Saturday, November 14, 2015

Night Bazaar


(Mari ke Night Bazaar)
I have been a witness, and these pictures are my testimony
The events i have recorded should not be forgotten and must not be repeated
 -- James Nachtwey
...
Malam pukul 19.30 WIB, saya ijin keluar, setelah sebelumnya sempat mengintip keramaian yang terjadi di jalan utama, tak jauh dari rumah kami. Yup, jalan utama itu kini disulap menjadi arena night bazaar. Akibatnya, setiap pengendara yang hendak lewat terpaksa memutar ke arah lain. 

Berbekal kamera pocket digital saya memulai kegiatan yang sebenarnya sudah lama tidak saya lakukan. Hunting foto. Dengan bersemangat, saya berniat mendokumentasikan kegiatan yang selalu diadakan pada akhir minggu kedua setiap bulan itu. Harapannya, dapat beberapa frame foto yang bercerita tentang kemeriahan night bazaar

Begitu berada di areal night bazaar, saya langsung terdesak masuk. Pasalnya, antrean panjang telah terjadi. Dengan ruang yang begitu sempit, yang cukup untuk 2 jalur, mau gak mau, saya terpaksa ikut meringsek maju. Baru kemudian, di sebuah lokasi yang agak lapang, saya memutuskan untuk berhenti. Siap beraksi.

Seperti biasa, sebelum memotret, saya tipikal orang yang melakukannya dengan tenang. Tidak grabak grubuk. Lalu saya melakukan surveilanceMulai mengamati, mereka-reka sekaligus mengatur ancang-ancang tuk memotret. Baru ketika posisi telah benar-benar mantap, selanjutnya framing diatur. Sebelumnya kamera telah diseting ke format manual, dan bersiap menekan rana, ketika menemukan objek yang menarik.

Aksi memotret sebisa mungkin saya lakukan dengan senyap. Tak mengganggu yang sedang berlalulalang. Tidak gaduh juga. Karena kalo sampai gaduh, maka akan menimbulkan kehebohan. Dan, gak lucuk, ketika acara memotret akhirnya bubar, hanya karena attitude yang kurang pas.

Soal memotret dengan tenang, saya belajar banyak dari Nachtwey. Nachtwey yang memiliki nama lengkap James Nachtwey merupakan salah seorang fotojurnalis terbaik di dunia. Penerima World Press Photo Award di tahun 1994 itu telah melakukan tugas jurnalistiknya ke hampir seluruh wilayah, khususnya berbau konflik, di seluruh dunia. Dia pun menjadi saksi bisu atas peristiwa besar yang terjadi. Mulai dari perang saudara di Rwanda, bencana kelaparan di Afrika, hingga jatuhnya rezim Suharto di Indonesia, dan segudang peristiwa besar lainnya.

Saat masih kuliah dulu, ARB, pewarta foto dari Kompas daily sempat berkisah tentang kegilaan Nachtwey, ketika meliput kerusuhan berbau SARA di daerah Ketapang. Menurut ARB, hanya nachtwey satu satunya fotografer yang berhasil mengabadikan aksi pembantaian yang dilakukan oleh orang-orang tak dikenal saat itu. Tak berhenti sampai disitu, Nachtwey bahkan sempat mengabadikan momen-momen ketika seseorang dieksekusi dengan kepala dipenggal. Kepala itu lalu diacungkan ke udara. Selanjutnya, Nachtwey mengabadikannya dari sangat dekat. Edan!

Oh ya, saat itu, seakan menjadi trademark (baca: ciri khas), Nachtwey selalu memotret dengan lensa sudut lebar (baca: wide) 20mm. Artinya, ketika menggunakan lensa wide, kita harus memotret dengan sangat dekat untuk menghasilkan foto yang maksimal dengan efek distorsi yang pas. Jika memotretnya dari jauh, maka objek yang dibidik akan terlihat kecil, karena efek lensa. 

Demikianlah akhirnya, kisah nachtwey telah begitu melegenda hingga sekarang di kalangan pewarta foto. Dan bagi yang belum pernah tahu seperti apa aksi Nachtwey di lapangan, ada sebuah film dokumenter yang berkisah tentang beliau. War Photographer, judulnya.  Dulu, saya sempat menonton filmnya. Telah lama sekali. 

Kembali ke acara motret malam itu. Kurang lebih setengah jam, waktu yang saya habiskan untuk berkeliling mengambil foto. Acara memotret akhirnya berhenti, ketika kamera tidak bisa dihidupkan lagi. Baterai kameranya telah habis. Maklum, sejak mengambil gambar beberapa minggu sebelumnya, baterai kamera itu belum dicas. Selanjutnya melangkah pulang!

--eNd--

note: semua foto merupakan milik pribadi (jacko agun), belum diperjualbelikan, dan kalo butuh silahkan ijin terlebih dahulu.


(Salah satu pojok Night Bazaar)
(Arena bermain yang disenangi oleh anak-anak)

(Pembeli membeli makanan ringan yang ditawarkan pedagang)

(Jalanan di night bazaar yang sangat sempit)
(Salah seorang pedagang sedang memanaskan bahan dagangannya)

(Pembeli menawar harga mainan untuk anaknya)

(Seorang anak sedang mencoba kacamata)

(Disini juga ada yang jual underwear, lho...)

(Yang mau cari sepatu baru juga ada)

(Salah satu panganan yang ditawarkan pedagang)

(Sepatu anak-anak juga ada)

(Tak ketinggalan jam tangan dan kacamata)

(Yang ingin berburu harga special... Ada!)

(Aneka jenis topi juga ada. Lengkap!)

(Suasana di pintu keluar)

No comments:

Post a Comment

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN