Rabu, Agustus 30, 2006

"WeIHaN nAMaNyA"

Awalnya lelaki tua ini tampak ragu, kemudian dengan sedikit konsentrasi sebuah ide pun muncul. Tangannya yang keriput kelihatan bergetar, saat menorehkan ma-opi* ke atas putihnya si-ence* berukuran 30cm x 1,2m. Sejurus kemudian lekukan kuas nya mulai bergerak pasti, membentuk empat buah kata mutiara. Konon, kata-kata mutiara dari kaligrafi China ini bisa menjadi penambah spirit bagi mereka-mereka yang membutuhkan. Untuk kata pertama, dia membentuk huruf “tien” (baca: artinya langit), diikuti dengan huruf “tao” artinya prinsip. Selanjutnya secara perlahan kata “cou” (artinya upah: red) dan berakhir dengan kata “chin”, yang artinya rajin sebagai kata penutup.

Kabarnya, kaligrafi China punya makna filosofi yang sangat dalam, disamping proses pembuatannya yang cukup sulit dan tidak sembarangan. Waktu belajar puluhan tahun pun menjadi kesulitan tersendiri untuk mempelajarinya

Weihan, demikian nama pria berusia 56 tahun ini. Keahliannya melukis kaligrafi khususnya kaligrafi China, menjadikannya sebagai seorang pakar kaligrafi yang tersisa di Indonesia. Konon kabarnya, tak banyak orang yang menekuni bidang ini. Bahkan di China sendiri, karya-karyanya banyak dicari orang. Bukan karena kata-kata mutiara dan puisi, tapi lebih kepada keindahan kaligrafi yang ditawarkannya. “Kaligrafi saya selalu punya keindahan yang berbeda, dibanding karya orang China sendiri”, tuturnya, sebagai pembuka pembicaraan.

Awal kecintaannya terhadap dunia kaligrafi, ternyata tidak datang begitu saja. Saat itu, Weihan kecil yang sedang duduk di bangku kelas 3 SD di Jakarta, mempelajari kaligrafi China sebagai mata pelajaran tambahan di sekolahnya. Karena berada di sekolah yang kebanyakan muridnya berasal dari etnis China, mata pelajaran ini menjadi kegiatan belajar yang diajarkan turun temurun.

“Waktu itu, saya gak tahu apa maksud dari menulis huruf China ini. Tapi, lama kelamaan, seiring proses belajar yang saya lakukan, akhirnya saya mengerti makna yang tersembunyi dari huruf-huruf ini”, tuturnya, saat menuliskan sebuah kata mutiara. Sewaktu menuliskan sebuah kata-kata mutiara ataupun puisi dalam bahasa China, biasanya proses konsultasi menjadi penting bagi mereka yang akan memesan hasil karyanya. Karena kata-kata tersebut adalah cerminan pribadi pembeli.

Tapi, tak selalu dia bekerja sesuai pesanan. Seperti sekarang ini, saat aku bertandang kesana, dia baru saja menyelesaikan sebuah kaligrafi, berupa puisi. Ketika hasrat ingin menulisnya timbul, biasanya tak ada yang bisa membendung. Perkara, apakah nanti ada yang membeli atau tidak. Dia tak peduli. “Tapi anehnya, saat sebuah karya telah jadi, selalu saja ada orang yang datang berkunjung, apakah itu saudara atau orang lain. Dan, sewaktu melihat karya saya ini, tiba-tiba saja mereka tertarik untuk memiliki. Lalu dibeli lah oleh mereka!”, ucapnya disela-sela perbincangan kami.

Untuk ukuran harga, Weihan tak pernah mematoknya. Saat sebuah karya disenangi oleh pembeli, umumnya mereka yang menawar lebih dahulu. Sehingga tak jarang Weihan akan terheran-heran dengah harga penjualan yang diterimanya. Tapi, tak jarang juga Weihan akan memberi gratis hasil karyanya kepada orang-orang yang dianggap penting olehnya. Sama seperti saat ini, saya pun kecipratan hasil karyanya secara gratis. “Ntah kenapa, kalo ingin memberi, saya pasti akan ngasih dengan cuma-cuma. Tapi kalo saya rasa karya ini harus dijual, pasti akan ada orang yang membeli. Bahkan, untuk kaligrafi saya, ada orang yang rela membeli seharga 30 juta rupiah”, ucapnya, sembari merujuk beberapa karya yang sudah di pesan orang.

Bagi mereka-mereka yang tertarik mempelajari kaligrafi China, waktu seakan tak berarti untuk mengukurnya. Jika ingin menjadi sarjana dibutuhkan waktu sekian tahun, berbeda halnya dengan kaligrafi. Weihan yang sudah menggeluti bidang ini sejak 50 tahun silam, masih saja merasa kurang mahir. Artinya, untuk sebuah proses belajar, tak ada yang bisa membatasi, termasuk waktu. Tapi, waktu bisa menjelaskan matang tidaknya sebuah proses belajar. Kalau di China, untuk bisa melukis dan punya pemahaman yang baik tentang karya kaligrafi, dibutuhkan waktu sedikitnya 30 tahun. Sungguh, sebuah waktu yang sangat lama. Sehingga, wajar jika karya ini bernilai sangat tinggi.

@@@@@

Apakah kita tahu, bahwa seorang pelukis terkenal abad pertengahan bernama “Picaso”, pernah kepikiran untuk beralih aliran menjadi pelukis kaligrafi China. Konon karena keeksotisan dan nilai rasa yang dikandungnya, seniman ini sempat belajar kepada pelukis kaligrafi China. Tapi, karena di Prancis saat itu, penghargaan terhadap karya-karya realis lebih dominan. Picaso pun tak mampu membendung keinginan pasar.

Bagi Weihan, keinginan melukis kaligrafi, tak bisa tergantikan oleh kegiatan apapun. Selain mampu membuat semua organ tubuh bergerak, proses melukisnya membuat pikiran jadi tenang. Sehingga, bukan hal aneh, jika para pelukis kaligrafi punya umur panjang. Ini yang terjadi di China, para pelukis kaligrafi punya umur sampai 100 tahun. “Abis, proses melukisnya membuat pikiran jadi tenang dan semua masalah jadi lenyap”, tuturnya ketika menjelaskan manfaat melukis kaligrafi.

Karena Weihan berasal dari suku Han, di utara China. Melukis kaligrafinya pun berasal dari huruf Han-ce. Kabarnya, huruf ini diketahui oleh hampir semua etnis China, disamping huruf-huruf lain. Biasanya, saat akan melukis kaligrafi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Diantaranya; saat melukis, bagian kosong diatas kertas harus lebih besar dibanding bawahnya. Hal ini menunjukkan komposisi langit harus lebih besar dibanding tanah, yang disimbolkan sebagai bagian bawah. Selain itu, konsentrasi penuh, menjadi hal penting ketika akan menorehkan tinta, disamping banyak membaca buku-buku filsafat China. Selain itu, proses melukisnya hanya boleh dilakukan dalam satu sapuan kuas. Tidak boleh ada penebalan. Sehingga, saat ada bagian yang tak tersapu kuas, ini menjadi salah satu daya tariknya.

@@@@@

Empat buah kata muitara yang ditulis tadi, menjadi ajang demonstrasi di hadapan kami, perihal kepiawaiannya dalam melukis kaligrafi China. Dalam tempo yang tak terlalu lama, dia berhasil menyusun sebauh kata-kata mutiara yang sangat indah. “Tien tao Chou Cin”, demikian tulisan dalam huruf Han-ce itu. Jika diartikan, tulisan itu akan bermakna, kira-kira begini; Tuhan akan beri upah kepada orang yang rajin.

Mungkin karena merasa akrab dengan kehadiran kami. Tiba-tiba saja dia menawarkan diri untuk melukis kaligrafi untukku sebagai oleh-oleh. Perlambang sebuah persahabatan. Awalnya, aku gak terlalu mengharapkan. Pasalnya, setahuku harga sebuah lukisan kaligrafi terkenal mahal. Tapi, karena dia terlalu memaksa, aku gak bisa berbuat apa-apa.

Tapi, sebelum melukis, dia memintaku untuk menyebutkan sebuah kata atau kalimat perihal makna yang akan dilukisnya nanti. Ntah kenapa, tiba-tiba saja aku teringat dengan kata “berjuang”. Mungkin karena sifatku sebagai orang pejuang, menghadapi kondisi hidup yang berat ini. Rasanya, kata itu cukup mewakili pribadiku.

Untuk selanjutnya, Weihan mulai mengerutkan dahi, mencari padanan kalimat dari kata “berjuang” itu. Akhirnya kata-kata “Tien tao Chou Cin” tadi menjadi pilihannya. Menurutnya kata-kata itu sangat cocok buatku. Sejurus kemudian, dengan cekatan ia mengambil mek-ce* dan memasukkannya ke dalam mek phan*. Selanjutnya kuas dimasukkan kedalam tinta sebelum ditorehkan keatas putihnya sience*.

Gile, hanya dalam tempo semenit dia sudah berhasil melukis kaligrafi. Rasanya, indah benar karyanya ini. Kalau dilihat sepintas, mungkin terkesan biasa-biasa saja. Tapi, kalau diperhatikan lebih lama nilai-nilai magisnya akan keluar. Sebuah bentuk karya kaligrafi yang simetris dengan tekukan kuas yang tak rata menjadi daya tarik tersendiri.

“Nah, sudah selesai sekarang!”, katanya, sembari membersihkan sisa sisa tinta yang menempel di kuas. Ternyata dengan keahlian melukis, dia bisa bertahan hidup sampai sekarang. Bahkan untuk biaya kedua anaknya yang bersekolah di luar negeri, Weihan penuhi dari keahllian ini. Tapi, jauh dibalik itu samua, perasaan untuk melestarikan budaya leluhur, menjadi alasannya memilih bidang ini, disamping tuntutan ekonomi. “Sebab pada akhirnya, sebuah budaya, tidak akan menjadi milik bangsa itu saja, tetapi akan menjadi milik semua bangsa yang peduli terhadapnya.” Begitu ucapnya sebagai penutup pembicaraan kami kala itu.


Catatan;
Mek ce = tinta
ma-opi = kuas
Si-ence = kertas
Mek-phan = wadah piringan hitam

Senin, Agustus 28, 2006

"TeNtANg sI aDiK KeCiL"

Sejurus kemudian kulepas pandang ke luar jendela bis kota (baca: jurusan Kamp. Rambutan – Grogol) yang membawaku ke tempat tujuan, saat dia meringsek masuk dan mulai menyanyikan sebuah lagu milik penyanyi tenar yang aku lupa namanya. Tampang kecilnya yang awut-awutan tak terurus plus tubuh dekil –pertanda jarang mandi- segera akrab menyapa, menebar aroma khas yang membuat para penumpang segera menyingkir sambil menutup hidung.

Sementara aku yang duduknya tak jauh dari tempatnya berdiri, coba menyimak setiap lakunya dengan seksama. Hasilnya, si adik kecil (baca: begitu sebutanku terhadapnya) tetap saja tenang, tak sadar begitu banyak pasang mata memperhatikannya. Oh ya, sedikit informasi! Ternyata dia (baca: anak kecil) masuk ke dalam bis bersama si abang yang usianya 15 tahun lebih tua, -menurut perkiraanku-. Apakah itu abang yang tertua atau abang yang nomer berapa, tak ada yang tahu? Yang pasti, demi sesuap nasi dan menyambung nyawa di ibukota, dia –yang harusnya ada di bangku sekolah-, harus rela ngamen, nemani abangnya berpindah-pindah bis diantara deru knalpot kendaraan bermotor.

Melihat itu, yang terlintas di benakku adalah, dimanakah sang ibu…??? Apakah dia masih punya ibu? Atau, jangan-jangan, dia gak punya siapa-siapa lagi sekarang, kecuali si abang tadi. Pasalnya, ini adalah kali kedua aku bertemu dengannya, masih dengan si abang yang selalu setia menemani. Rasa sayang terhadap si adik kecil (baca: yang menanggung beban begitu berat), membuatnya selalu memberi perlindungan ekstra. Bahkan ketika turun dari bis, si abang selalu memegang erat tangan si adik, mencoba mengelakkannya dari lalu lalang kendaraan. Atau, saat di dalam bis, si abang akan selalu mengawasi gerak-gerik si adik, jangan sampai ada yang menyentuh atau berbuat buruk padanya.

“Permisi bapak ibu sekalian, ijinkan saya membawakan beberapa buah lagu,” demikian tutur sang abang saat akan membawakan sebuah lagu diiringi gitar tua miliknya. Takkala musik dimainkan, sang adik pun terlihat sibuk memainkan krincingan –yang berasal dari tutup botol yang dipipihkan-, pertanda sinkronisasi irama sebuah lagu. Mungkin karena dia masih terlalu kecil dan belum mengerti musik, irama yang dihasilkan terdengar aneh dan tidak harmonis. Beberapa kali sang abang memberi kerdipan mata sebagai kode, agar si kecil mengikuti ritme musik, tapi tetap saja ia sibuk dengan pemahamannya sendiri. “Ya, pantas aja! Karena dia masih terlalu kecil untuk mengerti nada, lagian dia kan, gak pernah belajar not,”, ujarku membathin.

Sedetik kemudian, secara perlahan kulayangkan pandang ke wajah-wajah aneka ekspresi para penumpang. Sepertinya, mereka masih terbius dengan pikiran masing-masing. Ada yang ngantuk, ada yang baca Koran, ada yang bengong dan ada yang asyik ngobrol dengan teman sebangku. Sama seperti ketika pengamen tadi belum muncul, para penumpang tetap khusyuk, merasa tak terusik sedetik pun. Hanya, sang kondektur yang terlihat sesekali menyambung kalimat dari lagu yang mereka nyanyikan.

Seperti pengamen pada umumnya, mereka berusaha menampilkan aksi panggung terbaik, dengan harapan para penumpang rela berbagi sedikit rejeki dengan mereka. Kadangkala, saat sebuah lagu dimainkan dengan begitu indah, tak sedikit penumpang yang beri sekeping rupiah plus tepukan riuh sebagai ungkapan rasa salut.

Tapi, pengamen yang satu ini agak beda. Apakah karena keberadaan si adik kecil itu? Mungkin juga! Pasalnya, saat si abang terlihat sibuk tarik suara, si adik malah kalem-kalem saja. Tapi di beberapa penggalan lirik berikutnya, tak jarang si adik ikut berdendang. Artinya, si adik kecil akan menyanyi sesuai kata hatinya. Itu yang membuat lagu si abang terlihat kacau. Sehingga untuk menghindari kesalahan yang lebih besar, sang abang tak mengharapkan keikutsertaan si adik dalam olah vokal. Dia lebih ingin agar si adik hanya berperan mengumpulkan saweran yang di terima dari para penumpang. Tapi, dasar si adik emang badung, tetap aja dia ikut nyanyi sambil memainkan krincigan dengan nada-nada yang jumpalitan.

Saat kucoba meliriknya, sama seperti ketika masuk tadi, dia tetap tak acuh (baca: sibuk dengan nadanya sendiri). Ketika melewati komdak, secara perlahan bis mulai dijejali penumpang. Si adik kecil pun langsung terhimpit di tengah-tengah orang yang mulai berjubel. Kali ini, dengan cekatan si abang segera menyelamatkannya. Posisi aman pun berhasil diraih. Disela-sela iringan lagu, tiba-tiba saja dia memasukkan jarinya yang kotor ke dalam mulut, -yang juga tak terawat-. Mungkin ada sisa kotoran yang nyangkut disana. Iseng-iseng kucuri pandang lagi. Kini, dari mulutnya terlihat beberapa buah gigi kuning yang letaknya jarang-jarang. Padahal untuk anak seusianya (baca: 3-4 tahun) pertumbuhan gigi seharusnya telah sempurna.

Tak lama berselang, si adik kecil mulai terlihat sibuk mengusap ingus yang keluar dari hidung mungilnya. Masih menggunakan tangan yang sama, dengan sigap dia membersihkan lendir yang tersisa. Selanjutnya kotoran itu ia tempelkan ke sisi bawah pakaian kumalnya. Melihat itu aku jadi sedih! Bukan kah anak seusianya, lagi asyik-asyiknya bermain di bawah pengawasan orangtua. Tapi, itu tak terjadi dengannya. Entah dimana orangtuanya kini?

Karena suka mengamati, lagi-lagi perhatianku selalu jatuh pada si adik kecil itu. Jika di lihat sekilas, tampangnya yang lucu dengan raut muka yang begitu tegar, perlambang beratnya sebuah perjuangan hidup. Di sekitar mulutnya terlihat bercak hitam sisa kotoran, menempel membentuk huruf O tak beraturan. Apakah si abang tak peduli dengan kebersihan si adik. Lagi-lagi gak ada yang tahu. Hanya aneh, jika si abang yang selalu nemani adik kecil kemanapun pergi, tak pernah memperhatikan kekurangan tersebut. Sementara aku, yang bukan siapa-siapa, semakin tersentuh dengan semua itu.

Tapi, kisah perjuangan hidup ini tak berhenti sampai disitu. Badan kecil, hitam, yang penuh borok itu, terlihat gontai menyusuri tiap bangku, mengumpulkan sumbangan para penumpang. Seperti bisa ditebak, tak banyak yang menyumbang. Tapi, tetap saja wajah mungilnya tampak berseri-seri, menikmati keadaan yang ada. Dari bis ini rencananya mereka akan melanjutkan ke bis-bis lain. Mencoba peruntungan yang berbeda.

Moral dari semua cerita tadi, membuatku teringat pada sosok bocah kecil yang usianya 2 tahun lebih muda dari anak kecil tadi. “Bubu”, demikian nama panggilannya. Bubu, yang hobi nyanyi, walau dengan irama tak jelas, selalu bangga jika disuruh tarik suara. Persis sama dengan si adik kecil tadi. Bubu juga sangat berani berkelana ke lokasi-lokasi yang tak dikenalnya. Lagi-lagi, sama seperti adik kecil tadi. Bubu pun punya karakter keras, saat bertahan dengan semua kemauannya, persis seperti karakter si adik kecil tadi; coba bertahan ketika ada yang mengusik mainannya.

Hanya saja, Bubu berbeda, karena hidupnya tak se-tragis si adik kecil tadi. Pasalnya Bubu masih punya orang tua yang selalu mencintai dan merawatnya. Selain itu, Bubu masih bisa menikmati masa kecilnya sementara si adik kecil harus berjuang mengisi masa kecilnya. Sebab si adik kecil, gak pernah tahu entah esok apa lagi?

Dengan semua itu, aku hanya bisa berdoa, semoga derita si adik kecil segera berakhir! Karena aku gak sanggup membayangkan kelanjutan kisah sedih yang akan di tanggungnya. Akankah hari-harinya berakhir di jalanan, atau masih adakah pihak yang ber-empati dan mau berbagi dengan mereka? Gak ada yang tahu! Kalau saja aku punya segudang cadangan, tentu akan kubagi dengannya. Tapi, aku gak punya! Sebab yang kupunya hanya doa dan rasa mengasihi. Akhirnya, semoga Bubu tak pernah merasakan penderitaan itu. Karena jika itu terjadi, aku akan sangat terpukul. Sebab, Bubu adalah buah hatiku. Anak lelakiku.




Rabu, Agustus 23, 2006

"aKu gAk Tahu"

Sejurus kemudian, narasumber itu berlalu begitu saja dari mobil (baca: mobil operasional kantor tempatku bekerja) yang menghantarkannya tiba di tempat semula. Sebuah tempat kost di daerah Kali Deres, Jakarta Barat. Kuperhatikan dari balik kaca, kali ini raut mukanya terlihat muram saat menapaki daerah tempat tinggalnya itu. Berbeda ketika kita datang menjemputnya malam tadi.

Kalau lah boleh aku menduga, dia pasti sedang sedih, karena jasanya sebagai narasumber belum dibayar. Aku mengatakan demikian, sebab dari tadi partnerku (baca: reporter handal) –yang bertugas untuk memberinya honor- tak terlibat pembicaraan sedetikpun mengenai hal tersebut.

Kejadian ini bukan kali pertama dilakukannya (baca: reporter handal). Rasanya tak terhitung dosa serupa yang pernah di perbuat. Awalnya, aku yang sudah dua tahun ini terlibat pekerjaan dengannya, sering tak ambil pusing. Kupikir, karena itu bukan urusan dan tanggungjawabku, mengapa harus dipermasalahkan.

Tapi, lama kelamaan hal seperti ini sungguh tak wajar. Bagaimanapun si narasumber pasti berharap dari honor yang akan diterimanya. Peristiwa ini persis sama dengan yang dialami temanku campers (baca; camera person), yang sebut saja namanya By, ketika melakukan liputan bareng dia ke luar kota tempo lalu. By merasa dikadalin dengan semua ulahnya (baca: reporter handal). Sampai-sampai masalah sepele seperti makan, harus menjadi perseteruan yang seharusnya gak terjadi. “Abang lagi diet, neh! Kalo adek mau, pesan aja Indomie rebus di warung seberang!”, begitu ucapnya kala itu.

Masalah makan sebenarnya hal yang sepele. Tapi, jika kejadian yang sama dilakukan terhadap narasumber. Sungguh luar biasa dan sangat keterlaluan. Layaknya pengakuan teman By tadi, selama peliputan sang reporter handal gak pernah terlihat memberi honor sepeserpun kepada narasumber. By pun merasa tidak buta dan tidak pikun, sehingga masih terekam jelas dalam memorinya semua peristiwa yang terjadi. Yang pasti, dalam ingatannya saat itu, si reporter masih tetap menyimpan dana untuk narasumber. Apalagi tak jarang beberapa narasumbernya orang mampu. Besaran honor yang diberikan pastilah terlalu sedikit dibanding hasil bisnisnya. Sampai-sampai akibat tak puas dengan pembodohan tersebut, By pun melakukan investigasi kecil-kecilan terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh reporter tadi.

Hasilnya, sungguh di luar dugaan! Dari laporan tersebut terlihat, bahwa dia (baca: reporter handal) telah mengeluarkan sejumlah uang untuk honor beberapa narasumber, yang nyata-nyata tidak pernah diberikan. Dan, yang lebih aneh lagi adalah laporan tersebut mengalami rembuirse dengan sejumlah uang. Artinya, si reporter akan menerima dana kembalian karena uangnya terpakai lebih dahulu selama liputan. Sungguh, suatu hal yang sangat menggelikan. Disaat By harus makan hemat dengan penginapan seadanya, laporannya menandakan bahwa mereka telah menghabiskan begitu banyak uang selama liputan. Sampai-sampai duit si reporter harus terpakai dulu dan akan dibayar kemudian oleh kantor –istilahnya rembuirse tadi-

Apakah kejadian ini akan berulang kembali denganku? Aku gak tahu? Sebenarnya, jika di tilik lebih dalam mengenai honor, aku gak akan terlibat banyak. Pasalnya itu adalah jobdesknya dia. Tapi, jika si narasumber di depan mata kita, merasa sedih dan bertingkah aneh karena honornya tak di bayar. Pastinya kita juga merasa gak enak. Karena dia (baca: reporter) dan aku adalah satu tim yang harusnya satu suara. Rasanya gak etis kita beseberangan (baca: berantem) di depan narasumber karena masalah duit. Tapi jika di luar itu, terserah!

Jauh di lubuk hatinya, si narasumber mungkin menjerit. Pasalnya, waktu yang di korbankan telah begitu banyak terbuang sementara dia tak mendapat apa-apa. Nihil! Apakah ajakan makan malam tadi menjadi simbol sudah dibayarkannya honor si narasumber. Sepertinya masih terlalu jauh. Sebab untuk makan dia pasti masih bisa, tanpa perlu menghamba-hamba kepada kami. Padahal, jika si narasumber tadi melakukan aktivitas ekonominya, sudah tentu ia bisa mengumpulkan sejumput rezeki. Tidak seperti saat ini.

Masih dalam tataran mengenai narasumber. Kalo gak salah, di dalam mobil malam tadi, si reporter handal berujar, bahwa hak-haknya mereka (baca: narasumber) harus diberikan. Tapi, apakah dia sadar dengan omongannya tadi. Ataukah, hanya sekedar basa-basi. Aku gak tahu? Semoga saja perkataan tadi tidak menjadi bumerang yang akan balik menyerang dirinya.

Dan, dari semua itu. Jika kuperhatikan keluarga si reporter, aku jadi sedih! Pasalnya keluarga tersebut cukup harmonis dan berkecukupan. Kebetulan aku kenal dengan istrinya yang ramah dan 2 orang anaknya yang juga manis. Menanggapi itu semua, aku hanya berharap, semoga mereka tidak tahu kelakuan sang kepala keluarga dan dari mana datangnya uang yang mereka makan (baca: selain gaji bulanan). Sampai sekarang aku gak habis pikir, bagaimana jika keluarganya tahu kelakuan bejat sang kepala keluarga. Apakah mereka masih bisa menerimanya. Aku gak tahu!

Melihat itu, aku semakin sedih, tanpa bisa berbuat apa-apa. Sebab, lagi-lagi aku tak punya kuasa. Sepertinya, pembodohan-pembodohan seperti ini harus segera dihentikan. Siapa yang menghentikan? Kalau aku, tentu tak bisa! Semoga saja para pengambil kebijakan itu tak buta matanya terhadap penipuan yang dilakukan oleh si reporter handal. Apakah semua itu dilakukan demi dalih keluarga. Sekali lagi aku gak tahu! Yang pasti, aku kesal dengan kelakuannya itu, sampai akhirnya harus kutuliskan diblog ini.

Sabtu, Agustus 19, 2006

"sANg PeMiJaT"

Tak banyak yang menyangka, kalo di dusun terpencil ini, hidup sebuah kaum yang dari dulunya punya keahlian khusus. Ya, keahlian itu adalah memijat. Keahlian yang konon diturunkan oleh nenek moyang mereka, dari generasi ke generasi. Seiring perkembangan jaman, kegiatan ini pun telah berkembang menjadi mata pencaharian baru bagi mereka, kala musim bercocok tanam usai. Bahkan tak berhenti sampai disitu. Kini, banyak diantara mereka pergi merantau ke kota-kota besar, termasuk Jakarta, hanya dengan bekal keahlian memijat.

Tepatnya di Dusun Warung Banten, Desa Cibeber, penduduk (baca: yang punya keahlian memijat) dengan populasi 159 KK itu berada. Lokasinya yang jauh di lembah gunung Halimun, membuat tempat ini sulit ditemui. Itu yang kami alami, saat coba bertandang kesana. Keberadaannya di perbatasan Kab. Sukabumi dan Kec. Bayah, membuat kami kewalahan untuk mencapainya. Sesuai informasi yang diterima, kami pun bergerak dari Jakarta kearah Lebak-Banten. Usut punya usut, ternyata keberadaan kampung ini lebih mudah dijangkau dari Sukabumi, bukan dari arah Lebak, seperti yang kami lakukan. Akhirnya, setelah 5 jam berkendara dengan mobil, kami pun berhasil tiba disana.

Perawakan kurus tinggi dengan cacat mata sebelah kiri dan peci hitam yang selalu menghiasi kepala, menjadi ciri khasnya. Saradin, demikian nama lengkap pria berusia 40 tahun ini. Sudah 10 tahun lalu ia meninggalkan kampung dan keluarganya menuju Jakarta, demi sebuah nasib yang lebih baik.

Diantara para pemijat dari kampung ini, Saradin menjadi salah seorang yang dituakan. Setiap ada pemijat baru -yang ingin mengadu nasib di Jakarta-, ia selalu memberi wejangan, agar mereka (baca: para pemijat muda) tidak terlena dengan impian semu ibukota. Sebuah kerja keras dibutuhkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi tadi.

@@@@

Saat adjan maghrib membahana dari sebuah surau di pojok desa. Pak Saradin, baru saja selesai memberi pelajaran singkat tentang memijat kepada seorang pemuda yang ingin belajar. Jika menilik dengan seksama, ternyata belajar memijat tak begitu susah. Bermodalkan sebuah kemauan plus pengetahuan tentang urat/ syaraf anggota tubuh, menjadi senjata utamanya, disamping doa-doa murni yang di panjatkan kepada Sang Pencipta.

Malam itu, menjadi akhir pertemuan dengan keluarganya untuk satu bulan ke depan. Pasalnya, tak tiap minggu dia pulang ke kampung. Hanya, jika sejumput rupiah dari hasil memijat berhasil dikumpulkan, atau ketika rasa rindu sedang membuncah, dia pun akan segera pulang. Dari wajah anggota keluarga tersebut, tak tampak rona kesedihan. Mungkin, karena keseringan di tinggal, saat perpisahan seperti ini menjadi hal yang biasa. Hanya si ibu, yang terlihat sayuh, ketika melepas kepergian sang suami.

Melihat itu, aku jadi ingat masa kecil dulu, ketika mama meninggalkan kami untuk menjenguk nenek yang sedang sakit di kampung. Karena jarang ditinggal, kami selalu merasa kehilangan, jika mama pergi, even cuma ke kondangan. Sebab dia adalah segalanya bagi kami. Saat, gak ada yang bangunin dan gak ada yang nyiapin sarapan di pagi hari. Kami jadi mahluk hidup tanpa roh. Sepertinya ada yang kurang. Beda dengan keluarga Saradin, yang tampak tegar (baca: seolah tak terjadi apa-apa) dengan kepergian sang kepala keluarga. Apakah memang demikian, aku gak tahu. Hanya pribadi mereka dan Tuhan yang tahu!

@@@@

Di dalam mobil, sepanjang perjalanan menuju Jakarta, dia berujar tenang seluk beluk pekerjaannya. Awalnya, dia gak kepikiran untuk menggeluti bidang ini. Dia, yang punya keahlian bertukang, sering ke Jakarta diajak pamannya untuk ikut proyek bangunan. Di sela-sela waktu istirahat, iseng-iseng dia menawarkan kemampuan pijat yang dimilikinya ke sejumlah teman bahkan bos proyek, dengan imbalan seadanya.

Saat tak ada proyek, Saradin yang sering pindah-pindah tempat tinggal di Jakarta, mulai memutar otak, bagaimana caranya agar keluarga di kampung masih bisa makan. Krisis moneter 1997 menjadi pukulan terberatnya. Saat itu hampir 80% sektor infrasuktur lumpuh. Mau gak mau, hanya keahlian memijat jadi senjata pamungkasnya. Berbekal minyak gosok dan sebuah krincingan dari kaleng, jadi alat untuk menjajakan kemampuannya. Keluar masuk kampung dilakoninya saat malam menjelang, berusaha mencari orang yang memerlukan jasa pijatnya. Dari satu kampung, secara kebetulan ada seorang yang berhasil dia pijat. Biasanya promosi dari mulut kemulut tentang keahliannya mulai diketahui banyak orang, yang secara tak langsung akan bergulir ke kampung lain. Sampai akhirnya, lama kelamaan dia pun mulai memiliki banyak pelanggan di banyak tempat.

Menurut pengakuannya, tak ada tarif khusus untuk jasa pijatnya. Semua dia terima dengan ikhlas. “Jika ada yang memberi lebih, ya syukur! Jika di beri sedikit, ya…, alhamdullilah!” ujarnya sambil menatap ke arah luar jendela mobil. Saat kutanya perihal buruk yang pernah dialaminya. Dia menuturkan, pernah ada orang yang tak memberi sepeserpun, ketika selesai di pijat. Dan, lagi-lagi dia tak bisa berbuat apa-apa. “Mungkin orang tersebut sedang apes”, jawabnya.

Untuk sekarang ini, Pak Saradin merasa kerasan tinggal di daerah Kali deres, Jakarta Barat, menyewa 1 kamar ukuran 3x3m, berbagi dengan 4 rekan lainnya –yang tak lain para pemijat berasal dari 1 kampung- dengan membayar sewa Rp. 150 ribu per bulannya. Tingginya biaya hidup di Jakarta, memaksa mereka harus hemat, sementara keluarga di kampung harus tetap di suplai. Rasanya, ruangan sempit ini, tak jadi masalah bagi mereka. “Kamar ini hanya jadi tempat berteduh dan menumpang tidur saja. Selain itu, untuk ruangan sesempit ini yang penting hatinya lapang”, ucapnya lirih. Mendengar itu aku jadi malu. Sebab sering kali, yang kelihatan, membuat kita minder dengan keberadaan kita.

Dari semua penuturannya, aku jadi ingat siapa diriku! Aku yang selalu melihat keatas, sering lupa bercermin, tentang siapa aku. Kadangkala, sesekali aku perlu melihat ke bawah untuk bisa mengerti “arti bersyukur”. Pak Saradin, jadi contoh tentang hebatnya pergulatan hidup. Tak jarang dia masih bisa mengirim uang (baca: 500 ribu) setiap bulannya ke kampung. Sedang aku, masih belum berbuat apa-apa! Rasanya, aku jadi malu!



"sEBuAh eLEgI di HaRi ke 17"

Sekeliling telah berubah semakin pekat, saat kendaraan roda dua pinjaman ini mulai mengepulkan deru, pertanda siap tuk dikendarai. Biasanya disaat seperti ini, kebanyakan orang sudah melepas lelah di rumah, sambil bercengkerama dengan keluarga atau sibuk dengan chanel yang ditawarkan banyaknya stasiun televisi. Atau..., jangan-jangan sudah ada yang tergolek layu di dalam hangatnya selimut tidur.

Bagiku, hari ini tak berbeda jauh dengan hari-hari sebelumnya. Hanya saja, kalo setiap harinya aku baru pulang saat malam menjelang, setelah kerjaan beres. Kali ini, di saat-saat yang istimewa (HUT RI; red) aku harus pulang subuh, karena nungguin editan edisi 17-an di Pejaten (baca: tempat ngedit gambar).

Rasanya sudah sangat lama, aku gak mengalami kejadian seperti ini. Pasalnya, aku gak terlibat dalam editan di luar kantor. Kalo 6 bulan lalu, program bulletin (berita spot; red) merupakan tempatku berkiprah dengan liputan yang tidak terlalu lama, beda dengan kali ini. Selain banyaknya kebutuhan gambar, editing merupakan kegiatan akhir yang membuat semua bahan-bahan tadi (gambar dan naskah: red) menjadi menarik untuk di tonton di televisi.

Sejurus kemudian, kendaraan ini mulai melaju pelan di jalanan Mampang – Lebak Bulus. Banyaknya bekas galian -yang aku gak tahu itu proyek apa-, masih meninggalkan sisa luka di kanan-kiri jalan, memaksaku harus ekstra hati-hati, agar tidak terselip/jatuh. Suasana masih saja ramai, padahal sudah hampir tengah malam. “Ya, inilah Jakarta, kota yang gak ada matinya!”, gumanku lirih.

Tepat di persimpangan Duren Tiga, saat lampu menyala merah. Kulihat segerombolan polisi sibuk melakukan razia. Ntah mengapa, setiap ada razia, aku selalu terlihat kikuk, padahal semua surat-surat lengkap. Pengalaman waktu saat SMP dulu menjadi mimpi buruk yang selalu menghantuiku. Saat itu, aku di berhentikan polisi, karena mengendarai motor butut tanpa dilengkapi surat. Jangankan surat kendaraan, SIM aja aku belum punya waktu itu. Tampang polisi yang garang and bengis, membuatku semakin tertekan. Ujung-ujungnya, sang polisi menawarkan damai dengan sejumlah uang –yang menurutku cukup besar- agar bisa bebas dari jeratan hukum. Tapi, ya.., namanya juga anak sekolahan, uang sebesar itu tetap aja gak bisa dipenuhi. Debat punya debat, -mungkin karena kasihan- akhirnya polisi tersebut mempersilahkanku lewat. Dan di akhir pembicaraan, dia berpesan agar menghindari razia polisi, jika surat-surat tak lengkap.

Tak terasa 20 menit waktu yang kubutuhkan untuk tiba di Pejaten, ditengah dinginnya angin malam yang mulai menusuk tulang. Aku harus segera tiba disana, untuk menjelaskan gambar yang akan di edit oleh editor. Sudah 2 hari ini aku berkutat dengan “capture” (memindahkan gambar video dari kaset ke mesin edit yang berupa komputer: red) sekaligus nungguin editan. Kalo sehari sebelumnya, aku harus nemanin edit plus nunggu “print-an” (hasil editan yang akan tayang di tivi; red). Hari ini aku harus berkutat dengan “ngapture” gambar dari berbagai materi (DVC PRO, Mini DV, VCD dan CD; red). Sungguh, sebuah kerja keras yang takkan pernah abis.

Berhubung besok adalah momen 17 Agustus, program kami berencana untuk menyuguhkan tayangan seputar 17-an. Sebuah tayangan, yang mengedepankan sisi-sisi lain sebuah peristiwa.

********

17 Agustus, sebuah momen yang tak asing di telingaku. Sewaktu sekolah dulu, momen ini menjadi saat yang paling di tunggu-tunggu. Pasalnya selain suasana –yang menurutku susah di deskripsikan-, aneka perlombaan selalu menghiasi saat-saat istimewa ini. Akibat lomba-lomba tadi, biasanya jam pelajaran akan semakin berkurang. Dan akhir dari semua itu; waktu bermain jadi lebih lama. Asyiiik....!!!

Tapi, kini semua itu telah berlalu. Beratnya himpitan ekonomi dan tuntutan kerja yang tak mau kompromi, membuatku hampir lupa momen bersejarah ini. Rasanya, aku tak lagi punya kenangan dengan peristiwa ini. Kalaupun ada, paling-paling cerita masa kecil tadi. Cerita kepahlawanan pejuang-pejuang dulu, hanya jadi onggokan cerita tanpa arti. Sebab, yang diperlukan sekarang adalah “uang”. Uang, yang bisa membuat segalanya lebih jernih. Uang yang membuat kita bisa menikmati hidup, bahkan mengenang saat–saat bersejarah itu. “Tapi uang tidaklah segalanya.”, begitu ujar teman lama yang aku sudah lupa namanya. "Semoga saja memang begitu!"

*******
Dan, semua kesemrautan bermula saat pagi tadi (baca: 16 Agustus 2006). Hanya karena bahan capture-an yang terpisah-pisah, terpaksa aku harus menyusuri kembali, kemana lenyapnya materi-materi tersebut. Sewaktu tiba di pejaten kemarin malam, aku hanya menemui 5 buah kaset. Sedangkan satu kaset satu lagi, beberapa CD film dan CD lagu, aku gak tahu terselip dimana. Untungnya, sebelum berangkat tadi pagi, kusempatkan mencari lagi di kantor. Eh…, ternyata benda tersebut masih ada di dalam file cabinet, tempat semua materi liputan berada.

Setelah semua bahan yang di butuhkan ter-capture, kini editor melanjutkan pekerjaannya. Dimulai dengan melihat secara seksama semua bahan dan naskah yang akan di edit, kini waktunya berkonsentrasi. Untuk gambar-gambar tertentu, biasanya editor sering kewalahan, karena tidak tahu gambarnya bercerita tentang apa. Disaat seperti ini lah dibutuhkan pendampingan oleh “camera person” yang mengambil gambar.

Sampai senja datang, ketika sang surya turun ke peraduannya, pekerjaan tersebut belum juga kelar. Kalo sebelumnya telah selesai dua segmen, kini tinggal segmen terakhir. Kegiatan menukar/menyusun gambar plus backsound musik yang dilakukan oleh editor mulai menampakkan hasil. Secara perlahan, kumpulan gambar-gambar tadi akhirnya jadi sebuah cerita.
Tak terasa, keesokanharinya, saat jam menunjuk pukul 04.50 wib dini hari (baca: 17 Agustus 2006), semua editan itu akhirnya kelar. Walau molor dari rencana semula, dengan sentuhan ajaibnya, Nandang –sang editor- tampak khusyuk menyelesaikan tahap demi tahap jalinan gambar yang dibutuhkan untuk jadi sebuah cerita.


*********

Masih dengan motor pinjaman, dinginnya udara subuh yang tak mau kompromi, kembali memaksaku menyusuri jalanan ibukota, menuju kantor. Sama seperti ketika berangkat tadi, jalanan masih saja ramai oleh hilir mudiknya penduduk Jakarta, yang seakan tiada henti.

Tapi, semua kerja keras tadi belum seberapa dibanding akhir cerita, tepat tanggal 17 Agustus 2006. Cerita yang membuat semuanya seakan tak ada arti. Pasalnya, setelah semalaman bersusah payah nemani ngedit, aku harus mengantar kaset print-an ke QC (quality control; red) di kantor. Di bagian inilah semua program yang akan ditayangkan di sensor ulang. Sehingga jika ada masalah, baik dari kualitas gambar ataupun isi materi, tak segan-segan mereka memulangkan kasetnya untuk di perbaiki kembali.

Tepat pukul 05.15 wib, aku tiba di kantor dan langsung menuju lantai dua, tempat QC berada. Di halaman depan, sebuah kesibukan yang lain dari biasanya segera menyapa. Ratusan orang terlihat sibuk memasang panggung ukuran raksasa. Kabarnya di tempat ini akan diadakan konser musik untuk memeriahkan HUT RI ke 61. Sebuah upacara perayaan semarak yang tak tanggung tanggung.

Sesampainya di QC, aku jadi bingung. Pasalnya, dari skedul acara hari itu, tak tertera jadwal programku. Untuk memastikannya, mereka pun menghubungi programming yang bertanggungjawab terhadap susunun acara. Tapi, lagi-lagi, programku tidak ada di roundown (susunan acara; red). Menurut mereka, jadwal pre empt (baca; tidak tayang) program tersebut sudah di kabarin sebulan lalu. “Mungkin produsernya tidak memberitakan ke semua kru”, begitu penjelasan mereka. Mendengar itu pun aku jadi semakin lemas. Abis, sudah susah-susah nemani ngedit semalam suntuk, tak tayang pula!

Aku hanya bisa berguman: “ini semua salah siapa? Atau, apa arti semua ini?”
Hari yang aneh! Saat semua orang terlihat larut dalam riuhnya semangat proklamasi, aku masih berkutat dengan sesuatu yang namanya “kerjaan”. Kerjaan yang semakin hari, semakin membelengguku. Membuat aku tak merdeka lagi, bahkan di saat hari kemerdekaan negeriku.

Makna proklmasi bagiku saat ini? Aaahhh, nanti dulu! Pusing mikirinnya! Mungkin saat semua permasalahan selesai dan rasa kantuk ini hilang, aku baru bisa memikirkannya. Tapi……..., sepertinya sekarang ini, aku butuh tidur! Bukan yang lain!

Akhirnya…., selamat ulang tahun negeriku. Semoga kau (baca: Indonesia) semakin jaya!

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN