Mereka meyakini negara-negara barat akan membiayai jual beli karbon, pajak penerbangan atau mekanisme lain dengan menggunakan uang rakyat.

Sementara itu, draft dokumen terbaru nampaknya mendapat dukungan dari negara peserta dan pengamat di konferensi tingkat tinggi ini.

"Ini adalah sebuah usulan kompromi. Anda mencari kompromi, maka Anda mencari formula yang bisa diterima semua pihak. Secara umum usulan ini mencantumkan sejumlah hal yang menarik," kata Menteri Lingkungan Hidup Prancis Nathalie Kosciousko-Morizet.

Sementara itu, seperti dilaporkan kantor berita AFP, perunding Brasil Luiz Figueiredo mengatakan Jepang dan Rusia nampaknya menerima usulan terbaru ini.Sedangkan Menteri Urusan Iklim Inggris, Chris Huhne memperingatkan bahaya besar pertemuan tahunan ini akan macet jika tidak menelurkan hasil yang positif.

Temuan Baru

Sebuah temuan baru menjelaskan bagaimana negara-negara maju yang tergabung dalam Annex I untuk segera mengurangi kadar emisi mereka. Wartawan yang meliput Cancun melaporkan usulan teks kompromi itu merupakan sebuah langkah maju meskipun pembicaraan antar negara masih terus berlangsung.

"Dokumen baru ini sangat kuat dalam memahami skala permasalahan, namun tidak memberikan hal baru dalam upaya mengurangi emisi," papar Richard Black Wartawan Lingkungan BBC yang meliput COP ke-16 sebagaimana dikutip dari laman mereka.

Dokumen tersebut menegaskan bahwa negara-negara maju harus mengurangi emisi mereka antara 25-40% di bawah level 1990 pada tahun 2020 untuk mencapai target 1,5 atau 2 C. Namun, dokumen ini tidak menjelaskan secara rinci bagaimana mencapai target tersebut.

Dokumen itu juga mencantumkan desakan agar negara-negara maju atau Annex I meningkatkan kesadaran mereka demi mencapai penurunan tingkat emisi karbon hingga 25-40% pada tahun 2020 mendatang. (Jacko Agun)

Monday, November 29, 2010

Kegiatan Bisnis Prioritaskan Keanekaragaman Hayati


“Pemerintah dan pelaku usaha perlu membentuk kemitraan dalam membuat dunia yang berkelanjutan”, ujar James Griffiths, Direktur Ekosistem WBCSD (World Business Council for Sustainable Development).

Kegiatan bisnis sebenarnya bisa menjadi pendorong yang signifikan dari konservasi keanekaragaman hayati, dengan cara duduk satu meja bersama pemerintah dalam memikirkan peran yang konstruktif untuk merancang dan menerapkan solusi kebijakan yang berkelanjutan.

Hal ini merupakan inti dari pesan “Dewan Bisnis Dunia” untuk Pembangunan Berkelanjutan yang disampaikan dalam COP 10 tentang Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) di Nagoya beberapa waktu lalu.

Empat puluh tahun dari sekarang, yakni pada tahun 2050 mendatang, kita akan hidup di dunia yang sangat berbeda di mana jumlah penduduk dunia melonjak hingga 9 miliar. Jika diperhatikan dengan seksama implikasi pertumbuhan itu, tak heran jika saat ini kegiatan bisnis mulai melirik keanekaragaman hayati menjadi prioritas utama baik dari sisi bisnis maupun strategi keberlanjutan.

Potensi degradasi ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati menjadi pertimbangan bagi semua pengambil keputusan investasi. Bukan hanya karena mereka membuat hubungan antar masyarakat menjadi baik, tapi karena perusahaan dan investor menyadari bahwa keanekaragaman menjadi dasar bagi keberhasilan bisnis, utamanya emisi karbon yang mereka hasilkan.

Keanekaragaman hayati layak untuk bisnis?

Sayangnya, dalam kerangka CBD (Convention on Biological Diversity) saat ini, bisnis tidak memiliki peranan yang jelas dalam proses mendiskusikan dan menciptakan solusi kebijakan internasional disamping keterlibatannya dalam forum regional maupun nasional.

Pemerintah-pemerintah di dunia belum mampu menciptakan dunia yang berkelanjutan pada bisnis mereka sendiri dan belum memanfaatkan kekuatan pasar untuk membentuk tren konsumsi akan bahan-bahan penting guna mencapai tujuan keanekaragaman hayati, seperti ditetapkan dalam rencana strategis CBD 2020 yang baru disetujui di Nagoya.

Itu sebabnya pemerintah dan pelaku bisnis perlu membentuk kemitraan untuk menghentikan dan mengembalikan hilangnya keanekaragaman hayati serta mengurangi degradasi kritisnya ekosistem terkait kegiatan yang mereka berikan. Kemitraan yang efektif dapat mendukung kebijakan lingkungan dan peraturan yang membentuk kekuatan pasar dengan menetapkan target yang realistis, seperti: prediksi, transparan, konsisten dengan waktu yang diajukan, serta menciptakan insentif yang sesuai dengan penggunaan yang berkelanjutan.

Sebuah laporan yang dirilis di Nagoya mengidentifikasi bahwa sektor bisnis mampu memainkan peran penting dalam mencapai konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Laporan berjudul “Keanekaragaman Ekosistem Hayati yang Efektif Terkait Kebijakan/ Peraturan dalam Memberikan Respon Terhadap Bisnis” menjadi diskursus pertama yang komprehensif terkait proposal kebijakan keanekaragaman hayati sebagaimana banyak disoroti oleh ekonom terkait ekosistem dan keanekaragaman hayati yang juga telah ditetapkan di Nagoya.

Tujuan laporan ini adalah memberi pencerahan dari sudut pandang bisnis pada pilihan kebijakan publik yang dapat dicapai terkait keanekaragaman hayati dan ekosistem. Studi kasusnya mencakup enam perusahaan anggota WBCSD (World Business Council for Sustainable Development) seperti: Natura, Rio Tinto, Fibria, Weyerhaeuser, Volkswagen dan PwC. Digambarkan bagaimana perusahaan dapat membantu mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati dan degradasi ekosistem melalui kerangka kebijakan baru dengan pendekatan peraturan, melakukan pembangunan serta menggalakkan jiwa volunteery , menetapkan standar baku dan sertifikasi pihak ketiga.

Laporan opsi kebijakan ini didukung oleh studi literatur lain tentang keberlangsungan bisnis menanggapi tantangan keanekaragaman hayati. Disitu digambarkan bagaimana 28 perusahaan dunia anggota WBCSD sudah mendukung tiga tujuan inti CBD (Convention on Biological Diversity) yakni: konservasi, pemanfaatan berkelanjutan dan pembagian manfaat yang adil melalui praktek-praktek bisnis yang dilakukan saat ini.

Pemberian Insetif Investasi

Penentuan strategi perlu ditingkatkan, salah satunya memberi insentif guna memberikan hasil yang nyata dalam memerangi hilangnya keanekaragaman hayati. Membuat mekanisme kebijakan yang mempengaruhi kekuatan pasar dan menciptakan insentif ekonomi untuk konservasi, dipercaya dapat membantu mendorong masuknya nilai keanekaragaman hayati dan ekosistem dalam pengambilan keputusan bisnis.

Salah satu temuan kunci dari laporan ini adalah perlunya reformasi subsidi panjang pada tataran retorika dan reformasi jangka pendek pada tindakan. Diantara pemerintah-pemerintah di dunia dan para pelaku bisnis perlu memeriksa kembali reformasi subsidi mereka.

Bisnis harus menerima perubahan yang diperlukan, dan pemerintah harus melakukan transisi sektor – sektor dan masyarakat perlu menentukan tujuan yang jelas terkait subsidi saat ini yang bisa saja merusak tujuan keanekaragaman hayati. Transparansi pada subsidi yang sudah ada menjadi prasyarat bagi sebuah debat publik dihubungkan dengan informasi tentang reformasi. Analisis sektor ekonomi swasta/industri harus dipanggil untuk membantu memahami ketergantungan dan dampak yang ditimbulkan.

Mekanisme pasar dapat digunakan untuk mengatasi perubahan iklim dan emisi karbon secara global, serta keanekaragaman hayati dan ekosistem secara lokal (seperti konservasi lahan basah) karena sanggup menyediakan kerangka kerja untuk membangun pasar layanan ekologi regional dan nasional, dan konservasi struktur perbankan.

Selain itu, banyak dari sasaran struktur akuntansi saat ini terlalu sederhana dan sulit untuk melacak akuntabilitas mereka. Sangat penting bahwa pengukuran ini dibuat relevan untuk bisnis, dimana bisnis diberi peran yang jelas dalam penyampaiannya.

Peningkatan akuntansi hijau pasti akan membantu pendekatan kemajuan nasional untuk menilai ekosistem dan jasa ekosistem dalam hal ekonomi. Dengan demikian bisa dipastikan bahwa sektor publik dan swasta dalam pengambilan keputusan sekitar keanekaragaman hayati menjadi lebih intuitif dan efektif, atau, dalam istilah ekonomi “menjamin internalisasi ekosistem secara eksternal”.

Semua perusahaan yang mempengaruhi ekosistem sangat tergantung pada fungsi ekosistem untuk tetap eksis dalam bisnis. Selama 40 tahun berikutnya, ekosistem akan diubah lebih cepat dan lebih luas dari sebelumnya.

Mendukung bisnis sebagai penyedia solusi melalui insentif investasi dan kerangka kebijakan yang mengurangi dampak negatif dari pengelolaan ekosistem menjadi pilihan pemanfaatan secara berkelanjutan.

Para pembuat kebijakan dan bisnis tidak dapat terus melakukan sesuatu dengan cara yang sama dan mengharapkan hasil yang berbeda untuk keanekaragaman hayati. Bisnis tidak dapat lagi mengabaikan dampak keanekaragaman hayati dan ketergantungannya. Pemerintah pun harus lebih aktif mencari masukan dari pelaku-pelaku bisnis melalui forum-forum publik terkait kebijakan mereka.

Oleh karena itu WBCSD menyambut baik aspirasi konstruktif yang keluar dari diskusi di Nagoya untuk meningkatkan keterlibatan sektor usaha terutama drafting ulang strategi keanekaragaman hayati nasional dan rencana aksi. Sektor usaha melihat ke depan adanya peluang kerjasama dengan pemerintah dalam menerjemahkan aspirasi ini ke dalam dialog yang efektif dan tindakan nyata. (Jacko agun)

(animasi:www.greencrossaustralia.org)

Saturday, November 20, 2010

Mengintip Keunikan Gunung Raja



Inilah Gunung Raja bagi suku Karo, Sumatera Utara. Karena mudah didaki, di saat libur jumlah pendaki membludak, sekadar berkemah atau menunggu sunrise.

Terletak di ketinggian 2.094 dpi (di atas permukaan laut), Gunung Sibayak tampak menonjol di dataran tinggi Kabupaten Karo. Sayang, puncaknya sudah porak poranda akibat letusan di zaman dulu. Tapi ia masih dianggap gunung api aktif. Kawahnya selalu mengeluarkan suara gemuruh dan asap tebal. Hal ini merangsang banyak pendaki menuruni kawah, sekedar untuk menonton dari dekat gelegak belerang menusuk hidung yang berasal dan perut bumi.

Ada tiga titik pendakian, yakni dari Desa Raja Berneh (Semangat Gunung), dan Kota Brastagi, dan dari pinggir jalan raya Medan - Brastagi di Km 54. Gunung ini tak sulit didaki, bahkan oleh seorang pemula sekalipun. Di malam minggu atau hari libur ramai sekali pendaki yang menaikinya.

Pesona Puncak

Kalangan amatir biasanya mulai mendaki Sekitar pukul 20.00 hingga 02.00 dini hari. Mereka ingin menikmati mentari terbit di puncak gunung. Sedangkan para pencinta alam lebih memperhatikan faktor keselamatan. Mereka bergerak pada pagi hari, agar lebih biasa menikmati keindahan pemandangan, dan sempat melepas lelah setiba di puncak.

Dari puncak, di kejauhan tampak Kota Brastagi, Kabanjahe, Bandar Baru, Sibolangit, Pancurbatu, bahkan Medan di kaki langit jika cuaca cerah. Bila hujan, faktor kondensasi yang tinggi menimbulkan tabir kabut cukup tebal.

Daya tarik puncak Sibayak bukan hanya itu. Di balik ”Tapal Kuda”(puncak tertinggi) ada sehampar telaga tempat para pendaki mengisi kembali pundi-pundi air mereka. Sehabis dipakai minum dan memasak. Bila diamati saksama, telaga ini tercipta akibat bentuknya berupa cerukan, yang menjadi ”muara” bagi air hujan yang ditangkap dan disimpan oleh hutan sekitar. Kawasan ini sering disebut cacthment area.

Masih ada lagi. Jika berjalan 10 menit ke arah utara, terdapat sumber air panas yang disalurkan dalam beberapa pipa. Setelah mendaki di tengah udara puncak yang menusuk tulang, para pendaki biasa mampir ke sini merendam kaki atau bahkan mandi air panas. Setiap wisatawan mancanegara juga selalu menanyakan lokasi air panas ini.

Bagi masyarakat Karo penganut aliran kepercayaan, lokasi ini dijadikan tempat keramat, sebab diyakini dan sinilah asal muasal roh nenek moyang. Saat bulan purnama, atau waktu tertentu lainnya, sering dijumpai serombongan penduduk mendaki sambil membawa aneka sesajian. Mereka akan melakukan upacara penyembahan roh nenek moyang.

Kerucut Vulkanik

Dilihat bentuk morfologinya, Gunung Sibayak merupakan gunung api kembar dengan Gunung Pintau (2.212 m) berbentuk kerucut dengan lebar kawah 900 m, terdiri atas lava padat (Newman van Padang, 1951). Sedangkan Santoso dkk. (1987) membagi morfologi daerah ini menjadi beberapa puncak tertinggi, yakni Gunung Pintau, Sibayak, dan Pertetekan.
Adapun yang membentuk tapal kuda (caldera ring) adalah Gunung Sempulenangin (1.437 m), Singkut (1.680 m), Uncim (1.840 m), dan Bukit Pintau (1.882 m).

Gunung Sibayak yang sekarang berada dalam kaldera tua merupakan Sibayak Muda. Ia memiliki beberapa kawah yang terdiri atas lapangan solfatara dan fumarola. Di bagian tengah kaldera tua terdapat Gunung Pertetekan.

Luas kaldera diperkirakan 900 m2, dengan dinding utara ditutupi pirokiastik produk Gunung Pintau (2.212 m). Sedang dinding barat terdiri atas aliran lava cukup tebal.
Satuan morfologi kompleks Gunung Sibayak terdiri atas beberapa kerucut vulkanik, masing-masing menjadi pusat erupsi. Kerucut vulkanik ini disusun oleh aliran lava dan kubah lava. Kerucut Gunung Pintau dan dua buah kubah lava di bagian selatan dihasilkan oleh aktivitas terakhir. Hasil erupsinya banyak mengeluarkan batu apung (pumice).

Van Bemmelen (1949) menyebutkan, produk gunung api Sibayak terbentuk antara endapan pra-Toba dan pasca-Toba (Peta Geologi daerah Danau Toba). Stratigrafinya dihubungkan dengan pembentukan Danau Toba. Diterangkan, telah terjadi letusan tuff Toba yang diduga membentuk Gunung Singkut, diikuti pembentukan collapse Danau Toba. Erupsi kedua membentuk Gunung Sibayak – Gunung Pintau, gunung api Sinabung, dan Pusuk Bukit, yang menyebabkan miringnya Pulau Samosir ke arah barat daya.

Rute Pendakian

Ketiga titik perndakian dapat di capai dengan menumpang bus jurusan Medan – Brastagi, ongkos per orang Rp.8000,- Untuk rute Brastagi, pendakian dimulai dari belakang Bukit Gundaling. Dari sini kita naik angkutan pedesaan dulu, sebelum tiba di pintu rimba pendakian. Karena jalurnya cukup jelas, banyak pendaki pemula menggunakan jalur ini untuk menuju puncak. Bagi turis, jalur alternatif ini sering digunakan, karena letaknya tak jauh dari penginapan mereka. Hanya kita harus membawa cadangan air ekstra banyak, karena sumber air sulit ditemukan. Selain itu, perjalanan menanjak terus-menerus selama 3 – 5 jam menimbulkan rasa bosan.

Rute pendakian tercepat dimulai dari Desa Raja Berneh (Semangat Gunung), sekitar 7 km dari jalan raya Medan - Brastagi, melewati pemandian air panas Lau Sidebuk-debuk. Setibanya di tempat ini, suasana dingin khas pegunungan plus aroma belerang, terasa akrab menyapa. Di tempat ini juga banyak ditemukan sumber panas bumi.

Berbeda dengan rute Brastagi, jalur ini berupa tangga yang disusun sedemikian rupa menuju puncak. Mungkin, karena ingin cepat sampai di puncak, Belanda akhirnya membuat jalur yang memotong punggungan Sibayak. Karenanya, rute ini begitu menanjak dan amat membosankan, meski lebih cepat tiba di puncak, hanya 2,5 - 3 jam perjalanan.

Desa Raja Berneh cukup subur, karena terletak di kawasan pegunungan. Tak heran jika pada hari Sabtu, Minggu, atau libur, desa ini dikunjungi banyak turis lokal dari Medan, yang memborong sayur dan buah-buahan segar dengan harga murah yang banyak ditawarkan penduduk, setelah mereka berendam di kolam air panas.

Rute Ekstrem

Jika ingin dari rute 54, kita harus turun di samping PT Aqua Tirta Sibayakindo. Jalur ini disebut begitu karena terletak tepat di titik Km 54 jalan raya Medan – Brastagi. Dibandingkan dengan dua jalur lainnya, jalur ini tergolong lebih sulit, karena hanya berupa jalan setapak yang di beberapa sisinya amat membingungkan. Dulunya memang jalur rintisan para pemburu, yang pada tahun 1980-an diteruskan oleh anak-anak pencinta alam. Dalam perkembangannya, rute ekstrem ini juga disukai wisatawan mancanegara.

Jalur 54 ini memang lebih menantang. Di sepanjang perjalanan kita dapat menikmati kicau burung dan teriakan monyet. Populasi tumbuhannya juga tergolong rapat. Kontur tanah yang naik-turun membuat aroma petualangan lebih terasa. Apalagi di beberapa sisi jalur kita dapat menemukan sumber air, Sehingga tak perlu khawatir kehausan selama perjalanan.

Biasanya, para pendaki yang mengambil rute ini tak langsung ke puncak. Mereka menginap dulu di sebuah shelter, di lereng gunung, setelah letih tiga jam berjalan. Baru esok harinya pendakian dilanjutkan, dalam keadaan kondisi fisik bugar kembali.

Selama menapaki jalur yang makin lama kian menanjak, sedikit demi sedikit pemandangan ikut berubah. Pepohonan besar yang tadinya menghiasi perjalanan, lambat laun berganti dengan tumbuhan pandan, yang diikuti tanaman perdu, ciri khas kawasan puncak.

Setiba di puncak dan jalur 54, perjalanan turun harus ekstra hati-hati. Jurang menganga di sisi kiri siap menelan. Biasanya, saat hari masih cerah, angin puncak datang mendera, beradu dengan aroma dan gemuruh kawah belerang.

Itulah detik-detik mengesankan, menghirup bau tubuh Sang Gunung Raja. (Jekson Simanjuntak)

(pernah dimuat di Majalah Intisari)

Thursday, November 04, 2010

Harrison Ford Serukan Aksi Global Selamatkan Keanekaragaman Hayati


Pada pertemuan puncak PBB yang diadakan di Nagoya-Jepang baru-baru ini (28/10/2010), artis senior, Harrison Ford menyerukan agar negara-negara berkembang membentuk aliansi global dalam menghentikan krisis lingkungan.

Harrison Ford yang juga wakil ketua Consevation International (CI) berpartisipasi aktif dalam forum dunia tersebut, didampingi oleh Sekretaris Eksekutif Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), Djoghlaf Ahmed dan Wakil Menteri Lingkungan Hidup Jepang, Shoichi Kondo dan Presiden Conservation International (CI), Mittermeier Russ.

Sebanyak 193 negara perwakilan datang menghadiri pertemuan konvesi keanekaragaman hayati (CBD) di Nagoya untuk beberapa minggu lamanya. Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas rencana global menghentikan kepunahan hewan dan tumbuhan, serta melestarikan habitat untuk beberapa dekade berikutnya.

Rencana delapan tahun silam dengan target mengurangi tingkat kepunahan keanekaragaman hayati sempat macet akibat beberapa factor. Namun, pertemuan demi pertemuan baik informal maupun formal tetap dilakukan.

“ini adalah saat yang kritis bagi pemangku kebijakan, khususnya menteri lingkungan untuk bekerja bersama mengatur target ambisius yang berani dalam melindungi alam. Keputusan ini dibuat tidak hanya akan berdampak bagi kesehatan planet kita, tetapi bagi kesejahteraan setiap orang, keluarga dan bangsa”, urai Ford, sehari sebelum dicapainya kesepakatan final diantara delegasi.

Sementara itu, Sekretaris Eksekutif Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), Djoghlaf Ahmed menilai keterlibatan Ford murni merupakan panggilan nuraninya dalam menyikapi kerusakan yang terjadi. Pasalnya, berkurangnya keanekaragaman hayati sudah sedemikian hebat dan merupakan tanggung jawab setiap penghuni Bumi untuk tetap melestarikannya.

Jepang anggarkan 2 Milyar US$

Beberapa waktu lalu, Jepang mengumumkan investasi sebesar 2 milyar US$ guna membantu mengembangkan konservasi sumber daya alam mereka. Ford menilai, momentum tersebut telah memberi harapan bahwa negara ikut bertanggungjawab terhadap investasi penting di masa depan, baik terhadap planet maupun kemanusiaan.

Adapun maksud lain kedatangan Ford ke konvensi adalah untuk mendesak para pemimpin dunia agar meningkatkan cakupan wilayah hutan lindung secara efektif, sehingga mampu menghentikan penghancuran keanekaragamanhayati.

Conservation International (CI) sendiri mengusulkan agar pemerintah setuju menempatkan sedikitnya 25% dari tanah Bumi dan 15% dari wilayah laut diperuntukkan bagi perlindungan keanekaragaman hayati, yang seyogyanya akan mulai diberlakukan pada tahun 2020.

Lebih jauh CI mengusulkan agar tingkat perlindungan bukan saja merupakan tanggungjawab satu negara, tapi mencakup seluruh negara di dunia, dimana terdapat rumah bagi species penting, habitat dan sumberdaya genetik.

CI memandang bahwa wilayah yang dimiliki sebuah negara hanyalah merupakan alat dalam menjamin pemeliharaan jangka panjang dari berbagai bentuk kehidupan, dimana manusia saling berbagi. Pada titik waktu tertentu, kita hanya menempati 12,9% dari pemukaan Bumi dan kurang dari 1% lautan berada dalam kondisi “protected status”.

“Kita perlu lebih banyak memprioritaskan diri pada bidang-bidang yang sangat penting terkait esensi ekosistem guna mendukung kelangsungan hidup manusia. Mengambil pilihan terakhir merupakan target yang sangat minimum”, ujar Presiden Conservation International (CI), Mittermeier Russ.

Usai menandatangi sebuah petisi yang di dukung oleh ribuan orang berasal dari 160 negara tentang perlunya melestarikan keanekaragaman hayati, artis gaek Harrison Ford mendukung pembentukan organisasi lintas negara. “ini adalah hak warga negara untuk mengakui nilai kawasan lindung demi masa depan planet Bumi dan demi kemanusiaan”, ungkapnya.

Ford juga meminta pemerintah AS untuk meratifikasi konvensi keanekaragaman hayati, yang telah ditandatangani mantan Presiden, Bill Clinton. “telah tiba saatnya bagi Amerika untuk masuk ke dalam permasalahan dalam waktu yang begitu singkat, karena kita tidak memiliki pilihan lain. Kita harus bertindak dan sekaranglah saatnya”, pungkas Ford diiringi tepuk tangan peserta konferensi. (jacko agun/www.concervation.org)

Source foto: www.rd.com

Friday, October 15, 2010

Demokratisasi di Bidang Pangan


Memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober mendatang, PBB mensyaratkan adanya perubahan mendasar terhadap jenis makanan dan penelitian pertanian yang lebih bertanggungjawab kepada masyarakat. Untuk itu proses demoktratisasi dibutuhkan.

Peneliti PBB tentang hak untuk pangan, Dr. Olivier De Schutter yang didukung oleh ribuan orang dari berbagai belahan dunia menguraikan penelitiannya dalam sebuah buku dan dalam bentuk publikasi multimedia di IIED (international Institute for Environment and Development) terkait pentingnya tanggungjawab sosial terhadap masyarakat.

Penelitiannya berfokus pada studi kasus di Afrika Barat lengkap dengan visual yang menampilkan suara dan keprihatinan produsen makanan dari seluruh wilayah.

Sebuah situs di internet (www.excludedvoices.org) juga meluncurkan berita yang sama tentang keprihatinan produsen makanan yang mulai terpinggirkan di beberapa wilayah, seperti Afrika Barat, Asia Selatan, Timur Tengah dan wilayah Andean Amerika Selatan, pada tanggal 16 Oktober nanti.

"Makanan dan kebijakan pertanian serta penelitian cenderung mengabaikan nilai-nilai, kebutuhan, pengetahuan dan kekhawatiran orang-orang yang menyediakan makanan bagi kita. Pasalnya, produsen lebih cenderung melayani kepentingan komersial", kata pemimpin proyek dr Michel Pimbert dari IIED (international Institutefor Environment and Development).

"Penelitian pertanian dan kebijakan harus bergeser pada kebutuhan masyarakat petani dan apa yang konsumen inginkan. Petani dan warga negara harus memainkan peran sentral dalam menentukan prioritas strategis bagi penelitian pertanian dan kebijakan pangan", ujar Michel menambahkan.

Publikasi multimedia tersebut juga menyajikan temuan dari masyarakat umum selaku dewan juri yang diselenggarakan oleh IIED pada tahun 2010, di mana petani, peternak, pengolah makanan dan konsumen dari beberapa Negara, seperti: Mali, Senegal, Burkina Faso dan Benin mendengar bukti dari saksi ahli dan membuat rekomendasi tentang masa depan penelitian pertanian dan perusahaan pemerintah yang terlibat di bidang pertanian.

Para juri meminta keterlibatan langsung dalam desain dan pelaksanaan penelitian pertanian, dengan cara penelitian harus lebih fokus pada peningkatan produktivitas varietas tanaman lokal dan praktek-praktek pertanian seperti berbagi benih. Sehingga tidak terjebak pada pemahaman pertanian yang lebih intensif dengan mengandalkan benih hibrida dan input eksternal mahal.

"demokratisasi penelitian pertanian adalah penting bagi mereka yang berusaha untuk membuat hak asasi manusia untuk makanan menjadi kenyataan," tulis De Schutter.
De Schutter juga menambahkan tentang perlunya keterlibatan warga terhadap kontribusi yang signifikan terhadap nilai-nilai kunci partisipasi dan kepemilikan yang berada di jantung demokratisasi.

Situs ini menunjukkan bagaimana proses paralel yang berlangsung di Afrika Barat dan petani skala kecil di Asia, Amerika Latin dan Timur Tengah menginginkan agar warga negara memiliki kontrol dalam penelitian pertanian.

"Pencapaian kedaulatan pangan memerlukan pengetahuan secara radikal, berbeda dari yang ditawarkan di lembaga-lembaga penelitian dan kebijakan pemerintah saat ini," tutur Michel Pimbert.

Sebuah arus transformasi tergantung pada petani dan warga dalam memutuskan apa saja jenis penelitian pertanian yang mereka inginkan, untuk siapa dan bagaimana harus di buat. Lalu di mana dan oleh siapa penelitian dilakukan, serta apa konsekuensi atas penelitian tersebut.

Dalam laporannya, Scutter memapaparkan tentang perlunya proses demokrasi yang dijelaskan di awal bagi ketahanan pangan, karena sejak dulu semua kebijakan ditetapkan dari atas, bukan “bottom up”. Demokratisasi ini menjadi penting terkait dengan sumber penghidupan lokal dan kesejahteraan manusia. Pun tidak ketinggalan dengan ketahanan terhadap perubahan iklim."

"pengalaman krisis pangan 2008 lalu menjadi pengalaman berharga untuk menunjukkan realita betapa kemajuan penelitian pertanian yang dicapai, tetapi tetap saja sekitar satu miliar orang masih kelaparan," ujar Farah Karimi, direktur eksekutif Oxfam.

Fakta lain menunjukkan, bahwa dalam dunia yang tingkat saling ketergantungannya sangat tinggi, tantangan global berupa: perubahan iklim, makanan dan krisis keuangan pasti menekan sistem pangan. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah memeriksa kembali seberapa besar kemampuan ketahanan pertanian kita, baik dalam kontribusi pangan lokal maupun global.

Meski buku ini secara spesifik menyoroti isu-isu petani Afrika Barat tentang bagaimana mereka melihat penelitian pertanian terbaik melayani kepentingan mereka dan masyarakat global melalui sistem pangan yang berkelanjutan dan adil, setidaknya bisa menjadi cerminan betapa kompleksnya masalah ketahanan pangan yang harus segera diperbaiki.

Sebagai rekanan NGO internasional, Oxfam, merasa senang mendukung penelitian tersebut. Oxfam memuji karya Dr. Olivier De Schutter dan IIED, bukan hanya untuk analisis kritis dan ditulis dengan baik, tetapi juga untuk kreatifitasnya mengedepankan suara petani Afrika Barat dalam bentuk buku dan publikasi inovatif multi-media. (Jacko Agun)

Wednesday, September 08, 2010

(menunggu) jemputan!



....

hujan, tiba-tiba tumpah dengan derasnya di halaman gedung Aldiron (--ex Mabes AU jaman dulu--), tempat saya menunggu jemputan terakhir yang akan mengantarkan saya ke lokasi tujuan. Sekeliling terasa riuh saat itu. Resepsionis sibuk dengan panggilan yang tak begitu jelas suaranya. Sedang di bagian luar, beberapa sekuriti sibuk dengan handy talky di dada dan payung di lengan kanan, sembari membuka pintu setiap mobil yang masuk lobi. Sementara itu, di bagian dalam tempatku memandang, terlihat banyak orang berlalu lalang menuju lorong-lorong yang saya gak tahu tembusnya kemana. Pun, tak ketinggalan cleaning service yang sibuk mengepel lantai kotor akibat dilalui banyak orang.

Saat itu, sebenarnya saya telah berada di ruang tunggu. Di sebuah ruangan besar dengan empat sofa empuk yang siap memanjakan setiap tamu yang berkunjung. Di sudut-sudutnya di letakkan pot bunga sebagai etalase penambah daya tarik ruangan. Saya akhirnya berhasil duduk manis di sofa itu, meski 20 menit sebelumnya, sempat mematung, tegak berdiri, di dekat meja resepsionis. Menunggu, sembari berharap, semoga ada bangku kosong yang ditinggalkan buat saya.

Agar tidak mengganggu tamu yang lain, saya pun menanyakan kepada resepsionis perihal kedatangan kendaraan yang bakal menjemput . "kira-kira jam berapa kendaraannya datang?" tanya saya.

"kabarnya sih, jam 11 siang pak", jawab si resepsionis dengan lugunya.
"Waduh, telatnya lama juga ya" gumamku membathin.

Padahal, sejak pukul 10 pagi, saya sudah berada disana demi sebuah penugasan. Penugasan yang sebetulnya sangat berat menurutku. Penugasan yang tentu saja jauh berbeda dengan penugasan sebelumnya. Pasalnya, resiko kehilangan nyawa menjadi taruhan.

Sedikitnya sudah dua kali pergantian orang di bangku sebelahku, sebelum akhirnya kendaraan besar itu tiba.

Kebanyakan dari mereka selalu menanyakan maksud kedatanganku. "mau meliput apa disini, mas?" tanya mereka.

Jawaban itu menjadi wajar, jika melihat peralatan yang kubawa. Sebuah tas kamera lengkap dengan tripot.

"gak mas/mbak", demikian jawabku
"saya sedang menunggu jemputan, kok", ujarku menimpali
"tapi kok belum datang juga ya?", tanya seorang pria di sisi kananku.
"bisa jadi, karena hujan", jawabku singkat.

Oh, ya, kabar terakhir yang ku terima dari resepsionis mengatakan bahwa jemputanku belum bisa datang karena faktor cuaca. Maklum, di luar saat itu sedang hujan deras. Petir pun tak ketinggalan ikut bersahutan.

Tepat pukul 12 siang lewat beberapa menit, saat hujan telah reda, raungan mesin terdengar sayup-sayup di luar sana. Sebuah mesin terbang telah mendarat dengan selamat di halaman gedung Aldiron. Tepatnya, di pojokan dekat jalan MT Haryono. Sekuriti yang sedari tadi sibuk menunggu akhirnya mendatangi saya. "jemputannya sudah datang, mas", ujarnya.

"Oke, kalo begitu saya harus segera berangkat", jawabku.
Lalu, dengan kasak kusuk tamu di sekeliling saya mulai bertanya
"emang kendaraannya mana, mas?" tanya mereka
"itu, udah datang", sahutku
"yang mana, kok saya gak melihat", ujar seseorang di depanku.
(padahal di depan lobi memang tidak ada kendaraan yang parkir)
"yang itu lho, mas, yang suaranya meraung-raung", jelasku padanya.

Sedetik kemudian saya pun menghilang, meninggalkan gedung bersejarah milik angkatan udara, menuju "chopper" yang siap menerbangkanku menuju lokasi tujuan.

Namun, sebelum beranjak, sempat kulirik tatapan bingung mereka. Sebuah percakapan pun sayup-sayup terdengar.

"wah, hebat, jemputannya heli, tho", pekik seorang diantara mereka.

foto: www.beritahankam.blogspot.com

(Jakarta, 07 Sept 2010)

Thursday, September 02, 2010

Ada Ijinnya, gak? (Refleksi Ruang Privat)


Perdebatan tentang ruang publik dan ruang privat seringkali menjadi hambatan tersendiri bagi jurnalis dalam melaksanakan tugas-tugas jurnalistiknya. Buktinya, beberapa waktu lalu, jurnalis televisi yang sedang meliput korban meninggal akibat tertimpa lift di Bank Mega Tendean, Jakarta Selatan di hadang oleh petugas keamanan gedung.

Dalam tayangan Headline News Metro TV pukul 14.00 WIB (22/08/10) terlihat jelas bagaimana petugas keamanan berusaha menghalang-halangi kerja wartawan yang ingin meliput gedung tempat terjadinya musibah. “udah ada ijinnya, belum” ujar M. Juhud, --salah seorang petugas keamanan gedung--, kepada para jurnalis.

Sebagaimana kejadian yang terjadi di banyak tempat, kerap kali para petugas kemanan tidak memperbolehkan wartawan masuk, demi alasan yang tidak jelas, meski tersirat kepentingan publiknya di dalamnya.

“yang penting perintah dari atasan melarang wartawan masuk, ya, kita tinggal menjalankan saja” ujar Ayadi, salah satu petugas keamanan Bank Mega Tendean yang ditemui penulis saat jaga malam.

“kalo mas perhatikan, dari pintu gerbang sudah ada larangan tidak boleh mengambil gambar. Berarti kegiatan ambil gambar memang tidak diperbolehkan”, sambung Kayut, petugas jaga yang lain.

Adanya ketidaktahuan para sekuriti terhadap dasar hukum pelarangan yang mereka lakukan, umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, yakni karena perintah atasan atau tidak inginnya kejadian tersebut diketahui media.

“biasanya, sekuriti yang bertugas, tidak pernah tahu batasan ruang publik dan ruang privat. Mereka hanya tahu, bahwa siapapun dilarang masuk ke lokasi kejadian, karena ada anggapan bahwa musibah yang terjadi dianggap aib perusahaan, sehingga umum tak boleh tahu”, papar Satrio Arismunandar, anggota senior AJI.

Lebih jauh, Satrio menjelaskan bahwa ruang publik sebagimana definisi Jurgen Habermes, seorang filsuf kenamaan Jerman, menyatakan bahwa ruang publik merupakan ruang diskusi kritis bagi semua orang. Dimana, setiap warga privat berkumpul untuk membentuk sebuah opini publik, dengan “nalar publik” yang tercipta sebagai pengawas terhadap kekuasaan Negara.

“atau, jika dianalogikan, ruang privat merupakan ruang yang tidak ingin diketahui oleh umum, dimana pihak-pihak lain dilarang menerobos masuk” papar Satrio yang kini menjadi eksekutif produser di salah satu stasiun televisi swasta.

Selain itu, ruang ini pun tidak terbelenggu dalam arti fisik semata. Artinya, pribadi-pribadi yang tidak dibatasi ruang pun masih memiliki aspek privat yang tidak boleh diganggu. Haknya bisa diganggu hanya demi tujuan yang lebih besar ataupun telah melanggar aspek privat orang lain.

Sedangkan, bagian yang sebenarnya tidak mungkin bisa ditutup-tutupi, misalnya gedung tinggi harusnya masuk wilayah umum. “abis, setiap orang pasti bisa melihat gedung Bank Mega dari manapun karena tingginya, tapi tidak bagian dalamnya. Sehingga pihak keamanan tidak mungkin menutup gedung tersebut dengan kain hitam. Sehingga terasa janggal, jika satpam menghalangi wartawan mengambil gambarnya, apalagi jika gambarnya diambil diluar kawasan”, tambahnya.

Tewasnya seorang cleaning servis Bank Mega, Riyan (35) pada pukul 8.20 WIB (22/08/2010) akibat terhimpit atau tertimpa beban lift, masuk kategori kecelakaan kerja, ujar Kapolsek Mampang, Kompol Risto Samudera, sebagaimana dikutip dari detik.com.

“begitu kejadian ini merupakan kecelakaan kerja, berarti ada kelalaian ataupun kesalahan prosedur yang sebenarnya berimplikasi pada kepentingan publik yang lebih luas, yakni menjadi pelajaran bagi pihak maintenance gedung di tempat lain untuk mematuhi standar keselamatan kerja (pasal 3 UU no.1/1970)yang berlaku”, ungkap Satrio, yang juga pernah menjadi Dosen Tamu di Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI (1993) dan dosen Public Relations di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Kawula Indonesia, Jakarta Timur (2001).

Karena itulah upaya penghalang-halangan yang dilakukan oleh pihak keamanan gedung dinilai berlebihan. “harusnya, kerja wartawan jangan di haling-halangi, karena ada kepentingan umum dan hal itu bertentangan dengan Pasal 18 (1), UU Pers no. 40/ 1999” tandas Satrio.

Meski berita tersebut dimuat di banyak media, baik cetak, maupun elektronik, Trans TV yang masih satu manajemen dengan Bank Mega menjadi satu-satunya televise yang enggan mempublikasikan peristiwa itu.

“setelah kejadian, kita dihubungi oleh petinggi Bank Mega yang menginginkan agar berita tersebut tidak usah di publikasikan, karena beresiko terhadap perusahaan” ujar seorang karyawan Trans TV yang tak ingin namanya disebutkan.

“sewaktu kejadian, sebenarnya kita tetap melakukan peliputan, tapi kasetnya langsung disimpan dan tidak tayang”, ujar karyawan yang lain.

Hingga saat ini, belum ada penjelasan lebih rinci dari pihak Bank Mega terkait lepasnya lift dari lantai 3 yang merenggut nyawa Riyan, warga Jalan Kelapa Tiga RT.02/RW.06, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Saat meninggal korban mengenakan baju berwarna abu-abu dengan celana panjang hitam. Kini tumpuan keluarga itu telah tiada, dan hanya menyisakan kepiluan mendalam bagi sang isri dan 2 buah hati mereka yang masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi. (jacko agun)

Thursday, July 22, 2010

Populasi Orangutan di SM Siranggas dan HL Batu Ardan: 267 Individu


Tim survey orangutan yang difasilitasi oleh Orangutan Conservation Services Program (OCSP) memperkirakan total populasi orangutan Sumatera di Suaka Margasatwa (SM) Siranggas dan Hutan Lindung (HL) Batu Ardan tinggal 267 individu, masing-masing 156 individu di HL Batu Ardan dan 111 di SM Siranggas. Keduanya berada di wilayah Kabupaten Dairi dan Pakpak Barat, Propinsi Sumatera Utara.

“Informasi dari hasil survey ini berguna bagi rencana tata ruang daerah yang digagas oleh OCSP bersama pemerintah daerah sebagai bagian dari revisi TRWK. Terutama keterkaitan HL Batu Ardan (Dairi – Pakpak Barat) dan SM Siranggas merupakan daerah yang berhubungan atau berpotensi menjadi koridor peghubung dengan area MCV yang dibangun oleh OCSP – Konsorsium Pusaka”, uajr Deputy Chief of Party OCSP Jamartin Sihite.

Survey populasi dan distribusi orangutan Sumatera (Pongo abelii) di HL Batu Ardan (Register 66) dan SM Siranggas (Register 70) dilaksanakan pada tangal 24 Januari – 22 Februari 2009 meliputi 7 lokasi pengamatan di desa, yaitu: Bongkaras dan Sempung Poling Kabupaten Dairi dan Simbruna, Perolihen, Malum, SM Siranggas Kabupaten Pakpak Barat.

Berdasarkan hasil survey ini, diusulkan adanya perluasan kawasan konservasi SM Siranggas menjadi 7.421 ha, melingkupi sebagian HL Batu Ardan dan HPT Deleng Sibudun. “Oleh karenanya, perlu dilakukan survey lanjutan distribusi dan populasi orangutan di kawasan yang masih berhubungan dengan HL Batu Ardan dan SM Siranggas yang belum pernah di survey sebelumnya, terutama daerah selatan SM Siranggas”, ungkap Sihite menambahkan, di sela-sela acara Workshop Membangun Relasi Konstruktif Jurnalis – NGO untuk konservasi Orangutan dan habitatnya , di Bogor, beberapa waktu lalu.

Metodelogi yang digunakan dalam survey hasil kerjasama OCSP, SOCP, BB KSDA Sumut dan Konsorsium Pusaka adalah metode jalur (transek) dengan mengukur dan menghitung kepadatan sarang serta parameter yang mendukung keberadaannya.

Tim survey yang di koordinir ahli orangutan S. Suci Utami Atmoko itu juga mencatat hutan tersebut ternyata memiliki 29 jenis mamalia, 16 diantaranya dilindungi, termasuk orangutan kritis, 115 jenis burung, 34 diantaranya dilindungi dan 19 jenis amphibi-reptilia. Kekayaan jenis ini memiliki potensi besar dalam mendukung kelestarian orangutan dan habitatnya di wilayah ini.

“Konversi lahan seperti perambahan, perkebunan sawit, tambang, jalan dan perburuan skala kecil adalah faktor yang paling menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup orangutan. Oleh karena itu perlu dilakukan peninjauan ulang mengenai tapal batas kawasan konservasi dan wilayah adat masyarakat setempat, tindak lanjut kegiatan yang komprehensif untuk melindungi orangutan di HL Batu Ardan dan SM Siranggas melalui pengelolaan bersama dengan masyarakat, pendidikan konservasi mengenai pentingnya pelestarian habitat dan satwa liar secara rutin kepada masyarakat, pengalihan kebiasaan masyarakat sebagai perambah melalui intensifikasi lahan yang berbasis pola pertanian lokal, ataupun pemandu ekowisata sebagai alternatif kegiatan”, pungkas Sihite (Jacko_Agun)

Thursday, July 15, 2010

TRANS TV Bantah FATMA TRANS TV


Beredarnya video porno berdurasi 2.35 menit yang mencatut nama TRANS TV beberapa hari lalu, memaksa manajamen TRANSTV menempuh jalur hukum dengan melaporkannya ke Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri, Kamis (15/07) siang.

Manajemen keberatan dengan pencatutan nama karyawan dan nama TRANS TV yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggungjawab. Mereka pun meminta pihak kepolisian untuk mengungkap siapa dalang dibalik beredarnya video tersebut.

Dalam dua hari terakhir, di internet telah beredar luas sebuah video mesum berjudul “fatma-transtv”. Video ini dianggap telah mencemarkan nama baik stasiun televisi swasta, TRANS TV, televisi kebanggaan milik kita bersama.

Berbeda dengan rapat-rapat sebelumnya, dalam rapat mingguan divisi news kemarin (Rabu 14/7), Gatot Triyanto, selaku kepala divisi news TRANS TV menegaskan tentang kemunculan video tersebut.” diluar sana ada pihak yang sengaja ingin menjatuhkan kita dengan video mesum yang membawa-bawa nama transtv. Oknum tersebut tidak senang dengan kemajuan yang kita capai, apalagi minggu ini TRANSTV mencapai posisi kedua” ungkap Gatot dalam arahannya.

Usut punya usut, video tersebut ternyata pernah diunggah di salah satu situs dengan membawa-bawa nama TRANS TV. Video itupun sempat menggegerkan warga Tendean. Pasalnya, sekitar dua tahun lalu video yang sama, muncul dengan nama berbeda.

“itu, kan, video yang dulu sempat membuat heboh trans tv, pemainnya masih sama cuma judulnya diubah” ujar Hidayat, salah seorang karyawan TRANS TV.

Untuk membantah kebenaran video tersebut, kamis siang (15/14) pihak manajemen yang diwakili oleh Head of Marketing Public Relation, A Hadiansyah Lubis mendatangi Bareskrim Mabes Polri, guna melaporkan kasus ini.

“kami datang kesini untuk melaporkan video porno dengan file “fatma-transtv”, karena kami yakin, pemeran wanita di video tersebut bukan karyawan Trans TV”, ujar Hadiansyah.

Lebih jauh Hadiansyah menjelaskan, bahwa betul ada karyawan yang bernama Fatma, tapi yang bersangkutan sama sekali tidak mirip dengan wanita di video tersebut.

“video tersebut diambil dari sebuah situs porno yang namanya kemudian diubah menjadi fatma transtv. Tujuannya jelas ingin menjatuhkan kami”, ujarnya.

Karena itu pihak TRANS TV meminta kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini, mengingat akhir-akhir ini muncul banyak video porno yang meresahkan masyarakat.

Usai menerima pihak TRANS TV, Kabid Penerangan Umum Mabes Polri, Kombes Marwoto, berjanji akan menindaklanjuti laporan tersebut.

“kalau sudah meresahkan masyarakat, polisi akan bertindak, kita akan mengusut”, jawab Marwoto kepada kru Reportase.

Namun, polisi belum memanggil orang-orang yang di duga menjadi pemeran video mesum tersebut, karena hingga saat ini identitasnya belum diketahui. (jacko agun)

Friday, July 09, 2010

2015, Pelepasliaran Orangutan Terancam Gagal


Rencana pelepasliaran orangutan ke habitat aslinya pada tahun 2015, seperti yang tercantum dalam strategi dan rencana aksi konservasi nasional orangutan, kemungkinan besar terancam gagal. Jumlah populasi yang terus menyusut disertai carut marutnya pengelolaan tata ruang bagi orangutan masih menjadi kendala. Pasalnya, sekitar 70% habitat orangutan kebanyakan tidak berada di kawasan konservasi yang peruntukan kawasannya masih tumpang tindih.

Orangutan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia, sementara tiga kerabatnya, yaitu: golira, simpanse dan bonobo hidup di Afrika. Kurang dari 20.000 tahun lalu orangutan dapat dijumpai di seluruh Asia Tenggara, dari Pulau Jawa di ujung selatan hingga ujung utara pegunungan Himalaya dan Cina bagian selatan.

Penyebab utama mengapa terjadi penyempitan daerah sebaran adalah ulah manusia dan orangutan menyukai tempat hidup yang sama, terutama dataran alluvial di sekitar aliran sungai dan hutan rawa gambut. Pemanfaatan lahan tersebut untuk aktivitas social, ekonomi dan budaya manusia umumnya berakibat fatal bagi orangutan.

Para ahli primata sepakat untuk menggolongkan orangutan yang hidup di Sumatera sebagai Pongo abelli yang berbeda dengan Pongo pygmaeus yang menempati hutan-hutan rendah di Borneo. Dibandingkan dengan kerabatnya di Borneo, orangutan Sumatera menempati daerah sebaran yang lebih sempit.

“Orangutan di Sumatera hanya menempati bagian utara pulau itu. Mulai dari Timang Gajah, Aceh Tengah sampai Sitinjak di Tapanuli Selatan” ujar Sri Suci Utami Atmoko, salah seorang peneliti orangutan di sela-sela media briefing menghadapi International Workshop on Orangutan Conservation (IWOC) 2010.

Sementara itu, di Borneo orangutan dapat ditemukan di Sabah, Serawak dan hampir di seluruh hutan dataran rendah Kalimantan, keculai Kalimantan Selatan dan Brunai Darussalam. Orangutan di Borneo dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis, yaitu: Pongo pygmaeus pygmaeus yang berada di di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timut laut Serawak, Pongo pymaeus wurmbill yang ditemukan mulai dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Sungai Barito, dan Pongo pygmaeus morio yang tersebar mulai dari Sabah hingga ke selatan mencapai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

Orangutan dapat dijadikan “umbrella species” (spesies payung) untuk meningkatkan kesadaran konservasi masyarakat. “Kelestarian orangutan menjamin kelestarian hutan yang menjadi habitatnya, sehingga diharapkan kelestarian mahluk hidup lain ikut terjaga” tambah Suci.

Sebagai pemakan buah, orangutan merupakan agen penyebar biji yang efektif untuk menjamin regenerasi hutan. Orangutan juga sangat menarik dari sisi ilmu pengetahuan karena kemiripan karakter biologi satwa tersebut dengan manusia. Sebagai satu-satunya kera besar yang hidup di Asia, orangutan memiliki potensi menjadi ikon pariwisata untuk Indonesia.

Orangutan menyukai hutan hujan tropis dataran rendah sebagai tempat hidupnya, sehingga perlindungan ekosistem menjadi sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup satwa tersebut. Meskipun pemerintah telah membangun sistem kawasan konservasi seluas 6,5 juta hektar di Sumatera bagian utara dan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, upaya pengelolaan kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan di luar taman nasional dan cagar alam alam tidak kalah pentingnya.

“salah satu penyebab hilangya habitat orangutan adalah perencanaan tataruang yang kurang baik. Orangutan membutuhkan kawasan hutan yang ada sekarang ini tidak di konversi untuk penggunaan lain”, ungkap Jumartin Sihite, peneliti dari OCSP.

Pemanfaatan kawasan hutan, baik untuk industry kayu maupun pertanian, yang tidak memperhatikan prinsip kelestarian lingkungan terbukti berdampak sangat buruk bagi keberadaan orangutan. Konflik yang terjadi antara orangutan dan manusia diluar kawasan konservasi bahkan tidak jarang merugikan pihak pengusaha dan masyarakat.

Penyusutan dan kerusakan kawasan hutan dataran rendah yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan selama sepuluh tahun terakhir telah mencapai titik kritis yang dapat membawa bencana ekologis skala besar bagi masyarakat.

“Bagi orangutan, kerusakan kawasan hutan telah menurunkan jumlah habitat orangutan sebesar 1-1,5% per tahunnya di Sumatera. Sedangkan jumlah kehilangan habitat di Kalimantan mencapai 1, - 2% per tahunnya. Lebih tinggi jika dibandingkan dengan Sumatera” ujar Jumartin menambahkan.

Kerusakan hutan dan habitat orangutan di Kalimantan meyebabkan distribusinya menjadi terfragmentasi di kantong-kantong habitat (Revisi PHVA 2004) yang terisolir. Nasib orangutan juga diperburuk dengan ancaman perburuan dan dijadikan satwa peliharaan, bahkan sebagai sumber makanan bagi sebagian masyarakat. Kondisi yang sangat mengkhawatirkan tersebut telah menempatkan orangutan Kalimantan ke dalam kategori kritis/terancam punah (critically endangered) di dalam daftar merah UICN (2007), sebuah badan dunia yang memantau tingkat keterancaman jenis fauna secara global.

Meskipun terancam punah, tidak berarti masa depan primata itu lebih cerah dibandingkan kerabatnya di Sumatera. Hanya tindakan segera dan nyata dari semua pemangku kebijakan untuk melindungi orangutan di kedua pulau tersebut yang dapat menyelamatkan satu-satunya kera besar Asia dari ancaman kepunahan.

“penelitian menunjukkan bahwa 70% orangutan dijumpai diluar kawasan konservasi, kebanyakan di kawasan hutan produksi yang dikelola HPH/HTI ataupun hutan lindung. Selain itu orangutan juga banyak ditemukan di kawasan budidaya non kehutanan yang relatif lebih mudah di konversi ke penggunaan lain seperti; sawit dan pemukiman. Karena itulah kondisi orangutan utan seringkali terisolir” tandas Jumartin.

Kondisi orangutan yang sangat memprihatinkan mendorong para peneliti, pelaku konservasi, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencari solusi terbaik yang dapat menjamin keberadaan primata itu di tengah upaya negara menyejahterahkan masyarakatnya. Serangkaian pertemuan untuk menyusun strategi konservasi berdasarkan kondisi terkini orangutan pun terus diadakan, salah satunya dengan melakukan International Workshop on Orangutan Consevation 2010 di Bali 15-16 Juli mendatang. (Jacko Agun)

Thursday, July 08, 2010

Paul Masih Hidup


Kabar terbaru yang dirilis kompasiana.com (http://lomba.kompasiana.com/group/gempita-afsel/2010/07/08/paul-gurita-meninggal-setelah-meramalkan-spanyol-menjadi-pemenang-di-laga-semi-final/) perihal kematian Paul si Gurita sungguh mengejutkan. Diberitakan jika gurita kelahiran Inggris yang di pelihara di Akuarium Oberhausen- Jerman tersebut meninggal usai meramalkan pertandingan antara Jerman dan Spanyol.

Munculnya berita itu, sontak membuat anggota komunitas kompasiana bereaksi. Kebanyakan menyatakan bahwa kabar itu adalah bohong dan tidak selayaknya kompasiana.com meluluskan tulisan yang belum tentu kebenarannya.

“ini tulisan hoaxxxx… Admin kok tidur, membiarkan tulisan seperti ini.. ikutan lomba lagi… Bikin malu Kompasiana aja”, ujar Syaruddin Djalal, salah seorang anggota komunitas.

Lalu ada asdhar, anggota komunitas lain yang menyatakan, “ha ha haa… itu bukan gurita paul… video itu hoax… Video itu hoax.. kok di makan.. wakakakk”.

Kehebohan tulisan itu, membuat saya penasaran untuk melakukan penelusuran tentang benar-tidaknya berita tersebut. Anehnya, setelah melakukan browsing sana-sini, termasuk pada media-media berbahasa inggris, saya tidak menemukan satu pun berita yang membenarkan berita diatas. Kesimpulan sementara, berita tersebut adalah bohong.

“ternyata masih ada saja yang rela menulis kepalsuan demi popularitas semu… Preet..”, ujar Zuragan Qripix Pedez, anggota komunitas.

Kehebatan Paul

Beberapa hari ini, di herhelatan akbar piala dunia, perhatian masyarakat global tersedot pada kehebatan prediksi sesosok binatang laut berkaki delapan yang dikenal dengan nama Paul si gurita. Berbeda dengan gurita pada umumnya, binatang laut ini mampu memprediksi dengan tepat, pemenang dari empat laga terakhir yang masuk ke perempat final piala dunia 2010.

Seperti dilaporkan beberapa media asing, gurita berusia dua tahun tersebut mampu meramalkan kemenangan Jerman atas Australia (1-0) di laga pemubuka Grup D, lalu kalah dari Serbia (0-1), dan kembali berjaya melawan Ghana (1-0), dan pada Jumat (25/6), Paul berhasil memprediksi kemenangan Jerman atas Inggris di fase 16 besar.

Selasa (29/6), Paul si Gurita yang lahir di Weymouth, Inggris itu, bahkan memprediksi kekalahan Argentina dari Jerman (0-4) di laga perempat final 3 Juni 2010. Termasuk laga sensasional lainnya saat tim panser menumbangkan Inggris 4-1 (27/06) di partai 16 besar.

Namun sebelum laga semifinal, Paul secara mengejutkan memilih Spanyol sebagai lawan dari tim panser. Peramal berkaki delapan itu membuktikan pilihannya tepat, terutama setelah sundulan Carlos Puyol di menit 73. Akibatnya, tim Jerman di bawah asuhan Joachim Loew kandas meraih mimpi menjadi juara Piala Dunia untuk keempat kalinya.

Bagaimana Paul Melakukannya?

Banyak yang mempertanyakan bagimana Paul bisa melakukan aksi hebatnya dalam meramal setiap pertandingan yang bakal berlangsung. Dihadapan para pemburu berita, binatang lunak tak bertulang belakang ini membuktikannya dengan cara yang sangat mudah.
Sebelumnya disediakan dua buah kotak plastik transparan yang diberi bendera dua negara berbeda sebagai simbol negara yang akan berlaga di ajang piala dunia.

Kotak-kotak itu pun diisi dengan makanan gurita dalam jumlahyang sama. Lalu paul akan berputar-putar dan akan memilih sendiri kotak plastik yang disenanginya. Setelah itu ia akan berdiam di dalam kotak tersebut. Biasanya kotak tempat si gurita hinggap menjadi pertanda negara yang akan keluar sebagai pemenang.

Contohnya, saat Paul meramalkan kemenangan Jerman atas Inggris, yang bisa diartikan Der Panzer akan menang mudah atas Three Lions. Lalu kemenangan Jerman atas Argentina di perempat final.

"Ia butuh waktu yang cukup lama untuk menentukan pemenang antara Jerman dan Argentina, bahkan setelah membuka kotak berbendera Jerman ia masih menunggu lama untuk masuk ke dalam dan mengambil makananya," papar Tanja Munzig juru bicara Sea Life.

Meski demikian banyak yang tidak percaya dengan kesaktian Paul. Tetapi Munzig meyakinkan Paul punya rahasia sendiri. "Tidak ada trik, makanan yang diletakkan di dalam kotak adalah sama dan semuanya yang berada dalam kotak itu juga sama kecuali benderanya," pungkas Munzig.

Terancam di Goreng

Menurut harian De Western, Rabu 7 Juli 2010, telah ada sejumlah komentar di Facebook dan Twitter yang menyarankan agar Paul di goreng, panggang atau berubah menjadi seafood. Pun, banyak yang menyarankan agar Paul segara dilemparkan ke kolam ikan hiu.

Sementara itu, di kota Berlin ada penonton yang sangat membenci Paul dengan teriakan lagu-lagu anti gurita. Walaupun demikian, hingga saat ini setidaknya Paul sang "Gurita Peramal" masih menjadi fenomena dengan rekor sempurna.

Paul si Gurita Peramal membuat warga Jerman sakit hati. Sebelumnya Paul selalu memprediksi kemenangan Jerman di enam pertandingan. Termasuk dua laga sensasional saat tim Panser menumbangkan Inggris 4-1 dan Argentina 4-0.

Namun sebelum laga semifinal, Paul secara mengejutkan memilih Spanyol sebagai juara atas tim Panser. Peramal berkaki delapan itu membuktikan keakuratannya. Kini, di dua laga yang tersisa, masyarakat dunia masih menunggu prediksi selanjutnya. Mungkinkah Jerman berhasil menduduki posisi ke tiga ataukah Belanda berhasil menjadi juara pertama di ajang Piala Dunia 2010. (jacko agun)

(sumber foto:www.dailymail.co.uk)

Sunday, July 04, 2010

LSF Salahi Aturan Pelarangan Balibo



Keterangan saksi ahli yang dihadirkan di persidangan Pengadilan Tata usaha Negara (PTUN) Jakarta, Kamis (1/7/2010) semakin menegaskan adanya pelanggaran hukum yang dilakukan Lembaga Sensor Film (LSF).

Aktris Ratna Sarumpaet, yang hadir sebagai saksi ahli di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) DKI menilai langkah Lembaga Sensor Film (LSF) melarang film Balibo akhir tahun lalu merupakan perbuatan melanggar hukum. Menurutnya, Undang-Undang Perfilman hanya mengatur sensor beberapa bagian tertentu dalam film yang dianggap menyimpang.

“ dalam Undang-Undang Perfilman yang baru, yang bisa di sensor cuma sebagian, bukan seluruhnya”, ujar Ratna Sarumpaet seperti di kutip dari Tempo Interaktif.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Guruh Jaya Saputra dengan Hakim Anggota, Sri Setowati dan Irman Baika digelar di PTUN mendengar keterangan saksi ahli terkait pelarangan Film Balibo di Indonesia.

Film ini dinilai kontroversi hingga akhirnya LSF mengeluarkan instruksi pelarangan pemutarannya di Indonesia. Pasalnya film ini di khwatirkan akan mengganggu hubungan dua negara, antara Indonesia dan Australia. Namun, hingga kini, hal tersebut belum terbukti. Karena itulah, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers menggugat LSF terkait pelarangan tersebut ke meja hijau PTUN.

Film Balibo bercerita tentang tragedi penembakan lima jurnalis Australia oleh tentara Indonesia yang ingin membuktikan adaya upaya pendudukan Bumi Lorosae oleh tentara Indonesia pada tahun 1975. Namun naas, saat sedang melakukan peliputan, kelimanya tewas, setelah lokasi persembunyian mereka diserbu oleh peluru panas petugas.

Sementara menurut versi resmi pemerintah Republik Indonesia, kelima jurnalis tersebut tewas saat terjadi baku tembak antara tentara pretilin dengan tentara Indonesia di Balibo, sebuah kawasan di utara Timor Timur.

Film tersebut sedianya diputar di ajang Jakarta Internasional Film Festival pada Desember 2009, namun urung terlaksana karena adanya larangan tersebut. Meski demikian, bagi kalangan tertentu, seperti wartawan dan aktivis, keberadaan film tersebut masih bisa dinikmati di beberapa tempat di Jakarta. AJI merupakan institusi yang turut aktif menyebarluaskan tentang pentingnya film ini bagi jurnalis. Tentu saja, karena film ini bercerita tentang jurnalis.

“kita merasa film ini perlu di tonton oleh Jurnalis, agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali. Safety journalis harusnya menjadi prioritas”, ujar Iman D. Nugroho anggota AJI Jakarta yang menjadi panitia aksi nonton bareng Balibo, beberapa waktu lalu.

Aksi pelarangan yang membabi buta tersebut ternyata tidak sesuai aturan. Ratna menilai LSF telah bertindak gegabah, karena tidak berdialog dengan pembuat film terlebih dahulu. Menurutnya, LSF tidak meminta pendapat pembuat film, malah melarangya secara utuh. “hal ini sangat fatal”, ujar perempuan yang juga aktivis hak azasi manusia itu.

Sementara itu, mantan wakil ketua Dewan Pers periode lalu, Sabam Leo Batubara mengungkapkan bahwa pelarangan film tersebut, telah menempatkan LSF lebih tinggi ketimbang undang-undang. Dalam pasal 28F UUD 1945 disebutkan bahwa Negara menjamin hak warga Negara memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. Warga juga berhak memiiki, menyimpan dan mengolah serta menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

"Kalau film itu cabul, mendorong terorisme, perjudian, boleh di sensor. Di jaman orde baru, wartawan tidak boleh ke Timor Timur dan tulis apapun yang dikatakan pemerintah atau tentara. Tapi di era reformasi, kita tahu banyak informasi masa orde baru tidak benar”, ujarnya sebagai saksi ahli di persidangan.

Lebih jauh, Leo menambahkan, bahwa sekarang ini ada versi lain tentang peristiwa itu, seharusnya masyarakat berhak tahu. “sekarang rakyat kita sudah cerdas, sudah mampu memilih presiden sendiri, apalagi jika hanya memilih film yang akan di tonton” lanjutnya.

Leo berpendapat, sebagai produk seni, pembuat film sah-sah saja menghakimi atau berpihak. Jika ada pihak yang tidak setuju, bisa melakukan diskusi dalam forum publik atau klarifikasi di media massa. Pun, tidak salah jika membuat film tandingan. Leo setuju jika pemerintah wajib melindungi rakyat. Namun, rakyat berhak untuk mendapat informasi.

Mantan angota Komando Pasukan Khusus, Kol. Purn. Gatot Purwanto, yang hadir sebagai saksi fakta di persidangan mengungkapkan peristiwa sebenarnya yang terjadi di Balibo. Menurutnya, kejadian di Balibo tidak persis seperti yang tampak dalam film. “wajar saja jika di dramatir, namanya juga film, supaya terlihat menarik” ujarnya beberapa waktu lalu, usai acara menonton bareng film Balibo.

Gatot yang saat itu bergabung dalam penyerbuan kota Balibo bersama dengan satuan-satuan lain, baru mengetahui ada lima jurnalis asing yang tewas, usai melakukan pembersihan. Saat itu Gatot masih berpangkat Letnan Satu.

“ada lima orang kulit putih yang meninggal. Kamera pun ditemukan tak jauh dari jasad mereka. Kami duga mereka adalah wartawan”, paparnya. “Berbeda dengan di film, kelima jurnalis tersebut tewas akibat tertembak, bukan ditangkap lalu ditembak dalam keadaan hidup apalagi di bakar”, tandasnya. (jacko agun)

Wednesday, June 23, 2010

SEKAR Indosiar: Menang Kalah Adalah Biasa, Yang Penting Fair Play.

(foto: Asnil Bambani)

Demam piala dunia ternyata tak menyurutkan semangat teman-teman SEKAR (Serikat Pekerja) INDOSIAR dalam menghadapi sidang perdata tindakan Anti Berserikat yang di gelar di PN Jakarta Barat, Rabu, 16 Juni lalu. Aneka atribut yang menjadi penanda tim-tim yang berlaga di piala dunia dikenakan massa aksi. Slogan “Menang Kalah Hal Biasa” pun diteriakkan. Mereka menuntut agar hakim bertindak adil dalam memberi putusan.

Berbeda dengan sidang-sidang sebelumnya, kali ini SEKAR Indosiar menggelar aksi unjuk rasa di depan PN Jakarta Barat dengan menggunakan atribut seragam Negara-negara yang berlaga di final piala dunia. Mereka pun menggelar pertandingan futsal mini, sebagai simbolisasi suasana “World Cup 2010”.

Sedangkan tema yang diusung: “Menang – Kalah Adalah Biasa, Yang Penting Fair Play” merupakan pesan yang ingin disampaikan. SEKAR berharap, aksi teaterikal ini mampu mendorong hakim untuk memberikan putusan yang Adil dan Berimbang terhadap “eksepsi kompetensi absolut” yang diajukan oleh pihak manajemen Indosiar. Pun tak terlepas dengan tuntutan bebas dari makelar kasus dan tindak suap. Serta harapan agar pihak manajemen belajar untuk mematuhi putusan berdasarkan fakta hukum yang berlaku.

Persidangan ini merupakan sidang lanjutan yang dipimpin oleh hakim ketua Jannes Aritonang S.H, terhadap eksepsi kompetensi absolut yang diajukan oleh tim advokat manajemen indosiar , Kemalsjah and Associates. Materi replik sebanyak sepuluh halaman mengenai kompetensi absolut PN Jakarta Barat dalam menyidangkan perkara anti berserikat (union busting) dibacakan oleh Tim Advokasi Sekar Indosiar, diwakili LBH Pers (Soleh Ali S.H., M. Selamet Jupri S.H. dan Andi Irwanda Ismunadar S.H.)

Dalam persidangan ini, kedua belah pihak menunjukkan tambahan bukti yang berhubungan dengan kewenangan (kompetensi) absolut dari PN Jakarta Barat dalam menyidangkan gugatan perkara anti berserikat yang dilakukan secara sistemik oleh manajemen PT. Indosiar Visual Mandiri pada Serikat Karyawan (SEKAR) Indosiar.

Dalam persidangan dengan pokok perkara anti berserikat, SEKAR Indosiar telah menyiapkan bukti-bukti penting, berupa: bukti tertulis mengenai rampasan formulir pendaftaran anggota SEKAR yang dilakukan manajemen, intimidasi terhadap karyawan yang bergabung dengan SEKAR, PHK sepihak terhadap 150 orang anggota SEKAR, skorsing terhadap pengurus SEKAR Indosiar saat berlangsung proses penuntutan hak, selebaran tentang larangan unjuk rasa disertai ancaman PHK,

“semua tindakan kampanye anti SEKAR serta berbagai tindakan lain yang dapat dikategorikan sebagai anti berserikat (union busting) sudah kami kumpulkan” ujar Dicky Irawan, Ketua SEKAR Indosiar.

Sementara itu, dalil para tergugat dalam hal ini pihak manajemen yang meminta penyelesaian kasus ini disidangkan di Perselisihan Hubungan Industrial (PHI) sesuai dengan UU no.2/2002 menurut pengacara SEKAR, hanyalah kutipan pasal yang tidak dijelaskan secara rinci, sehingga eksepsi (keberatan) para tergugat menjadi kabur (obscuur libel)

Dalam materi Replik, pengacara SEKAR, M. Selamet Jupri menyebutkan bahwa dasar hukum terhadap kasus ini adalah menghalang-halangi hak berserikat atau “Union Busting” bagi pengurus dan anggota SEKAR Indosiar, sebagai mana tercantum dalam pasal 1365 jo 1367 KUHPerdata.

“apa yang didalilkan oleh para tergugat (manajemen Indosiar) bahwa perselisihan antara penggugat (SEKAR) dan para tergugat bukan merupakan perselisihan hubungan industrial, karena tidak ada pasal yang mengatur terkait persoalan hukum mengenai union busting yang dilakukan oleh pengusaha”, ungkap Jupri.

Sehingga kesimpulan replik atas eksepsi kompetensi absolut dari tim pengacara manajemen Indosiar, Tim Advokasi SEKAR: LBH Pers menyampaikan, agar majelis hakim PN Jakarta Barat: menolak segala dalil eksepsi kompetensi absolut para tergugat, menerima replik eksepsi kompetensi absolut penggugat dan menyatakan pokok perkara gugatan para penggugat (SEKAR Indosiar) merupakan kewenangan Pengadilan Negeri Jakarta Barat. (Jacko Agun)

Wednesday, May 26, 2010

Nijmegen the Oldest City


Nijmegen, housing about 150.000 citizens, is the oldest city in The Netherlands and was already of some importance in the Roman era, when a fortress occupied this site. Still, its main monument, the largely demolished Valkhof, is medieval. The Carolingian Chapel was built after Charlemagne’s Palatine Chapel in Aachen (Germany) as a symbol of the importance of this city as one of the principal seats of the administration of the Holy Roman Empire. In 1155 the complex was altered by Barbarossa. Today there’s a debate going whether or not to (partly) rebuild the ruins. Other sites are the weighing house and St. Stephen's church. This city on the Waal is a regional centre. It has a small but lively center with lots of shops.

At night the students make it their own town. Every summer there is a four days long walking event called 'De Vierdaagse Wandelmarsen Nijmegen'. This event is supported by another event, the 'Vierdaagse-feesten' (Vierdaagse-party), which is one of the largest open-air (musical/funfare) events in the Netherlands. It usually does not only attract local artists, but also well known international artists (and entrance is free!).

Near the end of World War II, Nijmegen was bombed by the allies by mistake: After the war Nijmegen has been rebuilt, however, in a new, modern form, resulting in a somewhat uncharacteristic citycenter. There are just a few old buildings left, like 'de Waag' at market square, and St. Stephen's church. Nevertheless, Nijmegen still offers a very good atmosphere.

Should you wish a relaxing day, you could go for a walk in the Goffertpark. This park is in the geograpihical center of the city and also houses the local professional soccer club, NEC. In the near surroundings of Nijmegen, there are some beautiful villages like Berg en Dal and Groesbeek, which are good areas for going for a walk as well. Celebrating 2000 years as a city in 2005, Nijmegen history is long and storied. As the oldest city in the Netherlands and located just 10 km from Germany, the city gets its name from a word of Roman origin meaning "new market." Once the home to Charlemagne's castle, this beautiful location historically marked the northern frontier of Rome's empire.

The Roman Period


Because of the strategic location of the city overlooking both the Waal and Rhine valley, Nijmegen has long been a prime choice throughout time as the home to many kings and other rulers as their central residence. Starting as a Roman military camp in 1 B.C., the city grew and flourished under Roman control until in 1247 when it was used as collateral for a loan to the Count of Guelders and was ultimately lost when the loan remained unpaid. The city however continued to grow and flourish in trade and the arts because of its great location.

A Fortified City

From its beginnings, Nijmegen had been a fortified city and the scene of many large battles. In 1879, to make way for the city's increasing prosperity, the defenses of the old city were finally removed as they had become obsolete by that time and the city required more room for new growth. In the course of a few decades after the wall's removal, the city became equipped with gas, water and electrical mains and a bridge across the Waal river was completed.

World War II

By 1940, Nijimegen was under control of the German army, making it the fist Dutch city taken in World War II. Nijmegen was mistakenly hit in an attack by allied forces during World War II, killing over 800 residents of the city. The city was liberated a few months later in an operation that freed the southern Netherlands. A new city center was built and many resources were used in the coming years to rebuild the city which had been badly damaged.

The Modern City


Today there is little evidence from the buildings of the city that show Nijmegen's past. Any buildings that were not destroyed in the bombing of the city in 1944 were shelled in the follow-up that led to the liberation of the city or destroyed in the following decades to make way for more modern structures. There are a few remains throughout the city dating back as far as the 13th century that are great to explore during your trip to Nijmegen. (jacko_agun)

Tuesday, May 25, 2010

Mira Media and Ethnic Minority


WHEN a Moslem extremist gunned down the Dutch film director, Theo van Gogh, in November 2004, media in the Netherlands then turned to look for knowledge and perspective about Islam, Sharmila Badloe, coordinator of the Media Prof Network with Mira Media, said.

“Most of the media [here] only have the ‘white’ perspective, they don’t know about Islam. But then they think [to write a comprehensive story on the murder] they need to know about it,” she said.

To promote the importance of involving professionals from various ethnic backgrounds in the mainstream media is the core work and objective of Mira Media established since 1986.

Mira media has committed to bring diversity and pluralism in the media organizations in the Netherlands. Because even in a modern country like the Netherlands, pushing media companies to employ qualified ethnic media professionals is not easy.

Sharmila estimated the number of media professionals from non-western background in the Netherlands media is very tiny, “less than five percents,” she cited.

In average, there are only five or even less ethnic media professionals in a newsroom that has a hundred staffers in total, she added. The number doesn’t even equal, compare to the total ethnic population that stands at around 11 percent of about 16 million Holland Population.

“Intelligence does not have something to do with discrimination. You can have a high IQ, but you can be still very narrow-minded. Discrimination, it’s something you cannot totally get rid of,” she said.

To achieve the equality in the media, Mira Media – the government and European Union-funded organization – pushing some strategies. Not only advising talented journalists to get job in the media, but also conducting trainings to journalists and students on diversity issues.

Mira Media also initiated network meetings, debates, experts meetings and conferences. They also have set several websites and ethnic communities to support the group.

Susan Bink, a desk researcher, said at the moment, Mira Media is distributing online newsletter, magazine, and running another website called Wereldjournalisten.nl or literally means world journalists – where media professionals are invited to write on diversity issues in the Netherlands.

Mira Media also initiated an establishment of a commercial company Media Shakers that offers advises for those who need jobs in the media.

However, Mira Media admitted that the lack knowledge of media organizations of many ethnic media professionals present in the Netherlands that have the quality of good journalists as well as discrimination in the offices remain a problem.

Badloe stated concerns are not over after an ethnic professional gets in a media business, but furthermore, on how to make them stay.

Several ethnic minorities publications, including magazines
“Ethnic media professionals do recognize us, but not the mainstream, that’s something we should keep working on,” Badloe said.

Despite the odds, Mira Media is confident that through hard works they will be able to promote qualified ethnic media professionals better in the future.

Both Badloe and Bink believe in the future there will be more ethnic professionals in the televisions, radios, print and online medias in the Netherlands. And as its name, the media in the Netherlands will truly be a “mira” or a mirror of the society. (Anita/Anta/Jacko)

Tuesday, May 18, 2010

A Glance of Queen's Day in Bussum Zuid




From Indonesia, I was reminded by my collage about a special moment in the Netherlands. The Queen's Day, he called it. He said, if you’re lucky, you can get a lot of goods with cheap price. Off course, you have to bargain a little bit.

Since then, I promised myself to attend this historical celebration. It’s happened at April 30th 2010. Unfortunately, that day, it was raining. My collage and I went out anyway from hotel to see the crowd. I want to see it with my own eyes. I want to get involved in the annual celebration and honored the citizens of the Netherlands. But it was cold; the temperature was 10-12 Celsius. Initially, it’s quite difficult for us, because the rain made our bodies shiver, especially once we set foot in Central Bussum Zuid, where the celebration was held.

We choose to go to Bussum Zuid, because it’s closer from our hotel. And some people said that the second-hand goods that are sold here is in good condition. I guess the reason is because Bussum Zuid is known to be an elite area, that’s why they have good quality items to sell. Walking around to the Centrum of Bussum Zuid was not complicated like Amsterdam's, which is famous with its traffic jam.

Less than half an hour, I found several things with low prices, ranging from 50 cents to 2 euros. I got items, like clothes, shoes to school bags for children. I got everything in a relatively quick bargain.

I found the second hand bazaar very interesting. To me, the most unique thing in this bargaining process is that every child whose belongings being sold, has to always give their consent. If they don’t agree with the price, the goods wouldn’t be sold. Here the child plays an important role.

In one corner of streets in Central Bussum Zuid, we found an art performance. It attracted the attention of many people. They performed traditional songs and dances in a specially designed stage. Meanwhile, on the other corner, hundreds of young people use orange outfits –typical of the Netherlands - meets and greets cheerfully while holding a typical Dutch beer. They gathered until late in the afternoon.

The bazaar also was very crowded until evening. Off course, the amount of goods sold decrease substantially. But, they eventually have to close their shops. Many people, who don’t want to bother with the remains, just leave it by the roadside. If you’re lucky, you can pick it up for free.

-----

Maybe some of you --who are not Dutch-- are wandering what really happened in April 30th? This date was celebrated as the birthday of Queen Juliana, mother of Queen Beatrix --who rules the country today. The queen's birthday is celebrated nationally since the days of Queen Wihelmina. At the time, the celebration was held according to the date of Queen Wihelmina’s birthday, which is dated August 31, 1885.

The date changed since 1949, when Queen Juliana took over the crown. That’s when the Queen's day started to be celebrated every April 30th. Oddly, when her daughter, Queen Beatrix ascended to the throne in 1980, the tradition didn’t change. The queen's day still celebrated every April 30, even though Queen Beatrix herself was born on January 31. Some said, this decision is a tribute to Beatrix’s mother, Queen Juliana.

The Queen's day is celebrated everywhere in the Netherlands. Festivals begin in the night of April 29th. In big cities, like Amsterdam, The Hague and Rotterdam, people celebrate with live music, party and night bazaar. The young people usually enjoy the day by drinking beers until late in the evening.

In Queen's Day, Queen Beatrix and the royal family members usually go out from their palace to greet the people. The occasion usually followed by a brief tour to other cities across the Netherlands.

Queen's Day celebration reaches its peak in the city of Amsterdam. People from all over the country come to Netherlands. Unfortunately, they have to walk everywhere, because the tram and other public vehicles is off that day. (Jacko Agun)

Wednesday, May 05, 2010

Menyusuri Keindahan Gooisland


Menikmati keindahan Gooisland di negara kincir angin telah memberi kesan tersendiri bagi pelancong seperti saya. Danau-danau berserakan ditingkahi jalanan kecil membelah hutan yang sering dilalui para pejalan kaki dan pesepeda menjadi ciri khas yang membedakannya dengan tempat lain di Belanda.

Gooisland merupakan salah satu kawasan hijau di Belanda, tepatnya di kota Hilversum berjarak sekitar 30 km ke selatan Amsterdam dan 20 km dari Utrecht. Kawasan ini dikelilingi perbukitan berlanskap hijau.

Hilversum sendiri dikenal sebagai "kota media" karena merupakan pusat penyiaran radio dan televisi di Belanda, salah satunya Radio Netheerland. Radio ini telah memancarkan gelombang pendek ke seluruh dunia sejak tahun 1920. Hilversum kini menjadi komplek bagi banyak stasiun televisi lokal dan nasional di Belanda.

Industri penyiaran di Het Gooi mulai berkembang setelah NSF (Nederlandse Seintoestellen Fabriek) sebagai penyedia alat-alat broadcasting dibangun di Hilversum pada tahun 1918. Secara perlahan, industri ini mulai berkembang ke kota-kota lain di dekatnya. Di Belanda sendiri, siaran televisi pertama dimulai di Bussum. Hari ini, penyiaran publik di Belanda memiliki kantor dan studio di seluruh wilayah tersebut.

Sejarah Awal

Di belanda, nama "Gooi" terkait dengan kata "Gouw" (Bahasa Belanda: Gau) berfungsi untuk menyebut sesuatu yang kuno dan bersifat tradisi bagi suatu daerah. Secara konvensional dalam bahasa Belanda mereka menyebutnya "Het Gooi" yang lama kelamaan berubah menjadi "Gooiland" (bahasa Inggris: Gooisland) dimana orang-orang dari Het Gooi disebut "Gooiers".

Orang-orang Gooiers terkenal karena cara mereka mengucapkan "r" sebelum bunyi vokal dan pada akhir suku kata. R dalam satu kata seperti "drie" tidak diucapkan seperti bahasa Belanda pada umumnya. R pada akhir suku kata untuk pengucapan "daardoor" terdengar seperti "daahdooh". Banyak orang Belanda menganggap aksen ini agak mengganggu, karena bukan dialek lokal. Pola perubahan kata ini terjadi dari orang-orang yang telah pindah ke Het Gooi dari Amsterdam dan tempat lain.

Secara administratif, Het Gooi (Gooisland) berada di daerah Hilversum di sudut tenggara provinsi North Holland. Secara umum, batas-batasnya tidak jelas, namun dulunya Gooisland mengacu pada area yang terletak di provinsi North Holland. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada beberapa kota terdekat seperti: Hilversum (pusat kawasan dan kota terbesar) , Huizen, Bussum, Naarden, Laren dan Blaricum.

Awalnya daerah Gooi ditutupi oleh kawasan hutan dan padang rumput yang sekelilingnya merupakan rawa-rawa berbahaya yang kemudian menjadi penghalang alami sehingga terisolir dari kawasan Utrecht. Saat ini masih banyak ditemukan variasi landskap aneka rupa di kawasan Gooi. Umumnya pemandangan disini didominasi oleh bukit kering berpasir. Sedangkan pada bagian timur dan barat ditemukan dataran basah berisi padang rumput. Perubahan elevasi tanah dan transisi dari basah ke kering menjadi hal penting terhadap perkembangan ekosistem.

Vegetasi di daerah ini umumnya merupakan hutan gugur dari jenis konifera, lengkap dengan padang rumput disertai pasir. Masyarakat sekitar pun menggunakan tanah di kawasan ini sebagai bahan untuk bercocok tanam.
Sedangkan hutan dan semak dibiarkan liar hingga sekarang, seperti: Spanderswoud, Heide Hilversumse, Heide Hoorneboegse dan Heide Bussumer. Kawasan tersebut kini menjadi kawasan konservasi yang berada di bawah pengelolaan Yayasan Cagar Alam Gooi. Cagar alam ini berfungsi sebagai kawasan penyangga kelangsungan ekosistem. Berbeda dengan pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia, kawasan di Belanda kebanyakan dikelola oleh lembaga non pemerintah yang secara reguler menyerahkan hasil kegiatan mereka.

Gooimeer

Di kawasan ini, kita bakal menemukan banyak sekali danau yang dalam Bahasa Belanda disebut, Gooimeer. Di bagian utara, misalnya, terdapat Gooimeer yang berasal dari perpanjangan bagian selatan IJsselmeer, sebuah danau dangkal (5-6m) dengan luas 1.100 km² yang berbatasan dengan provinsi Flevoland dan Friesland Utara. Selain itu, gooimeer lain juga ditemukan di Kota Eemnes Weesp yang berada di Het Gooi karena berdekatan dengan sungai Eem.

Sedangkan jika kita mengarah ke barat dan barat daya, akan ditemuakan dua danau yang disebut Danau Loosdrecht (Loosdrechtseplassen) dan Danau Ankeveen (Ankeveenscheplassen).

Saat ini, danau-danau yang ada masih terjaga asri. Jembatan penghubung dibangun melintasi danau guna memudahkan wisatawan melihat dari dekat pesona yang ditawarkannya, ketika cuaca bersahabat. Pun, tak jarang kita akan menemukan aneka satwa air berkeliaran bebas dan berkembang dengan alami.

Di kawasan ini air berkumpul di lokasi yang lebih rendah, berfungsi sebagai sumber air bagi ternak dan masyarakat. Karena rendahnya tingkat kesuburan tanah, kegiatan memelihara ternak, khususnya domba menjadi alternatif geliat ekonomi masyarakat yang akhirnya menjadi kegiatan utama. Lambat laun, perkembangan produksi wol mulai meningkat di tempat ini.

Berkembang Pesat

Sekitar tahun 1300-an, kawasan Het Gooi belum banyak dikenal. Hanya ada beberapa permukiman pertanian yang menggunakan tanah, hutan dan padang terbuka. Baru pada tahun 1500, dan puncaknya pada tahun 1600-an, pasir yang ada dikawasan ini mulai digali untuk perluasan kota Amsterdam. Sebagai gantinya, dibangun sejumlah saluran air di kawasan Graveland, Naarden dan Bussum. Sistem saluran ini yang kemudian menghubungkannya dengan Amsterdam, hingga Hilversum berkembang menjadi pusat produksi wol dan tekstil.

Het Gooi berpusat pada titik paling utara dari formasi geologi yang disebut Utrecht Hill Ridge (Utrechtse Heuvelrug). Daerah ini relatif tinggi karena diapit perbukitan. Titik tertinggi di Het Gooi adalah Tafelberg (36.4 m di atas permukaan laut), terletak di tengah-tengah antara Blaricum dan Huizen.

Sejalan dengan pembuatan kanal, kereta api pun mulai menemukan bentuknya. Orang-orang kaya dari Amsterdam dan Utrecht mulai merambah dengan membangun rumah mereka di daerah ini. Tak ayal, perumahan mulai menjamur, terutamanya untuk kawasan Bussum. Sebagai dampak dari perkembangan jalur kereta api antara Amsterdam dan Amersfoort pada 1874, Hilversum dan Bussum adalah kawasan pertama yang tumbuh.

Pada tahun 1892, setelah jalur trem menghubungkan Laren, Blaricum dan Huizen dibangun, kota tersebut juga mulai berkembang. Pada 1950-an pembangunan jalan raya (A1 dan A27) melanjutkan proses ini.

Het Gooi kini telah menjadi sangat teratur. Kondisi alam dan pesona historisnya telah menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang dari seluruh penjuru Holland, tak terkecuali dengan pelancong seperti saya untuk mengunjunginya. (jacko agun)

Saturday, March 06, 2010

KONGLOMERASI MEDIA, SERIKAT PEKERJA MEDIA, DAN KEBEBASAN PERS


Ignatius Haryanto

Aneka tindakan yang mengarah pada pemberangusan kelompok serikat pekerja media terjadi di sejumlah media besar di Indonesia. Di luar itu, kita juga melihat fenomena terintegrasinya proses produksi yang dilakukan oleh sejumlah media besar yang memiliki beberapa media sekaligus – atas nama efisiensi, konvergensi – dan hal ini juga menimbulkan persoalan secara perburuhan. Juga kita melihat fenomena pemutusan hubungan kerja yang dilakukan sejumlah media.

Perkembangan konglomerasi media ini menawarkan ancaman dan peluang. Ancamannya adalah makin dominannya pemilik media dalam redaksi media massa, yang berpotensi mengakibatkan akurasi dan kredibilitas produk informasi media itu dipertanyakan publik. Sementara peluangnya adalah makin tingginya kesadaran pekerja media untuk berserikat.

Lebih dari 12 tahun yang lalu, saya mengedit karya terjemahan dari seorang (sekarang profesor) Robert W. McChesney yang berjudul Konglomerasi Media Massa Ancaman Terhadap Demokrasi (diterbitkan oleh Aliansi Jurnalis Independen tahun 1998, dari karya asli yang terbit tahun 1997). Sekitar 12 tahun itu pulalah minat saya untuk memperhatikan perkembangan konglomerasi industri media – baik secara global ataupun nasional – mulai terasah.

Jadi berbagai fenomena yang disebutkan, sebenarnya sudah diramalkan sejak 12 tahun yang lalu, dan menurut saya, perkembangannya memang menunjukkan bahwa konglomerasi media menjadi tidak tertahankan karena tidak adanya kekuatan lain yang bisa menyeimbangkan nafsu kuasa (ekonomi dan politik) dari para pemilik media tersebut untuk hadirnya media yang lebih independen, menghasilkan produk yang membela kepentingan publik, dan tidak jatuh pada jebakan sensasionalisme, dan komersialisme yang membabibuta.

Buat saya tindakan seperti ini adalah tindakan yang tidak demokratis, dimana sebuah kekuasaan berjalan, tanpa ada pihak yang bisa melakukan check and balances. Apakah itu serikat kerja, Dewan Pers (2), Komisi Penyiaran Indonesia, Departemen Informasi dan Komunikasi, tekanan publik dan lain-lain. Hati-hati, saya tidak hendak mengatakan untuk kembalinya kekuatan otoriter negara mengendalikan semua operasi media ini. Tidak. Tetapi saya lebih berharap pada kondisi adanya suatu check and balances yang merupakan proses pertukaran gagasan yang berbasis pada argumen.

Sejelek apapun program infotainment yang ada, yang bisa kita lakukan hanyalah meledeknya, menghinanya, mengritiknya, tapi tak perlu sampai harus mematikannya. Senorak apapun tayangan televisi yang membabibuta membela kepentingan tertentu, yang bisa kita lakukan hanyalah mengritik, menyadarkan publik untuk tidak nonton televisi semacam itu, tapi tak perlu sampai pengelola stasiun tersebut kehilangan ijin siaran. Saya percaya proses seperti ini jauh lebih beradab daripada buru-buru menghilangkan, melenyapkan, atau menutup. Kalau ini yang terjadi, apa bedanya dengan jaman orde baru?

Kekuasaan modal memang hal yang tak tertahankan, tapi ini bukan artinya tak bisa ditandingi, tak bisa disiasati.

Kekuasaan modal yang mencengkeram media yang independen memang menghasilkan sejumlah akibat yang luarbiasa dalam bentuk:
1. media menjadi corong kepentingan politik atau bisnis semata (lalu apakah kita masih sebut ini sebagai media massa, atau sarana public relations?)
2. media mudah diintervensi untuk item-item pemberitaan yang dianggap tabu oleh pemilik atau grup media tersebut (3)
3. media menjadi bias dalam menyajikan informasi kepada publik, lebih jauh media kerap kali jadi berbohong kepada publik
4. sinergi, efisiensi, konvergensi, adalah kata-kata kunci yang biasanya datang dari pihak manajemen media. Dalam bahasa terangnya ia berarti pemutusan hubungan kerja sepihak, wartawan bekerja lebih banyak dengan upah yang sebisa mungkin ditekan, soal kualitas informasi, maaf itu bukan bahasannya
5. ideologi kecepatan penyampaian informasi (tapi belum tentu akurat, belum tentu cover both sides, belum tentu ada verifikasi) adalah 'dewa' atau ukuran terpenting pada masa sekarang. Kedalaman informasi, konteks suatu peristiwa, pemaknaan yang bisa dilakukan, atau juga banjir informasi adalah hal-hal yang sementara dilupakan dulu.
6. konflik, sensasionalisme, komersialisme adalah hal2 yang jadi keutamaan (virtue) pada industri media sekarang ini.
7. berbaurnya antara batas fungsi informasi dan fungsi hiburan dari media massa (4)

Ada banyak fenomena yang terkait dengan masalah ketenagakerjaan belakangan ini:
1. Fenomena media franchise yang semakin sedikit mempekerjakan para wartawan, tetapi lebih pada penerjemah, mengambil penulis lepas, dan hanya mempekerjakan 1-2 orang editor senior saja.
2. Fenomena di mana media-media yang mencoba untuk tampil global dengan mempekerjakan pekerja asing dan pekerja local. Ada jarak yang sungguh jauh antara pendapatan dan fasilitas yang dimiliki oleh dua kelompok pekerja ini
3. Era multimedia dimana wartawan dituntut untuk tidak hanya bekerja dalam satu moda industri (misalnya media cetak saja) tetapi juga untuk moda yang lain (online, televisi, atau radio). Para pengusaha menyebutnya ini sebagai `konvergensi' , atau `sinergi', tetapi di sisi pekerja ini artinya harus menyampaikan berita dengan macam-macam format, namun dari sisi kesejahteraan, tak banyak yang berubah
4. Pertumbuhan industri media yang tidak sehat, dengan mengandalkan para kontributor lepas yang bisa merekrut kontributor lainnya, menghasilkan hubungan ketenagakerjaan yang tidak jelas, dan dari sisi isi berita, akan cukup menyulitkan jika ada pelacakan yang terkait dengan pelanggaran kode etik jurnalistik.
5. Pada lain sisi, industri media memberangus sejumlah serikat kerja yang ada, mengucilkan para aktivisnya, mem-PHK pengurusnya.

Potret dari industri media sekarang dan para pemiliknya tergambarkan seperti ini: (karena ada soal teknis, tabel tak dapat disertakan di sini) - Data compiled by Ignatius Haryanto, from various sources

Dari forum diskusi lain sebelumnya, saya kutipkan data yang menunjukkan kelembagaan media yang memiliki serikat pekerja. "Dari sekitar 2.000 stasiun radio, 1.008 media cetak, 115 stasiun teve, dan belasan media online yang ada di Indonesia, cuma 25 perusahaan saja yang memiliki serikat atau embrio serikat."…

Lalu dari sisi penamaan lembaga serikat kerja ini saja, sudah menunjukkan hal lain yang juga menarik: "Untuk menghidari kecurigaan dan represivitas dari manajemen, biasanya para aktivis serikat pekerja media mencoba untuk menyamarkan nama organisasinya dengan nama yang lebih "bersahabat" . Para pekerja Tempo, misalnya, memilih nama Dewan Karyawan Tempo (DeKaT), pekerja di Kompas menggunakan nama Perkumpulan Karyawan Kompas (PKK), buruh Indosiar memakai nama Serikat Karyawan (Sekar) Indosiar, pekerja majalah Swa memakai nama Forum Karyawan Swa (FKS), pekerja Hukumonline. com memilih nama WorkerHOLic, pekerja di Solo Pos menggunakan label Ikatan Karyawan Solo Pos (Ikaso), atau pekerja Bisnis Indonesia memakai nama Kerukunan Warga Karyawan Bisnis Indonesia."

Betapa mindernya organisasi serikat kerja industri media dibandingkan dengan jumlah industri media yang ada saat ini. Industri media berkembang pesat, tapi apakah ini artinya bahwa pekerja juga merasakan kesejahteraan yang meningkat dari perkembangan tersebut?

Juga kita bisa melihat betapa mindernya organisasi serikat kerja industri media dibandingkan dengan para organisasi serikat kerja di bidang manufaktur. Ada puluhan organisasi serikat kerja yang telah ada (dari yang punya visi misi jelas, hingga yang model abal-abal, dan kemarin ditarik sana-sini oleh berbagai partai politik).

Yang menjadi agenda kita menurut saya seharusnya adalah: bagaimana para pekerja media berhadapan dan menyodorkan agenda kepara para pemilik industri media ini, lalu bagaimana pula serikat kerja seperti ini mampu membuat ada independensi redaksi dari intervensi macam-macam kepentingan (terutama dari pihak pemilik dan para kongsinya).

Di luar bicara pengawasan kerja jurnalistik, dari sisi etik dan hukum, saya merasa bahwa serikat pekerja bisa memiliki kontribusi untuk mempertahankan nilai-nilai jurnalistik yang independen, menuju ruang redaksi yang makin berkualitas, dan tetap diingatkan pada focus pada kepentingan publiklah yang harus didahulukan, lebih daripada mendahulukan kepentingan grup media (dan grup saudara-saudaranya) .

Telah lama induk AJI, yaitu IFJ menekankan bahwa ruang redaksi yang independent, keprofesionalan wartawan, adalah kunci untuk menjadi jurnalis masa kini, dan untuk itu dimensi ketenagakerjaan dari industri ini, sebenarnya bisa menyumbang pada misi tersebut.

Jadi perjuangan industri media bukan semata pada gaji yang lebih baik, fasilitas yang lebih memadai, tetapi juga ruang redaksi yang independent, investasi lebih besar pada liputan berkualitas, pembentukan divisi yang memperkokoh nilai jurnalisme (bukan nilai jual dari industri media, alias berjualan produk konsumen via media yang terakses luas), dan pencapaian keutamaan lainnya.

Memang tak bisa dihindari gelombang komersialisasi yang merambah secara masif tak hanya di level nasional, tapi juga di level internasional. Betulkah kita sungguh-sungguh tak berdaya menghadapi kekuatan capital ini? Kalau pun bisa dilawan, dengan cara seperti apa kita melawannya? Bagaimana tingkat ketergantungan dari redaksi terhadap intervensi-interven si dari luar?

Perilaku pemilik media memang bisa dibilang hampir rata: anti union. Mereka merasa resah jika para pekerja mempersatukan diri, membela kepentingan mereka, dan mencoba jalan bernegosiasi untuk memperjuangkan kepentingan. Belum apa-apa para aktivis union akan kena stigma (seperti yang pernah saya alami juga dulu ketika menjadi ketua Dewan Karyawan di Majalah Forum Keadilan), disingkirkan perlahan-lahan, dan pelbagai alasan dibuat untuk meminggirkan.

Mereka banyak berpikir media adalah alat akumulasi modal, yang kebetulan bernama koran, majalah, televisi, online. Kalau pun ada yang berpikir beda, itu pengecualian yang sangat jarang. Kalau sudah begini cara pikirnya, bagaimana mau meyakinkan para pimpinan media bahwa media punya obligasi moral sebagai pengartikulasi kepentingan publik (mereka membacanya: pasar), dan karena obligasi moral inilah maka jurnalis datang ke tempat dimana orang-orang biasa tidak datang (bencana, tragedi, tempat konflik, dan lain-lain), dan atas nama obligasi seperti itu.

Untuk itu harus diniatkan untuk menghasilkan serikat kerja yang lebih banyak, terutama pada media yang strategis, dan mengalami tingkat intervensi tinggi dari pemiliknya.

Catatan belakang:
(1) Paper diskusi Aliansi Jurnalis Independen Jakarta dan Dewan Pers, Rabu 3 Maret 2010 tentang "Konglomerasi Media: Ancaman atau Peluang bagi Kebebasan Pers"
(2) Belum lama ini saya menulis tulisan opini dengan judul "Harapan pada Dewan Pers", Kompas 17 Februari 2010, dimana bagian yang ingin mintakan perhatian pada Dewan Pers untuk lebih mengawasi kinerja capital / modal dari para pemilik media yang sering mengintervensi ruang-ruang redaksi.
(3) Dalam tahun 2010 ini akan terbit tulisan saya yang merupakan bagian dari antologi tentang situasi Media di Indonesia paska Suharto. Masalah tersebut dibahas dalam tulisan ini. Buku ini akan terbit di Inggris dan Australia, diedit oleh dua orang Indonesianis Media: David T. Hill dan Krishna Sen.
(4) Sebuah bacaan yang sangat menarik di sini adalah Daya Kishan Tussu, News as Entertainment: The Rise of Global Infotainment, Sage, 2007, juga lihat Kees Brants, "Who's afraid of Infotainment? ", dalam Els de Bens, Peter Golding & Denis McQuail (eds.) Communication Theory and Research, Sage, 2005. Lihat juga kumpulan tulisan dari Ken Auletta, Backstory: Inside the Business of News, Penguin Press, 2003.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN