Sunday, December 31, 2017

Apa pentingnya refleksi akhir tahun?

(source: https://i.ytimg.com/)
Time flies so fast,
then years has changed. 
So, what's your resolution in the next year, buddies?
--Simpang Kiri Jalan

Di momen pergantian tahun, tetiba saya tertarik untuk menulis, khususnya terkait refleksi selama setahun dan resolusi, --demikian kaum urban menyebutnya--, untuk harapan di tahun depan (baca: 2018).

Jujur, saya bingung harus mulai dari mana. Bingung bukan karena tak mampu menulis secara baik, tapi bingung ketika menyaksikan begitu banyaknya peristiwa, baik yang disengaja maupun tak sengaja sepanjang tahun 2017. Apakah semua harus di higlight plus di-resume sebagai sebuah catatan kecil di akhir tahun?

Ntah... Yang pasti, bagi masing-masing orang, rentetan peristiwa sepanjang tahun ini, pasti nya dimaknai berbeda. Tak kan pernah sama, satu dengan yang lainnya.

Saturday, December 23, 2017

“Separatis”, Kata Yang Tak Perlu Terucap

(source: https://thumb9.shutterstock.com)
“In the West Papuan people’s petition we hand over the bones of the people of West Papua to the United Nations and the world. After decades of suffering, decades of genocide, decades of occupation, we open up the voice of the West Papuan people which lives inside this petition. My people want to be free.”
Benny Wenda, exiled West Papuan leader 

Beberapa waktu lalu, Hermawan Sulistyo yang juga peneliti LIPI berkesempatan hadir sebagai narasumber. Di waktu senggang sebelum on air, Hermawan yang akrab disapa Kikiek itu bercerita tentang bahaya penggunaan kata “separatis”, jika terus digaungkan.

Kata itu semakin sering terdengar pasca pembebasan 1300 warga Kampung Banti dan Kimbely, Mimika, Papua berakhir mulus, meski hingga kini tak jelas, siapa pihak penyandera, karena belum ada yang berakhir di pengadilan.

“Kata separatis itu baiknya gak usah digaungkan. Bahaya, karena hal itu bisa membuat negara lain atau badan dunia terlibat ikut menumpas separatis”, pintanya.

Monday, December 11, 2017

Pembangunan Pertanian Sebuah Utopia?

(sumber: pixabay.com)

The land is ours. It's not European and we have taken it, we have given it to the rightful people... Those of white extraction who happen to be in the country and are farming are welcome to do so, but they must do so on the basis of equality.
--Robert Mugabe


Sejak ajakan menghadiri Seminar Nasional yang dilakukan Ikatan Alumni Fakultas Pertanian USU menggema di media sosial, semisal grup Whatsapp hingga Facebook, rasa penasaran saya terusik. Selain lama tak ikut dalam kegiatan alumni kampus, bertemu para senioren, teman seangkatan hingga para junioren pastinya cukup menyenangkan. 

“Ibarat acara reuni saja”, demikan akal sehatku mencerna.

Namun, begitu membaca TOR yang disampaikan panitia, selaku lulusan pertanian (baca: walau bukan yang terbaik), kesadaran saya tergugah. Ntah mengapa, saya ingin hadir, meskipun hanya sebagai peserta pasif saja. 

Monday, November 06, 2017

Belajar Dari Jerman

(Ilustrasi Holocaust, source: https://www.japantimes.co.jp)
Beberapa waktu lalu, saya sempatkan menonton film Pengkhianatan G30S/PKI di TVRI. Saya sengaja menonton film itu, untuk sekedar bernostalgia tentang pengalaman masa kecil dulu. Saat masih SD, kami (saya dan teman-teman) kerap diminta oleh guru untuk menonton film berdurasi hampir 4 jam itu. Harapannya, kami semakin membenci PKI dan kian percaya jika Pancasila memang sakti.

Saya sengaja menonton di TVRI karena seorang teman kantor menyarankan hal itu. “Ntar kalau mau nonton di TVRI aja, udah HD, jadi gak kayak di tv-tv lain”, ujar teman itu bersemangat.

Namun, tak dinyana, saat menonton di TVRI, ternyata tayangannya tak begitu bagus. Bahkan banyak tulisan yang tak terbaca sama sekali, karena saking lamanya itu film gak pernah diputar. Artinya, mau nonton di TVRI atau di station lain, hasilnya sama. Rada-rada buram dan formatnya masih 4:3.

Monday, September 25, 2017

UKJ, Cara Baru Tingkatkan Kualitas Jurnalis

(Suasana uji kompetensi jurnalis. foto: jacko agun)
Beberapa waktu lalu, saya telah menyelesaikan Uji Kompeteni Jurnalis (UKJ) level “UTAMA” yang diselenggarakan oleh AJI sesuai dengan standar yang ditetapkan Dewan Pers. Uji Kompeteni Jurnalis menurut saya sangat penting untuk melindungi kepentingan publik dan hak pribadi masyarakat. Uji kompetensi juga diperlukan untuk menjaga kehormatan pekerjaan jurnalis dan bukan untuk membatasi hak azasi warga negara menjadi jurnalis.

Saya sengaja memilih level “Utama”, lebih karena pengalaman di dunia jurnalistik telah belasan tahun lamanya. Dan AJI menetapkan level “Utama” hanya boleh diikuti oleh jurnalis yang telah menekuni jurnalistik sedikitnya 11 tahun.

Thursday, August 24, 2017

Standar Kompetensi Wujudkan Wartawan Profesional

(source: www.nyfa.edu)
“When journalism is silenced, literature must speak. Because while journalism speaks with facts, literature speaks with truth.” 
― Seno Gumira Ajidarma

Wartawan merupakan salah satu profesi unik yang pernah ada. Unik, karena menjadi wartawan  tidak mudah. Dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan akademis yang baik. Karena menjadi wartawan sangat didasarkan atas keinginan dan niat yang kuat untuk selalu berpihak kepada kepentingan publik.

Dengan kata lain, wartawan juga merupakan seorang profesional, seperti halnya dokter, pilot, guru, atau pengacara. Secara umum, pekerjaan bisa disebut sebagai profesi jika memiliki 4 kriteria, yakni: memiliki kebebasan dalam bekerja, memiliki panggilan dan keterikatan dengan pekerjaan, memiliki keahlian (expertise) dan memiliki tanggung jawab yang terikat pada kode etik pekerjaan. Dan jika mengacu pada kriteria tersebut, wartawan memenuhi keempat kriteria 'profesional' tersebut.

Produk Hukum Penunjang Kerja Pers

(source: www.theglobeandmail.com)
“Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hak ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas wilayah.”
--Pasal 19 Pernyataan Umum HAM, Majelis Umum PBB, 10 Desember 1948

Konstitusi kita, tepatnya pada Pasal 28 UUD 1945 mengamanatkan perlunya ditetapkan undang-undang (UU) sebagai produk hukum turunan guna menjamin kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan berinformasi. Dalam kaitan itu, pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah mengesahkan sejumlah UU berkaitan dengan tata kelola informasi, antara lain UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dan UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Berbagai dasar hukum itu perlu dipahami oleh masyarakat luas, khususnya insan pers agar dapat mengetahui tata kelola informasi dan sekaligus membuat peta multimedia massa. Hal ini berkaitan erat dengan kaidah melek media (media literacy), yakni tugas pokok dan fungsi pers untuk menyebarkan informasi, mendidik, memberikan hiburan, dan pengawasan masyarakat.

Media Literasi, Jawaban Atas Penyimpangan Media

(sumber: http://eladolinski.weebly.com)

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengingatkan jika media massa saat ini menghadapi tantangan besar terkait perkembangan teknologi dan globalisasi informasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tantangan tersebut perlu dicermati oleh media massa dan wartawan.

"Teknologi informasi berkembang cepat, membuat informasi tersebar cepat dan bisa diakses secara global," kata Rudiantara seperti dikutip dari Antara, 20/9/2016.

Cara baru berkomunikasi memberikan tantangan yang baru antara lain informasi yang negatif seperti radikalisasi dan pornografi sehingga memberikan dampak yang negatif. Oleh karena itu, pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika berkomitmen mendorong perkembangan media massa dengan menjunjung tinggi nilai demokrasi dan keterbukaan informasi.

Wednesday, August 23, 2017

Media Sosial , Tak Sekedar Pola Komunikasi Massa

(source: www.salonsuitesolutions.com)
Perkembangan teknologi komunikasi tentu saja memberikan konsekuensi terhadap proses komunikasi, dan konsekuensi itu berupa perubahan pola dan hubungan sosial di dalam masyarakat.

Adakah yang bisa menyangkal, jika kehidupan manusia modern, tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan media massa, dari mulai buku, koran, radio, televisi, internet. Bentuk-bentuk media massa tersebut selalu mewarnai sikap dan perilaku seseorang dalam kesehariannya. Bahkan pada kenyataan paling ekstrem, kehidupan seseorang seringkali dipengaruhi oleh kehadiran media massa. Contohnya, ketika seseorang merasa ada yang kurang jika tidak membaca koran atau menonton berita di televisi setiap hari.

Pentingnya komunikasi bagi kehidupan sosial, budaya, pendidikan, dan politik telah disadari oleh para cendekiawan sejak Aristoteles yang hidup ratusan tahun sebelum masehi. Itu sebabnya, banyak pakar menyebutnya mencakup semua aspek kehidupan.

Monday, August 21, 2017

Pakaian Adat Yang Mempersatukan

(source: twitter @Mapala_UI)
"Biar tahu, kita ini beragam. Karena Indonesia itu memang sangat beragam. Kita kan tahu, ratusan pakaian adat yang kita punya. Inilah Indonesia," 
--Presiden Joko Widodo

Lewat layar televisi, saya melihat ada yang berbeda dari perayaan HUT ke-72 Republik Indonesia di Istana Merdeka, pada 17 Agustus 2017. Jika biasanya para undangan diminta mengenakan pakaian rapi (setelan jas), kini mereka dan peserta upacara diwajibkan mengenakan pakaian adat tradisional.

Menggunakan pakaian adat di perayaan hari kemerdekaan, memang belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya pakaian adat lebih banyak dikenakan pada saat momen tertentu, seperti peringatan hari lahir Kartini, acara yang berbau budaya, hingga pawai kebudayaan.

Sunday, August 06, 2017

Online, Surga Penikmat Konten

(ilustrasi. Sumber : https://zephoria.com)
“Akses internet di luar rumah bisa jadi disebabkan karena semakin banyak orang yang memiliki akses melalui telepon genggam, juga ketersediaan wi-fi di area publik yang semakin umum. Sedangkan akses di rumah turut dipengaruhi oleh fasilitas wi-fi yang terjangkau,” 
--Hellen Katherina, Direktur Eksekutif Nielsen Media

Riset terbaru Nielsen yang dirilis 26 Juli lalu menunjukkan beberapa hal menarik, khususnya terkait industri digital dan media di Indonesia. Nielsen menyebut, riset mereka lakukan secara serius, karena melibatkan 1107 responden, yang rentang usianya antara 16-34 tahun. Selain itu, riset dilakukan di 11 kota besar di Indonesia, mewakili sedikitnya 54,8 juta penduduk.

Demografi menjadi salah satu hal menarik bagi Nielsen untuk melihat sejauh mana konten mampu mempengaruhi seseorang. Hal itu sekaligus menjadi kebutuhan bagi pembuat konten untuk menyasar pangsa pasar secara tepat. Secara umum, konsumsi media didasarkan atas 5 generasi, yakni: Generation Z (10 -19 tahun), Millenial (20 - 34 tahun), Generasi X (35 - 49), Baby Boomer (50 - 64) dan terakhir Silent Generation (65 tahun keatas).

Thursday, July 27, 2017

Kita Tak Boleh Kalah!

(source: https://i.ytimg.com)
I wanna heal, I wanna feel what I thought was never real
I wanna let go of the pain I've felt so long
(Erase all the pain 'til it's gone)
I wanna heal, I wanna feel like I'm close to something real
I wanna find something I've wanted all along
Somewhere I belong
--Linkin Park

Kamis, 20 Juli 2017, berita duka datang dari vokalis utama Linkin Park, Chester Bennington. Lewat pemberitaan media, Chester dikabarkan bunuh diri di kediamannya di Palos Verdes Estate, California, Amerika Serikat.

Aksi bunuh diri dengan menggantungkan diri, ternyata bukan kali pertama terjadi di kalangan selebritas. Sebelumnya aksi gantung diri juga dilakukan oleh musisi Chris Cornell (AudioSlave & SoundGarden) dan aktor Robin Williams. Dalam waktu yang tak begitu lama, banyak yang prihatin mengapa mereka memilih mengakhiri hidupnya dengan cara-cara yang tragis.

Thursday, July 20, 2017

Perppu Ormas Tak Ramah HAM

(source: www.printweek.in)
Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan telah menunjukkan watak insekuritas dan kegagapan negara dalam melihat dinamika kebebasan berserikat, berkumpul dan termasuk tanding tafsir atas situasi kebebasan beropini serta gagasan berbangsa dan bernegara di Indonesia. 
--Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) 

Pemerintah resmi menerbitkan Perppu No. 2 Tahun 2017 (Perppu Ormas) yang mengubah UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (UU Ormas). Perppu diharapkan mampu membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dianggap memiliki asas dan kegiatan bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Pasalnya, UU Ormas dianggap gagal mengatur mekanisme pemberian sanksi yang efektif bagi ormas anti-Pancasila 

Tuesday, July 18, 2017

Love to blind you!

(Ilustrasi. Source: www.readunwritten.com/wp-content)
Dear, 
You will see me fall down into trenches 
but just go on and leave me,
alone.
But, i know you don’t leave me that way.

Friday, June 16, 2017

#Bangsat

(Source: https://syincome.files.wordpress.com/2010/04/pria_dan_wanita.gif)
Gadis   : “Dia mencumbui saya lalu melakukan hubungan seksual, dok.”
Dokter  :  “Dia melakukan seperti yang kita lakukan tadi?”
Gadis  :  “Ya. Memang itulah yang dia lakukan ketika itu”
Dokter  :  “Hmm.., itu juga masih belum boleh dipanggil bangsat. Itu tandanya dia sayang kamu!”
Gadis  :  “Tapi kemudian dia memberitahu saya bahwa dia mengidap AIDS”
Dokter  :  “Hah?? Brengsek!! Dia memang bangsat!!.. Bangsaatttt!!!!.. Lelaki Bangsat!!!

Beberapa hari lalu, saya membaca berita di media online yang menjelaskan jika pembunuh Chatarina Wiedyawati (30) alias Wiwid, akhirnya ditangkap. Wiwid merupakan calon pengantin yang ditemukan tewas usai pamit kepada orangtuanya untuk melakukan foto pre-wedding. Diduga ia tewas dibunuh oleh calon suaminya, Martinus Asworo (33).

Petugas Kepolisian Polda Sumatera Selatan akhirnya menangkap Martinus di tempat persembunyiannya di sebuah kosan Anggrek lantai 2 No 7, Jalan Maulana Yusup, Bandar Lampung, Senin (12/6/2017) sekitar pukul 14.30 WIB.

Sunday, June 11, 2017

Ketika Harus Memilih...

(Ilustrasi. Sumber:www.falmouthpubliclibrary.org) 
Ide tulisan seberapa pun bagusnya, hanya akan menjadi pepesan kosong jika tanpa diikuti penggalian bahan atau reportase. Seorang wartawan biasa menggunakan 3 alat untuk mengumpulkan bahan: riset, observasi atau pengamatan dan wawancara. 
--Tempo Institute

Beberapa waktu lalu, seorang sahabat yang saya hormati mengajak bergabung sebagai penulis di salah satu portal berita yang mulai berkembang. Di tempat itu, pola kerjanya sebagai freelance yang dihitung berdasarkan jumlah tulisan dan viewer yang membaca.

Mendapat tawaran itu, saya langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang dampak turunannya. Saya pikir tak ada salahnya mencoba. Toh, hitung-hitung bisa menambah penghasilan, demikian pemikiran subjektif saya.

Friday, June 09, 2017

Kuhentikan Hujan!


Kuhentikan hujan
Kini matahari merindukanku, 
mengangkat kabut pagi perlahan
Ada yang berdenyut dalam diriku
Menembus tanah basah
Dendam yang dihamilkan hujan
Dan cahaya matahari,
tak bisa kutolak
Matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga
---Sapardi Djoko Damono

Tuesday, June 06, 2017

Lawan Persekusi!

(Ilustrasi. Sumber: http://media.salemwebnetwork.com)
"Kami khawatir bila aksi persekusi ini dibiarkan terus-menerus maka akan menjadi ancaman serius pada demokrasi," 
--Damar Juniarto, Regional Coordinator SAFEnet

Sabtu malam, 28 Mei 2017, menjadi peristiwa yang tak akan bisa dilupakan oleh Putra Mario Alfian, pelajar berusia 15 tahun. Momen itu sangat mengerikan, karena Mario mengalami persekusi, dilakukan oleh 100 orang yang mendatangi rumahnya di daerah Cipinang Muara, Jakarta Timur. Ia telah menjadi target setidaknya sejak 26 Mei 2017.

Persekusi yang dialami Mario jika merunut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas. 

Friday, June 02, 2017

Membumikan Pancasila Tanpa Henti

(sumber: http://presidenri.go.id/wp-content)
1. Tuhan terlalu besar untuk 1 agama, surga terlalu besar untuk 1 umat, oleh karena itu jadilah ikut berpikir besar dengan memahami makna ke-Ilahian bahwa yang penting itu adalah esensinya. 
2. Menjadi adil artinya paham bahwa Bumi ini bukan untuk kau sendiri, bukan hanya untuk golonganmu, sukumu, bangsamu, agamamu. Hidup ini untuk berbagi. 
3. Satu hal yang mengikat kita adalah kita sama-sama tinggal di tanah air Indonesia. Oleh karena itu taatilah hukum di Indonesia. 
4. Pemerintah adalah pelayan dan abdi rakyat. Bukan bos dan semena-mena, menyalahgunakan wewenang, menunggangi dan memanipulasi rakyat, maling duit rakyat. 
5. Negara Indonesia ini sangat sangat cukup untuk menyejahterakan dan memakmurkan seluruh warganya, tapi tidak akan cukup untuk memenuhi keserakahan segelintir konspirasi penguasa dan pengusaha. 
--Bli Robi, Vokalis Navicula

Baru-baru ini, sebuah video menjadi viral lantaran seorang anak berusia 15 tahun mengalami Persekusi atau perlakuan buruk, penganiyaan secara sistematis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain, khususnya karena suku, agama, atau pandangan politik. Remaja yang bernama Putra Mario Alfian ditampar sejumlah orang yang mengaku Front Pembela Islam dan diminta tandatangan surat bermaterai permintaan maaf karena dianggap telah menghina ulamanya, Rizieq Shihab.

Seminggu sebelumnya, ledakan di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur akibat bom bunuh diri cukup mengagetkan masyarakat. Sebelumnya tidak ada yang menyangka bahaya laten terorisme begitu nyata. Akibat kejadian itu, 3 polisi meninggal dunia dan belasan lainnya luka-luka. Aksi itu juga menjadi bukti munculnya radikalisme agama.

Tuesday, May 30, 2017

Ketika Indonesia Bangkit!

(Ilustrasi: Indonesia yang bhineka. Source: seword.com)

Jadilah akar yang tak terlihat, tapi menyokong kehidupan
Atau seperti jantung yang berdenyut tanpa henti.
Selalu dan senantiasa hingga waktunya tiba
-- Simpang Kiri Jalan

Beberapa hari lalu saya sempat membaca tulisan Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Kemaritiman yang beredar terbatas di kalangan jurnalis. Tulisannya sangat sederhana namun menohok.

Menohok, karena Luhut harus menjawab pertanyaan John Berisford, President of Standard and Poors Global Ratings (S&P), (baca: lembaga pemeringkat rating investasi) secara taktis dan sistematis.

Friday, May 26, 2017

Vonis Ahok, Ancaman Demokrasi

(Ilustrasi. Sumber: i2.wp.com/virginiaconservative.net)
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada kasus Ahok telah tunduk pada tekanan massa yang telah menggangu independensi hakim dalam memutus perkara berdasarkan prinsip demokrasi, keadilan, dan negara hukum, sehingga mengorbankan prinsip rule of law dan melegitimasi rule by mass yang dilakukan oleh massa aksi intoleran.
-- LBH Jakarta

Sejatinya, sejak beberapa waktu lalu saya berniat menulis tentang vonis 2 tahun Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara atas dakwaan kasus penistaan agama. Namun, karena kesibukan dan beragam agenda lain, niat menulis luntur secara perlahan. 

Vonis Ahok, menurut saya sangat menarik untuk disimak, karena keputusan hakim ternyata tidak didasarkan pada tuntutan jaksa penuntut umum. Sebuah kondisi yang jarang sekali terjadi di pengadilan Indonesia.

Monday, April 24, 2017

Rekonsiliasi Basi!

(Ilustrasi. Source: http://www.thecalled.net)
“Kebhinekaan itu fakta, karena itu tidak usah diperjuangkan. Ada yang mengatakan memperjuangkan kemerdekaan, kemerdekaan itu fakta, fakta itu diterima, bukan diperjuangkan. Yang harus diperjuangkan bukan kebinekaan, (tapi) persatuan di dalam kebinekaan, itu yang harus diperjuangkan”
--Anies Baswedan

Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) atau real count KPU akhirnya selesai pada 20 April 2017 pukul 21.15 WIB. Hasilnya, pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta nomor urut 3 Anies Baswedan-Sandiaga Uno berada di posisi puncak dengan perolehan 57,95 persen. Sementara itu, pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat mendapatkan 42,05 persen suara.

Friday, April 21, 2017

Dariku Tentang Cinta

(Dariku Tentang Cinta, Dadang #PohonTua Pranoto)

Aku merindu
Senyum tawamu

Sinar bulan tua
Kirim salamku padanya
Sendirikah dia
Di malam gulita

Semesta jagalah dia
Hingga waktuku tiba 

Tuesday, April 18, 2017

5 Cara Sederhana Meliput Pilkada DKI

(https://nonsmokingladybug.files.wordpress.com)

“Godaan untuk menelan mentah-mentah informasi yang belum diuji makin besar.” 
Ahmad Nurhasim, Ketua AJI Jakarta

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menyerukan para pemburu berita agar tetap menjaga independensi dan setia pada kode etik jurnalistik sebagai “way  of life” di tengah beredarnya beragam informasi saat peliputan Pilkada DKI Jakarta.

Jujur saja, saat ini persaingan diantara industri media sangat ketat. Akibatnya, para jurnalis dipaksa untuk mencapai batas tertingginya atau push the limit ditengah maraknya informasi yang belum terverifikasi. 

Banyak jurnalis yang berlomba-lomba untuk menghadirkan informasi terbaru, informasi yang belum tentu benar. Sementara di sisi lain, ada banyak pihak yang berkepentingan terkait hal itu.

Monday, April 17, 2017

Belajar Dari Yesus (yang) Komunis

(source: https://brianzahnd.com)
Menjadi Kristen bagi saya adalah menjadi komunis seperti Yesus. Menjadi anti-kapitalisme dan berjuang untuk pembebasan manusia. Ini jalan salib Yesus.
@barahamin

Paskah!
Ya, di Minggu Paskah ini, saya sempatkan untuk beribadah. Beribadah bukan karena keharusan atau rutinas, tapi karena sebuah panggilan. Panggilan yang didasarkan atas kerinduan. Rindu lebih dekat denganNya. Rindu menerima pengurapanNya yang ajaib.

Hari Raya Paskah sendiri memiliki banyak arti. Ada yang menyebut sebagai hari besar keagamaan Yahudi, simbol terbebasnya bangsa Israel atas penjajahan Mesir, hingga penanda bangkitnya Yesus dari kematiannya di hari ketiga. Kurang lebih begitu informasi tentang asal muasal Paskah yang saya baca. Namun bagi saya, tak penting latar belakangnya, karena yang utama adalah “mendekat” padaNya. Bagaimana saya bisa mendengar panggilanNya dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

Friday, April 14, 2017

"Maaf" Tak Perlu Ditawar!

(source: www.sorryimages.love)

Memohon Maaf, pastinya bukan perkara rumit
Pun tak begitu menarik,
apalagi harus ditunda sedemikian lama.
Kata Maaf, jamak terdengar di ruang-ruang warga.
Belakangan dilekatkan pada prosesi "mengampuni".
Bahkan untuk hal-hal yang tak disengaja, 
diksi “maaf” ditebar ke alam raya.
Alasannya, agar yang dimaksud tidak tawar hati.
Tidak memendam bara.
Tak larut dalam seteru berujung hampa.
Karena seringkali, meminta maaf punya segudang pembenar.
Punya dalil-dalil logika.
Namun bagi saya, memohon maaf tidak butuhkan alasan.
Memohon maaf hanya perlu diaktualisasikan.
Dipraktikkan!
Tanpa ragu, 
secepatnya.
Karena meminta maaf, ibarat ikhlas.
Lakukan secara sadar dan biar semesta yang menentukan.
Sama seperti saat ini.
Dengan kesadaran penuh,
saya mohon maaf,
atas kata dan salah,
atas ketidaknyamanan yang membuat luka.
Atas pertanyaan-pertanyaan tidak menyenangkan.
Atas praduga yang berujung konfirmasi.
Tapi, sudahlah...
Dari lubuk hati terdalam, saya mohon maaf.
Tanpa alasan.
Tanpa pembenaran,
juga tak berharap lebih.
Karena maaf tak perlu ditawar.
Tak juga perlu tipu diri.
Lalu, seperti pepatah tua menyebut
"meminta maaf, buahnya hati jadi tenang"
Menjadi lapang seperti sediakala.
Dan itu yang saya lakukan.
Karenanya, maafkan kawan!
Maafkanlah!


--salam beribu cinta--




Sunday, April 09, 2017

Yuk, Jaga Keberagaman!

(source :nutrition.tufts.edu)
Saudara-saudaraku seluruh warga Jakarta
Waktu sudah mulai mendekat.
Jadilah bagian dari pelaku sejarah ini,
dan kita tunjukkan bahwa negara pancasila benar-benar hadir di Jakarta.
Kita juga akan tunjukkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika benar-benar bukan hanya jargon,
tapi sudah membumi di Jakarta.
Siapapun kalian,
apa agama kalian,
apa suku kalian,
dari mana asal usul kalian.
Saudara- saudara semua adalah saudara kita sebangsa dan setanah air.
Dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
Jangan tanyakan dari mana kau berasal,
Janga tanyakan apa agamamu,
Tapi tanyakan, apa yang telah kau perbuat untuk Jakarta.
--Djarot Syaiful Hidayat

Friday, April 07, 2017

Rindu Masa Gitu...

(source: hello-pet.com)
Kalau ada yang berkata, melupakan itu mudah, mungkin dia amnesia.
Atau ketika ada yang menyebut, semua kan membaik dengan sendirinya, mungkin ia sedang tak sadarkan diri, hingga lupa bahwa luka itu masih menganga.
Bahwa pedih itu masih ada.
Mungkin pula dia sedang mabok, atau apa...???

Ketika ada yang mengajak berkelana, jujur, aku suka!
Namun ketika ditanya, mau kemana?
Tetiba pusing jawabnya.
Maklum di musim paceklik seperti saat ini, yang ada kita harus pintar-pintar berhitung, agar kehidupan terus begulir, setidaknya hingga penghujung musim ini.

Sunday, March 26, 2017

Ate, energi yang tak pernah diam.

(source: http://koleksikemalaatmojo.blogspot.co.id)
“Innalilahi wainnailaihi rojiun
Telah berpulang ke sisi Allah SWT, abang, orangtua kami, pejuang kami, Ahmat Taufik (Ate), pendiri AJI dan jurnalis TEMPO di RS. Medistra

Semoga amal ibadah dan  kebaikannya di terima disisinya.
Amin.”

Sebuah pesan masuk di grup whatsapp yang semua anggotanya adalah jurnalis lintas multiflatform pada Kamis malam (23/3/2017) pukul 20.14WIB. Isinya cukup mengejutkan, karena berkabar tentang kepergian seorang senior Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang namanya cukup membumi dan disegani.

Monday, March 20, 2017

Jerit Pilu Masyarakat Kendeng

(source: https://boemimahardika.files.wordpress.com)
"Hari ini kami upacara, berdoa, dan bercerita. Saya bilang ke teman-teman, masih semangat atau sudah kendor? Katanya nggak. Sudah pengen dibongkar atau nggak? Katanya kalau belum ketemu Pak Jokowi, belum mau dibongkar,"
--Gunarti, warga asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah

Sepekan sudah para petani asal Kendeng, melakukan aksi menyemen kaki mereka di depan Istana Kepresidenan. Petani yang melakukan penolakan pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah itu tidak akan pulang sebelum bertemu Presiden Joko Widodo

Saturday, March 18, 2017

*Dialog Hujan

(source: http://wallpapersafari.com)
Kau tahu hal apa yang paling menyakitkan?
Adalah ketika kita berpura-pura bahagia dan melakonkan tawa tanpa canda
--@Lluvia_Aya

Thursday, March 16, 2017

Caledonian Sky Rusak Terumbu Karang Raja Ampat

(Tim mendata dampak kerusakan karang. Sumber: Pemkab Raja Ampat)
Kapal pesiar Caledonian Sky sepanjang 90 meter yang dimiliki operator tur Noble Caledonia, telah merusak terumbu karang minimal 1.600 meter persegi di situs penyelaman yang dikenal sebagai Crossover Reef, Raja Ampat, Propinsi Papua Barat.

Kapal pesiar yang mengangkut 102 penumpang dan 79 awak kapal dalam perjalanan 16 hari dari Papua Nugini ke Filipina tersebut, kandas setelah menyelesaikan perjalanan bird-watching ke Pulau Waigeo, Raja Ampat pada 4 Maret 2017.

Sunday, March 12, 2017

Saya Marah, Kawan!


(source : detik.com/infografis)
Agak lama saya menahan diri untuk tidak menulis tentang pengungkapan berita terbesar tahun ini. Korupsi e-KTP yang jelas-jelas sangat merugikan saya, dan ratusan juta masyarakat Indonesia diluar sana. Ntah, jika bagi sekelompok orang yang berdalih atas nama kebijakan redaksi itu.

Saya menahan diri bukan karena takut dengan “pembatasan” yang dilakukan segelintir orang, karena menganggap kasus ini sensitif dan sikap paranoid yang berlebihan. Saya menahan diri, karena harus mengikuti perkembangannya secara detil. Dan hasilnya cukup mengejutkan.

Tuesday, February 28, 2017

Lupakan Raja Salman!

(Raja Salman dari Saudi. Source: wikimedia.org)
Raja Salman dari Arab Saudi melakukan kunjungan kenegaraan ke beberapa negara di Asia, antara lain Malaysia, Indonesia, China, dan Jepang. Sebenarnya banyak yang tidak paham apa maksud di balik kunjungan yang menghabiskan waktu 31 hari itu.

Ada yang menyebut kunjungan Raja Salman pada dasarnya terkait dengan program reformasi ekonomi yang diluncurkan pemerintah Arab Saudi pada tahun 2016 lalu. Progam itu memang di-create oleh Deputi Putra Mahkota Mohammad bin Salman sebagai cara untuk mendiversifikasi ekonomi dan sebagai upaya modernisasi tatanan masyarakat.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN