Saturday, December 24, 2016

Ketika Natal menjadi...

(source: http://www.thecultureconcept.com)

Perkecillah dirimu,
Maka kau akan tumbuh lebih besar dari dunia.
Tiadakan dirimu,
Maka jatidirimu akan terungkap tanpa kata-kata
--Jalaludin Rumi


Natal!
Natal kali ini agak berbeda, karena tiba-tiba saja, duo folk “Banda Neira” akhirnya sepakat bubar, bertepatan dengan momen Natal. Edan gak tuh??? Mendengar itu saya sedih. Sesuatu yang tidak saya suka, karena Banda Neira, salah satu grup indie-folk kesukaan saya. Favorit abis! Gaya bermusik dan lirik-lirik mereka sungguh luar biasa, demikian pandangan personal saya. Maaf, jika agak lebay. *Hiks...

Sedih, karena Banda Neira berhenti tepat ketika sedang berada dipuncak karir bermusik mereka. Sampai-sampai dunia medsos berguncang, ditandai dengan kata “Banda Neira” yang sempat bertengger jadi trending topik microblogging twitter. Itu membuktikan jika Banda Neira sebagai duo indie ternyata punya banyak penggemar, dan sebagian besarnya kecewa. Sama seperti saya.

Tapi sudahlah! Mari kita kembali bicara tentang Natal.
Yup, ini adalah waktu dimana malam natal jadi momen istimewa. Jadi penanggal hari yang selalu dirindu. Bukan karena waktunya yang muncul setahun sekali. Bukan pula semata-mata karena bayi Yesus telah hadir. Pun, bukan karena pernak pernik dan lagu-lagu natal memenuhi etalase mal-mal di seantero negeri.

Bukan.
Natal itu..., kalo mau jujur, bagi tiap-tiap orang yang merayakan mungkin berbeda artinya. Bagi masing-masing orang yang menantikannya mungkin tak sama maksudnya. Hanya saja, Natal adalah anugerah. Pun sebuah panggilan terindah. Masa pencerahan untuk menuntun mereka-mereka yang sadar. Sadar akan hadirnya sebuah pemahaman baru.

Pemahaman baru
Betul sekali. Di Natal ini saya mendapatkan pemaknaan baru. Pembacaan yang begitu jelas akan pesan ilahi. Pesan akan sebuah panggilan. Panggilan untuk lebih peduli. Untuk mampu menyelami mengapa kita didisain berbeda dan bukannya sama. Termasuk ketika harus menghormati mereka yang mungkin berbuat jahat terhadap sesamanya.

Jujur, peristiwa yang terjadi di sepanjang tahun ini,  jadi rentetan kisah yang muncul tidak dengan sendirinya. Sebuah catatan yang sejatinya terjadi atas izin si pemilik kuasa. Ia yang menginginkannya dan bukan kehendak kita.

Catatan yang saling berebut ruang hingga menyisakan isak. Pun sesak yang menghimpit dada, memaksa tuk bernafas lebih cepat. Lebih kencang dari biasanya.  Sampai-sampai kita kerap bertanya; “Tuhan, apa maksud dari semua ini?”

Terkadang, saya kerap bingung, mengapa mereka bisa berubah menjadi  intoleran, padahal para guru bangsa tidak mengajarkan demikian. Atau, mengapa ada yang memandang rendah yang lainnya hanya karena berbeda. Belum lagi, begitu mudahnya manusia mengkafirkan sesamanya, yang notabene sama-sama ciptaan Tuhan dan kodratnya sama.  

Tak selesai sampai disitu,  saya seringkali dibuat takjub, ketika kata-kata “haram” begitu mudahnya terlontar. Disebar ke semesta. Dilekatkan pada hal-hal tertentu yang sebenarnya lebih karena pemahaman terbatas. Distigmatisasi karena tak mampu berdialog dan sempit akal.

Padahal, jika kita sadar dan mau sedikit bertanya, adakah manusia mampu mengharamkan sesuatu. Mengharamkan sesamanya. Bukankah aturan haram atau tidak merupakan sebuah ketetapan yang dibuat oleh-Nya, bukan oleh pemikiran manusia. Karena itu, kita tak berhak mengharamkan sesuatu, kecuali sesuai dengan ketetapan-ketetapanNya. Sesuai dengan firmanNya.

Pada situasi seperti ini, terbersit tanya, kira-kira mengapa semua harus terjadi? Mengapa banyak orang tiba-tiba saja menjadi begitu militan? Begitu mencintai agamanya lebih dari siapapun. Tiba-tiba pula jadi pembela agama yang berdiri di garda terdepan.

Saya bahkan sempat bertanya ke seorang teman, apakah agama perlu dibela? Teman itu menjawab, bagi sebagian kalangan mungkin merasa perlu. Meski banyak yang tidak melakukannya, karena alasan agama tidak butuh pembelaan. Tidak butuh sorak sorai. Tidak butuh panggung. Tidak butuh pawai dari bundaran HI hingga Istana Presiden.

Ehm..., saya lebih setuju pada jawaban yang terakhir; agama tidak butuh dibela. Agama itu hanya butuh diamalkan, dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Agama itu adalah cerminan bagaimana kita bersikap. Berperilaku dan bertindak. Agama itu adalah kita.

Agama hanyalah sebuah cara agar kita tidak menjadi barbar. Agama merupakan panduan (way of life) agar kita menjadi teratur sesuai dengan ketetapan yang telah ditetapkanNya. Agama itu adalah perwujudan atau implementasi dari sang pencipta. Agama ibarat sang pencipta itu sendiri.

Jika disederhanakan, agama adalah impartasi sang pencinta yang terpancar dari perilaku keseharian kita.

Lalu, ketika pertanyaannya dibalik; apakah kita harus membela sang pencipta? Tidak, yang terjadi selanjutnya adalah, Ia yang membela kita. Ia yang akan berperang ganti kita. Ia yang mengangkat kita dari jalan-jalan yang salah. Ia pula yang kerap mengingatkan kita.

Karena itu, menurut saya, agama tidak untuk dibela. Ia hadir untuk menuntun manusia pendosa seperti saya, berpaling dari perilaku yang jahat. Membentuk manusia menjadi sadar akan hakekatnya, bahwa kita tidak sendiri. Kita tidak seragam. Ada banyak warna.

Agama juga menginginkan kita menjadi kudus sama seperti Ia yang kudus. Bukan menjadi kudis yang berbau busuk. Bukan! Kita tidak diciptakan untuk itu, karena kita adalah mahkluk mulia dan derajatnya paling tinggi. Pada tahap ini, semua pasti setuju, bukan? Kita adalah mahkluk yang seharusnya mampu berpikir rasional bukan emosional. Semua itu terjadi, karena kita mahkluk istimewa, kawan!

Istimewa.
Kata yang beberapa waktu lalu sempat membuat saya tergelak tawa. Kata yang jikalau boleh berkata jujur, memang istimewa. Namanya saja sudah istimewa, ya, memang istimewa. Titik. Tidak kurang, tidak lebih.

Sama istimewanya dengan kata TELOLET, yang ketika dibalik, maka tulisannya tetap “telolet”. Atau berbahagialah kalian yang bermarga Nababan. Istimewa, karena ketika pelafalannya dibalik hingga kapanpun, tetap saja, “nababan”. Tidak berubah.

Dan diluar semua itu, kitalah pewaris yang “istimewa”. Penerus yang akan menentukan masa depan.  Penentu yang akan memberi warna. Penanggung takdir yang bertanggungjawab membentuk generasi-generasi selanjutnya, setelah kita.

Selintas, saya jadi teringat postingan seorang sahabat di salah satu akun media sosial miliknya. Disitu ia menulis kata-kata yang sangat bermakna dan menohok hati. Dengan sederhana ia berkata:

“kalo anakku menganggap umat lain sebagai musuh, aku gagal jadi emak”
#peganganhidupemak

Adakah kita punya pemikiran serupa? Atau ternyata kita lebih suka menganggap mereka-mereka yang tidak sama sebagai pihak yang harus dijauhi atau harus dipandang hina?

Pilihan kini tergantung kepada kita. Tergantung pada pemahaman-pemahaman tentang menjadi manusia seutuhnya. Tergantung pula pada seberapa peka kita peduli terhadap panggilanNya. Peka terhadap pencerahan-pencerahan yang kadangkala hadir lewat beragam cara dan tak terduga.

Cara.
Finally..., di malam Natal ini, saya diingatkan bahwa caraNya memang berbeda. Karena apa yang tak pernah dilihat mata, dan tak pernah di dengar oleh telinga, serta yang tidak pernah timbul di dalam hati, ternyata itu yang Dia disediakan bagi kita. Bagi yang mengasihi dengan tulus.

Mengasihi, bukan dengan bersujud atau menyembah semalam suntuk. Bukan dengan memberi sumbangan terbanyak. Bukan pula dengan emas dan permata, atau pakaian terindah.

Mengasihi itu sangat sederhana, yakni memandang yang lain sebagai ciptaan yang agung. Setara. Menghormati plus dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Tidak dengan bermegah diri, apalagi tinggi hati.

Tidak!
Di malam Natal ini, saya dipaksa tunduk, bahwa beragama itu harus dipraktikkan. Diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja, karena kita tidak sedang berada di ruang hampa, dan kita tidak sendiri, kawan.

Kita ada. Kita berbeda dan saling menghormati. Pun mengasihi dengan segenap hati. Karena Natal berbicara tentang damai. Damai yang sesungguhnya dan hanya kita yang sanggup mewujudkannya. Kita; kalian dan saya.

Karena itu, atas kerendahan hati yang terdalam, izinkan saya mengucapkan selamat Natal buat yang merayakan. Damai itu harus ada, bagaimana pun situasinya. Meski terkadang terlihat muskyl, apalagi ketika banyak yang beranjak ke sungai yang banyak ikannya. Ups, maaf... yang terakhir ini agak diluar konteks. Lupakan!

Sekali lagi, selamat Natal semua.
Jangan lupa bahagia, guys!

Wednesday, December 07, 2016

*Selalu Ada|

 
(source: http://wefollowpics.com)
Ajari aku membaca hujan,
agar aku mampu membaca air.
Ajari Aku mendengar angin,
agar aku sanggup mendengar.
Lirih cerita dibalik bahana,
Suaramu!

*** 
“Ya, aku tahu jika aku selalu ada”

Sebagaimana yang pernah kau ungkapkan. Saat itu, di minggu pagi yang mendung. Tepat ketika hujan telah berhenti dan semburat merah menyeruak di ufuk timur. Begitu bangun, aku membuatkan minuman hangat. Coklat panas kesukaanmu.

“Ruy, bangun!”
“Nih, minumanmu sudah siap. Minumlah, mumpung masih hangat”, seruku.

Saturday, November 19, 2016

Riau Bosan Kabut Asap & Kebakaran

(Kebakaran hutan/lahan di Riau. Sumber: http://blog.act.id)
Tahun 2015 menjadi tahun yang sangat memprihatinkan bagi bangsa Indonesia. Beberapa provinsi dilanda kebakaran hutan dan lahan. Dampaknya sangat luar biasa. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) akhirnya menjadi perhatian, tidak saja oleh pemerintah namun juga dunia internasional.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut luas area kebakaran huan dan lahan pada tahun 2015 setara dengan 32 kali wilayah Provinsi DKI Jakarta atau 4 kali Pulau Bali. Tak hanya itu, data satelit Terra Modis per 20 Oktober lalu memperlihatkan total hutan dan lahan yang terbakar sudah mencapai 2.089.911 hektare.

Sejauh ini, Riau menjadi provinsi yang dilanda Karhutla setiap tahunnya. Saking seringnya, tahun 2015, provinsi itu merayakan ulang tahun ke-18 terjadinya bencana Karhutla dan bencana kabut asap. Pada tahap ini, kondisinya sudah sangat menghkhawatirkan.

Sunday, October 16, 2016

Ahok diantara jerat panjang nan berduri

(Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Sumber: http://seword.com)

"Menyalahkan orang lain atas ketidak bahagiaan yang kau ciptakan sendiri ialah selemah-lemahnya iman..."
~Mpok Juleha, 27 tahun, sosialita legging macan

Beberapa waktu lalu, Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok" Tjahaja Purnama akhirnya meminta maaf terkait pernyataannya soal Surat Al Maidah ayat 51. Permintaan maaf itu ia sampaikan di hadapan sejumlah wartawan yang telah mununggunya di Balai Kota, pasca berkembangnya polemik yang dianggap membuat gaduh umat Islam. 

Belakangan banyak yang menyebut upaya minta maaf itu, tak lain atas usulan Megawati Soekarnoputri (Ketua Umum PDIP) dan Presiden Jokowi. Kendati demikian, hanya Ahok dan Tuhan yang tahu. Dan yang pasti Ahok sudah meminta maaf.

Saturday, October 08, 2016

Ramanujan dan cinta yang bergelora

(Srinivasa Ramanujan, ahli matematika asal India. Sumber: www.ramanujanitcity.com)
While asleep, I had an unusual experience. There was a red screen formed by flowing blood, as it were. I was observing it. Suddenly a hand began to write on the screen. I became all attention. That hand wrote a number of elliptic integrals. They stuck to my mind. As soon as I woke up, I committed them to writing.
-Srinivasa Ramanujan

Kemarin malam, disela-sela waktu yang terbatas, saya menyempatkan diri menonton The Man Who Knew Infinity di internet. Selidik punya selidik, film berdurasi 1 jam 48 menit itu ternyata baru dirilis pada 29 April lalu. Artinya, film tersebut masuk kategori fresh alias film baru, demikian akal sehat saya membagi sebuah film berdasarkan waktu rilisnya.

Bagi sutradara, Matthew Brown, film The Man Who Knew Infinity merupakan “biopic” tentang tokoh bernama Srinivasa Ramanujan, ahli matematika asal Madras, India yang akhirnya bergabung dengan Trinity College Cambridge pada Perang Dunia I, lewat anjuran GH Hardy, seorang berpengaruh di universitas itu.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN