Tampilkan postingan dengan label Percikan Perenungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Percikan Perenungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Februari 03, 2016

*Kebahagiaan terbesar


(Ilustrasi. Source: http://1.bp.blogspot.com)

Tahu kah, kalian, jika kebahagiaan seorang pria adalah ketika ia mampu menjadi “kuat” hanya bagi orang-orang yang ia sayangi. Bukan karena ia tidak kuat menghadapi apa yang terjadi di luar sana, namun karena ada ruang di dalam hatinya untuk “melindungi” mereka yang ia sayangi, secara fisik maupun batin.

Selalu ada kebahagiaan yang besar bagi pria, ketika meyakini akan selalu ada seseorang yang mau dan berupaya mencari perlindungan darinya, bahkan ketika ia berada dalam kondisi terburuknya. Ketika untuk berjalan pun, sulit, misalnya.

Selasa, Desember 01, 2015

*The Long Road


(Father and daughter. Source: https://intimacyheals.files.wordpress.com)
---
We've walked the long road and you've worn it well.
You stitched yourself up when you fell.
Keep your memories in jars,
Carry secrets in scars.
Beneath your shell.

You've seen some good days, and some bad ones too.
You weave through fashion and trend.
You've seen a sun rise on an ocean blue,
You've seen it set for the dearest of friends.

Rabu, November 25, 2015

*Blind Spot

(source: https://upload.wikimedia.org/)

...
Malam ini saya tertarik mengupas tentang "blind spot", setelah seorang teman posting bahayanya blind spot saat berkendara. Disebutkan, blind spot mengharuskan pengemudi ekstra waspada, terutama saat belok atau parkir mundur. Pasalnya, blind spot dinilai memiliki risiko yang sangat tinggi dan menjadi salah satu faktor utama penyebab kecelakaan.

Oh ya, mungkin sudah banyak yang pernah mendengar istilah blind spot. Secara sederhana blind spot adalah titik buta, dimana kita tidak bisa mengetahui keberadaan hal lain disekitar kita. Jika dianalogikan, blind spot merupakan hilangnya penglihatan atau terbatasnya pandangan karena terhalang bidang.

Minggu, November 22, 2015

Dialog Dini Hari

(Ilustrasi pagi menjelang. Source: http://images3.alphacoders.com/)

I decided, very early on, just to accept life unconditionally. I never expected it to do anything special for me, yet I seemed to accomplish far more than I had ever hoped. Most of the time it just happened to me, without my ever seeking it.
-- Audrey Hepburn

...
Pertama kali mendengar kata "dini hari" yang muncul adalah bayangan tentang kesunyian. Merayap tenang dalam keutuhannya yang abadi. Menyergap mereka yang larut dalam gundah. Lalu bergerak pasti hadirkan sepi dalam waktu yang lebih lama.

Dini hari, pastinya tak banyak yang menikmati fase-fase itu. Masa dimana kebanyakan mereka telah terlelap tidur. Nyenyak nian atau bukan tak mungkin sedang dibuai oleh indahnya mimpi. Berpindah dimensi.

Minggu, November 08, 2015

*Homo Anjing???


(Ilustrasi Foto: Pemandangan di Alun-Alun Suryakencana. Foto: jacko agun)

Seminggu lalu, di sebuah punggungan, kami bertemu kembali. Saat itu, ia dalam pendakian solo menuju puncak 1803, sementara saya mengarah ke puncak sebelahnya (baca: puncak 1878) bersama beberapa orang junioren. Kedua puncak itu letaknya bersebelahan, hanya dipisahkan oleh sadel (pertemuan dua titik pada satu punggungan) berukuran kecil. Biasanya sadel jadi tempat beristirahat sebelum melakukan summit attack atau pendakian ke puncak dengan tempo cepat.

Pertemuan kami sejatinya tanpa disengaja. Pagi itu, setelah berjalan 40 menit dari pintu rimba, saya tiba di pos I, di ketinggian 756 mdpl. Saat itu, ia sedang rehat, bersandar di batang pohon Altingia Excelsa, sembari memulihkan stamina sebelum melanjutkan perjalanan panjang.

Senin, Agustus 31, 2015

Penunggang Malam Menanti Keajaiban!

(Dia sedang berada di kubikalnya, berkutat dengan pekerjaan tanpa henti. Source: www.thomasnet.com)


***
Malam itu, seperti juga malam-malam sebelumnya, tak banyak yang berubah.  Laki-laki itu masih sendiri di kubikalnya, ditemani secangkir coklat hangat plus komputer butut yang terus meraung tanpa henti. Sejatinya ia mendamba perubahan. Perubahan yang akan membawa dampak besar. Namun sayang, semua berjalan lambat, bak putaran roda pedati. Teratur, monoton, normatif dan sangat membosankan. 

Oh ya, ini merupakan hari keempat, baginya bekerja. Dan sehari lagi, aura libur telah bersiap memanggil. Jika bagi banyak orang, bekerja merupakan keharusan, tidak demikian bagi pria paruh baya itu.

Baginya, bekerja lebih dari sekedar kebutuhan. Sementara bagi kebanyakan orang, bekerja adalah memenuhi kebutuhan. Sayangnya, banyak pekerja (baca: level bawah - menengah) tak menyadari, bahwa bekerja bak deret hitung, dan kebutuhan adalah deret ukurnya. Selalu saja, gaji tak kan mampu mencukupi semua kebutuhan yang diinginkan. Kebutuhan selalu berlari lebih cepat, ketimbang gaji yang dikumpulkan.

Karena itulah, ia sadar diri. Baginya kebutuhan jadi refleksi dari hasil kerja keras selama sebulan. Artinya, kebutuhan harus mengikuti gaji, agar tak ketinggian pasak daripada tiang.

Tak hanya itu, menurutnya, bekerja tak lebih dari kemampuan menjual diri. Mirip-mirip pola pekerja seks komersial (PSK) dalam menjaring mangsanya. Jika ada yang booking, pertanda ia masih dibutuhkan. Sedangkan, jika sepi, itu artinya harus introspeksi, sembari mempercantik diri, lewat beragam cara.

Sehingga tak heran, ketika ia bosan dengan lingkungan kerja yang model-nya begitu-begitu aja, itu artinya ia harus bersiap hengkang untuk lompatan yang lebih tinggi. Biarlah kantor itu tenggelam dalam segala kebodohan para punggawanya.

Sabtu, Agustus 22, 2015

Yang Tersisa...

(source: http://www.videojug.com)
...

"Kamu jemput aku 30 menit lagi ya!", pinta seorang perempuan di sebarang sana 
"Ya... Tunggu disitu!", jawabnya.

Mendapat panggilan seperti itu, membuatnya tak bisa berbuat banyak. Maklum, membahagiakan wanita pujaan jadi keinginan terbesarnya. Pun, ia tak ingin mengecewakannya. Tentu saja, karena dia sangat mengasihi perempuan yang dikenalnya lebih dari 5 tahun lalu itu, lebih dari siapapun. Dan, perempuan itu jadi satu-satunya tempat berkeluh kesah, untuk semua perjalanan panjang yang telah dilalui. Pasalnya, di ibukota ini ia memang sendiri.

Ketika pesan singkat muncul, kerjaan di kantor memang telah selesai, setidaknya sejak 15 menit lalu. Sambil membunuh waktu, dia lalu tertarik membaca artikel  yang linknya dikirim lewat imel. Artikel itu berkisah tentang Jimmy Chin, seorang fotografer cum videografer National Geographic (NG) yang baru saja menyelesaikan pendakiannya ke Meru, puncak tertinggi di India Utara. Lewat beberapa foto dan video yang bisa diakses di web tersebut, ia mengetahui bahwa petualangan Jimmy kali ini cukup menantang.

Jumat, Agustus 21, 2015

Sayangku!

(sumber : youtube.com)


...
Pagi tlah menjelang,
di kala kau masih terlelap, sayangku.
Senyap dalam segala lakumu.
Sementara aku telah berpeluh, lawan waktu!
Menantang zaman yang tak ramah.
Mencari peruntungan, diantara serpihan yang tersisa.
Mengumpulkan lagi remahan gairah masa lalu.
Sembari berharap datangnya hari itu.
Hari dimana kita mampu tebarkan, aroma semerbak cinta.
Cinta yang memerdekakan.
Cinta yang menyatukan,
dan cinta yang membuat kau dan aku jadi manusia seutuhnya.

Rabu, Agustus 12, 2015

Hi...



(Memberi tanda tidaklah mudah. Source: play.google.com)

Lama ia berpikir untuk mengetikkan kata itu.
Lama ia tertegun, hanya tuk pastikan bahwa pilihannya sudah tepat.
Pilihan yang secara hitung-hitungan logika bisa berimplikasi buruk. 
Bisa juga tidak!
Bahkan secara tidak langsung, produk ikutannya juga panjang
Ia hanya berharap apa yang dilakukan, tidak merusak tatanan yang telah tercipta, 
tidak merusak jalinan yang terpilin indah.
Sungguh, ia tak ingin hal buruk terjadi, 
karena ia mendamba kedamaian, ketenangan dan saling berbagi.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN