Thursday, December 17, 2015

Tanam Saja!


...
Aku merasakan ini
Kamu tau aku sakit hati
Melihat semua mati di hadapanku
Dan yang tersisa cuma debu

Ini serius
Tentang bumi ini
Alam ini
Dan kebun di depan rumahku

Tentang pohon pisang
Tentang rumput liar
Tentang capung, 
tentang burung
Tentang kenyataan bahwa semuanya,
tak seindah dulu

Kita harus menanam kembali
Hijau saat ini dan nanti
Kita harus menanam kembali
Satu saja sangat berarti untukmu

Tanam saja
Tanam sajalah
Alam sehat, 
tanggung jawab...

*nosstress

(Salut liat band-band indie Bali yang pedulinya terhadap alam luar biasa. Semoga band-band lain juga mengikutinya)

Saturday, December 12, 2015

Gunung Untuk Kehidupan

(Berpose di puncak Gunung Ciremai 3078 mdpl. Foto: dok. pribadi)
“Promoting mountain products for better livelihoods”
-- International Mountain Day – 11 December 2015

11 Desember merupakan hari paling bersejarah bagi komunitas pendaki gunung maupun veteran pendaki. Pasalnya pada tanggal itu disepakati atau diperingati sebagai International Mountain Day (IMD) atau “Hari Gunung Internasional” 

Hari itu sengaja dibuat untuk membangun kesadaran tentang pentingnya gunung bagi kehidupan. Tak hanya itu, peringatan “Hari Gunung Internasional” juga sengaja hadir untuk mengembangkan peluang dan membangun kemitraan yang akan membawa perubahan positif bagi kawasan gunung dan pemanfaatannya bagi manusia.

Sunday, December 06, 2015

Hentikan Warga Jadi Korban Angkutan Umum!

(ilustrasi kecelakaan bus. source: http://www.cdn.mumbaihangout.org)
Dengan hormat Pak Ahok, mohon kiranya bapak berkenan memusnahkan mahkluk yang bernama Metromini dan Kopaja. Ini hanya contoh yang terlihat mata dan fatal. Sisanya banyak sekali hantu jalanan berwujud transportasi massal yang justru perenggut nyawa manusia.
(komentar seorang teman di media sosial)

---
Demikian bunyi postingan seorang teman di media sosial, menyikapi peristiwa kecelakaan yang terjadi pada hari Minggu (6/12) yang melibatkan angkutan umum dan telah merenggut puluhan nyawa. Bayangin aja, dalam tempo yang tidak terlalu lama 2 kecelakaan besar telah terjadi.

Dua-duanya melibatkan angkutan umum yang selama ini merupakan andalan utama sarana transportasi massal bagi warga ibukota. Kecelakaan pertama terjadi pada Minggu pagi antara Metromini B80 jurusan Grogol-Kalideres dengan KRL commuter line dari arah utara di dekat Stasiun Angke, Tambora, Jakarta Barat.

Wednesday, December 02, 2015

Edan, Jepang Kembali Berburu Paus!

(Paus Minke dan perbandingan ukurannya. Sumber: Ensyclopedia Britanica, Inc)
Kantor berita Jepang, NHK melaporkan kapal pemburu paus asal Jepang telah berangkat menuju Antartika (1/12), beberapa hari setelah Tokyo mengumumkan akan memulai perburuan paus pada musim ini. Keberangkatan dari pelabuhan Shimonoseki itu untuk melanjutkan tradisi perburuan paus yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Sebanyak empat kapal dilibatkan dalam perburuan paus tersebut, termasuk kapal induk Nisshin Maru berbobot 8.000 ton.

Jepang menyatakan program perburuan paus itu untuk kepentingan penelitian. Tahun ini, Jepang menargetkan akan menangkap sebanyak 333 ekor paus dalam musim perburuan Desember hingga Maret tahun depan.

Monday, November 30, 2015

*The Long Road


(Father and daughter. Source: https://intimacyheals.files.wordpress.com)
---
We've walked the long road and you've worn it well.
You stitched yourself up when you fell.
Keep your memories in jars,
Carry secrets in scars.
Beneath your shell.

You've seen some good days, and some bad ones too.
You weave through fashion and trend.
You've seen a sun rise on an ocean blue,
You've seen it set for the dearest of friends.

Sunday, November 29, 2015

Penyelam Hilang di Misool


(skema pencarian Danel Djayadi yang dilakukan tim SAR. sumber: facebook Kaufik Anril)
Rekan divers, barangkali ada yg kenal dengan crew/guide dari Kapal Black Manta, barangkali ada contact yg bisa dihubungi, mohon informasinya. Karena salah satu rekan kami yg sedang menyelam di Misol dikabarkan hilang sudah 3 jam.
--Kaufik Anril, (25/11/2015),  pukul 14:15 WIB

Beberapa hari lalu, saya mendapat kabar tak mengenakkan dari beberapa sumber, utamanya media sosial, terkait hilangnya seorang penyelam, Daniel Djayadi, asal Jakarta. Dikabarkan, Daniel hilang saat menyelam di Misool, Raja Ampat, Papua, pada Rabu, 25 November 2015. Saat itu, ia bergabung dalam LOB (Live a Board) KM Black Manta.

Mendengar kabar itu, saya terkejut, karena kecelakaan penyelaman di Raja Ampat, Papua, terbilang langka. Setidaknya dalam 2-3 tahun terakhir, saya tidak mendengar adanya orang hilang atau meninggal ketika menyelam di sana. Beda halnya dengan kawasan Komodo, NTT yang setiap tahunnya selalu memakan korban. Bisa jadi karena arusnya yang kencang. 

Thursday, November 26, 2015

Diver Prancis Tewas Usai Menyelam di Gili Air

(foto ilustrasi. sumber: https://i.ytimg.com/)
Dunia penyelaman kembali berduka. Romain Didier Pierre, diver asal Prancis, meninggal usai menyelam di perairan Gili Air, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Kejadian itu sendiri terjadi pada Jumat (20/11), sekitar pukul 09.00 WITA.

Keterangan saksi mata yang berhasil dikumpulkan polisi menyebut pria kelahiran 26 April 1987 itu menyelam bersama rekannya didampingi dive master bernama Ricardo.

Pagi itu mereka menyelam hingga kedalaman 19 meter untuk melihat keindahan bawah laut Gili Air. Puas menyelam, mereka naik ke permukaan. Namun sebelum tiba di permukaan, terlebih dahulu mereka melakukan “safety stop”, sebagai upaya untuk menghilangkan nitrogen di dalam jaringan tubuh. Safety stop mereka lakukan di kedalaman 5 meter selama 3 menit.

Tuesday, November 24, 2015

*Blind Spot

(source: https://upload.wikimedia.org/)

...
Malam ini saya tertarik mengupas tentang "blind spot", setelah seorang teman posting bahayanya blind spot saat berkendara. Disebutkan, blind spot mengharuskan pengemudi ekstra waspada, terutama saat belok atau parkir mundur. Pasalnya, blind spot dinilai memiliki risiko yang sangat tinggi dan menjadi salah satu faktor utama penyebab kecelakaan.

Oh ya, mungkin sudah banyak yang pernah mendengar istilah blind spot. Secara sederhana blind spot adalah titik buta, dimana kita tidak bisa mengetahui keberadaan hal lain disekitar kita. Jika dianalogikan, blind spot merupakan hilangnya penglihatan atau terbatasnya pandangan karena terhalang bidang.

Sunday, November 22, 2015

Wujudkan (Nol) Deforestasi pada 2020

(Zero Deforestation. Source: http://i1.adis.ws)

Laporan penelitian terbaru yang dirilis Global Canopy Programme pada September 2015 menyoroti kebutuhan mendesak untuk menciptakan pasar komoditas pertanian berkelanjutan sebagai solusi praktis menghentikan perusakan hutan hujan tropis dunia yang tersisa.

Laporan berjudul “Achieving Zero (Net) Deforestation Commitments: What it means and how to get there” menggambarkan cara untuk mewujudkan ‘Zero Deforestation Pledges’. Laporan itu menilai sejauh apa peran korporat mendukung upaya deforestasi hingga ke level terendah (baca: nol).

Saturday, November 21, 2015

Dialog Dini Hari

(Ilustrasi pagi menjelang. Source: http://images3.alphacoders.com/)

I decided, very early on, just to accept life unconditionally. I never expected it to do anything special for me, yet I seemed to accomplish far more than I had ever hoped. Most of the time it just happened to me, without my ever seeking it.
-- Audrey Hepburn

...
Pertama kali mendengar kata "dini hari" yang muncul adalah bayangan tentang kesunyian. Merayap tenang dalam keutuhannya yang abadi. Menyergap mereka yang larut dalam gundah. Lalu bergerak pasti hadirkan sepi dalam waktu yang lebih lama.

Dini hari, pastinya tak banyak yang menikmati fase-fase itu. Masa dimana kebanyakan mereka telah terlelap tidur. Nyenyak nian atau bukan tak mungkin sedang dibuai oleh indahnya mimpi. Berpindah dimensi.

Friday, November 20, 2015

Terumbu Karang Indonesia, Hebat!

(Terumbu Karang yang mengalami bleaching (pemutihan). Foto: http://financialtribune.com/)

“Penelitian menunjukkan terumbu karang di Indonesia memiliki daya resiliensi yang kuat. Pun tahan terhadap fenomena El Niño ”
-- Mark Spalding, peneliti senior kelautan TNC

Artikel terbaru yang terbit di majalah Science, jurnal ilmiah terkemuka di dunia, pada November 2015, menemukan fakta unik tentang terumbu karang di Indonesia. Artikel tersebut ditulis oleh Mark Spalding, peneliti kelautan untuk The Nature Conservancy (TNC). 

Penelitan Spalding membuktikan bahwa pada kondisi tertentu, terumbu karang memiliki tingkat ketahanan yang memungkinkannya bangkit kembali meski telah dihantam badai, diserang bintang laut maupun wabah penyakit. Sebagaimana layaknya mahkluk hidup lainnya, terumbu karang yang merupakan ekosistem yang sangat dinamis juga melewati fase penurunan dan pertumbuhan. Dan kondisi itu merupakan sesuatu yang alami.

Tuesday, November 17, 2015

Tim Koroner Ungkap Kecelakaan Saat Menyelam

(Andrew Maybury ketika masih hidup. Foto: http://www.mirror.co.uk)
Andrew was a likeble young man, considerate to other people. 
Nothing was too much trouble for him.
- Frederick Maybury, Andrew's father

Baru-baru ini (12/11), tim penyidik independen berhasil mengidentifikasi penyebab kematian seorang turis asal Inggeris ketika mengikuti kursus menyelam di Mesir. Turis yang diketahui bernama Andrew Maybury (34) itu meninggal akibat cidera otak, usai naik ke permukaan secara tiba-tiba di spot Sharm El Sheikh.

Menurut instruktur yang menemani, Maybury mengalami panik lalu buru-buru naik ke permukaan. Saat itu, instruktur sempat tidak mengetahui keberdaaannya, karena ia meluncur secara diam-diam dari kedalaman 10 meter.

Monday, November 16, 2015

Festival Media 2015: Cerdas Memilih Media!

(Festival Media 2015 dimeriahkan dengan beragam kegiatan. Foto: jacko agun)
Untuk keempat kalinya, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kembali menggelar kegiatan tahunan, “Festival Media” sebagai rangkaian dari peringatan Hari Ulang Tahun AJI ke-21. Festival media tahun ini mengangkat tema; "Cerdas Memilih Media". 

Minggu siang (15/11) saya berkesempatan mengunjungi acara Festival Media 2015 yang diadakan oleh AJI di Universitas Atmajaya, terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 51, Jakarta. Acara itu sendiri telah digelar sejak Sabtu, 14 November 2015.

Ketika bertandang kesana, beberapa acara sedang berlangsung secara paralel. Berhubung bukan panitia, saya lebih leluasa berkeliling dari satu stan ke stan lainnya, khusus untuk mengintip kemeriahaanya. Sementara itu, rekan-rekan panitia sibuk mengawal beragam acara tersebut.

Saturday, November 14, 2015

Night Bazaar


(Mari ke Night Bazaar)
I have been a witness, and these pictures are my testimony
The events i have recorded should not be forgotten and must not be repeated
 -- James Nachtwey
...
Malam pukul 19.30 WIB, saya ijin keluar, setelah sebelumnya sempat mengintip keramaian yang terjadi di jalan utama, tak jauh dari rumah kami. Yup, jalan utama itu kini disulap menjadi arena night bazaar. Akibatnya, setiap pengendara yang hendak lewat terpaksa memutar ke arah lain. 

Berbekal kamera pocket digital saya memulai kegiatan yang sebenarnya sudah lama tidak saya lakukan. Hunting foto. Dengan bersemangat, saya berniat mendokumentasikan kegiatan yang selalu diadakan pada akhir minggu kedua setiap bulan itu. Harapannya, dapat beberapa frame foto yang bercerita tentang kemeriahan night bazaar

Thursday, November 12, 2015

*Indie



(foto ilustrasi. Source: https://thumbnail.mixcloud.com)

Mendapatkan Dalet (baca: komputer canggih untuk keperluan broadcasting) di jam-jam sibuk seperti malam tadi, rasanya sesuatu banget. Lalu setelahnya, tinggal menghanyutkan diri dengan rutinitas semu. Semu, karena kegiatan itu tak lebih dari bunga-bunga kehidupan. Patut dijalani tanpa memaki. Pun kudu disyukuri.

Menghanyutkan diri, sejatinya istilah saja. Menurut saya, yang lebih pas adalah menenggelamkan diri atau tenggelam lebih dalam. Yup, tenggelam memang serasa tepat. Bukan karena saya gemar menyelam, tapi sepertinya pas untuk menyerap makna dalam arti yang sesungguhnya.

Tuesday, November 10, 2015

2016, Sinar Harapan Tutup Usia


(logo Sinar Harapan. Foto: http://siva-id.jsstatic.com)

Akhir minggu kemarin, dua grup yang saya ikuti, yang masing-masing terdiri dari komunitas yang berbeda, tiba-tiba membagikan surat elektronik tentang berhenti terbitnya harian Sinar Harapan, sebuah koran sore yang terkenal di Jakarta. Surat elektronik yang dibagikan persis sama .

Oh ya, di Jakarta sendiri, tak banyak koran yang berani memutuskan untuk terbit pada sore hari. Pasalnya, mereka harus mampu menghadirkan info-info terbaru di halaman mukanya. Seingat saya, kompetitornya Sinar Harapan hanya Suara Pembaruan (SP). Uniknya, meski sesama kompetitor, banyak reporter Sinar Harapan yang berteman baik dengan reporter SP di lapangan. Alasannya, karena memiliki genre terbit yang sama dan demi mendapatkan asupan berita terkini.

Meski tak secara spesifik menyebutkan nama, surat elektronik yang berakhir viral itu dibenarkan oleh teman reporter asal Sinar Harapan. Menurut teman itu, ia telah siap dengan kemungkinan terburuk.

Monday, November 09, 2015

20 Persen Bentang Alam Berpotensi Rusak



Studi terbaru University of Minnesota Institute on Environment dan Department of Geography at McGill University, didukung The Nature Conservancy (TNC) menunjukkan tidak ada sektor penggerak tunggal yang berpotensi melakukan degradasi bentang alam di muka Bumi. Dipastikan, pembangungan sektor pertanian, pertambangan, dan energi merupakan tiga sektor utama pendukung peningkatan resiko yang berpotensi mempengaruhi 20 persen dari total bentang alam yang tersisa.

Studi dua universitas ternama itu menggarisbawahi adanya kebutuhan akan perencanaan mitigasi pada tingkatan bentang alam secara proaktif demi mendukung  tercapainya keseimbangan antara tujuan-tujuan pembangunan dan konservasi. 

Sunday, November 08, 2015

*Homo Anjing???


(Ilustrasi Foto: Pemandangan di Alun-Alun Suryakencana. Foto: jacko agun)

Seminggu lalu, di sebuah punggungan, kami bertemu kembali. Saat itu, ia dalam pendakian solo menuju puncak 1803, sementara saya mengarah ke puncak sebelahnya (baca: puncak 1878) bersama beberapa orang junioren. Kedua puncak itu letaknya bersebelahan, hanya dipisahkan oleh sadel (pertemuan dua titik pada satu punggungan) berukuran kecil. Biasanya sadel jadi tempat beristirahat sebelum melakukan summit attack atau pendakian ke puncak dengan tempo cepat.

Pertemuan kami sejatinya tanpa disengaja. Pagi itu, setelah berjalan 40 menit dari pintu rimba, saya tiba di pos I, di ketinggian 756 mdpl. Saat itu, ia sedang rehat, bersandar di batang pohon Altingia Excelsa, sembari memulihkan stamina sebelum melanjutkan perjalanan panjang.

Monday, November 02, 2015

November Rain, It's Really Happen!

(sumber: http://globe-views.com)
November rain washed away may guilt.
November  rain washed away my pain.
November rain, so tired i felt.
November rain was not just any rain.
-- Amy Philip 

Malam hari, 2 November 2015, saya masih di kantor, sok sibuk dengan rutinas harian, ketika seorang teman di studio berkomentar tentang hujan dikawasan Cibubur, Jakarta Timur. Mendapat kabar itu, saya langsung berseru: "Thanks God!", meskipun belum tahu, kapan pastinya hujan akan menyeberang merata hingga Jakarta Selatan.

Sementara itu, ketika melirik media sosial lewat smartphone, rata-rata postingan teman bertema tentang hujan di bulan November. November Rain, istilahnya, merujuk pada judul lagu milik band legendaris Guns n' Roses. Dan hujan pertama di musim ini, betul-betul jatuh di bulan November. Apakah sebuah kebetulan? No comment. Yang pasti kesan serunya begitu terasa.

Hujan lebat disambut warga Jakarta dengan antusias, tak terkecuali dengan saya. Karena kemarau panjang telah membuat banyak sumur kehabisan air dan banyak tanaman mati.

Jujur, dalam 2 bulan terakhir, saya tersiksa dengan keterbatasan air di rumah. Air yang dimaksud adalah air untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci dan kakus. Setiap hari, saya harus rela menunggu air tanah yang ada di sumur pompa kembali terisi, sebelum diisap oleh mesin bermerk "Dab". Kondisi itu membuat saya berada pada situasi 'harap-harap cemas'. 

Tuesday, October 27, 2015

Tersesat Di Geger Bentang


(Puncak Gn. Pangrango dilihat dari puncak Gn. Gede. Foto: http://1.bp.blogspot.com)

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi.
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada.
Hutanmu adalah misteri segala.
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi kau datang kembali.
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua.
- Soe Hok Gie, Mandalawangi - Pangrango

Kemarin malam, seorang teman di grup whatsapp berceloteh tentang 4 pendaki yang hilang di Gunung Pangrango, Jawa Barat. Teman yang kebetulan anggota Wanadri itu mengabarkan jika dibutuhkan, tim rescue dari Wanadri akan berangkat untuk melakukan pencarian para pendaki itu.

Dari informasi yang beredar, diketahui keempat pendaki asal Jakarta itu ternyata masuk lewat jalur Geger Bentang. Geger Bentang merupakan rute masuk ke Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP) melalui perbukitan Geger Bentang. Posisinya bersebelahan dengan rute resmi memasuki TNGP.

Selain itu, Geger Bentang merupakan salah satu jalur istimewa di kawasan TNGP. Dikatakan istimewa, karena jalur itu biasanya digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu saja, seperti pendidikan dasar pecinta alam atau sekolah mendaki gunung.

Friday, October 23, 2015

*and I Love Her


(source: http://buzzghana.com)


She's a whistle on the wind
A feather on the breeze
A ripple on the stream
She is sunlight on the sea
She's a soft summer rain
Falling gently through the trees
And I love her

She's cunning as a fox
Clever as a crow
Solid as a rock
She is stubborn as a stone
Shes a hardheaded woman
And the best one that I know 
And I love her
Yeah well I love her

She's as new as the springtime,
Strong as autumn blows
Warm as the summer
And soft as the snow
She's a thousand miles from here
But she's everywhere I go
Cuz I love her

She loves me like a woman
She looks like a lady
She laughs like a child
And cries like a baby
I think that maybe she's the one that's gonna save me








*Passenger


Thursday, October 22, 2015

What..., Reklamasi di Kepulauan Seribu?



(Rencana Reklamasi Teluk Jakarta. Sumber: http://www.dutchwatersector.com)

Beberapa waktu lalu seorang sahabat mengirimkan link berita tentang Kepulaun Seribu lewat Whatsapp. Link itu berkisah tentang rencana Pemerintah DKI yang ingin menyulap Kepulauan Seribu menjadi salah satu lokasi wisata andalan Jakarta. 

Sebagai seorang pengunjung yang sering bolak balik ke Kepulauan Seribu, link berita itu sangat menggoda. Maklum, saya belum tahu dan belum pernah dengar seperti apa konsep yang ditawarkan oleh Pemprov DKI terkait hal itu. Sementara di sisi lain, para aktivis lingkungan telah melakukan banyak kegiatan di Kepulauan Seribu sebagai bagian dari konservasi sumberdaya alam dan peningkatan kapasitas penduduk yang selama ini terkesan agak terpinggirkan.

Balik lagi, di link berita itu disebutkan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok siap membantu pemerintah pusat agar fokus pada pembangunan destinasi wisata kepulauan. Dan Kepulauan Seribu akan disulap menjadi salah satu destinasi wisata andalan Jakarta. ‎Mirip-mirip Maladewa.

Tuesday, October 20, 2015

Ber(jumpa) di Jalan Setapak

(simbol saja, sumber: https://bobchoat.files.wordpress.com)
Lama juga dia tak berkomunikasi dengan makhluk yang satu itu. Lebih dari beberapa waktu. Sejak komunikasi terakhir yang cenderung kisruh, dia memilih menjauh. Mengambil jarak pandang aman dan posisi yang lebih tinggi agar tak terseret arus utama yang tak tentu arah.

Namun hal itu belum seberapa, dibanding kejutan berikutnya. Kejutan yang membuat ia tak bisa lupa. Kejutan di siang bolong, tentang permintaan yang sejatinya tak banyak gunanya, apalagi membantu. Kejutan yang hanya menyisakan shock!

Kejutan itu memintanya segera berjarak. Tidak mengusik, apalagi mengganggu sesosok mahluk yang sejatinya tak ingin diusik. Mahluk yang jika marah bisa lebih sangar dari singa. Namun jika sedang senang hatinya, selembut domba.

Monday, October 19, 2015

Wow... Provinsi Konservasi Terbentuk

(Guide lokal di Raja Ampat sedang berpose di depan sea fan. Foto: Jacko Agun)

Bagi mereka yang pernah mendatangi wilayah kepala burung Papua, pastinya setuju jika provinsi terbaru papua itu dinobatkan sebagai  kawasan konservasi yang harus dilindungi dan dilestarikan. Bayangin aja, di wilayah perairan laut Papua Barat yang juga dikenal dengan Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) merupakan pusat keanekaragaman hayati laut, yang juga merupakan jantung segitiga karang dunia.

Data terakhir yang dimiliki oleh Provinsi Papua Barat menyebut Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) memiliki keragaman karang tertinggi di dunia, dengan lebih dari 1720 spesies ikan karang dan 600 karang scleractinia (sekitar 75% dari total yang ada dunia).

Di BLKB juga terdapat  habitat penting spesies laut yang terancam punah, termasuk penyu dan cetacea. Potensi daratan di Papua Barat juga tidak kalah menarik. Hutan yang masih alami menjadi tempat tinggal 657 burung, 191 jenis mamalia darat, 130 jenis katak, dan 151 jenis ikan air tawar.

Sebagai   wilayah   yang   dianugerahi   sumberdaya   alam   yang   melimpah, Papua Barat tidak menginginkan kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah lain di Indonesia terjadi di surga Papua. Praktik pengelolaan sumberdaya alam harus dilakukan secara bijak, hati-hati, tidak eksploitaf dan harus dapat memberikan  keadilan  sosial dan   lingkungan  secara  terus menerus.  

Thursday, October 15, 2015

Pengelolaan TN Laut Butuh SDM Profesional


(Peta Kep. Seribu. Sumber: http://pulauseribupulau.com)               

Eco Diver Journalists (EDJ) mendukung pengelolaan taman nasional (TN) laut yang profesional. Pengelolaan yang profesional hanya mungkin jika didukung oleh sumber daya manusia yang profesional, sehingga pengelolaan wisata selam di tanah air bisa berkembang dengan memperhatikan kaidah-kaidah konservasi.

Eco Diver Journalists yang diwakili oleh Sugiharto Budiman menyambut baik upaya yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam kegiatan Pelatihan bagi Pemandu dan Teknisi Peralatan Selam di Pulau Pramuka, TN Laut Kepulauan Seribu pada 15-18 Mei 2015. Kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilakukan dari semua taman nasional laut yang ada.

“Peningkatan kapasitas pemandu di Taman Nasional Laut Kep. Seribu sangat diperlukan mengingat kunjungan wisatawan minat khusus (menyelam), baik lokal maupun mancanegara setiap minggunya cukup banyak. Sudah seharusnya ada pembinaan yang menyeluruh, mengingat mereka adalah ujung tombak kegiatan selam di Kep. Seribu”, ujar Sugiharto Budiman, yang juga Sekjen Eco Diver Journalists.

Monday, October 12, 2015

Yuk, Belajar Mengenal Karang Dan Pemanfaatannya!

(Pelatihan Coral Finder di TNKS. foto: jacko agun)
Dulu, hanya peneliti yang mampu mengidentifikasi jenis-jenis terumbu karang di dasar lautan. Jumlahnya pun tak banyak. Kini, seiring perkembangan ilmu pengetahuan, seorang pemula sekalipun akan mampu mengidentifikasi jenis-jenis karang dengan menggunakan Coral Finder.

Data LIPI pada 2009 lalu menyebutkan, sebanyak 4% terumbu karang di Indonesia dalam kondisi kritis, 46% diantaranya telah mengalami kerusakan, 33% kondisinya masih bagus dan kira-kira hanya 7 % yang kondisinya sangat bagus. Bertambahnya berbagai aktivitas manusia yarng berorientasi di daerah terumbu karang ternyata memberi dampak pada penurunan kualitas terumbu karang. Jika kegiatan yang berhubungan dengan terumbu karang tidak segera dihentikan maka persentase terumbu karang dengan kriteria kritis akan bertambah dengan cepat.

Saat ini perhatian terhadap ekosistem terumbu karang mulai banyak dilakukan. Hanya saja, jika dibandingkan dengan laju kerusakan yang terjadi, kerja-kerja cepat memang sangat dibutuhkan, agar terumbu karang sehat yang tersisi tidak semakin rusak.

Saturday, October 10, 2015

Jurnalis Ditodong Senjata

 
(ilustrasi kekerasan terhadap jurnalis. sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia)

Kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi di Papua. Kali ini menimpa jurnalis tabloidjubi.com dan Koran Jubi di Jayapura, Abraham You yang akrab dipanggil Abeth You.

Menyikapi aksi itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura, mengutuk keras sikap arogan polisi terhadap jurnalis. Kejadian itu bukan yang pertama dan kasus kekerasan terhadap terhadap jurnalis selalu berulang karena negara melalui aparat penegak hukum, terutama kepolisian, terus melakukan praktik impunitas yang membuat para pelaku tidak tersentuh hukum.

Saat kejadian, Abeth dicekik dan dipaksa naik ke truk polisi (Dalmas) karena memotret penganiayaan yang dilakukan anggota Polres Kota Jayapura terhadap aksi rohaniawan Katolik yang berdemonstrasi menuntut pengungkapan kasus “Paniai Berdarah” yang menewaskan 4 siswa di lapangan karel Gobay, Enarotali akhir Desember 2014. Aksi demonstrasi para rohaniawan itu dilakukan pada hari Kamis (8/10/2015).

Thursday, October 08, 2015

Rob Hall, Penjaga Chomolungma


(Rob Hall di puncak Everest di tahun 1990. Foto;www. theaustralian.com.au)
“You my friends are following in the very footsteps of history, something beyond the power of words to describe. Human beings simply aren’t built to function at the cruising altitude of a 747. Our bodies will be literally dying. Everest is another beast altogether.”
―Rob Hall

Rob Hall kini tenang disana. Ia telah lelap ditemani salju abadi Chomolungma (bahasa Tibet; Ibu Alam Semesta) dibalut badai khas puncak yang membekukan tulang.

Ia pergi dalam diam, ketika melakukan pendakian terakhirnya ke Sagarmatha (baca; Everest dalam bahasa Nepal), tepatnya di saat musim pendakian paling kelam terjadi di tahun 1996. Saat itu belasan pendaki meninggal, usai berhasil menggapai puncak sejati Everest.

Rob Hall, pendaki asal Selandia Baru yang merupakan pimpinan ekspedisi Everest 1996 meninggalkan seorang istri yang cantik, ketika berangkat memandu dan mengantarkan wisatawan (baca: non pendaki) ke puncak Everest. Saat itu ia dan beberapa temannya, seperti Scott Fischer sedang getol mempopulerkan kegiatan komersialisasi pendakian gunung es.

Wednesday, October 07, 2015

Diver (kembali) Berduka!

(Peta spot menyelam di kawasan Taman Nasional Laut Komodo. Source;http://seaundersea.com/indonesia/komodo) 
Kembali, dunia petualangan bawah air berduka. Diver asal negeri tirai bambu dikabarkan hilang saat menyelam di perairan Gili Lawa, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur pada Minggu (4/10/2015) pagi.

Selasa, 6 Oktober pagi saya dikejutkan dengan berita adanya penyelam yang hilang di Taman Nasional Laut Komodo, NTT. Info itu saya dapatkan dari grup whatsapp komunitas penyelam.

Disebutkan, hingga hari kedua hilangnya turis asal Tiongkok itu, Tim SAR Kabupaten Manggarai Barat, terus melakukan pencarian seorang wisatawan yang gemar menyelam, diketahui bernama Chuang Binhto.

Chuang Binhto (30 tahun) dikabarkan hilang saat menyelam di spot Gili Lawa Laut, yang memang terkenal dengan arus yang kuat. Disebutkan, arus di kawasan itu tidak saja horizontal namun juga vertical, biasa disebut down current.

Thursday, October 01, 2015

Ketika Nyawa Tak Semahal Tambang


(Poster Pembunuhan Salim Kancil. Sumber; facebook)

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan dengan gambar bertuliskan “DI TANAH KAMI NYAWA TAK SEMAHAL TAMBANG. SALIM KANCIL DIBUNUH”. Beberapa teman tampak mengubah profile picture mereka dengan gambar itu, dan tak sedikit yang mem-postingnya sebagai bentuk dukungan pengungkapan kasus atas terbunuhnya Salim Kancil.

Kekerasan dan pembunuhan terhadap Salim Kancil terjadi pada Sabtu, 26 September 2015. Saat itu bersama temannya, Salim asal Desa Selo Awar-awar, Kab. Lumajang, diculik dan dianiaya saat sedang mempersiapkan aksi damai menolak pertambangan pasir besi. Aksi penculikan dan penganiayaan tersebut dilakukan oleh sekelompok preman yang diduga suruhan Kepala Desa pemilik tambang pasir.

Oh ya, kabar tentang pembunuhan Salim Kancil, seorang petani yang juga aktivis lingkungan itu saya terima lewat seorang kolega yang bekerja di sebuah NGO di Jakarta pada 27 September lalu. Biasanya, bila ada informasi yang berhubungan dengan advokasi tambang, penolakan warga terkait tambang hingga massa aksi, tak segan-segan kawan itu mengabarkannya, dengan harapan media mau memberitakannya.

Begitu mendapat info adanya konpers terkait tewasnya Salim Kancil yang digagas oleh beberapa NGO, seperti JATAM, WALHI, KONTRAS, KPA dan Komnas HAM, segera saya membaginya ke beberapa jaringan yang saya miliki. Namun yang utama, saya memberitahukannya ke kantor, baru kemudian menyebarkannya ke beberapa milis terkait jurnalisme.

Sayangnya, ketika info itu saya bagikan, kantor ternyata tak mengirim orang untuk meliputnya. Alasannya, klasik. Jumlah tim yang terbatas. Hiks... Sedih ajah! Dan kejadian seperti ini bukan yang pertama. Sudah sering terjadi, ketika info-info yang menurut saya layak diliput ternyata dibiarkan menguap begitu saja.

Thursday, September 24, 2015

#RIP Yongki

(Yongki ketika masih hidup bersama Tulus. source: wowkeren.com)

Waktu kecil dulu mereka mengatakan
Mereka panggilku gajah
Kini ku beri tahu puji dalam olokan
Mereka ingatku marah
Jabat tanganku panggil aku gajah

Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus sanggup
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disitu pasti rela jadi tamengku

--
Beberapa hari terakhir, ntah mengapa lagu "Gajah" buah karya penyanyi Tulus terngiang begitu kencang. Di kala senggang, sebagai pengusir sepi, lagu itu selalu saja diputar secara berulang oleh seorang kawan. Saya yang mendengarkan, hanya menyimak saja.

Selintas, lagu Gajah terkesan unik. Pasalnya, lagu bernuansa pop-jazz itu tidak spesifik bercerita tentang sifat dan perilaku satwa terbesar di Bumi yang bobotnya mencapai 6 ton itu.  Lagu itu lebih banyak bercerita tentang pengandaian dan persahabatan. Lagu itu pun, tak lebih dari metafora pergulatan hidup seorang Tulus.

Siapa sangka jika inspirasinya adalah peristiwa masa lampau, ketika Tulus kecil kerap menjadi korban bully. Tulus yang memiliki badan bongsor, sering dipanggil dengan sebutan 'gajah' oleh teman-temannya. Uniknya, hal itu tidak jadi penghambat baginya untuk terus berkarya dan menuntut ilmu. 

Lagu Gajah juga bercerita tentang kekinian, sebuah kondisi dimana Tulus yang sekarang berbeda dengan puluhan tahun silam. Di lagu itu, Tulus menegaskan bahwa dia adalah pribadi yang baru. Tulus yang dulu diangap sebelah mata, kini terbukti berhasil dan layak diperhitungkan.

Melalui lagu, Tulus yang memiliki nama lengkap Muhammad Tulus Rusyidi ingin menginspirasi, bahwa betapapun masa sulit telah terjadi dalam hidup kita, maka kita tak boleh berkecil hati. Bisa jadi, mereka yang dulu mengolok-olok kita, belum tentu lebih sukses dari kita di masa depan.  Oleh sebab itu, tetaplah fokus pada bidang yang dikuasai, karena dari situ terpancar bibit-bibit keberhasilan di masa depan.

Sunday, September 20, 2015

*tentang Pewarta


(Ilustrasi: kerja-kerja jurnalistik, Sumber: www.pakistantoday.com.pk)

“Journalism can never be silent: That is its greatest virtue and its greatest fault. It must speak, and speak immediately, while the echoes of wonder, the claims of triumph and the signs of horror are still in the air.”
– Henry Anatole Grunwald

Alfian (28), wartawan sebuah portal berita nasional tak pernah surut dalam bekerja, meski honor bulan kemarin tak kunjung tiba. Sebagai bentuk tanggungjawab terhadap publik, ia selalu rajin mengirimkan laporannya ke kantor pusat di Jakarta.

Biasanya, ketika selesai melakukan wawancara dengan narasumber, ia bergerak menuju warung kopi Sekber Jurnalis, di Banda Aceh. Di warung yang memberikan layanan wifi gratis itu, Alfian bersama jurnalis --yang kurang beruntung-- akan menyelesaikan kerja-kerja jurnalistik mereka. Kurang beruntung, karena mereka tidak dibekali dengan modem wifi, seperti kebanyakan wartawan media-media besar lainnya.

Sembilan tahun menjadi wartawan, ternyata tak jadi jaminan memperoleh penghasilan yang lebih baik. Pasalnya, karir jurnalistiknya banyak dilalui tanpa ikatan kontrak yang jelas. 

Wednesday, September 16, 2015

Don't You Remember?

(Source: http://data.whicdn.com)


"Tommy terbaring di ranjang sepertinya sedang tidur. Mamanya, Tante Elza, menangis sambil menggenggam tangan Tommy. Sementara papanya, Om Beno, memeluk pundak Tante Elza, sambil menangis juga."

Tulisan diatas membuat sedih itu begitu nyata. Merampas seluruh akal sehat. Larut, menyatu dalam alunan pilu tiada henti. Memaksa beku, tak mampu beranjak. Jika pun bergerak, butuh waktu lama. Pedih itu tak lantas lenyap. Ia mengendap lama. Lama sekali.

Sementara itu, membacanya lagi, hanya sisakan tanya, mengapa si penulis begitu tega? Tega mengoyak-ngoyak rasa yang tersisa. Mengaduk-aduk rasa dalam sastra. Akankan ia sadar? Kata-kata indahnya telah rontokkan tembok tebal itu. Hancurkan setiap penghalang, antara akal sehat dan terima kenyataan. Kenyataan bahwa Tommy telah mati.

Tuesday, September 15, 2015

Mengapa Harus "Kiri"?

(Simbol "kiri". Sumber: syahwatvirtual.blogspot.com)
“Man is above all else mind, consciousness -- that is, he is a product of history, not of nature.” 
― Antonio Gramsci

Antonio Gramsci, filsuf kebangsaan Italia, penulis dan teoritikus politik merupakan salah satu intelektual kiri yang karya-karyanya paling laris dibaca dan ditafsirkan pada abad ke-20. Sejarawan kondang Eric Hobsbawn sangat mengapresiasi pemikiran Gramsci. Hobsbawn menilai, Gramsci merupakan intelektual Italia yang paling terkenal dan terkemuka sepanjang masa, yang karya-karyanya patut dikategorikan sebagai karya klasik. 

Sementara menurut Joseph A. Buttigieg, salah satu pemikir Gramsci terkemuka saat ini, Gramsci adalah ilmuwan politik dan kritikus budaya yang sangat sering dikutip dan karyanya paling banyak diterjemahkan.

Antonio Gramsci yang lahir di Ales, Italia pada 22 Januari 1891, dalam perjalanan hidupnya mengalami masa-masa suram, ketika harus mendekam di balik jeruji besi untuk waktu lama (baca: 20 tahun) di masa pemerintahan rejim fasis Benito Mussolini. Saat itu, ia dianggap sebagai orang yang berbahaya dan berseberangan dengan pemerintah.

Sunday, September 13, 2015

Kok, Laki-laki Suka Cabul?

(Ilustrasi, sumber: http://cdn.someecards.com)


Study: Women Have More Sexual Fantasies Than Men – But Men’s Are Raunchier
~Nieves Moyano Muñoz and Juan Carlos Sierra Freire

Sebuah artikel di dunia maya memuat judul demikian. Membaca tulisan itu, saya tersenyum simpul. Dikatakan, laki-laki memiliki pikiran lebih cabul ketimbang perempuan. 

Ya, laki-laki memang lebih sering memikirkan hal-hal cabul ketimbang perempuan. Pasalnya, laki-laki gampang tergoda untuk berpikiran cabul karena lingkungan. Melihat perempuan cantik dan seksi, misalnya. Atau, tak sengaja bersinggungan dengan konten-konten berbau pornografi.

Ternyata, kondisi itu ada alasannya dan bisa diukur secara ilmiah. Sebuah penelitian terkini membuktikannya. Adalah Nieves Moyano Munoz dan Juan Carlo Sierra Freire dari Fakultas Psikologi Universitas Granada, Spanyol yang meneliti kualitas fantasi seksual bagi pria dan wanita.

Friday, September 11, 2015

Bon Jovi, Ketika Saya Memutuskan Berjarak!

(Album solo pertama Jon Bon Jovi. Source: www.farm9.staticflickr.com)


"Nonton konser paling anarkis n dramak!!
Tiket palsu..
Rusuh...
Tapi akhirnya bisa masuk di lagu 4
Dan lepas semua...
Kecuali be-kondenya kaki dan emosi"
~ postingan seorang teman di media sosial

Membaca komentar itu, saya bisa membayangkan betapa seru dan hebohnya konser Bon Jovi yang digelar pada Jumat malam, 11 September 2015 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Apalagi, kabarnya jumlah penonton mencapai 40.000 orang. Wow, dengan jumlah penonton sebanyak itu, bisa dipastikan stadion penuh sesak dan GBK berguncang hebat. 

Sementara itu, sepanjang Jumat malam, hampir semua timeline media sosial, mulai dari facebook, twitter hingga path tak putus-putus memberitakan konser Bon Jovi yang kali ini mengambil tajuk "Bon Jovi Live". Jika tidak mengomentari konsernya, maka sebagian besar netizen memposting foto-foto ketika konser berlangsung. Pun, tak sedikit yang share video juga. 

Konser Bon Jovi kali ini terbilang spektakuler. Pasalnya, sudah 20 tahun berselang, ketika ia menyapa penggemarnya di Indonesia. Saat konser pertama digelar, saya masih kuliah dan memang gandrung dengan lagu-lagunya. Apalagi, setahun sebelumnya, yakni pada 10 Oktober 2004, Bon Jovi menelurkan album kelima bertitel "Cross Road" dengan lagu andalan; Always dan Someday I'll be Saturday Night. 

Khusus untuk "Always" telah menjadi lagu terpopuler tidak hanya di dunia namun juga di Indonesia. Seingat saya, lagu itu sempat menempati posisi 4 di Billboard AS, posisi 2 di Mainstream Top 40 dan juga merupakan hit internasional posisi 1 di Australia, posisi 2 di Inggris dan posisi 4 di Jerman. Kebayang kan, betapa cetar membahananya uncle Bon ketika membawakan lagu itu? 

Saat konser Bon Jovi pertama kali di gelar di Jakarta di tahun 1995, hebohnya luar biasa. Tak hanya di ibukota, gaungnya pun menjalar hingga ke daerah-daerah, termasuk Medan. Mengapa Medan? Karena saya seorang warga Medan loh! Saat itu, lagu-lagu Bon Jovi menemukan bentuknya, setelah diputar berulang-ulang. Lagi dan lagi.

Tak hanya itu, sebelum konser digelar, promosinya sangat jor-jor an dan begitu masif. Hampir setiap hari, radio-radio di Medan, memutar jingle konser tersebut. Pojok-pojok kota pun jadi saksi kehebatan grup musik Bon Jovi. Terbukti dengan banyaknya poster yang ditempel di setiap tembok kota.  

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN