Tuesday, February 13, 2018

Jalan Panjang "Tulus" Mencari Keadilan

(Anry Tulus Sianturi, source: www.akses.co)

"Saya tidak punya pengacara atau kuasa hukum dalam kasus saya ini, karena saya tidak punya apa-apa dan orangtua saya pun hanya bekerja sebagai tukang jahit,
--Anry Tulus Sianturi

Kisah yang dialami junioren saya, Anry Tulus Sianturi, 26, mantan mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) Program Studi (Prodi) Agroekoteknologi Universitas Sumatera Utara (USU), angkatan 2010, menarik untuk disimak. Pasalnya, Anry Tulus yang kerap disapa Tulus telah memenangkan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan terkait dikeluarkan atau Drop Out (DO) oleh rektor USU.

Pada sidang yang digelar Selasa (15/8/2017), majelis hakim PTUN Medan yang diketuai Irhamto memutuskan menolak eksepsi tergugat (baca: rektor USU) seluruhnya dan mengabulkan gugatan penggugat, Anry Tulus Sianturi seluruhnya.

Sunday, December 31, 2017

Apa pentingnya refleksi akhir tahun?

(source: https://i.ytimg.com/)
Time flies so fast,
then years has changed. 
So, what's your resolution in the next year, buddies?
--Simpang Kiri Jalan

Di momen pergantian tahun, tetiba saya tertarik untuk menulis, khususnya terkait refleksi selama setahun dan resolusi, --demikian kaum urban menyebutnya--, untuk harapan di tahun depan (baca: 2018).

Jujur, saya bingung harus mulai dari mana. Bingung bukan karena tak mampu menulis secara baik, tapi bingung ketika menyaksikan begitu banyaknya peristiwa, baik yang disengaja maupun tak sengaja sepanjang tahun 2017. Apakah semua harus di higlight plus di-resume sebagai sebuah catatan kecil di akhir tahun?

Ntah... Yang pasti, bagi masing-masing orang, rentetan peristiwa sepanjang tahun ini, pasti nya dimaknai berbeda. Tak kan pernah sama, satu dengan yang lainnya.

Saturday, December 23, 2017

“Separatis”, Kata Yang Tak Perlu Terucap

(source: https://thumb9.shutterstock.com)
“In the West Papuan people’s petition we hand over the bones of the people of West Papua to the United Nations and the world. After decades of suffering, decades of genocide, decades of occupation, we open up the voice of the West Papuan people which lives inside this petition. My people want to be free.”
Benny Wenda, exiled West Papuan leader 

Beberapa waktu lalu, Hermawan Sulistyo yang juga peneliti LIPI berkesempatan hadir sebagai narasumber. Di waktu senggang sebelum on air, Hermawan yang akrab disapa Kikiek itu bercerita tentang bahaya penggunaan kata “separatis”, jika terus digaungkan.

Kata itu semakin sering terdengar pasca pembebasan 1300 warga Kampung Banti dan Kimbely, Mimika, Papua berakhir mulus, meski hingga kini tak jelas, siapa pihak penyandera, karena belum ada yang berakhir di pengadilan.

“Kata separatis itu baiknya gak usah digaungkan. Bahaya, karena hal itu bisa membuat negara lain atau badan dunia terlibat ikut menumpas separatis”, pintanya.

Monday, December 11, 2017

Pembangunan Pertanian Sebuah Utopia?

(sumber: pixabay.com)

The land is ours. It's not European and we have taken it, we have given it to the rightful people... Those of white extraction who happen to be in the country and are farming are welcome to do so, but they must do so on the basis of equality.
--Robert Mugabe


Sejak ajakan menghadiri Seminar Nasional yang dilakukan Ikatan Alumni Fakultas Pertanian USU menggema di media sosial, semisal grup Whatsapp hingga Facebook, rasa penasaran saya terusik. Selain lama tak ikut dalam kegiatan alumni kampus, bertemu para senioren, teman seangkatan hingga para junioren pastinya cukup menyenangkan. 

“Ibarat acara reuni saja”, demikan akal sehatku mencerna.

Namun, begitu membaca TOR yang disampaikan panitia, selaku lulusan pertanian (baca: walau bukan yang terbaik), kesadaran saya tergugah. Ntah mengapa, saya ingin hadir, meskipun hanya sebagai peserta pasif saja. 

Monday, November 06, 2017

Belajar Dari Jerman

(Ilustrasi Holocaust, source: https://www.japantimes.co.jp)
Beberapa waktu lalu, saya sempatkan menonton film Pengkhianatan G30S/PKI di TVRI. Saya sengaja menonton film itu, untuk sekedar bernostalgia tentang pengalaman masa kecil dulu. Saat masih SD, kami (saya dan teman-teman) kerap diminta oleh guru untuk menonton film berdurasi hampir 4 jam itu. Harapannya, kami semakin membenci PKI dan kian percaya jika Pancasila memang sakti.

Saya sengaja menonton di TVRI karena seorang teman kantor menyarankan hal itu. “Ntar kalau mau nonton di TVRI aja, udah HD, jadi gak kayak di tv-tv lain”, ujar teman itu bersemangat.

Namun, tak dinyana, saat menonton di TVRI, ternyata tayangannya tak begitu bagus. Bahkan banyak tulisan yang tak terbaca sama sekali, karena saking lamanya itu film gak pernah diputar. Artinya, mau nonton di TVRI atau di station lain, hasilnya sama. Rada-rada buram dan formatnya masih 4:3.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN