Monday, April 24, 2017

Rekonsiliasi Basi!

(Ilustrasi. Source: http://www.thecalled.net)
“Kebhinekaan itu fakta, karena itu tidak usah diperjuangkan. Ada yang mengatakan memperjuangkan kemerdekaan, kemerdekaan itu fakta, fakta itu diterima, bukan diperjuangkan. Yang harus diperjuangkan bukan kebinekaan, (tapi) persatuan di dalam kebinekaan, itu yang harus diperjuangkan”
--Anies Baswedan

Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) atau real count KPU akhirnya selesai pada 20 April 2017 pukul 21.15 WIB. Hasilnya, pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta nomor urut 3 Anies Baswedan-Sandiaga Uno berada di posisi puncak dengan perolehan 57,95 persen. Sementara itu, pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat mendapatkan 42,05 persen suara.

Friday, April 21, 2017

Dariku Tentang Cinta

(Dariku Tentang Cinta, Dadang #PohonTua Pranoto)

Aku merindu
Senyum tawamu

Sinar bulan tua
Kirim salamku padanya
Sendirikah dia
Di malam gulita

Semesta jagalah dia
Hingga waktuku tiba 

Tuesday, April 18, 2017

5 Cara Sederhana Meliput Pilkada DKI

(https://nonsmokingladybug.files.wordpress.com)

“Godaan untuk menelan mentah-mentah informasi yang belum diuji makin besar.” 
Ahmad Nurhasim, Ketua AJI Jakarta

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menyerukan para pemburu berita agar tetap menjaga independensi dan setia pada kode etik jurnalistik sebagai “way  of life” di tengah beredarnya beragam informasi saat peliputan Pilkada DKI Jakarta.

Jujur saja, saat ini persaingan diantara industri media sangat ketat. Akibatnya, para jurnalis dipaksa untuk mencapai batas tertingginya atau push the limit ditengah maraknya informasi yang belum terverifikasi. 

Banyak jurnalis yang berlomba-lomba untuk menghadirkan informasi terbaru, informasi yang belum tentu benar. Sementara di sisi lain, ada banyak pihak yang berkepentingan terkait hal itu.

Monday, April 17, 2017

Belajar Dari Yesus (yang) Komunis

(source: https://brianzahnd.com)
Menjadi Kristen bagi saya adalah menjadi komunis seperti Yesus. Menjadi anti-kapitalisme dan berjuang untuk pembebasan manusia. Ini jalan salib Yesus.
@barahamin

Paskah!
Ya, di Minggu Paskah ini, saya sempatkan untuk beribadah. Beribadah bukan karena keharusan atau rutinas, tapi karena sebuah panggilan. Panggilan yang didasarkan atas kerinduan. Rindu lebih dekat denganNya. Rindu menerima pengurapanNya yang ajaib.

Hari Raya Paskah sendiri memiliki banyak arti. Ada yang menyebut sebagai hari besar keagamaan Yahudi, simbol terbebasnya bangsa Israel atas penjajahan Mesir, hingga penanda bangkitnya Yesus dari kematiannya di hari ketiga. Kurang lebih begitu informasi tentang asal muasal Paskah yang saya baca. Namun bagi saya, tak penting latar belakangnya, karena yang utama adalah “mendekat” padaNya. Bagaimana saya bisa mendengar panggilanNya dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

Friday, April 14, 2017

"Maaf" Tak Perlu Ditawar!

(source: www.sorryimages.love)

Memohon Maaf, pastinya bukan perkara rumit
Pun tak begitu menarik,
apalagi harus ditunda sedemikian lama.
Kata Maaf, jamak terdengar di ruang-ruang warga.
Belakangan dilekatkan pada prosesi "mengampuni".
Bahkan untuk hal-hal yang tak disengaja, 
diksi “maaf” ditebar ke alam raya.
Alasannya, agar yang dimaksud tidak tawar hati.
Tidak memendam bara.
Tak larut dalam seteru berujung hampa.
Karena seringkali, meminta maaf punya segudang pembenar.
Punya dalil-dalil logika.
Namun bagi saya, memohon maaf tidak butuhkan alasan.
Memohon maaf hanya perlu diaktualisasikan.
Dipraktikkan!
Tanpa ragu, 
secepatnya.
Karena meminta maaf, ibarat ikhlas.
Lakukan secara sadar dan biar semesta yang menentukan.
Sama seperti saat ini.
Dengan kesadaran penuh,
saya mohon maaf,
atas kata dan salah,
atas ketidaknyamanan yang membuat luka.
Atas pertanyaan-pertanyaan tidak menyenangkan.
Atas praduga yang berujung konfirmasi.
Tapi, sudahlah...
Dari lubuk hati terdalam, saya mohon maaf.
Tanpa alasan.
Tanpa pembenaran,
juga tak berharap lebih.
Karena maaf tak perlu ditawar.
Tak juga perlu tipu diri.
Lalu, seperti pepatah tua menyebut
"meminta maaf, buahnya hati jadi tenang"
Menjadi lapang seperti sediakala.
Dan itu yang saya lakukan.
Karenanya, maafkan kawan!
Maafkanlah!


--salam beribu cinta--




ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN