Thursday, March 29, 2007

Asumsi Sang Pencatat


...
Saat ku tanya pada banyak teman, apa makna pertemuan kemarin malam? Kebanyakan menjawab: ah... hanya retorika, tanpa makna, cuma basa-basi, sebuah yang normatif, kagak tahu (abis gue tidur, seh!), mirip ceramah jum’at (bedanya tidak diakhiri doa), tak penting, hanya demi kepentingan pemilik modal, de el el.

Tapi, benarkah demikian? Mungkin ada baiknya kita telaah lebih dalam. Pertemuan akbar antara owner (baca: manajemen) dengan kru news, menurut hematku merupakan yang pertama dilakukan, sejak aku menjejakkan kaki dan bergabung di lantai 3 TRANS TV. (untuk ini mohon di koreksi)

Pertemuan yang berdurasi kurang lebih satu jam itu, ternyata hanya berisi beberapa point penting. Apakah itu, akan saya uraikan pada paragraf selanjutnya.

Ketika di tanya pada semua peserta yang hadir, apa alasannya ikut di pertemuan ini. Bisa dipastikan 80 hingga 90%, isi kepala anak-anak news berisi tentang ketidakpastian pencairan bonus tahunan yang jumlahnya cukup besar, selain karena unsur kewajiban. Jika tahun lalu, bonusnya dibagikan di akhir februari, berbeda dengan tahun ini. Bonus tersebut ternyata dibagikan mundur dua bulan berselang, dengan alasan yang simpang siur, karena tak ada kejelasan, baik berupa selebaran maupun dengan surat keputusaan. Padahal pembagian ini merupakan isu yang krusial. Coba bandingkan dengan penggunaan seragam yang pengaturannya begitu rinci dan di teguhkan menjadi sebuah Surat Keputusan perusahaan dengan sanksi yang cukup berat. Peraturan ini juga yang membuat setiap orang menjadi kecut, termasuk saya, jika coba-coba berontak. ”Ujung-ujungnya bisa berpengaruh pada bonus, mas!”, ujar Udin (OB) yang ternyata paham tentang pentingnya sebuah bonus.

Padahal masalah seragam, tidaklah sekrusial kesejahteraan, maupun masalah perlengkapan dan prasarana yang sering menjadi dilema. Jika saja kita jujur mengakui, penggunaan seragam hanyalah demi enak dipandang mata. Tak ada hubungannya sama sekali dengan share/ maupun rating yang akan dihasilkan. Pasalnya, jika bisa menjadi yang pertama, tetangga jauh (baca; RCTI) pasti akan melakukannya beberapa tahun silam, jauh sebelum TRANS TV berdiri. Tetapi faktanya, mereka tetap menjadi yang pertama tanpa embel-embel seragam. (Tak terlihat penggunaan seragam sama sekali, saat saya mengunjungi seorang teman yang jadi karyawan di sana beberapa bulan silam.)

Sepertinya sudah terlalu jauh! Ada baiknya, kita kembali ke Lapt.., maksud saya ke pokok permasalahan. Ya..., pertemuan dengan bapak CT lebih tepatnya. Arahan yang di dominasi suasana kesunyian dan ternyata diteruskan dengan absensi peserta, membuat kegiatan ini menjadi penting.

Jika tak ingin menduga kegiatan ini merupakan agenda settingan. Ada baiknya kita memulai dari iming-iming perusahaan setahun lalu. Entah siapa yang memulai, saat itu, santer berembus kabar, bahwa setiap karyawan yang telah bekerja lebih dari 1 tahun akan mendapatkan bonus sebesar 15 – 35 x gaji, jika target penjualan mencapai 1 T (baca: triliun). Ternyata, Praise the Lord, target tersebut berhasil digapai.

Setahun kemudian, pertanyaan pun muncul; berapa angka riil yang akan diterima karyawan? Sampai detik ini tak ada yang tahu pasti, kecuali pihak manajemen dan Tuhan. Sebersit tercetus angka rata-rata 15 kali gaji dari omongan si empunya tempat ini. Namun, tiap orang dapatnya berapa? Itu semua terpulang pada Performa Appraissal (PA) dan kontribusi programnya terhadap kemajuan station ”milik kita bersama” ini.

Pertemuan yang di rancang pada pukul 18.30 wib, kelihatannya mundur dari waktu yang direncanakan. Pasalnya, tepat jam 19.05 wib kami tiba di kantor sehabis pulang liputan dan langsung menuju auditorium 3A di gedung Bank Mega, ketika acara tersebut baru berlangsung. Terlihat Pak CT -sebutan bagi Chairul Tanjung, pemilik TRANSCorp- begitu bersemangat, saat memulai arahannya. Disela-sela pancaran sinar tungsten pertanda temaram, sosok CT begitu dominan di tengah ruangan dengan nada suara yang tegas, membuat semua mata mengarah padanya. Menurut pengamatanku kurang lebih 90% anak-anak news hadir di pertemuan ini. ”Betul-betul sebuah peristiwa langka”, gumanku lirih sembari membetulkan posisi duduk.

Dari semua arahannya yang bisa aku tangkap, rasanya tak ada yang istimewa. Pasalnya, sedari awal, orang nomor satu di perusahaan ini mencoba terus memotivasi kinerja anak-anak news. ”Sekarang news telah menjadi lokomotif bagi perusahaan ini. Artinya, news memegang peranan yang cukup penting bagi perkembangan perusahaan”, ungkapnya dengan penuh semangat. (Aku gak tahu, apakah dia akan mengatakan hal yang sama terhadap divisi lain, ataukah ini sebagai penggugah semangat!)

Di saat yang sama, dia juga mengingatkan, agar kita jangan terlalu cepat berbangga diri dengan semua yang telah kita capai. Sekarang saatnya tunjukkan prestasi yang lebih baik dan bekerja lebih giat. Jangan sampai kita mengalami hal yang buruk seperti dialami station lain, yang di kesempatan ini dia mencontohkan INDOSIAR. Menurutnya, beberapa tahun silam station tersebut pernah mencapai posisi pertama. Namun hanya dalam kurun waktu yang relatif singkat, beberapa tahun berselang, perusahaan tersebut menuju kemunduran yang sangat signifikan. Di sela-sela biaya produksi/operasiona l yang begitu besar, mutu program yang mereka hasilkan tak menunjukkan perubahan. Mereka kurang jeli melihat dinamika penonton yang memang tak bisa dijadikan acuan. Ini yang membuat angka penjualan mereka menjadi seret. Kini, iklan yang nyata-nyata menjadi jantungnya televisi mulai melirik station yang lebih prospek, TRANS TV salah satunya.

Sampai disini, semua tampak terhenyak! Sebuah penjelasan yang mengagumkan. Diam sejenak, kembali dia melanjutkan presentasinya. Di kesempatan ini, sang pimpinan mengajak semua orang kembali (back to orientation) pada arah yang ingin dicapai oleh perusahaan. Saat ini kita harus lebih giat, karena jika dibandingakan dengan penerimaan pada bulan yang sama tahun lalu. Bulan ini kita mengalami kemunduran. Kalau bulan yang sama tahun lalu bisa mencapai 20 M, bulan ini kita baru mencapai setengahnya. Untuk itu perlu ekstra kerja keras. Belum lagi, jika dihadapkan pada impian masa depan, yang rencananya akan membangun gedung 45 lantai dengan peruntukan gedung sekarang sebagai studio, bisa dipastikan betapa visionernya sang pemimpin ini.

Rencananya, tahun ini kita harus menjadi yang pertama, baik dalam share/ rating maupun penjualan iklan. Dan, semua itu bisa dicapai jika kita (baca: TRANS TV) memperoleh share station 20 % dengan share minimal news sebesar 18%. Yang jika dikaitkan, akan berkorelasi linear dengan target penjualan sebesar 1, 5 triliun tahun ini. Sungguh, sebuah hitung-hitungan yang cukup jeli secara matematis.

Di sela-sela pertemuan tersebut, yang kalau gak salah, ketika belum menyinggung bonus, kejadian unik pun terjadi. Tiba-tiba saja, aliran listrik di ruangan tersebut padam. Suasana langsung berubah gelap. Semua jadi lengang. Sama sekali tak terlihat sosok sang pimpinan apalagi suaranya yang tadi terdengar lantang. Hanya segelintir orang di bagian belakang yang terlihat riuh, diantaranya; anak news dan operator ME (mechanical electrical) yang langsung tanggap dengan situasi yang terjadi. Sesekali terdengar pekikan ”sabotase-sabotase” yang diteriakkan oleh anak-anak news di bangku bagian belakang.

Sampai disini, aku jadi waswas. ”Jangan-jangan memang ada sabotase atau ini memang sebuah pertanda!”, pikirku. Bagi orang awam seperti saya yang tak paham dengan fenomena tertentu, insiden seperti itu tentulah tak banyak artinya. Tapi bagi seorang CT, kejadian itu bisa bermakna lain. ”Abis, dia percaya fengshui, seh! Sampai-sampai di kantor ini gak akan ditemukan angka bernomor 4”, guman seorang teman disebelahku.

Sebelum mengakhiri presentasinya yang cukup terarah. Sang pimpinan mengajak semua orang yang ada di ruangan itu, untuk segera meninggalkan alat hitung (baca; kalkulator). Saatnya menghasilkan karya yang lebih baik dari sebelumnya. Jangan terlalu pusing dengan bonus perusahaan (tahun lalu) sebesar 80 milyar yang rencananya akan di bagi habis untuk semua karyawan. Menurutnya; tenang saja, semua pasti dapat. Hanya saja, pembagiannya tidak merata, karena didasarkan atas PA dan kontribusi program terhadap keuntungan perusahaan. ”Itu sebabnya, mengapa divisi News, Produksi dan Marketing mendapat proporsi pembagian yang lebih besar”, tuturnya.

Akhirnya, untuk membuat dialog antara pemilik modal dan karyawannya lebih hidup. Di sesi terakhir dia (CT) mengijinkan kami (kru news) untuk bertanya apa saja, yang jadi permasalahan karyawan selama ini.

Dari tiga orang penanya, aku pikir semua pertanyaannya sangat normatif! Pasalnya, semua pertanyaan merupakan pertanyaan lama yang saking klasiknya, sering disebut sebagai pertanyaan klise, yang sampai saat ini masih dalam tahap penyesuaian. Menurut CT, sekarang ini, saat keuntungan besar berhasil diraih bukan berarti dana tersebut bisa di hamburkan begitu saja pada hal-hal yang kurang krusial. ”Ada bidang dan tahapan penting yang jadi skala prioritas”, ungkapnya.

Dari beberapa pokok pertanyaan, hanya pertanyaan Rizky (presenter) -yang langsung disambut dengan tepuk tangan-, yang memiliki bobot lebih. Pertanyaan tersebut yang jadi inti semua pertanyaan bagi semua peserta yang hadir. ”Pembagaian Bonus” lebih tepatnya!

Berawal dari Asumsi

Jika boleh kusimpulkan, semua omongan sang pimpinan berawal dari sebuah asumsi. Asumsi yang berasal dari olah pikirnya sendiri. Asumsi yang muncul dari perkiraan dan kemungkinan yang timbul dari gejala ataupun kejadian yang telah terjadi selama ini. Asumsi, yang bisa membuat seseorang merasa melakukan sesuatu yang benar dan berakhir pada pembenaran. Asumsi yang bisa menjadikan empunya asumsi terjebak pada pemahaman sempit. Serta asumsi yang membuat mereka-mereka takkan pernah mau mendengarkan pendapat orang lain. Sungguh, begitu berbahayanya sebuah asumsi?

Ijinkan saya sedikit berfilsafat, walau saya bukanlah seorang filsuf. Saya hanyalah seorang pencatat, yang sering mencatat sebuah peristiwa dan menurut hemat saya layak untuk di catat. Persis sama seperti saat ini, ketika moment penting terjadi.

Bermula dari asumsi, bahwa kita (TRANS TV) akan mengalami hal buruk jika tak bercermin dari kejadian yang ada. Menurutnya (baca; Pak CT), dengan mengambil contoh runtuhnya INDOSIAR, merupakan sebuah penggambaran yang tepat. Tapi, apakah benar station tersebut menuju kehancurannya jika tak berbenah diri. Jawabnya; bisa ia, bisa tidak! Karena tak ada yang tahu pasti, kecuali kita ada di dalamnya. Apalagi, berembus kabar, kalo INDOSIAR pecah akibat tak akurnya para pemilik modal. Jika, tidak adanya investor dan mutu program yang buruk dijadikan kambing hitam, mungkin bisa jadi sebuah pembenaran. Tapi, itu merupakan bagian kecil dari sebuah sistem yang diciptakan oleh pemilik modal. Sebab, permasalahan terbesar terletak pada pemilik modal. Merekalah yang menentukan arah perusahaan. Jika pemilik modal tidak akur dan tak punya satu suara, bisa dipastikan akan berdampak pada performa perusahaan. Itu sebabnya tak boleh ada dua kapten di sebuah kapal.

Selanjutnya, saat Pak CT berasumsi bahwa sekarang saatnya bekerja lebih giat untuk bisa menghasilkan share 20% dan penjualan 1,5 T, serta lupakan semua kalkulator! Secara implisit, arahan tersebut bisa jadi benar! Tapi, apakah beliau sadar bahwa semua itu akan tercapai jika kesejahteraan karyawannya terpenuhi. Karena, kesejahteraan berbanding lurus dengan motivasi kerja. Apa yang terjadi jika setiap karyawan di tuntut lebih, sementara haknya tidak terpenuhi. Jangan salahkan, jika terjadi demoralisasi. Jangan salahkan jika karyawan tidak memiliki self of belonging yang tinggi, atau dalam bahasa sehari-hari disebut ”itung-itungan” . Itu yang terjadi saat ini, ketika hak kita sebagai buruh terkangkangi.

Di kesempatan itu, sang pimpinan kembali berasumsi, bahwa dengan pembagian bonus yang jadi hak kita (baca; buruh) merupakan pecut untuk lebih giat tahun ini. Beliau tak menyadari, bahwa bonus itu merupakah hak kita setahun lalu, bukan tahun ini. Hanya saja pembayarannya kita terima sekarang ini. Saat itu, dengan begitu bersemangat, segenap karyawan menghasilkan karya terbaiknya. Saat penjualan mencapai target, yang terjadi adalah ketidakjelasan besarnya bonus. Apakah, karena nilainya yang begitu besar sehingga bingung untuk membaginya. Mungkin juga! Sehingga wajar jika bonus menjadi pertanyaan seluruh karyawan. Apalagi jadwal pencairannya tak ada yang tahu, sebelum berakhirnya pertemuan kemarin malam. Ketika tahun ini, kita di patok untuk mencapai angka 1,5 T. Tugas kitalah untuk menggapainya. Sebuah petualangan baru yang cukup seru. Tapi harus diingat, bukan berarti jika target sebesar 1,5 T tidak tercapai, maka kinerja kita buruk. Masih banyak faktor yang mempengaruhinya.

Permasalahan Sebenarnya

Ketika pertemuan tersebut dianulir hanya dengan tiga orang penanya! Jujur, saya menjadi pesimis. Sama pesimisnya seperti yang lain, ketika masih banyak hal yang ingin di tanyakan pada forum seperti ini. Maklum, pertemuannya belum tentu bisa terjadi bulan depan apalagi tahun depan.

Saat pernyataan tentang bonus yang dijawab oleh Pak CT sebagai penutup pertemuan. Semua seakan terlena, walau tak ada yang tahu pasti, berapa besaran yang akan diterima oleh masing-masing karyawan. Penegasan tentang pembagian bonus tanpa sisa bagi semua karyawan, telah menjadi angin surga yang memabukkan.

Sepertinya, semua terbius dengan penjelasan ini, yang menurutku masih saja tak jelas. Saat dia (baca: pak CT) mengutarakan tentang pembagian yang adil antara setiap divisi, yang lagi-lagi ternyata tak adil, menurutku hanya akan menimbulkan friksi antar divisi. Bagaimana mungkin, bagian lain, seperti facilities. GA, GS dan sebagainya mendapatkan porsi yang lebih sedikit ketimbang divisi News, Produksi dan Marketing. Padahal, sejak bergabung, benak kita di jejali, bahwa tivi merupakan sebuah kesatuan proses yang saling berhubungan, sehingga tak ada satu unit pun yang merasa lebih penting ketimbang yang lain. Mengapa ketika pembagian bonus harus ada pengkotak-kotakan? Lagi-lagi, perkara adil ternyata tak mudah!

Ketika dengan tergesa-gesa bang Iwan Ahmad Sudirwan (kadiv) mengakhiri pertemuan, tanpa memberi kesempatan bagi penanya lain. Ini jadi pertanda, masih kentalnya aroma orde baru, yang menganut paham ”asal bapak senang”. Bagi sebagian jurnalis, paham tersebut sudah tak jamannya lagi. Tapi, pada praktiknya ternyata masih ada. Bahkan tak usah jauh-jauh, semua tersaji di depan mata kita.

Bukankah hak setiap orang untuk mengutarakan pendapatnya dan itu diatur di dalam undang-undang, apalagi di awal pertemuan dikatakan akan dibuka beberapa termin pada penanya.

Tapi, sudahlah! Semua sudah terjadi!

Walau tak sempat unjuk diri, aku masih memendam tanya, perihal kegelisahanku yang sama seperti kegundahan rekan-rekan di tempat ini. Sepengamatanku, penegasan bonus yang diungkapkan langsung oleh pemilik modal hanya menjadi penentu jawab dari semua ketidakjelasan tanggal pencairannya.

Di satu sisi, hal itu memang penting, karena menjadi haknya karyawan. Sepertinya, pemberian bonus bisa meredam aneka permasalahan yang telah berurat berakar di tempat ini. Saat aku mendiskusikan bahwa ada ”masalah yang lebih besar” dengan seorang senior, pendapatnya cukup logis. ”kalo ternyata gaji rendah belum menjadi masalah bagi semua karyawan, ngapain ribut?” kilahnya.

Ketika ditanya, apakah salary yang mereka terima sudah manusiawi dengan tingkat inflasi yang terjadi sekarang ini, saat semua harga-harga melambung tinggi. Mungkin, dengan lantang sebagian akan teriak: ”tidak cukup”. Bayangkan, jika gaji sebulan, harus habis, hanya untuk menghidupi 2-4 muncung di rumah, bayar kontrakan, bayar kredit/ cicilan, biaya bulanan, ongkos/ bensin, dan lain sebagainya. Bahkan untuk menabung pun sulit! Tentunya, ini yang jadi inti atau masalah yang sebenarnya. Coba bandingkan dengan salary rekan-rekan kita di station lain, yang notabene melakukan hal yang serupa dengan kita. Pasti jauh bedanya!

Ketika bonus di hadapkan dengan realitas rendahnya salary karyawan. Sebagian karyawan malah lebih memilih bonus. Padahal bonus adalah akibat dari angka salary. Saat ini, rendahnya salary (tingkat kesejahteraan) karyawan masih kalah populer dengan penyelesaian masalah bonus tahunan. Mereka tak sadar, bahwa permasalahan yang sesungguhnya adalah perbaikan tingkat kesejahteraan, diantaranya salary. Sungguh, tidak manusiawi jika karyawan digaji rendah dan di paksa hidup di ibukota dimana harga-harga melambung tinggi. Padahal mereka masih punya impian, ya.. minimal untuk nyicil motor atau nyicil rumah sangat sederhana.

Penegasan perihal pembagian bonus menjadi euforia semu dan sementara, yang tak memecahkan persoalan. Di banyak perusahaan, yang menjadi salah satu acuan ataupun motivasi para karyawannya adalah kenaikan gaji yang signifikan, bukan nilai sebuah bonus. Walaupun bonus juga penting.

Siapa yang berani menjamin kita akan mencapai target (baca; bonus) yang telah ditetapkan tahun ini? Tak ada yang bisa menjamin. Yang ada hanyalah berusaha semaksimal mungkin dengan segenap upaya disertai dengan tingkat kesejahteraan yang memadai. Sehingga, ketika bonus yang di dengung-dengungkan sebagai dewa penyelamat berhasil dicapai, merupakan korelasi yang linear dengan tingkat kesejahteraan karyawan. Bisa dipastikan, jika tingkat kesejahteraan terpenuhi, etos kerja dan motivasi akan muncul dengan sendirinya. Bukan dengan iming-iming bonus tanpa perbaikan kesejahteraan karyawannya.

Mustahil rasanya, jika target share 20% dengan pendapatan 1,5 T (baca; kabarnya akan menjadikan TRANS TV menduduki peringkat pertama di Indonesia) berhasil di raih, jika tidak dibarengi dengan tingkat kesejahteraan karyawannya. Jangan-jangan kita hanya bertepuk sebelah tangan.

Mungkin benar apa yang diungkapkan seorang teman ketika makan malam di LG. Dia bilang; presiden aja tahu akan pentingnya sebuah kesejahteraan saat akan melepas 60.000 tenaga penyuluh pertanian ke seluruh Indonesia. Tak ada gunanya kita bekerja keras jika tak sejahtera.

Thursday, March 22, 2007

Menjelajahi Negeri Ex Tapol

(Seorang warga sedang menyuling minyak kayu putih.  foto : jacko agun)

Tak banyak yang tahu tentang keberadaan pulau dengan luas wilayah 12.655 km2. Pulau yang terletak di Barat Ambon ini lebih terkenal dengan eks tapol ketimbang potensi kekayaan hasil bumi yang jadi primadonanya.

Buru, demikian nama pulau yang lebih dikenal sebagai sebuah noktah di atas peta kawasan Maluku. Walaupun noktah ini terlahir lebih besar ketimbang Pulau Ambon, "ibu kota Tanah Maluku" keberadaannya tak banyak digubris orang.

P. Buru, sebelum Perang Dunia II, merupakan pulau penghasil minyak kayu putih, selain penghasil sagu, yang terkenal di pasar-pasar P. Jawa dengan sebutan "Sagu Ambon". Sagu dari tempat para tapol berada, dikatakan orang sebagai sagu yang terbaik. Tapi karena tandusnya tanah serta teriknya sengatan matahari, membuat pencetakan lahan pertanian menjadi sulit. Belum lagi, jarangnya penduduk, keterbelakangan budaya, jauhnya jarak dari pulau-pulau terdekat, menjadikan P. Buru semakin terisolir. Karena itulah, pemerintah Orba menjadikannya sebagai "penjara" bagi orang-orang tahanan. Buru menjadi sama seperti "Sélong" di jaman VOC (dari kata Ceylon, Srilangka sekarang), atau "nDigul" di jaman Hindia Belanda. Tiga kata itu mempunyai arti setali tiga uang: “buangan”.

Tiga tahun sejak Orba berkuasa, Buru dikatakan sebagai "Pulau Tutupan" (tutupan=tahanan), dan karenanya identik sebagai pulau tahanan. Di sana, sepanjang tahun 1969 - 1976 telah dibuang sebanyak 11.948 orang tahanan politik terlibat G30S-PKI.

Berhubung tempatnya para tahanan, pulau itu dibayangkan dikelilingi kawat berduri. Ben Anderson, seorang Indonesianis asal AS, pernah menggambarkan Pulau Buru sebagai Gulag Tropis. Memang, pulau yang luasnya 12.655 kilometer persegi—lebih luas dari Pulau Bali—itu menyimpan sejarah kelam di zaman Orde Baru. Tetapi, hari ini, Pulau Buru tak seperti 30-an tahun silam.

Cara Mencapainya

Sore itu, laut di teluk Ambon terlihat tenang. Ditingkahi semilir angin, cuaca pun tampak bersahabat. Dalam kondisi demikian, rencana menjelajahi Pulau Buru yang terkenal dengan kekayaan rempah-rempahnya semakin kuat. Maklum sudah beberapa hari ini kami berkutat dengan berbagai urusan di pulau yang mulai berbenah pasca kerususuhan rasial beberapa tahun silam. Akhirnya, dengan persiapan yang matang, kami pun meninggalkan pelabuhan Gelala di Ambon menuju P. Buru dengan menumpang kapal ferry setelah membayar Rp. 65 ribu/orang. Perjalanan menuju lautan lepas pun dimulai.

Mencoba alat transportasi kapal ferry bukanlah pilihan yang tepat. Pasalnya, kapal ini diperuntukkan untuk mengangkut mobil, motor, bis dan truk yang hendak menyeberang serta membawa barang-barang dagangan penduduk. Itu sebabnya, penumpang dengan barang bawaan yang banyak lebih memilih transportasi ini. Hal ini juga yang membuat kapasitas tempat tidur di kapal sangat terbatas. Sehingga jangan heran, demi mendapatkan sebuah tempat tidur, para penumpang rela antri dan tiba lebih pagi di pelabuhan sambil merogoh kocek tambahan sebesar Rp. 10.000/tempat tidur.

Bagi mereka yang ingin cepat-cepat sampai di P. Buru bisa menggunakan alternatif lain, yakni dengan kapal cepat ataupun pesawat terbang. Untuk kapal cepat, waktu tempuh lebih ringkas. Hanya 3-4 jam perjalanan, kita bisa sampai dengan membayar Rp. 160.000/orang. Kapal cepat ini beroperasi 2 kali sehari, yaitu pagi dan siang hari. Sedangkan dengan pesawat terbang, waktu tempuh hanya 45 menit dengan membayar Rp. 150.000 saja. Namun perlu diingat, jadwal pesawat ke pulau ini hanya 1 kali dalam seminggu, yakni tiap hari Jumat.

Dalam perjalanan panjang seperti ini, tempat tidur ataupun lokasi yang sedikit lapang untuk merebahkan diri menjadi penting. Sebab, dua belas hingga lima belas jam ke depan kita akan bergelut dengan ombak laut yang terus bergelora. Bagi penumpang yang tak terbiasa, mabuk laut pasti kerap mendera. Hanya tidur yang membuat suasana menjadi lebih baik, walau gelombang sedang tinggi-tingginya.

Berhubung kami datang terlambat, keberadaan tempat tidur telah terisi penuh oleh penumpang yang lebih dahulu tiba. Jadilah kami hanya menempati beberapa buah bangku kosong. Itupun setelah bergerilya ke seantero penjuru kapal. Tepat pukul 17.05 WIT, terompet tanda keberangkatan segera dibunyikan. Para pedagang yang sedari tadi berlalu lalang di lambung kapal mulai meninggalkan jejak. Dari anjungan secara perlahan teluk ambon beserta beberapa kapal nelayan mulai terlihat menjauh seiring laju kapal menuju perairan laut Banda yang terkenal ganas.

Saat seperti ini tak banyak yang bisa kami perbuat, selain ngobrol ngalar ngidul dengan sesama penumpang, sembari mencari tempat kosong yang mungkin bisa kami gunakan untuk berbaring saat malam menjelang. Mencoba duduk selama puluhan jam pastilah sangat menyiksa. Selain badan yang mulai lemah, rasa mual akibat ombak laut, membuat kami harus menemukan tempat yang aman untuk berselonjor. Tapi, sampai lewat tengah malam, lokasi aman belum juga ditemukan.

Untungnya, saat arlojiku merujuk angka 01.15 WIT, beberapa buah bangku mulai ditinggalkan penunggunya. Mungkin mereka telah mendapatkan tempat yang aman untuk berbaring. Melihat saya yang mulai pusing akibat ombak laut, bapak tua yang ada di depanku segera menawarkan tempat itu. Tanpa pikir panjang segera kuhampiri bangku tersebut. Sejurus kemudian kurebahkan diri sembari membetulkan posisi tidur. Sementara temanku, segera menghambur menuju pojokan lorong yang sudah ditinggalkan penghuninya. “Semoga saja, kapal ini masih ada ketika fajar menjelang”, gumanku lirih seraya menutup mata.

Keesokan harinya, sejak pukul 05.00 WIT, kesibukan mulai terasa dikapal ini. Para penumpang yang tadinya tidur, kini mulai berbenah. Toilet yang cuma ada dua pun mulai dipenuhi penumpang untuk aneka kegiatan, seperti mandi, mencuci dan keperluan sholat. Sejak itulah keruwetan mulai menjelma, makin lama makin riuh, seiring pelabuhan Namlea, ibukota Kabupaten Buru mulai tampak diujung sana.

Tepat pukul 09.10 WIT, kapal Ferry yang kami tumpangi merapat di pelabuhan setelah bertarung puluhan jam dengan ganasnya laut. Dari sini, tujuan selanjutnya adalah tempat penginapan, yang terletak di Pasar Namlea. Dengan menumpang ojek dan membayar Rp. 5.000 kita akan diantar menuju hotel yang sesuai dengan keinginan kita. Namun, pengunjung tak perlu khawatir, sebab sewa kamar di pulau ini cukup terjangkau, bervariasi dari kisaran Rp.50.000 – Rp.250.000/ kamar

Potret Kelam Pulau Buru

Pulau Buru di masa Orde Baru terkenal sebagai tempat pembuangan tahanan politik yang terlibat PKI. Pramoedya Ananta Toer salah satunya. Sastrawan terkenal yang pernah mendekam di pulau ini pun sempat menghasilkan empat buah novel yang dikenal sebagai karya masterpiecenya. Selain itu, luka mendalam masih meliputi pulau ini, akibat konflik horizontal bernuansa SARA beberapa tahun lalu yang menjalar dari pulau tetangga, Ambon.

Kedua masa itu meninggalkan luka tak tersembuhkan. Bedanya, jika yang pertama pelaku dan korbannya jelas, sementara yang kedua, tidak jelas siapa pelakunya, sedangkan korbannya jelas, yakni masyarakat sekitar. Kejadian ini terus menjadi kenangan pahit dan trauma mendalam bagi yang mengalaminya.

Banyaknya bangunan yang hancur atau terbakar adalah bukti atas luapan emosi para perusuh. Meski yang menerima akibatnya bukan hanya fisik bangunan, tapi wilayah secara keseluruhan, bisa dipastikan sektor infrastruktur di kabupaten ini mati. Pembangunan tak berjalan.

Walaupun bukan sektor andalan, daerah yang populer sebagai penghasil minyak kayu putih ini merasakan kehilangan dari lapangan usaha konstruksi. Pada awal berdiri sebagai daerah otonom tahun 1999, perputaran uang dari lapangan usaha ini sekitar 14 persen.

Pada tahun berikutnya, saat kerusuhan terjadi, nilainya anjlok sampai 2,3 persen. Berikutnya, nilainya terus menyusut hingga terakhir tahun 2002 yang diraih sektor ini hanya dua persen. Sepertinya tak ada yang berniat membangun atau sekadar merenovasi rumah atau bangunan yang rusak. Mengungsi menjadi prioritas utama.
Lahan-lahan pertanian tanaman pangan dan perkebunan yang ditinggal pemiliknya menjadi sektor lain yang terpinggirkan. Padahal, kedua sektor itu andalan kabupaten ini. Apalagi, hampir 60 persen penduduk pulau ini bermata pencarian petani, sedang sisanya melaut.

Lumbung pangan

Cuaca begitu terik sewaktu kami menjejakkan diri di pulau yang terlihat gersang ini. Tapi, ketika kita melongok ke salah satu unit, tempatnya kaum transmigran berada, bentangan sawah yang terhampar hijau segera menyapa. Batang-batang padi dan pondok peristirahatan para petani menjadi pertanda kehidupan pulau ini. Sawah-sawah itu ibarat oase di tengah padang yang dipenuhi pohon kayu putih.

Buru juga dikenal sebagai sentra produksi beras di Provinsi Maluku. Meski areal yang terpakai untuk sawah tak seluas perkebunan, sumbangsih yang dihasilkannya cukup besar, berada di peringkat kedua setelah perkebunan. Itu yang membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi daerah ini setahun silam untuk melakukan panen raya disana.

Kalau mau melihat Buru yang berbeda, datanglah ke Kec. Waeapo! Saat memasukinya, pemandangan pertama yang menyergap mata adalah bentangan petak-petak sawah. Saluran irigasi dengan air yang melimpah membelah di tengah persawahan. Demikian pula rumah-rumah penduduk dan pertokoan yang tertata rapi di sepanjang jalan utama.

Berkeliling di kawasan itu, barangkali serasa di Pulau Jawa. Bukan saja dari sisi kontur tanah dengan hamparan lahan pertanian, tetapi sebagian besar penduduknya adalah orang- orang Jawa, yakni transmigran yang datang sekitar tahun 1980 maupun eks tapol yang justru lebih dulu membuka daerah itu pada tahun 1970.

Pusat keramaian Waeapo berada di Mako (berasal dari kata Markas Komando). Dari Namlea, ibu kota Kabupaten Buru, jaraknya sekitar 38 kilometer yang ditempuh sekitar satu jam. Infrastruktur jalan darat Namlea-Mako boleh dibilang yang terbaik dibanding ruas jalan lain di pulau itu. Bahkan, di sejumlah kecamatan, sarana jalan masih berupa tanah dan penuh lubang. Beberapa sungai belum ada jembatan, sehingga kendaraan yang ingin ke seberang harus melewatinya, itu pun harus menunggu air surut.

Di daerah Mako, sejumlah petani tampak asyik membajak sawah menggunakan kerbau atau traktor. Saat itu, petani sedang memasuki masa tanam pertama untuk periode tanam 2007-2008 pasca panen raya.

Mako tumbuh menjadi sentra pertanian bagi Provinsi Maluku. Pulau Buru yang dulu dikenal menjadi pulau buangan, kini menjadi lumbung padi bagi propinsi itu. Sawah-sawah begitu subur terlebih didukung sistem pengairan yang baik. Sebuah waduk kini tengah dibangun di sana.

Dalam satu kali musim panen, sawah-sawah di Waeapo mampu menghasilkan 29.000 ton gabah kering, setara dengan sekitar 16.000 ton beras. Menurut para petani, dalam setahun ada tiga kali panen. Rata-rata setiap hektar menghasilkan beras sekitar 3-4 ton.

Ternyata produk pertanian Buru yang diperdagangkan tidak mengalami pengolahan. Seusai panen, pedagang pengumpul datang membeli, selanjutnya dijual kembali ke pedagang besar. Setelah itu, distribusi produk pertanian dan perkebunan disalurkan secara massal, melalui Namlea, pelabuhan utama barang dan penumpang.

Peran Eks Tapol

Bentangan sawah luas yang tercipta ternyata tidak terjadi dengan sendirinya. Ada tangan-tangan perkasa yang mengubahkan semua itu. Ya, itulah tangan-tangan para tapol yang dipaksa bekerja keras siang dan malam. Menurut Gatot (55), mantan tapol asal Kediri yang menetap di Unit VI; para eks tapol-lah yang pertama membuka kawasan sawah disana.

Menurut Gatot, saat ditempatkan di Pulau Buru tahun 1971, kondisi Mako masih berupa hutan belantara dan rawa. Pohon sagu, kayu putih, dan rumput menjadi tanaman yang paling banyak tumbuh. Ada pula pohon-pohon besar yang berdiameter 4-6 m.

Dengan menggunakan peralatan seadanya, para tapol itu mulai membuka lahan. Pohon-pohon besar ditebangi. Sisa-sisa akar pohon yang ukurannya sangat besar juga dibersihkan. Dari jerih payah ini kemudian dilanjutkan oleh para transmigran. Kini areal persawahan di Unit VI mencapai 1.255 ha dari 10.822 ha potensi keseluruhan lahan sawah di Pulau Buru Dari luasan tersebut, 6.000 hektar sawah sudah digarap oleh warga transmigran maupun penduduk asli.

Setelah para tapol dibebaskan dan sebagian besar pulang ke Jawa tahun 1980, lahan yang mereka buka dijadikan areal program transmigrasi. Para transmigran pun didatangkan, baik yang berasal dari Jawa maupun transmigran lokal yang merupakan warga asli P. Buru.

Ada sekitar 300-an tapol yang tak mau pulang ke Jawa. Mereka malah mendaftar menjadi transmigran. Pasalnya, merasa betah tinggal di Pulau Buru atau merasa tak punya harapan lagi di Jawa; karena keluarga sudah tercerai-berai, meninggal, atau istri-istri mereka telah menikah dengan orang lain.

Sebagai transmigran, para eks tapol mendapatkan lahan seluas 2 hektar: 1 hektar lahan sawah, ¾ hektar lahan kering, dan ¼ hektar halaman yang kemudian dijadikan areal rumah. Upaya yang dirintis para tapol tersebut kini telah membuahkan hasil.

Minyak Kayu Putih

Pengunjung yang meninggalkan Buru biasanya tak pernah lupa membawa oleh-oleh berupa minyak kayu putih. Sebagai salah satu penghasil minyak kayu putih dengan kualitas terbaik di Maluku, pohon kayu putih bisa ditemui cukup banyak di hutan-hutan Pulau Buru, khususnya di Kecamatan Namlea, Waplau, dan Waeapo.

Tidak pernah diketahui pasti sejak kapan tanaman kayu putih mulai disuling menjadi minyak di Pulau Buru, yang sampai saat ini terkonsentrasi di wilayah Kecamatan Buru Utara Timur dan Buru Utara Barat. Menurut penduduk setempat, penyulingan sudah beroperasi sejak penjajahan Jepang.

Hingga saat ini tanaman kayu putih tidak dibudidayakan secara khusus. Tumbuhan ini hidup alami di hutan atau lahan milik penduduk. Total lahan pohon kayu putih diperkirakan 120.000 hektar dengan kisaran kerapatan 100-160 pohon per hektar. Pada lokasi-lokasi yang daun kayu putihnya dipanen intensif, tinggi pohon sekitar 1-2 meter. Adapun pada lokasi yang kurang terjamah, pohon bisa mencapai ketinggian 10-20 meter. Pengolahan daun kayu putih menjadi minyak oleh penduduk menggunakan teknik penyulingan sederhana dan biasanya dilakukan langsung di lokasi tempat pohon berada.
Saat kami berkunjung ke salah satu sentra produksi minyak kayu putih, tepatnya di Desa Ubung, kecamatan Namlea. Kami bertemu dengan Lamua (30), pria paruh baya yang sudah 15 tahun bergelut dengan kayu putih. Saat itu dia terlihat sibuk menyuling minyak kayu putih yang dialirkan dalam 2 buah wadah besar.

Menurutnya, menyuling minyak kayu putih tidaklah sulit, hanya waktu yang relatif panjang menjadi kendalanya. Pasalnya untuk menghasilkan 2,5 liter minyak kayu putih murni, kita harus menunggu hingga 6 jam. Sehingga dalam sehari dia hanya bisa melakukan penyulingan sebanyak dua kali.

Sebelumnya, untuk perlakuan awal, wadah yang biasa disebut ketel dibersihkan dari sisa penyulingan terdahulu. Kemudian api pembakaran disiapkan, diiringi dengan pemberian air pada wadah yang berfungsi sebagai pendingin. Lalu tunggu beberapa saat!
Ketika tungku telah siap, daun pohon kayu putih yang telah dikumpulkan beberapa hari sebelumnya dimasukkan ke dalam ketel yang mampu menampung puluhan kilo daun. kemudian ketel tersebut di tutup rapat. Namun, di sebuah sisi ketel, akan disambungkan dengan selang yang berfungsi untuk mengalirkan hasil penyulingan tersebut. Dan Selanjutnya di bagian akhir pada wadah kedua, sebuah selang kembali dialirkan pada jerigen kecil untuk menampung hasil murni penyulingan minyak kayu putih.

Di kabupaten buru, sepanjang jalan ke Namlea kita akan menemukan ribuan pohon kayu putih. Sayangnya, pohon kayu putih itu tidak terawat, sehingga jumlah minyak yang dihasilkan tidak menentu. Layaknya tanaman liar, tidak ada yang mencegah pohon kayu putih terjangkit hama atau memberantasnya. Jarang sekali dilakukan pemangkasan gulma yang mengganggu tanaman induk. Bahkan di saat-saat tertentu akibat cuaca panas, tak sedikit pohon kayu putih yang habis dilalap si jago merah.

Pulau Buru memang sangat dikenal sebagai produsen minyak kayu putih terbaik. Selain karena luasan lahan tanaman kayu putih, topografi pegunungan dengan dominasi iklim kering menjadikan minyak kayu putih P. Buru diakui berkualitas baik. Oleh karena itu, kalau singgah ke Pulau Buru, jangan lupa membawa cendera mata minyak kayu putih yang katanya masih tetap nomor satu. “Ini ‘tanda mata’ yang sah saat menginjak Pulau Buru, mas!”, ujar seorang tukang ojek yang jadi pemandu kami.

Ah..., puas rasanya bisa menjelajahi negeri para eks tapol yang ternyata memiliki potensi sebagai lumbung pangan bagi Propinsi Maluku. Keindahannya masih tetap sama, bahkan sejak 30 tahun silam. Tak salah jika seorang penyair menyebutkan pulau ini sebagai pulau buangan yang penuh harapan.

Wednesday, March 14, 2007

Soeharto Pengkhianat Bangsa?


Ketika Harian Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo dan Suara Merdeka pada 22 Februari 2007 lalu memberitakan harta terpendam Soeharto. Sontak banyak pihak memberi respon positif. Pasalnya, kekayaan hasil korupsi mantan orang nomor satu di negeri ini sukar untuk disentuh.

Akhirnya, cara lain dilakukan oleh Kejaksaan Agung untuk menjerat Soeharto melalui gugatan perdata, setelah gagal menjeratnya dengan tindak pidana. Sebelum gugatan diajukan, Kejagung melayangkan somasi. Isinya, meminta agar Soeharto menyerahkan seluruh uang hasil korupsi sekitar Rp 1,7 triliun.

Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh sendiri yang mengirimkan somasi tersebut. Kejagung juga memberikan tenggat kepada Soeharto untuk menjawab somasi, selambatnya sepekan sejak surat somasi dilayangkan. Kejagung meminta penyerahan hasil korupsi tujuh yayasan yang pernah diketuai Soeharto.

Sesuai surat dakwaan, Soeharto didakwa kasus korupsi tujuh yayasan dengan total kerugian negara Rp 1,7 triliun atau USD 419 juta. Tujuh yayasan yang pernah diketuai Soeharto tersebut adalah Supersemar, Dana Sejahtera Mandiri, Trikora, Dharmais, Dana Abadi Karya Bakti (Dakab), Amal Bhakti Muslim Pancasila, dan Gotong Royong Kemanusiaan.

Menurut Arman, nama panggilan Jaksa Agung, kejaksaan tidak memaksa Soeharto menjawab somasi tersebut. Namun, jika dia mengabaikan somasi, kejaksaan akan memasukkan gugatan ke pengadilan. "Itu sesuai hukum acara (perdata)," tegasnya. Sebaliknya, kejaksaan menjajaki membatalkan gugatan jika Soeharto ternyata mengindahkan isi somasi tersebut.

Dia menambahkan, soal pendaftaran gugatan, kejaksaan tinggal melangkah. Draf gugatan telah selesai dan siap didaftarkan. "Gugatannya sudah selesai kok," ujar mantan aktivis YLBHI tersebut. Pendaftaran gugatan telah dilakukan akhir Februari 2007 lalu.

Harta 7 yayasan Masih Terlalu Kecil
Jumlah Rp 1,7 triliun itu besar sekali, dan karena banyaknya maka sukar untuk dibayangkan. Sebab, kalau ditulis dengan angka, maka Rp 1,7 triliun berarti Rp 1,7 dikalikan 1.000.000 juta, atau Rp 1.700 000 000 000 (angka nolnya ada sebelas). Ini jumlah uang yang besar sekali!

Harta sebesar itu merupakan hasil 7 yayasan yang pernah didirikan Soeharto, melalui cara-cara halus dan kasar dengan menggunakan kekuasaannya sebagai pemimpin tertinggi rejim Orde Baru. Padahal, yayasan-yayasan Suharto (beserta keluarganya) tidak hanya yang tujuh saja. Menurut penelitian George Aditjondro (lihat: Yayasan-yayasan Suharto dalam website http://perso.club-internet.fr/kontak.) ada sekitar 40 buah. Selama ini tidak diketahui dengan pasti berapa besar aset-aset yang dimiliki yayasan-yayasan Soeharto itu.

Kalau Kejagung berusaha supaya Soeharto mengembalikan uang hasil korupsi yang sebesar Rp 1,7 triliun, maka jelaslah bahwa jumlah itu hanya sebagian kecil sekali saja dari harta haram yang telah dikumpulkan dengan cara-cara yang kotor selama 32 tahun kekuasaannya. Sebab, menurut laporan majalah TIME 24 Mei 1999 kekayaan Soeharto (beserta keluarganya) ditaksir USD 15 miliar. Jadi, jumlah uang yang akan “ditarik” oleh Kejaksaan Agung dari Soeharto (yang Rp 1,7 triliun atau USD 419 juta itu) hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan harta Soeharto beserta keluarganya, yang jumlahnya ratusan triliun rupiah.

Soeharto = Orde Baru
Kabar akan digugatnya harta haram Soeharto dalam 7 yayasannya, merupakan langkah awal membongkar kebusukan moral Soeharto (beserta keluarganya) , yang selama puluhan tahun dibungkus segala kemegahan. Penelanjangan kebusukan moral Suharto melalui pembongkaran korupsi besar-besaran merupakan sejarah penting bagi bangsa ini.

Iklim korupsi oleh Soeharto (dan keluarganya) adalah perwujudan sistem politik rejim Orde Baru yang hanya menguntungkan sekelompok orang saja. Menilik besarnya harta haram yang telah dikumpulkan oleh Soeharto, jelaslah bagi banyak orang bahwa Soeharto merupakan pengkhianat besar kepentingan rakyat Indonesia !

Korupsi terbesar Soeharto berkaitan erat dengan penyalahgunaan kekuasaan dan pengaruhnya sebagai presiden, sebagai panglima tertinggi ABRI, sebagai pimpinan utama GOLKAR. Singkatnya sebagai orang paling berkuasa dari rejim Orde Baru. Korupsi ini pun dimungkinkan oleh adanya dukungan dari pembesar-pembesar militer dan Golkar (dan golongan lainnya) yang merupakan tulang-punggung Orde Baru selama puluhan tahun.

Oleh karena itu, pembongkaraan korupsi harta Soeharto (dan keluarganya) bukan hanya merupakan pukulan berat bagi Soeharto saja, melainkan pukulan berat bagi pendukung utamanya. Bahkan lebih jauh lagi, penyelidikan hasil korupsi merupakan pembongkaran kejahatan, keburukan, atau kekbobrokan rejim Orde Baru. Sebab, Soeharto adalah pengejawantahan rejim Orde Baru selama 32 tahun mengangkangi bangsa Indonesia secara paksa dan bertangan besi. Dilihat dari berbagai segi, bolehlah dikatakan; Soeharto adalah Orde Baru, dan Orde Baru adalah Soeharto.

Presiden Terkorup Di Dunia
Korupsi besar-besaran yang dilakukan Soeharto (dan keluarganya) sebagai pemangku kekuasaan tertinggi selama 32 tahun, merupakan pengkhianatan terhadap kepentingan rakyat di bidang politik, sosial, ekonomi, dan HAM. Harta haram yang begitu besar itu telah ditumpuknya di atas mayat ribuan manusia yang dibunuh tahun 65-66, di atas lautan air mata dan darah puluhan juta keluarga korban peristiwa 65.

Sudah rahasia umum jika sejak lama Soeharto dikenal sebagai presiden yang terkorup di dunia, diktator yang melakukan berbagai kekejaman serupa fasis Hitler. Buktinya, kalau kita buka Google (bahasa Inggris) di Internet dan kita ketik kata kunci “Soeharto corruption” maka akan tersedia 317 000 halaman yang berkaitan dengan korupsi Soeharto. Luar biasa familiarnya sosok ‘mantan pemimpin’ yang satu ini.

Menurut laporan organisasi independent internasional yang mengadakan penelitian terhadap masalah korupsi berbagai tokoh di dunia, yaitu Transparency International ( 24 Maret 2004), Soeharto menduduki tempat paling atas di antara 10 kepala negara terkorup di dunia. Menurut laporan itu, korupsi Soeharto meliputi jumlah antara US$ 15 sampai US$ 35 miliar (atau, antara US $ 15.000.000.000 dan US $ 35.000.000.000) . Kalau dihitung dalam Rupiah maka US$ 15 miliar itu adalah 15.000.000.000 dikalikan Rp 10.000 (dibulatkan, sekitar kurs dewasa ini), menjadi Rp 150.000.000. 000.000, atau Rp 150 triliun. Itu paling sedikitnya. Sebab, ditaksir harta haram hasil korupsi Soeharto (dan keluarganya) adalah antara US$ 15 miliar dan US$ 35 miliar. Jumlah yang diumumkan oleh Transparency International hampir sama dengan laporan majalah TIME itu. Angka yang sangat, sangat, dan sangat besar sekali!

Nah, sekarang coba kita pikir dalam-dalam. Apakah harta sebesar itu, betul-betul hasil jerih payah atau usaha yang “bersih” dari Soeharto beserta anak-anaknya, dan bukannya dari berbagai praktek-praktek yang tercela? Dengan kalimat lain, apakah harta sebanyak itu betul-betul murni hasil usaha yang sah dan adil dari Soeharto, Tutut, Sigit, Bambang, Tommy, Mamiek dan Titiek? Atau, dengan pertanyaan lagi; apakah harta sebanyak itu mereka peroleh dengan cara-cara yang biasa dan jujur? Sepertinya, tidak mungkin, alias mustahil !!!

Menumpuk Harta Haram
Harta haram Soeharto (dan keluarganya) sebesar antara US$ 15 miliar sampai US$35 miliar merupakan bukti yang jelas bahwa Soeharto adalah pengkhianat terbesar kepentingan rakyat. Dengan dalih menyelamatkan bangsa dari bahaya Sukarnoisme dan komunisme, Soeharto telah menyalahgunakan berbagai kesempatan dan kekuasaan untuk menumpuk harta melalui jalan yang tidak benar.

Oleh karena itu, sesuatu yang wajar jika sekarang banyak elemen masyarakat menuntut dikembalikannya dana/harta tersebut. Merupakan sesuatu yang memalukan kalau kejahatan yang begitu besar dibiarkan saja dan tidak ada tindakan apapun untuk memeriksa dan mengadilinya. Sehingga tak salah, jika dikatakan bahwa kejahatan Soeharto lebih besar dari seluruh kejahatan yang dilakukan oleh penjahat-penjahat kriminal Indonesia dijadikan satu.

Sejarah bangsa Indonesia akan membuktikan bahwa mengadili berbagai kejahatan, dan kesalahan (termasuk KKN) Soeharto adalah sesuatu yang benar dan perlu dilakukan, demi kebaikan bangsa ini kedepannya. Artinya, membiarkan, mendiamkan atau bahkan menutup-nutupi kejahatannya merupakan sikap yang salah.

Membela Soeharto berarti Konyol
Langkah untuk mengambil alih harta kejahatan Soeharto dan menuntutnya untuk diadili merupakan poin penting untuk bisa mengadakan perubahan dan perbaikan atas berbagai kerusakan yang ditimbulkan rejim Orde Baru. Sebab, mengadili segala kejahatan dan kesalahan Soeharto berarti juga mengadili (secara tidak langsung) kejahatan dan kesalahan para pembantunya dan para pendukung setianya.

Makin terbongkarnya berbagai keboborokan Soeharto beserta keluarga (antara lain: kasus 7 yayasan, kasus simpanan Tommy sebesar 36 juta Euro (atau sekitar Rp 421 miliar) di bank BNP, kasus Sigit dan Bambang) membuat sulitnya para mantan tokoh-tokoh Orde Baru (baca; sebagian pimpinan militer dan GOLKAR) untuk terang-terangan mendukung Suharto. Sekarang, membela kesalahan dan kejahatan Soeharto, sama saja dengan bunuh diri atau konyol.

Sebab, jelas kiranya bagi banyak orang, baik di Indonesia maupun di dunia, bahwa Soeharto adalah maling terbesar yang pernah ada dan karenanya merupakan pengkhianat besar kepentingan negara dan rakyat Indonesia .

(Tulisan ini disarikan dari website
http://perso.club-internet.fr/kontak.)

Sunday, March 11, 2007

"Sebuah Essay, Jendela Nurani Anak-Anak Sampah"

Di balik jendela nuranimu
Kami orang kumuh dan berdebu
Di balik sinar kasih hatimu
Kami yang terbuang bagai barang sampahan

Reff:
Kunanti hari-hari di bawah sinar kasih mentari
Kunanti hari-hari di bawah sinar kasih mentari

Walau sikut harus berpautan
Kami yang terkulai bagi sinarMu Tuhan


Inilah lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak yang tinggal di lingkungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi. Lagu ini telah menjadi semacam mars bagi mereka. Lagu ini mulai di populerkan oleh Sanggar “Satu Untuk Semua”, tempat anak-anak tersebut belajar sambil bermain. Di iringi piano kecil, anak-anak ini melantunkan lagu “Jendela Nurani” (ciptaan Lukman; mantan anak sanggar) dengan begitu bersemangat.

Walau beberapa diantara mereka (baca: anak-anak sanggar) bukanlah anak pemulung, perkawanan mereka ternyata tidak mengenal strata. Buktinya, anak anak ini -baik pemulung maupun tidak- selalu berkumpul setiap hari Minggu di sebuah sanggar yang berdiri tahun 2005 lalu. Kemunculannya pun sempat didukung oleh sebuah stasiun tivi swasta dalam pengadaan sekretariat.

Di sanggar inilah mereka mendapat pendidikan informal yang tidak mereka dapatkan di sekolah maupun di rumah. Di sanggar berukuran 7x5 m ini anak-anak diajarkan bagaimana caranya membaca dan menulis, bahasa Inggris, bernyanyi, memainkan alat musik, berpikir kreatif dan mengolah sisa-sisa/ limbah rumah tangga.

Untuk kegiatan yang terakhir ini, telah menjadi semacam “ikon” kegiatan anak-anak disini. Pasalnya, pertama kali menjejakkan kaki di sanggar yang berlokasi di Jl. Naragong Pangkalan V, Bantar gebang, Bekasi, kita akan disuguhi aneka kerajinan buatan anak-anak ini. Mulai dari pintu masuk sampai dalam ruangan, semua dipenuhi bermacam-macam kreasi olahan tangan, seperti; lukisan dari bahan goni, wayang kardus, kotak aneka warna, maket dari gabus, hiasan dinding dan kerajinan dari ranting kering.

Melihat realitas ini, aku jadi teringat masa kecil dulu. Saat itu, di kampungku juga ada tempat semacam ini, hanya bedanya disana tidak diajarkan bagaimana caranya berpikir kritis. Semua lebih terfokus pada pelajaran sekolah, yang secara tidak langsung membuat anak-anak Indonesia terjebak pada sistem pemeringkatan, yang dalam bahasa populisnya disebut “rangking”. Mereka akan dikatakan bodoh, jika tidak bisa mencapai rangking 1 sampai 10 besar. Tapi benarkah demikian?

Sistem pendidikan kita yang bersifat linear tak pernah memperhatikan keadaan psikologis dan perkembangan anak. Semua di jejali begitu rupa, sehingga anak menjadi jenuh. Pendidikan telah dianggap sebagai momok yang mengerikan. Bahkan begitu mendengar kata “matematika” saja, banyak anak yang alergi karenanya. Semua itu tercipta karena “gaya” pendidikan dijadikan ajang uji coba oleh menteri yang menjabat. Belum lagi, jika kita bicara tentang anggaran 20% APBN yang katanya dialokasikan buat pendidikan, rasanya masih jauh! Pasalnya, disela-sela mahalnya biaya pendidikan, ternyata 20% anggaran, tidak langsung di kucurkan begitu saja, masih dibagi-bagi dalam beberapa tahapan. Bahkan, jamak terdengar adanya “penguapan” anggaran demi pengadaan barang ini dan anu. Yang, kalo di telaah lebih lanjut, membuat kita semakin pesimis dengan pendidikan bangsa ini.

Nah, dari pada semakin pusing, ijinkan “sang kelana” berceloteh lagi tentang anak-anak Bantar Gebang yang kini semakin paham akan hak-haknya. Saat kami berkesempatan mengunjunginya minggu siang (11/03/07), tawa canda dan senyum ramah begitu tulus tergambar dari wajah-wajah mungil mereka. Menurut Resha (21) -penanggungjawab sanggar-, ada empat puluhan anak yang tergabung di sanggar ini. Tapi, karena beragam kesibukan, tak semua bisa hadir dalam setiap pertemuan. Sama seperti hari ini, hanya dua puluhan anak yang terlihat wara wiri.

Mereka pun terbagi dalam beberapa kelompok kecil. Ada yang sibuk berlatih vokal, sebagai ajang latihan dan persiapan guna mengikuti “Festival Anak Pinggiran” yang rencananya akan berlangsung medio Juni 2007. Sekelompok lagi (anak usia 8 – 11 tahun) malah sibuk membuat kerajinan wayang dari kardus yang di mentor oleh seorang anak yang lebih besar. Kelompok lain juga tak mau kalah. Anak-anak yang punya hobi musik bisa mengembangkannya di sini. Dengan peralatan seadanya, seperti; gitar, tam-tam, pianika dan piano kecil, mereka pun belajar alat-alat musik. Walau nada yang dihasilkan terdengar gak jelas, tetap saja anak-anak ini antusias. Maklum, menggunakan alat musik menjadi permainan baru yang tidak mereka miliki di rumah. Sedangkan sisanya tergabung dalam kelompok prakarya yang menggunakan media gabus. Akhirnya, dari tangan-tangan kecil ini tercipta aneka maket, seperti rumah dan peta kawasan sampah Bantar Gebang

Di waktu-waktu tertentu, di sanggar ini pun sering dilakukan pertemuan, baik melalui diskusi maupun pameran dengan penduduk sekitar, guna menunjukkan kemampuan anak-anak yang tergabung disini. Pernah suatu ketika, orang tua seorang anak merasa bersalah dengan tindakan kasarnya, setelah membaca puisi hasil tulisan tangan anaknya. Orangtua tersebut menangis sejadi-jadinya. Dalam puisi itu, si anak menceritakan perlakuan kasar yang kerap dialaminya. Atau.., ada juga orang tua yang semakin sayang pada anaknya, setelah tahu anaknya punya kelebihan lain, seperti seni peran, menggambar ataupun bermain musik. Forum-forum seperti ini akan terus dibudayakan, untuk menunjukkan bahwa sanggar ini bukan sekedar tempat bermain, tetapi juga untuk menggali kemampuan si anak yang sering terabaikan oleh orangtua.

Awal Mulanya

Sanggar yang resmi berdiri awal 2005 lalu, ternyata tidak hadir begitu saja. Ada rentetan cerita yang mengikutinya. Cerita sedih yang jadi sejarah berharga bagi perkembangan pendidikan alternatif di tempat ini.

Awalnya, tersebutlah sebuah nama. Alex, demikian orang-orang kampung memanggilnya. Dia adalah seorang pemuda asal Jakarta yang mendedikasikan hidupnya bagi kaum marjinal, khususnya anak-anak yang terpinggirkan. Dengan modal semangat, pemuda yang pernah berafiliasi dengan NGO dan sempat mengecam pendidikan tinggi ini, memulai perjalanan panjangnya dengan menyusuri kampung demi kampung di daerah Bekasi, Bantar Gebang khususnya.

Penerimaan terhadapnya juga beragam. Ada yang sepakat dengan pola pengajarannya dan ada juga yang menolak. Mereka setuju karena ada yang rela mengajari anak-anak kampung yang sebagian besar buta huruf dengan orangtuanya pemulung. Sedang sebagian menolak, karena waktu yang melibatkan anak-anak untuk urusan produksi harus terbuang percuma. Menurut mereka, belajar hanya cukup di sekolah. Ya, begitulah kehidupan, ada yang kontra dan ada yang pro.

Sejak dimulai tahun 2001 silam, jumlah anak-anak yang diajarinya cukup fluktuatif. Kadang banyak, kadang sedikit. Ini terjadi, karena pola pengajaran dengan “system gerilya” yang dianutnya memiliki banyak kelemahan. Bayangkan saja, untuk mengajar anak-anak kampung yang masih belum bisa menulis maupun membaca, harus dilakukan di banyak tempat. Bisa di rumah orang, bisa di kandang ayam, bahkan di lapangan terbuka. So, bisa dipastikan, tak semua anak mengikuti sampai selesai. Pasalnya, selain kekurangan bahan ajar seperti buku dan alat peraga, dia pun sering kewalahan karena bertindak “one man show”.

Karena merasa sendiri itulah dia membutuhkan seorang partner yang bisa diajak berbagi beban, saat mengajari anak-anak pemulung tentang ilmu pengatahuan. Untungnya, di tahun 2003 lalu, Alex mengalami perjumpaan dengan Rhesa, perempuan setempat yang punya minat besar tehadap pendidikan anak. Setelah melalui diskusi dan pertemuan yang intens, mereka berdua sepakat untuk memajukan ide tersebut dalam sebuah wadah yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘sanggar’.

Saat itu Rhesa berpendapat, jika ingin memajukan pendidikan anak-anak ‘sampah’ ini, kita harus punya tempat yang bisa memfasilitasi keinginan anak-anak tersebut, baik dalam hal pelajaran maupun bakat mereka. Dan lagi-lagi, aktualisasi rencana itu tidak terjadi begitu saja. Sampai tahun 2004, mereka masih melakukan pendidikan ‘gerilya’ pada anak-anak itu, kebanyakan sudah dilakukan di rumah-rumah warga, bukan di lapangan ataupun di kandang ayam yang tak terpakai.

Dan, di penghujung 2004, sebuah kisah tragis pun terjadi! Saat hendak pulang ke Jakarta, Alex yang sedang mengendarai sepeda motor di tabrak bus dari belakang. Sejurus kemudian, kendaraan besar tersebut melindas motor dan menghempaskan pengendaranya. Kecelakaan itu yang membuat Alex mengalami luka parah dan langsung di larikan ke rumah sakit terdekat. Namun malang, beberapa hari berselang nyawanya tak tertolong. Alex pun meninggal!

Kini tinggallah Rhesa sendiri dengan impian besar mereka! Awalnya Rhesa merasa ragu dengan keberhasilan pendidikan alternatif ini. Pasalnya, sepeser uang untuk mendirikan sanggar ia tak punya. Yang dia punya hanyalah semangat dan sumbangan buku-buku dari masyarakat sekitar. Tapi, dasar dia perempuan tegar, selesai SMU dia mulai bangkit. Loby sana loby sini pun dia lakukan, termasuk ke banyak perusahaan. Sampai akhirnya, tak dinyana tak di duga, sebuah stasiun swasta merasa tertarik dengan ide pendidikan alternatif. Perusahaan ini pun menyumbangkan sejumlah uang guna pembangunan sanggar.

Namun peruangan belum selesai. Pasalnya, mereka belum punya tanah yang bisa digunakan untuk mendirikan sanggar. Itu yang membuat Rhesa semakin bingung, sementara bahan bangungan akan tiba beberapa minggu lagi. Akhirnya, tak ada jalan lain selain mengadu ke orangtua. Untung, orang tuanya mengerti permasalahan anaknya.

Kemudian diberilah sebuah lahan seluas 7x5 m, berada di depan rumah mereka sebagai tempat pendirian sanggar. Kemudian tempat ini jadi titik awal berdirinya sangar “Satu Untuk Semua” yang sampai saat ini masih berdiri kokoh. Ternyata impian Alex yang kini diteruskan Resha tidaklah sia-sia.

Anak ‘Sampah’ Yang Beda

Hari itu, pada pertemuan informal yang lebih tepat disebut sebagai diskusi, terlihat bagaimana cara pandang dan pola pikir anak-anak tersebut. Ternyata mereka tak beda dengan anak kebanyakan. Cara mereka mengutarakan pendapat dan mendebat sesamanya, menjadi pertanda tumbuhnya iklim demokrasi di tempat yang mungkin tak banyak orang tahu.

Sama seperti, ketika anak-anak ini sedikit ‘jengah’ dengan sebutan anak pemulung, hanya karena posisi rumah mereka berada di Bantar Gebang. Menurut mereka tidak semua anak yang bergabung di sangggar ini adalah anak pemulung. Mereka berasal dari beragam latar belakang. Ada yang orang tuanya wiraswasta, tukang ojek, pegawai, buruh pabrik dan pemulung tentunya.

Begitu juga dalam hal pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika. Untuk waktu-waktu tertentu, mereka akan diajari Bahasa Inggris dengan benar oleh Resha, yang kini mengambil jurusan Sastra Inggris. Sehingga jangan heran, untuk kondisi tertentu anak-anak ini akan langsung menjawab dalam Bahasa Inggris. Sedangkan untuk mengajar Matematika, anak-anak ini akan di bimbing oleh kakak pengajar yang lain. Ini dilakukan, karena banyak anak yang terkendala dalam mata pelajaran ini.

Dalam hal bermusik pun, anak-anak ini patut diacungi jempol. Walau tak mengecap pendidikan/ les musik, beberapa anak terlihat mahir menggunakan alat musik. Bisa jadi, karena memang bakat yang kemudian di latih dengan serius. Hanya dengan memperhatikan mereka bisa mengikutinya. “... awalnya, cuman liat-liat doang! Trus diajarin! Kemudian gue coba-coba. Eh, ternyata bisa”, ungkap Anjun, seorang anak yang kini bisa menguasai tam-tam dan piano.

Dari segi pendidikan formal, anak-anak disini juga merupakan yang terbaik. Tak sedikit, anak-anak yang bergabung di tempat ini meraih rangking terbaik di kelasnya. Tuti, misalnya! Anak pemulung kelas kelas tiga ini, sejak mulanya selalu meraih peringkat dua di kelasnya. Orangtuanya pun mendukung Tuti menggapai cita-citanya.

Munculnya kendala.

Pada awalnya, perkembangan sanggar cukup membanggakan. Pasalnya, kucuran dana dari banyak pihak masih berjalan, termasuk stasiun televisi swasta tadi. Segala keperluan sanggar berhasil di benahi, mulai dari keperluan meja, bangku, lemari dan seperangkat alat musik sederhana disumbangkan oleh banyak pihak. Buku-buku penunjang pun mulai berdatangan dari berbagai kalangan termasuk NGO.

Karena konsep yang ditawarkannya, banyak NGO mulai meliriknya sebagai percontohan pendidikan luar sekolah. Aneka iming-iming pun mereka tawarkan. Mulai dari perbaikan sarana/ prasarana sampai beasiswa. Namun dalam pelaksanaannya tidak demikian. Kebanyakan mereka (baca: NGO) melakukannya demi kepentingan sendiri, atau lebih tepatnya demi sekelompok orang. Ini yang membuat Resha menjadi patah arang dan menolak setiap ada NGO yang menawarkan bantuan. Niat untuk menolong ternyata dibumbui aroma kepentingan.

Dalam tahun kedua, perkembangan sanggar mulai surut. Bantuan dari televisi swasta telah dihentikan dengan alasan yang tak jelas, sementara sumbangan donator tak bisa dipastikan. Jadilah sanggar berjalan dengan terseok-seok. Saat anak-anak berkumpul, sepertinya tak ada yang kurang. Kekurangan baru terjadi ketika anak-anak mulai berebut bahan ajar, seperti buku dan peralatan lainnya.

Awalnya, ada niatan melakukan iuran bagi anak-anak yang sering datang, guna kelangsungan sanggar. Namun, rencana itu pupus karena ketidakmampuan mereka. Apalagi, semua anak-anak itu masih bersekolah dan beberapa diantaranya harus ‘mulung’ membantu orang tua. “kayaknya, sulit untuk minta iuran kepada anak-anak ini”, ungkap Rhesa, perempuan yang kini duduk di semester empat sebuah PTS.

Sampai saat ini, sanggar bisa bertahan hanya dari sumbangan perorangan, khususnya orang tua anak-anak yang peduli dengan keberadaan sanggar. Selain itu, gak ada! Sehingga untuk kemungkinan kedepannya, tak ada yang bisa menjamin.

Hanya beban moril yang membuat Resha ikhlas menjalankan kegiatan yang disebutnya sebagai “kewajiban untuk berbagi”. Sebab, jika dihitung secara materi, dia tak mendapatkan apa-apa. Malah lebih sering ‘tekor’. Sepertinya, hanya kepuasan bathin yang membuatnya bisa bertahan sampai sekarang.

Saat kutanya, berapa lama dia bisa bertahan dengan pendidikan alternatif ini. Dengan ekspresi pasrah, dia berujar: sampai anak-anak yang datang hilang dengan sendirinya!
(Jakarta, Senin, 00.23.13 WIB)




... Kehidupan sosial pada dasarnya adalah bersifat praktis. Semua misteri yang menyesatkan teory kedalam mistik menemukan pemecahan rasional dalam kerja praktis manusia dan dalam pemahaman praktis tersebut.(Karl Marx)

Saturday, March 10, 2007

"BeRwIsAtA Ke KuBaH AgEuNg"

Menikmati pemandangan dari tempat tinggi tentulah memberi kesan yang berbeda. Dekat dengan alam sembari menakar diri serta membina kekompakan, bisa kita lakukan saat berwisata ke kubah Ageung.

Kubah Ageung, sebutan masyarakat sunda untuk Gunung Gede (2958 mdpl). Kubah ini terletak pada 6°47' LS dan 106°59' BT di Propinsi Jawa Barat, berada dalam pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP) yang ditetapkan pemerintah RI pada 6 Maret 1980, meliputi areal seluas 22.500 ha. Penetapan ini merupakan peneguhan dari perluasan kawasan oleh Belanda di tahun 1925 sebagai cagar alam pertama di Indonesia.

Berkunjung ke Taman Nasional Gede-Pangrango merupakan wisata alam yang sangat menyenangkan. Selain wisata pendakian, kita bisa menjumpai banyak air terjun, hutan alam, kawah berapi, padang bunga Edelweis, taman Bunga Cibodas, sumber air panas dan juga pos-pos pengamatan burung. Kawasan ini juga dipenuhi tak kurang dari 300 jenis burung endemik, mendekati duapertiga dari jenis burung yang ada di Jawa.

Taman Nasional Gede-Pangrango melingkari dua puncak gunung berapi, Gunung Gede yang masih aktif dan Gunung Pangrango yang sudah mati. Kedua kerucut ini merupakan rangkaian pegunungan yang meluas dalam bentuk busur melalui; Sumatera, Jawa dan Bali. Terdapat kurang lebih 40 gunung berapi besar, tiga puluh diantaranya masih aktif. Dan seperti halnya Gunung Gede, kesemuanya relatif baru, kurang lebih satu juta setengah tahun yang lalu.

Pada jaman Pliosen, sejumlah besar tumbuhan pegunungan dari wilayah di sebelah utara yang beriklim empat musim menyebar ke selatan hingga ke Jawa. Selama periode interglasial Pleistosen, tumbuhan ini mundur ke atas dan di dataran rendah yang digantikan oleh vegetasi tropis. Sekarang, hutan di kawasan taman nasional, merupakan tempat berlindung terakhir bagi sejumlah besar jenis-jenis tumbuhan semacam itu.

Gunung Gede,merupakan gunung yang sering dikunjungi wisatawan dan relatif mudah untuk di daki. Gunung gede bisa dicapai dari Cibodas, gunung Putri dan dari Selabintana Sukabumi. Dari semua jalur, Cibodas merupakan rute populer yang banyak dilalui pengunjung. Sedangkan rute Gunung Putri merupakan jalur terdekat bila ingin mendaki Gunung Gede. Sementara jalur Selabintana merupakan rute terpanjang dan tersulit. Para pendaki diminta untuk waspada saat menggunakan jalur ini, karena jalur yang terputus dan rawan longsor.

Sebuah Legenda

Menurut legenda, kawasan Gunung Gede merupakan tempat bersemayam Pangeran Suryakencana. Beliau bersama rakyatnya menjadikan alun-alun sebagai lumbung padi yang disebut Leuit Salawe. Alun-alun Surya Kencana merupakan sebuah lapangan yang dipenuhi Edelweiss (baca; bunga abadi) di ketinggian 2.750 mdpl, berada di timur puncak Gede,. Suryakencana adalah nama seorang putra Pangeran Aria Wiratanudatar (pendiri kota Cianjur) yang beristrikan seorang putri dari mahluk halus. Pangeran Suryakencana memiliki dua putra yaitu: Prabu Sakti dan Prabu Siliwangi.

Dalam kondisi tertentu, pendaki yang berada dikawasan Alun-alun Suryakencana, bisa mendengar suara tapal kaki kuda yang berlari, tapi tak terlihat wujudnya. Konon, kejadian ini pertanda Pangeran Suryakencana sedang turun ke alun-alun dikawal para prajuritnya.

Hingga kini, bekas singgasana Pangeran Suryakencana berupa batu besar berbentuk pelana bisa kita temui di tengah alun-alun, biasa disebut Batu Dongdang. Dari sini, sumber air mengalir hingga ke tengah alun-alun, biasa dipakai untuk keperluan minum dan mandi.

Di atas bukit yang mengitari Alun-alun Suryakencana, kita juga dapat menemukan sebuah situs kuno yang diyakini masyarakat sekitar sebagai makamnya Pangeran Suryakencana. Dikisahkan, masa pemerintahan Prabu Siliwangi di Jawa Barat, terjadi peperangan yang sangat hebat melawan Majapahit dan Kesultanan Banten. Setelah kalah dalam perang tersebut Prabu Siliwangi sempat melarikan diri bersama para pengikutnya ke Gunung Gede.

Itu sebabnya, di sekitar gunung ini banyak ditemukan makam yang dianggap keramat oleh sebagian peziarah, seperti petilasan Pangeran Suryakencana dan Prabu Siliwangi. Kabarnya, kawah Gunung Gede yang terdiri dari, Kawah Ratu, Kawah Lanang, dan Kawah Wadon, merupakan kerajaan Pangeran Suryakencana

Sejarah Letusan

Letusan Kubah Gede pertama di catat oleh seorang Belanda peranakan Jerman, Franz Wilhelm Junghun, pada tahun 1747. Diterangkan bahwa letusan G. Gede pada umumnya kecil dan singkat, kecuali yang terjadi pada tahun 1747 – 1748 yang mengeluarkan aliran lava dari Kawah Lanang. Kemudian letusan terjadi lagi pada November 1840 – Maret 1841. Pada bulan Desember 1840, lidah apinya menyembur keluar kawah setinggi lebih dari 200m. Hujan kerikil dan awan debu menyertai kejadian itu. Tidak ada laporan korban jiwa akibat letusan tersebut.

Dengan pola acak, gunung ini selalu saja mengeluarkan letusan di tahun-tahun selanjutnya. Tercatat, periode terpendek kurang dari satu tahun dan yang terpanjang 71 tahun. Letusan itu terjadi pada tahun 1848 hingga tahun 1957, dan terakhir di tahun 1972. Pada tahun itu, menurut Hamidi (1972, p.3) dalam bulan Juli, Kawah Lanang mengeluarkan asap putih tebal berbau belerang bersuara mendesis. Lokasi tempat tembusan ini telah bergeser lebih kurang 10 meter. Di Kawah Ratu tembusan fumarola terdapat di tebing sebelah utara, asapnya berwarna putih dengan tekanan lemah. Dasar kawahnya tertutup lumpur. Di Kawah Wadon, tembusan fumarola terdapat di sebelah tenggara, berbau belerang berwarna putih tipis dengan tekanan rendah. Tidak ada perubahan kawah yang menyolok

Hingga kini, lubang kawah masih mengeluarkan gas belerang. Keasamannya mempengaruhi vegetasi sekitar dan memperkaya tanah dengan tambahan mineral. Umumnya, hutan dataran rendah merupakan sistem tertutup, yaitu dengan masukan atau lepasan nutrisi alami yang sangat sedikit. Sedangkan hutan pegunungan di Jawa Barat sangat berbeda. Hutan-hutan itu berada dalam sistem terbuka: tanah tercuci oleh hujan dan sungai dipenuhi oleh batu-batuan yang hancur serta semburan debu vulkanik. Tanah di lereng yang lebih rendah mendapatkan kesuburan karena cuaca dan adanya kegiatan biologis. Oleh karena itu, tanah tersebut lebih kaya Lumpur dan humus daripada tanah di kawasan atas.

Proses Geologi

Gunung Gede merupakan gunung api strato. Lereng gunungnya berkembang bebas kearah selatan dan tenggara. Pada bagian barat dan utara, gunung ini dibatasi oleh Gunung Pangrango yang membentuk gunungapi kembar dengan G. Gede. Pada arah yang lain, dibatasi komplek gunung api tua. Lereng bagian selatan lebih terjal dibandingkan dengan lereng lainnya, memperlihatkan topografi yang kasar dan irisan erosi yang dalam. Hal ini mungkin disebabkan adanya perpindahan aktifitas vulkanik ke arah utara, kearah endapan muda.

Gunung Gede dan sekitarnya dapat dibagi kedalam beberapa satuan morfologi: bentuk asal vulkanik (sisa-sisa kawah/amblasan dan irisan lereng pada endapan vulkanik), bentuk-bentuk asal denudasi vulkanik (G. Joglo dan Telaga), bentuk-bentuk asal denudasi (G. Kencana), dan bentuk-bentuk asal struktur (punggungan lava).

Bentuk setengah lingkaran mencirikan sisa kawah, yang terbuka ke arah barat laut dan mempunyai dinding yang terjal. Bagian atas dari kawah adalah paling terjal dengan tinggi 50-200m dan diameter 1600m. Kawah dibentuk oleh perselingan dari lava teralterasi dan piroklastik. Kawah aktif G. Gede dicirikan oleh bentuk tapal-kuda yang membuka ke arah utara. Dinding yang sangat terjal mempunyai tinggi dan diameter masing-masing 200m dan 1000m.

Perkembangan dan perpindahan dari kawah dicirikan oleh adanya saling potong antara satu kawah dengan kawah yang lainnya. Ada 7 kawah yang berada di daerah puncak, yaitu: Kawah Gumuruh; merupakan kawah terbesar dan tertua, dengan diameter 1600m, kawah ini mempunyai bentuk kawah tapal-kuda yang membuka kearah baratlaut, mempunyai tinggi sekitar 200 m dan dasar kawah datar yang sempit. Kawah Gede, terletak di dalam kawah Gumuruh dengan diameter 1000m, dinding yang terjal mempunyai tinggi 200 m, kawahnya membuka ke arah utara. Kawah Sela, terletak di utara sisi kawah kawah Gede dengan diameter 750m. Sisi kawah tidak terlihat karena erupsi yang lebih muda. Kawah Ratu, dengan diameter 300m dan dinding curam, berlokasi di dalam Kawah Gede. Kawah Lanang, merupakan kawah aktif dengan ukuran 230 x 170m dan dinding kawahnya sangat terjal. Kawah Baru, terletak didalam Kawah Gede. Kawah Wadon, terletak dibagian utara kawah Gede dengan ukuran 149 x 80 m, dicirikan adanya lapangan solfatara dan fumarola. Saat ini, Kawah Lanang dan Kawah Wadon merupakan kawah yang paling aktif.

Komposisi lava G. Gede berupa andesite hypersten augite vitrofirik sampai andesite augite hypersten. Sejumlah batuan berkomposisi basalt ditemukan pada lereng utara G. Pangrango. G. Gede menghasilkan aliran lava andesitik dari sumber magma primer tholeitik pada kedalaman zona Benioff 120 - 125 km.

Jalur Gunung Putri

Gunung Gede merupakan salah satu gunung yang paling sering dikunjungi wisatawan. Tak kurang dari 50.000 pelancong mengunjunginya tiap tahun, meskipun peraturannya cukup ketat. Tingginya angka kunjungan disebabkan oleh lokasinya yang dekat dari Jakarta maupun Bandung. Puncaknya bisa terlihat jelas dari Cibodas, Cianjur dan Sukabumi.

Untuk recovery, pengelola kawasan memberlakukan penutupan bagi umum tiap bulan Desember hingga Maret. Hal ini bertujuan untuk menekan kerusakan yang dilakukan oleh pendaki tak bertanggung jawab. Bahkan, untuk mengatur kuota pengunjung yang boleh mendaki, sejak 1 April 2002 diberlakukan sistem booking minimal 3 hari sebelumnya. Jumlah pendaki pun dibatasi hanya 600 orang per malam, 300 melalui Cibodas, 100 melalui Selabintana, 200 melalui Gunung Putri. Pendaftaran dilakukan di Wisma Cinta Alam, kantor Balai Taman Nasional Gn. Gede-Pangrango pada hari kerja.

Jika semua perlengkapan sudah dipenuhi dan surat ijin sudah ditangan, kini saatnya melakukan pendakian! Dari ketiga rute yang ada, jalur Gunung Putri, merupakan rute dengan waktu tempuh tercepat. Rute ini menjadi pilihan yang tepat bagi pendaki yang ingin mendaki Gunung Gede. Pasalnya, kita akan dituntun langsung menuju puncak. Sedangkan pengunjung yang ingin mendaki Gn. Pangrango, bisa memulainya dari jalur Cibodas.

Berhubung waktu yang disediakan pengelola kawasan sangat terbatas, kami pun memulainya pada malam hari. Tepat pukul 23.45 WIB, tim tiba di Desa Sukatani, Kec. Gunung Putri, setelah berkendara selama 20 menit dari Istana Cipanas yang merupakan pintu masuk ke tempat ini.

Usaai rehat sejenak di sebuah warung guna rechecking terakhir, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pondok Jaga Taman Nasional Gede-Pangrango yang berjarak 500 m dari desa ini. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi karena menanjak, bisa dipastikan energi akan banyak terkuras. Cuaca pun cukup dingin malam itu. Berjalan dengan beban ±20 kg di tengah hembusan angin menusuk tulang, membuat kami begitu kepayahan. Maklum, setiap awal pendakian pasti sangat menyiksa, apalagi kami sudah lama tidak mendaki gunung.

Secara perlahan namun pasti, iring-iringan berhasil menggapai pos jaga, setelah melewati daerah persawahan dan ladang penduduk. Pos ini berada agak jauh di dalam hutan, tepatnya di kiri jalur. Biasanya, surat ijin harus kita serahkan kepada penjaga pos sebagai kelengkapan administrasi. Disini juga akan dilakukan pemeriksaan ulang terhadap kelengkapan, jumlah tim, dan rencana kembali.

Dari sini, jalur mulai menanjak dengan lebar 1- 2m. Berbekal headlamp dan senter, tim mulai menapak dengan sangat hati-hati. Pasalnya, jika salah melangkah kita bisa terjerembab. Mendaki pada malam hari bukanlah pilihan yang baik. Selain tidak bisa melihat sekeliling, biasanya badan kita akan lemas akibat aktivitas siangnya. Belum lagi, jika terjadi kecelakaan, kita akan kesulitan untuk evakuasi karena keadaan yang gelap. Pendakian malam dibolehkan, jika kita sudah hafal dan paham dengan rute yang akan dilalui.

Tak terasa, setelah 20 menit berjalan, kami pun tiba di pos I di ketinggian 1850 mdpl. Tempat ini merupakan bekas pos penjagaan yang sudah tidak terpakai lagi. Disini, kami menemukan dua buah tenda yang di dirikan untuk bermalam. Lega rasanya menemukan pendaki lain, pertanda kami tidak sendiri. Tak kurang 10 menit kami habiskan di tempat ini untuk rehat sejenak.

Selanjutnya, karena badan mulai beradaptasi, pendakian kami teruskan sampai Pos Legok Lenca di ketinggian 2.150 mdpl, kemudian berlanjut hingga Pos Buntut lutung (2.300 mdpl). Dua pos ini berhasil kami tempuh hanya dalam waktu 40 menit. Yup.. sepertinya lumayan, bagi kami yang sudah lama tidak mendaki!

Rencana awalnya, hari itu kami harus tiba di Alun-alun Suryakencana saat pagi menjelang. Maklum, waktu yang tersedia cuma dua hari untuk mencapai puncak Gede. Namun nasib berkehendak lain. Saat tiba di Buntut Lutung, kami terlibat pembicaraan dengan tim lain yang sedang berkemah. Akibat perbincangan tersebut, beberapa kawan jadi mengantuk. Dan, jadilah kami terlelap di tempat itu.

Baru keesokan harinya, saat pukul 05.15 WIB, tim mulai melanjutkan perjalanan dalam keadaan ngantuk. Sekeliling mulai terang saat semburat merah sang surya menyeruak masuk ke sela-sela pepohonan. Mau gak mau, akibat keterlambatan ini, kami harus berjalan ekstra cepat. Jalur yang tadinya lebar, kini mulai menyempit mirip jalan setapak, dengan tanjakan yang makin terjal.

Setelah berjalan sejauh 30 menit, kami pun tiba di pos selanjutnya. Lawang seketeng namanya. Pos ini hanya berupa pondokan yang sudah rusak, berada di ketinggian 2500 mdpl. Di tempat ini, kami mulai hari dengan sarapan roti yang dilapisi sereal plus selai nenas serta secangkir susu sebagai padanannya. Ehm... Nikmat betul rasanya! Sarapan di udara terbuka di pagi hari, tentulah memberikan kesan yang berbeda.

Kondisi badan semakin fit setelah diisi. Target selanjutnya adalah Simpang Meleber. Menurut informasi, jarak terjauh antar pos, ada di tempat ini. Betul saja, setelah berjalan lebih dari 30 menit, pos yang sekelilingnya diberi pembatas, belum juga kami temukan. Kabarnya, di tempat ini banyak pendaki yang tersesat akibat mengikuti jalur ke kiri yang sedikit menurun. Karena itulah untuk menghindari salah arah, kini di sekeliling pos telah dipagar dan diberi tanda. Hanya arah lurus yang akan membawa kita menuju Alun-alun Suryakencana.

Di lokasi ini, kami beristirahat agak lama karena kelelahan. Aneka makanan dan minuman kembali digelar untuk menambah kebugaran. Dalam olahraga ekstrim seperti ini, dibutukan minimal 2500 kalori per harinya sebagai pengganti energi tubuh. Untuk itulah makanan dengan kadar kalori tinggi sangat diperlukan. Sehingga jangan heran, umumnya menu logistik pendaki merupakan makanan kalori tinggi dan siap saji.

Dari Simpang Maleber, perjalanan tinggal sedikit lagi menuju alun-alun. Tak sampai 25 menit, kami telah tiba disana. Jam menunjuk pukul 10.25 WIB sewaktu sampai di di alun-alun sebelah barat. Disini, kami berpapasan dengan pendaki yang baru tiba dari Gn. Pangrango yang rencananya akan turun melalui jalur Gunung Putri.

Di alun-alun ini, sejauh mata memandang, kita akan disuguhi oleh hamparan luas padang Edelweiss (baca: bunga abadi). Sepertinya, tak ada tempat yang punya kawasan Edelweiss seluas ini. Hanya decak kagum yang bisa kami ungkapkan atas keindahanya.

Berbeda dengan jalur sebelumnya, disini kita tidak akan menemukan tanjakan. Selanjutnya, kita harus mengarah ke timur, karena rute menuju puncak Gede ada disana. Dari barat sampai ke timur jaraknya cukup jauh dekat. Butuh waktu 20 menit berjalan. Karena keindahan tempat ini, sembari berjalan, anggota tim menyempatkan diri untuk berfoto dengan latar belakang edelweis maupun puncak Gede.

Waktu merujuk angka 12. 23 WIB, saat kami tiba di alun-alun timur Suryakencana. Di tempat ini kami dibuat kaget, dengan banyaknya tenda pendaki lain yang telah lebih dahulu tiba. Sebagian dari mereka berada dalam kelompok-kelompok kecil, sedang sisanya berkeliling.

Usai mencari tempat yang rata dan terlindung dari angin, sejurus kemudian aku pun mendirikan tenda untuk bermalam. Sementara teman-teman sibuk dengan aktivitas lainnya, seperti; mencari air, berbenah dan memasak. Berhubung tubuh sudah lemah akibat perjalanan panjang, keinginan menggapai puncak ditangguhkan dulu. Rencananya besok kami akan kesana.

Rintik hujan turun perlahan namun pasti, sesaat akan menggelar acara memasak. Ruang tenda yang sempit dengan aneka barang membuat kami tak bisa bergerak leluasa. Untungnya, dalam keperluan memasak kami menggunakan Trangia -kompor ringkas dengan pembakaran sempurna, buatan Swedia-. Sehingga kita tidak perlu khawatir dengan ruang maupun asap yang ditimbulkannya. Selesai makan, tak ada segmen yang paling menarik selain ngobrol tentang banyak hal ditemani secangkir susu hangat. Sampai ketika kami terlelap, hujan tetap awet diluar sana ditingkahi gemuruh angin kencang.

Keesokan paginya, sekeliling terlihat cerah usai hujan. Selepas sarapan, kami berencana menuntaskan sisa perjalanan, yakni puncak Gunung gede (2958m). Dari sini, jaraknya tidak jauh, hanya berjalan kaki selama 30 menit. Namun medannya sangat sulit, sehingga dibutuhkan kewaspadaan. Sesekali gerakan memanjat dibutuhkan untuk membantu meraih pegangan maupun injakan untuk kaki. Saat aku melirik keatas, ternyata tak ada tempat yang lebih tinggi. Aku berkesimpulan, bahwa puncak tinggal sejengkal lagi. Betul saja, dengan nafas penghabisan, dari sela-sela pepohonan aku melihat dataran dan banyak orang beristirahat disana. Ternyata, kami telah berhasil menjejak puncak Kubah Ageung, sebutan masyarakat lokal untuk Gunung Gede.

Sejurus kemudian, momen istimewa ini kami abadikan di sebuah titik Triangangulasi Tersier (titik ketinggian buatan belanda) yang mulai terlihat rusak akibat vandalisme orang tak bertanggung jawab. Di sela-sela kabut tipis, jauh di sebelah kiri dapat kulihat kokohnya Pangrango, sementara di depan kami tersaji kawah yang sangat luas, sisa letusan puluhan tahun silam. Saat dirasa cukup, akhirnya kami pun turun ke alun-alun, selanjutnya pulang melalui rute Gunung Putri. Sungguh, perjuangan belum selesai.

Dalam perjalanan pulang, tak henti-hentinya ucapan syukur kami panjatkan atas perbuatanNya yang ajaib. Ah... ternyata kebesaran Tuhan nyata di tempat ini. Semoga saja kau tetap lestari!

Friday, March 09, 2007

"SeKiLaS TeNTaNg KoNvEnSi JeNeWa"

Dalam keadaan darurat, saat jurnalis mengalami penyergapan oleh pihak tertentu yang sedang bertikai, pengetahuan tentang Konvensi Jenewa bisa menjadi tameng yang akan memperpanjang hidup anda

Bila peluru mulai beterbangan, tak ada jaminan bagi jurnalis dapat keluar dengan selamat tanpa cedera ataupun kehilangan nyawa. Untuk daerah dengan tingkat resiko tinggi, seperti daerah konflik, jurnalis dengan mudah dapat menjadi target dari pihak yang bertikai, baik disengaja maupun tidak.

Banyak contoh tentang pekerja media di garis depan yang mengalami cedera, tewas tertembak peluru, terkena bom dan mortir yang ditembakkan dari jarak jauh, atau peluru nyasar dan memantul. Dalam situasi seperti ini, saat ada dua kekuatan yang terlibat konflik, kondisi di garis depan sangat cepat berubah. Sulit diketahui darimana konflik berawal dan kapan berakhirnya. Meski demikian, seorang jurnalis yang mengetahui adanya bahaya, harus cepat tanggap perihal keselamatannya agar terlepas dari ancaman yang mengincarnya.

Namun, hal penting yang perlu diketahui semua jurnalis yang akan diutus meliput sebuah pertempuran adalah mengetahui hak-hak mereka sebagai pengamat independen dan netral. Pasalnya, banyak jurnalis yang berangkat dengan sedikit informasi mengenai suatu wilayah serta pengetahuan tentang undang-undang internasional yang minim. Atau, bahkan tak sedikit yang berangkat tanpa pengetahuan sama sekali.

Hanya beberapa jurnalis yang bisa menegaskan haknya, seperti termaktub di dalam Konvensi Jenewa atau seperti yang tertulis di undang-undang kemanusiaan yang menegaskan hak-hak bagi orang non tempur, seperti Jurnalis.

Untuk itu, ada baiknya setiap jurnalis yang akan diberangkatkan harus mengerti mengenai kondisi politik dan hukum suatu wilayah. Serta mengetahui peranan International Committee of the Red Cross (ICRC), perwakilan PBB dan badan-badan internasional lainnya.

Konvensi Jenewa

Konvensi Jenewa menuntut orang-orang untuk menghoramati hak-hak manusia di daerah konflik bersenjata, termasuk hak jurnalis yang digolongkan sebagai warga sipil yang berhak dilindungi dari kekerasan, ancaman, pembunuhan, hukuman penjara dan penyiksaan. Persetujuan ini mengikat secara hukum sejak tahun 1949 dan telah disahkan ataupun disetujui oleh banyak negara, termasuk Indonesia.

Ini termasuk bagian dari peraturan kemanusiaan internasional. Tentara atau anggota wajib militer yang melakukan pelanggaran dianggap melakukan kejahatan perang. Karena itu, tentara dan wajib militer di seluruh dunia paham dengan konsep kejahatan perang. Dan harus diingat, konvensi ini tidak berlaku bagi paramiliter, separatis, ataupun pemberontak, sebab mereka bukan tentara resmi sebuah negara. Itulah sebabnya mengapa jurnalis perlu mengetahui dan menuntut hak-hak tersebut.

Selembar kertas, tentunya tak bisa jadi penghalang bagi seseorang bersenjata yang telah bertekad untuk membunuh atau menganiaya anda untuk mengurungkan niatnya. Tapi, selembar kertas fotocopi Konvensi Jenewa, -khusunya klausul tentang hak-hak orang non tempur- tentunya sangat bermakna dan bisa jadi penyambung nyawa saat terjadi penyergapan. Jelaskan berdasarkan klausul yang ada, bahwa anda memiliki hak yang sama dengan masyarakat sipil. Ini yang menyebabkan mengapa jurnalis tidak perlu dipersenjatai. Pasalnya, begitu mereka memanggul senjata, haknya sebagai jurnalis ataupun sipil langsung gugur. Dan pihak yang bertikai berhak mencedarai mereka karena dianggap musuh.

Perlindungan Untuk Prajurit Tempur Yang Terluka, Tahanan Perang dan Warga Sipil

Aturan dalam dua konvensi pertama mencakup perlakuan terhadap anggota pasukan bersenjata dan personil medis yang terluka atau sakit di medan perang dan di laut. Konvensi ketiga mencakup hal tentang tawanan perang. Ketiga poin ini ditujukan untuk jurnalis hanya dalam kasus koresponden perang yang terakreditasi. Konvensi Jenewa ke empat mencakup hak warga sipil di wilayah pendudukan

Artikel 3 merupakan point yang paling signifikan diterapkan untuk semua konvensi, isinya adalah;
1. Seseorang yang tidak terlibat aktif dalam pertempuran, termasuk anggota pasukan bersenjata yang meletakkan senjata dan meninggalkan tempat hors de combat (wilayah pertempuran) karena sakit, terluka, ditawan atau karena alasan lain, dalam keadaan apapun akan diberlakukan dengan manusiawi, tanpa membedakan ras, warna kulit, agama dan keyakinan, jenis kelamin, asal usul atau kekayaan, dan kriteria-kriteria serupa lainnya. Tindakan berikut ini dengan hormat tidak boleh dilakukan kepada orang-orang yang disebutkan diatas dimana pun dan kapan pun;
a) kekerasan terhadap hidup seseorang terutama segala bentuk pembunuhan, mutilasi, perlakuan kejam dan penganiayaan.
b) Menyandera
c) Menghina martabat seseorang, terutama perlakuan yang tidak manusiawi dan bersifat merendahkan.
d) Mendahului hukum ddan melakukan eksekusi tanpa keputusan hukum tetap dari pengadilan, memberikan semua jaminan pengadilan yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang beradap.
2. Orang-orang yang terluka dan sakit akkan di kumpulkan dan dirawat.

Jurnalis Harus Dilindungi Seperti Warga Sipil (Pasal 79)

Protokol I konvensi Jenewa yang berlaku pada tahun 1978 dalam pasal 79 menyebutkan:
1. Jurnalis yang melaksanakan tugas profesional berbahaya di daerah konflik bersenjata akan dianggap sebagai warga sipil seperti yang dimaksud dalam pasal 50 ayat 1.
2. Mereka akan dilindungi sesuai dengan Konvensi dan Protokol ini, asalkan mereka tidak bertindak merugikan dan mempengaruhi status mereka sebagai warga sipil, dan tanpa prasangka mengenai hak koresponden perang terhadap kekuatan tentara untuk status yang diberikan di dalam pasal 4a konvensi ketiga.
3. Mereka bisa mendapatkan satu kartu identitas yang mirip dengan model di Annex 2 pada protokol ini. Kartu ini bisa dikeluarkan oleh pemerintah asal jurnalis atau wilayah tempat tinggal mereka atau lokasi penempatan yang ditetapkan oleh media berita mereka, bisa membuktikan status mereka sebagai jurnalis.

Konvensi Melindungi Warga Sipil Perang Tapi Bukan Huru Hara

Dalam Protokol 2 Konvensi Jenewa diperluas ke konflik bersenjata internal diantara kekuatan bersenjata sebuah negara dengan kekuatan bersenjata pemberontak (milisi, paramiliter, teroris) di sebuah wilayah. Perluasan konvensi ini berlangsung efektif untuk konflik sipil berskala besar. Namun, hal yang dengan tegas dilarang pada konvensi ini adalah “situasi kerusuhan dan ketegangan internal, seperti huru-hara, tindakan kekerasan sporadis dan terpencil dan tindakan serupa lainnya, sehingga tidak menjadi konflik bersenjata”.


Perlakuan Apa Yang Wajib Dan Tidak Wajib Diberikan Kepada Warga Sipil

Dalam pasal 4, protokol 2 menggambarkan bagaimana cara suatu pihak memperlakukan warga sipil secara manusiawi.

1. Setiap orang yang tidak terlibat langsung atau berhenti terlibat dalam pertempuran, baik yang kebebasannya dibatasi maupun yang tidak dibatasi, berhak mendapatkan penghargaan. Kita harus menghargai kehormatan, pendirian dan agama yang mereka jalankan. Dalam semua keadaan mereka akan diberlakukan dengan ramah tanpa membeda-bedakan. Hal ini juga tidak boleh dilakukan meskipun tidak ada orang yang selamat.
2. Tindakan berikut ini tidak boleh dilakukan kepada seseorang dimanapun dan kapan pun;
a) menyakiti jiwa, kesehatan, fisik, atau mental seseorang, terutama pembunuhan maupun tidakan yang kejam seperti penyiksaan, mutilasi atau hukuman badan lainnya.
b) Tindakan kekerasan yang dilakukan secara kolektif.
c) Menyandera seseorang.
d) Tindakan terorisme
e) Menghina martabat seseorang, terutama perlakuan yang tidak manusiawi dan merendahkan, perkosaan, melakukan prostitusi dan bentuk tindakan tak senonoh lainnya.
f) Segala bentuk perbudakan dan berdagangan budak.
g) Penjarahan.
h) Ancaman yang membuat orang menjadi takut.


Hal Lain

Di dalam rumusan International Committee of the Red Cross (ICRC) dinyatakan, bahwa setiap negara harus:
- Memperlakukan teman dan musuh dengan perlakuan yang sama.
- Mengharagai semua manusia, kehormatan mereka, hak keluarga, keyakinan religius dan hak istimewa untuk anak.
- Melarang perlakuan yang tidak manusiawi atau merendahkan, menyandera, pemusnahan massa, penyiksaan, hukuman mati yang cepat, deportasi, penjarahan dan perusakan properti tanpa alasan.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN