Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 05, 2020

Pandemi Covid-19 Dan Komitmen NDC, Persoalan Lingkungan Saat Ini

Perjanjian Iklim Paris. Foto: ist
Perjanjian Paris mewajibkan sejumlah negara menetapkan kontribusi nasional/ Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai respons atas perubahan iklim untuk menahan laju pemanasan global di bawah 2°C bahkan menekannya sampai 1,5°C di bawah tingkat pra-industrialisasi.

Media di Indonesia​​ telah​​ meliput dampak​​ penanganan dan pencegahan​​ pandemi​​ COVID-19 bagi lingkungan hidup. Karena minimnya aktivitas di luar ruangan mengakibatkan turunnya emisi gas rumah kaca di udara​​ yang​​ dianggap​​ memperlambat terjadinya perubahan iklim.​​

Opini bahwa​​ pandemi​​ merupakan cara Bumi untuk beristirahat dan memulihkan diri, juga beredar luas di masyarakat.​​ Hanya saja,hal itu bukan untuk​​ dirayakan,​​ mengingat​​ COVID-19 telah​​ memunculkan 11.382.890 kasus dengan angka kematian mencapai 533.473 jiwa hingga 5 Juli 2020.

Di sisi lain, perubahan iklim merupakan ketidakadilan global terbesar di dunia. Negara-negara yang mengeluarkan emisi paling banyak di masa lalu (negara-negara maju) menjadi lebih tahan dan mudah beradaptasi dengan dampak perubahan iklim. Sementara negara-negara yang mengeluarkan emisi lebih​​ sedikit (negara berkembang) menjadi pihak yang paling rentan terhadap perubahan iklim.​​

Rabu, Mei 31, 2017

Ketika Indonesia Bangkit!

(Ilustrasi: Indonesia yang bhineka. Source: seword.com)

Jadilah akar yang tak terlihat, tapi menyokong kehidupan
Atau seperti jantung yang berdenyut tanpa henti.
Selalu dan senantiasa hingga waktunya tiba
-- Simpang Kiri Jalan

Beberapa hari lalu saya sempat membaca tulisan Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Kemaritiman yang beredar terbatas di kalangan jurnalis. Tulisannya sangat sederhana namun menohok.

Menohok, karena Luhut harus menjawab pertanyaan John Berisford, President of Standard and Poors Global Ratings (S&P), (baca: lembaga pemeringkat rating investasi) secara taktis dan sistematis.

Sabtu, Agustus 20, 2016

Yup, Indonesia Layak Diperjuangkan, Kawan!

(Pejuang Kemerdekaan RI. Foto: Jacko Agun)
“Indonesia tidak sempurna, namun layak diperjuangkan.”
— Pandji Pragiwaksono, Anak Muda Indonesia

Beberapa hari lalu, tepatnya sebelum peringatan HUT ke-71 Republik Indonesia bergelora di seluruh pelosok negeri, saya sudah berniat menulis sesuatu. Menorehkan catatan bertema seputar kemerdekaan, kebangsaan, nasionalisme atau tentang bagaimana bangsa ini memaknai hari jadinya yang terus meringsek maju. Namun apa daya, tak ada energi yang muncul, meskipun ide-ide di otak terus berkecamuk siap dihubungkan satu dengan yang lainnya.

Ibarat mahkluk hidup, 71 tahun merupakan waktu yang berbicara tentang kedewasaan. Sebuah kondisi dimana tingkat kematangan, baik psikis (kejiwaan) maupun usia tak diragukan lagi. Sebuah era, dimana aneka persoalan harus dihadapi dengan pendekatan yang berbeda. 

Caranya, lewat pemaknaan, lewat pola pandang hingga mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki lalu mengarahkannya menggunakan perspektif peluang. Artinya, di kondisi apapun, peluang harus diciptakan agar bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin. Bukan dengan menyerah kalah atau mengutuki diri lalu bersungut-sungut.

Senin, Juli 11, 2016

Tax Amnesty, “Shock Theraphy” bagi Singapura

(Ilustrasi Tax Amnesty. Source:http://yumtoyikes.com) 
"Kita sosialisasi secara gencar tidak hanya di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Balikpapan, Medan, muter. Termasuk di luar negeri. Sosialisasi harus massif untuk menjelaskan bahwa amnesty pajak ini untuk kepentingan jangka panjang. Karena, tax base (basis pajak) kita jadi lebih besar, income tahun depan, ke depannya, dan ke depannya lagi makin besar," 
-Presiden Jokowi, Senin (4/6/2016).

Ditengah upaya menggenjot penerimaan negara dari sektor perpajakan, pemerintah terus melakukan sejumlah terobosan. Yang teranyar adalah kebijakan Tax Amnesty (baca: pengampunan pajak) yang telah disetujui DPR dan mulai dicanangkan Presiden Joko Widodo pada 1 Juli 2016. Program pengampunan pajak sejatinya akan berlangsung hingga Maret 2017.

Untuk jangka menengah, tax amnesty memang bertujuan memenuhi kebutuhan dana infrastruktur yang nilainya Rp 4.900 triliun dalam 5 tahun, sementara APBN hanya bisa memenuhi Rp 1.500 triliun. 

Rabu, Juli 06, 2016

Ketika Ramadan dan Mudik Jadi Satu, itulah Indonesia!

(Ilustrasi Mudik. Source: http://bicaramobil.com)

“Tuhan pasti sedang tersenyum ketika Indonesia dilahirkan”
-Simpang Kiri Jalan

Sebulan sudah umat muslim di seluruh dunia menunaikan kewajibannya untuk berpuasa. Selama sebulan penuh harus menahan lapar dan dahaga. Pun, menahan hawa dan nafsu dengan mendahulukan kewajiban.

Bagi saya, menahan hawa nafsu memang bukan perkara mudah. Saya yang tidak berpuasa, masih sulit mengendalikan hawa nafsu, khususnya ketika banyak hal mulai mengganggu kemampuan berpikir. Sementara bagi teman-teman yang berpuasa, beban itu sedikit banyak akan berpengaruh seiring kemampuan tubuh yang tidak maksimal, demikian penilaian subjektif saya. Dan saya yakin, Ramadan menjadi momentum yang pas untuk mengendalikan hawa nafsu.

Sabtu, November 05, 2011

Ini kah Indonesia?


Young Ratna studies a map she found amongst the rubbish, while her brother, Basir separates the plastic he has collected at the Bantar Gebang landfill site, on January 26, 2010 in Jakarta, Indonesia. (Ulet Ifansasti/Getty Images)

Temans, gak tau kenapa, kok gw sedih bangat, melihat foto ini, ya?
Foto ini bercerita sangat dalam, menurutku.
Bercerita tentang Indonesia (yang) katanya kaya, ditampilkan dengan pendekatan (yang) sangat miskin.

Lagi-lagi akal sehatku tergelitik.
Indonesia kaya.
Ya.., kaya sekali
Kaya dengan sampah!

Secara teknis, foto ini sangat menarik, karena dari segi komposisi, lighting, DOP, angle dan ketepatan momen, semua tersaji indah dan sempurna.

Pesan yang ditimbulkannya pun sangat terasa.
Betapa, seorang anak yang kebetulan berwarganegara Indonesia mencoba menyimak makna ke-Indonesian hanya lewat sebuah peta.

Ya.., hanya dari sebuah peta.
Peta usang yang merupakan selipan dari sebuah agenda yang kini sudah tak terpakai.

Bagi kita, maksudku, --saya--, peta merupakan hal biasa.
Namun, bagi anak kecil seperti Ratna, peta berarti sebuah pengetahuan baru.
Pengetahuan tentang luas wilayah.
Wilayah yang saking luasnya, tak banyak orang yang beruntung pernah menjelajahinya dari ujung barat hingga ke ujung timur.

Dengan teliti, ia melihat bentuk pulau-pulau itu.
Mencoba mereka-reka dan mengingat nama asing yang tertulis kecil di setiap bagiannya.
Bisa jadi, Ratna juga sedang mengeja tulisan tersebut.
Nama yang begitu asing.
Dan, itulah Indonesia.

Sejurus, dia ingin bertanya…
Tapi, pada siapa?
Apakah pada abangnya yang terlihat sibuk memungut sampah?
Sepertinya tidak...

Saat itu,
Tak ada yang bisa menjawab.
Mungkin nanti, ketika ada orang yang lebih bisa…
Ia pasti bertanya.

Inikah Indonesia?
Bercerita lewat sebuah peta yang kebetulan di pungut dari tempat sampah?

Melihat foto ini, saya jadi teringat dengan seorang bocah…
Umurnya, mungkin tak beda jauh dari Ratna.
Pun, sama-sama perempuan.

Jika saja, ia yang ada di foto itu.
Ia pasti segera bertanya…

“pa, ini peta apa?”
“inikah Indonesia?”


(Jakarta, Sabtu 1.52)

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN