Wednesday, February 03, 2016

Petrichor

(Menikmati Petrichor. Source: http://i.imgur.com/pnAuGI4.jpg)
Lama sudah aku tak bertemu dengannya. Terakhir, di sebuah toko buku bekas, dekat Malioboro, Yogyakarta. Kejadian itu, sekira 5 tahun silam. Saat ia menghabiskan hari-hari terakhirnya di kota yang “ngangenin” itu. Bersama seorang temannya, ia asyik berburu beberapa buku yang memang telah lama dicari. Sementara aku, kebetulan singgah, sehabis mengantar tamu berkeliling Yogyakarta.

Sejak bekerja sebagai tour guide, aku mulai kehilangan waktu-waktu untuk sendiri. Waktu untuk menyepi sembari membangkitkan lagi semangat, setelah sempat pupus akibat pekerjaan dan rutinitas yang membelenggu. Orang-orang kota menyebutnya "me time".

Di kota bersejarah itu, beberapa pojokannya kerap aku kunjungi. Salah satunya adalah “Shoping”. Bagi warga Yogya, Shoping menjadi alternatif untuk mencari buku murah. Selain harga yang terjangkau, koleksi yang dimiliki pedagang terbilang lengkap. Mulai dari buku pelajaran, buku anak-anak hingga buku-buku aneh, tersedia disana.

Sepengamatanku, Shoping merupakan kawasan penjualan buku yang strategis. Pasalnya, lokasinya tepat di jantung kota Yogyakarta. Ia berada dekat dari Jalan Malioboro, berdampingan dengan Taman Pintar dan Taman Budaya (eks gedung Societet Militer). Tak hanya itu, ia juga bersebelahan dengan Pasar Beringharjo.

Karena lokasinya yang strategis, tak heran jika banyak yang mengunjunginya. Mulai dari warga, pelancong lokal hingga turis mancanegara. Selain berbelanja buku, banyak juga yang datang ke tempat itu, hanya tuk sekedar menikmati aura “Shoping” yang memang berbeda dengan tempat-tempat lainnya di Yogya. Biasanya puas berkeliling, mereka lalu singgah di beberapa warung yang berjajar rapi di kawasan itu.

Oh ya, satu lagi, bagi mereka yang tertarik mencari buku ditempat ini, tak ada salahnya bertanya terlebih dahulu kepada pedagang, apakah buku yang hendak dibeli asli atau palsu. Biasanya pedagang dengan senang hati akan membantu. Maklum, peredaran buku palsu juga marak ditempat ini. Karena itu bijak sebelum membeli, jadi kiat jitu.

Di lokasi yang disebut sebagai “Shoping” itu, aku punya kenalan pedagang yang baik hati. Lewat dialah beberapa koleksi bukuku berasal. Dan dikiosnya yang hanya berukuran 3 x 3 m itulah aku kerap melepas lelah, setelah puas membaca beberapa koleksiya. Lapaknya berada persis di pojokan dekat tangga menghadap ke dalam.

Biasanya, jika lelah telah memuncak, aku numpang tidur di dalam kios berteman tumpukan buku aneka jenis. Dan salah satu yang tak bisa kulupa adalah aroma buku bekas yang khas. Aroma itu yang menemaniku tidur. Lelap.

***
Di pertemuan hari itu, aku sedang tertidur, ketika ada memanggil namaku dengan aksen yang khas.

“Galih! Woi... Bangun!!! Ngapain elu disini”, ujarnya sembari teriak.

Mendengar ada yang memanggil namaku. Aku langsung bangun, meski kantuk sedang menemukan bentuknya. Maklum, baru sesaat rasanya, ketika aku mulai rebahan sambil menutup mata.

Aku gak menyangka akan bertemu dengannya. Di sini, di kota yang jaraknya lebih dari 500 kilometer dari Jakarta. Bertemu di suasana yang kurang mendukung, sebenarnya.

Biasanya tuh, jika dua atau lebih orang berjanji bertemu, pastinya dalam suasana yang lebih baik. Dalam suasana yang telah direncanakan sebelumnya. Di lokasi yang memang menarik. Minimal di Cafe atau Kedai Kopi. Bukan dalam situasi yang tidak mengenakkan seperti ini.

“Tapi, sudahlah. Toh, pertemuan ini memang bukan direncanakan”, gumamku.

Sambil membetulkan posisi duduk, aku lalu mendengarkan maksud kedatangannya ke kota ini. Dan, besok ia akan kembali ke Jakarta. Sebelum pulang ia berniat menyempatkan diri berburu buku. Apalagi, beberapa temannya menyarankan pergi ke Shoping, karena letaknya yang tidak jauh dari hotel mereka menginap.

“Aku nih, lagi nyari “Dunia Shopie”, ungkapnya bersemangat.
“Dunia Sophie? Bukannya dulu udah selesai bacanya?”, tanyaku sembari menggaruk-garuk kepala.
“Udah, tapi pingin koleksi bukunya, kalau masih ada. Dulu, kan, bacanya lewat buku sewaan. Gak sempat punya”, paparnya bersemangat.
“Kalo gitu, tunggu sebentar, aku coba bantu”, tawarku.

Sejurus kemudian, aku mendatangi si bapak yang punya lapak, yang saat itu tengah asyik ngobrol dengan pemilik kios sebelah. Kepadanya kusampaikan tentang buku yang dicari. Biasanya, kalo bukunya masih ada, tak sulit baginya untuk menemukan. 

Kulihat si bapak segera bergerak menjauhi kios. Itu artinya, buku yang dicari tak ada di lapaknya. Pasalnya, jika punya, pasti ia akan memberikannya. Dari ribuan buku miliknya, ia hapal setiap judul buku yang ada. Sepertinya, ia punya metode tersendiri untuk mengingat judul-judul buku yang jadi koleksinya. Mungkin, itu salah satu kehebatan pedagang buku, yang tidak dimiliki orang lain.

Aku lalu kembali menemuinya. Bertiga kami mulai terlibat pembicaraan ringan tentang buku. Pembicaraan yang membawa kami kembali ke masa lalu. Masa dimana kami pernah melaluinya. Bersama-sama. Dulu. 

Seingatku, sejak masih kuliah, temanku, ups..., teman istimewa ini termasuk penggila buku. Hampir semua buku dilahapnya hingga tuntas. Mulai dari buku filsafat hingga komik Doraemon. Setiap hari, selalu saja ada buku yang ia baca, selain buku pelajaran tentunya.

Sampai sekarang, aku kerap heran. Ntah dari mana ia punya energi besar untuk membaca semua buku-buku itu. Buku yang ketika melihatnya saja, sering membuat kening mengernyit, saking tebalnya. Sementara baginya tak sulit untuk menyelesaikannya. Paling lama seminggu dan paling cepat semalam. Edan kan?

Tapi itulah dia. Sahabat istimewa. Teman yang namanya tak boleh disebut dengan sembarangan, begitu biasa aku menyebutnya. Maklum, bukan karena apa-apa, namun karena namanya yang memang sulit untuk dieja. Razanaraghda Queennaya Xiovariel. Tuh, kan, spellingnya susah benar. Demikianlah ia memperkenalkan diri, saat bertemu pertama kali di kampus dulu. 

Karena sulit melafalkannya, banyak yang memberinya sebutan berbeda. Teman SD, misalnya, memanggil dengan sebutan “Raza”. Lalu teman SMP dan SMA dengan sebutan “Kuin”. Sementara teman kuliah memanggilnya dengan nama “Siova”. Ternyata tiap masa ada perubahan nama panggilan. Namun uniknya, di rumah ia kerap dipanggil “Rara”. Mungkin biar lebih ringkas kedengarannya. Dan, aku memilih menyebutnya, Rara.

Aku lalu bertanya mengapa harus Dunia Sophie yang diburu. “Bukannya buku lain, masih banyak? Buku Karen Amstrong, Sejarah Tuhan, Misalnya?” tanyaku ingin tahu.

“Buku itu aku udah punya”, jawabnya singkat
“Aku cari Dunia Sophie, karena selain belum punya. Nntah mengapa, begitu tiba di Yogya, tiba-tiba aku teringat buku itu”, paparnya.
“Oh gitu. Emang apa menariknya?”, tanyaku.
“Buku itu mengingatkanku pada seseorang. Buku itu mengingatkanku akan elu, Gal. Kamu ingat gak, kalo kamu yang ngasih tahu buku itu pertama kali ke aku”
“Ya... Tapi, aku sendiri belum kelar bacanya. Udah keburu harus dipulangin karena masa sewa udah habis. Dan lu tau sendiri, kan, kalo aku bacanya suka lama”, jawabku menimpali.
“Ha...ha...ha... Ya, gw tau itu. Lagian, elu sih!”, sahutnya.

Kami lalu tertawa lepas. Tak sengaja ia mulai bercerita tentang masa-masa indah di kampus dulu. Masa-masa dimana kami memang terikat oleh rasa. Masa dimana kami mulai belajar memahami karakter satu sama lain. Masa pacaran, kata anak-anak jaman sekarang. Namun saat itu, kami gak setuju dengan istilah itu. Kami lebih suka dengan istilah “masa mencoba dekat” disingkat MMD.

“Aku gak menyangka bakal ketemu elu. Abis kamu, menghilang begitu saja! Padahal kamu udah janji, kan, kalo kita selalu bersama.”
“Ya, maafkan aku”, pintaku.

Untuk sebuah alasan, aku memang sengaja menghilang. Sengaja menjauh dari kehidupan Rara, demi sesuatu yang sifatnya sangat pribadi. Dan hal itu gak akan aku ungkap disini.

Namun, siapakah yang bisa mengelak takdir? Sepertinya tak ada. Jika yang punya kehidupan mengkehendaki seseorang untuk bertemu, maka perjumpaan pasti terjadi. Persis seperti saat itu. Saat dimana aku seakan ditakdirkan bertemu Rara. Teman dekat dari masa lalu. Uniknya, hingga pertemuan itu, pesonannya masih sama. 

Dulu, salah satu yang membuatku menyukainya adalah matanya. Yup, aku paling suka matanya. Matanya memberi keteduhan, menurutku. Matanya juga memancarkan keindahan. Keindahan karya sang maestro agung. Mata yang membuat setiap orang tak berhenti tuk menatap, tak ingin berpaling bahkan sekejab. Mata yang mengalahkanku telak dengan skor 10 - o. 

Tak hanya mata, daya tarik lainnya adalah suara. Suaranya yang unik. Garing dan sedikit renyah, aku menyebutnya. Abis, aku gak punya argumen lain untuk menjelaskan suaranya itu. Yang pasti, suaranya berasa magis. Suara khas yang hanya dimiliki seorang Rara. Suara yang membuatku tak bisa berkata-kata, selain larut mendengarkan, setiap kata demi kata.

10 menit menghilang, si bapak empunya kios telah kembali. Ditangannya terselip sebuah buku berwarna merah. Buku itu bekas, namun tampilannya masih sangat baik. Yup, itu dia, Dunia Sophie yang sangat diinginkannya. 

“Ini bukunya, nak”, ujarnya sembari menyerahkannya kepadaku.
“Berapa harganya, pak”, tanya Rara

Sembari berbisik, si bapak mulai menyebutkan sebuah angka. Rara lalu merogoh dompetnya. Namun belum sempat ia mengambil uangnya, buku itu kubayar duluan.

“Ini pak. Sisanya buat bapak. Itung-itung biaya saya tidur di kios bapak”, ujarku.
“Baiklah. Makasih nak. Semoga bukunya bermanfaat ya...”, pungkas si bapak.
“Ya pak. Sangat bermanfaat”, sahut Rara cepat.

Begitu buku yang dicari ditemukan, Rara lalu undur diri. Namun, kesempatan itu tak kubiarkan begitu saja. Aku lalu menawarkan diri menghantarkannya sampai ke depan. Minimal hingga mereka menemukan becak yang akan membawa mereka ke hotel.

Sembari menunggu becak. Rara kerap memperhatikanku. Dia masih gak menyangka bertemu lagi denganku.

“Gal, kok kamu sekarang kelihatan lebih hitam, tapi tetap keren, sih!” ujar Rara menggodaku.
“Abis, kerjanya kan, di lapangan. Bawa tamu keliling, dari satu tempat ke tempat lain”, jawabku.

Tak berapa lama, sebuah becak yang didayung seorang oleh pria paruh baya berhenti tepat di depan kami.

“Besok, kamu ikut antar ke bandara, ya!” pintanya.

Aku diam, sambil sedikit mengangguk. Permintaan itu tak kuawab. Kulihat Rara pandangannya masih belum berpaling, meski ia sudah di dalam becak. Selepas itu, di kelokan jalan mereka menghilang.

***
Dunia Sophie yang dalam versi aslinya, bahasa Norwegia disebut Sofies verden  telah diterjemahkan ke dalam 53 bahasa, termasuk bahasa Inggris, dan Indonesia. Buku itu merupakan novel populer karya Jostein Gaarder.

Jostein Gaarder merupakan seorang penulis novel, cerita pendek dan buku anak-anak dari Norwegia. Gaarder yang lahir di Oslo, Norwegia, 8 Agustus 1952 itu berasal dari keluarga berpendidikan. Dia mempelajari bahasa-bahasa Skandinavia dan Teologi di University of Oslo. Sebelum memulai karier sebagai penulis, dia telah aktif mengajar filsafat.

Buku Dunia Sophie, pertama kali diterbitkan di Indonesia oleh Mizan pada tahun 1996. Buku itu menarik perhatian pembaca karena merupakan novel filsafat yang tidak terlalu berat untuk disimak. Buku ini sendiri telah dicetak sebanyak 26 juta eksemplar, dengan 3 juta eksemplar terjual hanya di Jerman saja. Pada tahun 1999, novel ini juga diadaptasi kedalam sebuah film di Norwegia.

Sejatinya, novel ini berkisah tentang Sophie Amundsend, gadis berusia 14 tahun, yang sebelumnya hidup dengan wajar seperti anak-anak seusianya, hingga suatu ketika ia dikirimi surat oleh seseorang yang sangat misterius. Surat-surat itu berisi pertanyaan-pertanyaan filsafat. Ia kemudian bertemu pria misterius itu lewat cara yang tak biasa, dan mereka mulai saling terkait dengan plot unik dan sangat misterius. 

Sejak awal, banyak yang menyebut buku ini sebagai novel panduan dasar filsafat. Bagian filsafatnya disajikan secara kreatif dan sederhana. Hal itu terlihat dari tokoh Sophie yang aktif mempelajari filsafat abad pertengahan dari seseorang yang selalu mengiriminya surat.

Berbagai pertanyaan dari metode filsafat diberikan kepada Sophie. Banyak pelajaran yang disampaikan, mulai dengan pertanyaan singkat (seperti "Mengapa Lego merupakan mainan yang paling kreatif di dunia?") dan dia diberikan waktu untuk berpikir sebelum pelajaran berikutnya tiba. Setiap paket yang datang menyampaikan satu topik, yang berhubungan dengan catatan kecil yang mendahuluinya.

Banyak pelajaran yang di dapat Sophie dari teman rahasianya itu. Salah satunya adalah kutipan yang berkata: “Orang Yang Paling Bijaksana Adalah Orang Yang Mengetahui Bahwa Dirinya Tidak Tahu”. Itu adalah perkataan Socrates, filsuf paling berpengaruh di Eropa pada zamanya, seorang filsuf yang melahirkan murid-muris jenius macam Plato dan Aristoteles yang belakangan sangat Sophie sukai.

***
Rara yang aku kenal adalah seorang pribadi yang sederhana. Ia makhluk penikmat minuman hangat, baik itu; coklat panas, teh tarik panas, hingga kopi panas. Baginya, tiada yang lebih nikmat selain memulai hari dengan minuman hangat. Tak hanya ketika memulai hari, kegiatan itu juga ia lakoni saat mengakhiri hari. Biasanya setelah selesai mandi di rumah.

Dari caranya memegang mug, terlihat betapa ia sangat meresapi prosesi saat meminum minuman hangat. Biasanya ia tidak langsung minum, tapi didahului dengan menghirup aroma yang tercipta. 

Menghirup aroma yang tercipta, telah menjadi semacam penanda baginya untuk menyatu dengan minuman itu. Menurutnya, kegiatan itu penting, karena dari situ, kita akan mengetahui apakah bahan pembuat minuman masih baik atau tidak.

Selain itu, Rara juga penikmat hujan. Ia sangat senang memandang hujan, meskipun hanya dari balik jendela. Menurutnya hujan itu istimewa. Pasalnya, hujan hadir untuk kehidupan. Ia ada untuk membuat bibit berkecambah, memberi air bagi yang membutuhkan, dan menyejukkan jiwa-jiwa yang lelah.

Sehingga tak heran, jika melihat Rara mampu memandangi hujan dalam waktu lama. Biasanya hal itu ia lakukan sembari membaca buku, ditemani minuman hangat.

Oh ya, soal hujan, ada yang tak bisa lepas darinya. Yakni, berlari ke teras rumah, hanya tuk menyesap aroma hujan. Aroma hujan, yang sering disebut Petrichor. Petrichor telah membuatnya menjadi seorang pecandu. Pecandu aroma hujan. Aroma tanah kering yang menjadi basah akibat terkena siraman hujan.

Tak hanya itu, Rara juga penyuka film science fiction, action dan drama. Minimal sekali sebulan ia punya jadwal menonton film. Kadang sendiri. Pun tak jarang bersama teman-teman. Seingatku, kami menonton bareng hanya beberapa kali. Maklum, ketimbang nonton film, duitnya lebih baik buat kemping. Hehehe...

Rara juga pemakai segala sesuatu berwarna cerah dan yang penting nyaman dikenakan. Salah satunya adalah sepatu bertumit rendah yang jadi andalan ketika berpergian, lengkap dengan tas sandang bermotif warna cerah. Selain itu, ia juga tak bisa lepas dari syal. Syal aneka warna yang ditenun oleh orang Baduy. Rara sangat suka syal itu.

Lebih jauh, setahuku tidak ada kata “kenyang” baginya untuk beberapa jenis makanan, seperti: dimsum, mie aceh, salad, pizza, baso hingga bubur ayam yang dijual si abang di pojokan gang. Jika ketemu makanan itu, ia bak harimau lapar. Siap menerkam. Ia kerap lupa diri, Rara juga tak mengenal kata menyerah untuk urusan makan. Setiap ada ajakan makan, ia selalu berselera, apalagi jika gratis. Mukanya yang lucu langsung minta dikasihani. Namun uniknya, ia tak pernah punya masalah dengan berat badan. Beda jauh denganku. Yang kalo makan agak kenyang, timbangan langsung melonjak naik.

Rara yang jebolan Sastra itu juga kerap menuliskan buah pikirnya dalam diary berwarna kuning, yang ia simpan di tempat paling rahasia di rak bukunya. Tak hanya itu, ia juga kerap menuliskannya di dalam blog rahasia, yang sampai sekarang aku lupa namanya. Maklum, pernah ditunjukin, namun sekilas, saja.

Sementara dari sisi kejiwaan, sifat introvert dan ekstrovert yang ada di dalam dirinya sangat berimbang. Dia sangat intovert untuk hal-hal yang berhubungan dengan pakaian, kebiasaan, pola pandang dan keluarga. Sementara untuk urusan pertemanan dan berbagi, ia sangat ekstrovert.

Seingatku, dia juga termasuk dalam kategori junkie traveler. Sangat suka diajak berkelana ke mana pun, ke tempat-tempat sunyi dan ke tempat-tempat baru. Pun, ke tempat-tempat unik yang jarang didatangi orang. Dia sangat menyukai itu. Dalam sebulan, minimal satu kali, kami mendatangi tempat-tempat sunyi, baik itu puncak gunung, ataupun menjelajahi dusun terakhir yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki berjam-jam lamanya, karena lokasinya yang sangat terpencil.

Kira-kira begitulah pribadi Rara yang aku kenal. Ia tidak seperti wanita pada umumnya. Ia memang unik. Ia berbeda, ia istimewa. Selanjutnya, mari kita bicarakan dalam ruang rindu, ketika hujan bercerita.

***
5 tahun berlalu, kini aku masih sendiri. Makin jauh dari Rara. Ada mungkin, setengah lingkar Bumi. Yup disinilah aku berada, persis di jantungnya Belanda. Di kota yang berada persis di tengah negara kincir angin, yang jika ditarik garis lurus dari utara ke selatan, lalu dari barat ke timur, ditengah-tengahnya aku berada. Kota itu adalah Utrecht.

Di sinilah kota, dimana Rene Descartes mengajar. Bapak dari filsafat modern yang terkenal dengan proposisi “Cogito ergo sum” atau “I think, therefore I am”. Meskipun berkebangsaan Perancis, filsuf, penulis cum ilmuwan matematika itu, menghabiskan masa hidupnya di Universiteit Utrecht, Belanda. Sama seperti aku, menimba ilmu ditempat serupa.

Aku suka Utrecht, karena disana berdiri salah satu universitas tertua di Belanda (baca: berdiri 26 Maret 1636), dan merupakan salah satu yang terbesar. Universiteit Utrecht sedari dulu memang termasyur dan memiliki tradisi panjang, sebagai salah satu pusat studi pilihan utama. Hingga saat ini, Utrecht menjadi universitas nomer 40 di dunia, nomor 6 se Eropa dan nomer 1 di Belanda. Banyak guru-guru besar-nya memegang profesi dan jabatan penting di berbagai organisasi dunia.

Selain tempat kuliahnya yang nomer satu, Utrecht sebagai kota pelajar juga sangat nyaman dan aman untuk ditinggali. Banyak spot menarik disini. Diantaranya duduk di kafe untuk menikmati secangkir kopi, dengan potongan kecil kue verkade atau sepotong kecil cokelat yang disajikan bersama setiap gelas kopi.

Namun sayang, Rara gak ada disini. Coba kalau ada, bisa jadi ia sudah menghasilkan banyak cerita. Banyak tulisan yang akan memenuhi blog rahasianya itu. Aku bisa membayangkan itu.

Oh ya, selain kotanya yang tua dan bersejarah, Utrecht juga memiliki banyak gedung yang berasal dari awal abad pertengahan. Utrecht pernah menjadi kota terpenting di Belanda, hingga digantikan oleh Amsterdam pada masa Keemasan negara tersebut. 

Salah satu keunikan kota ini adalah sistem dermaga dan kanal didalamnya. Sebelum kota ini sepenuhnya dihubungkan oleh kanal, sebagian air dari Sungai Rhine sempat mengalir ke pusat kota. Gedung bersejarah yang paling menonjol adalah Katedral Gotik Saint Martin, bangunan yang bertahan selama hampir 200 tahun sejak 1254.

Selain itu, salah satu fakta menarik yang menjadi fasilitas penting kota Utrecht adalah sepeda. Bersepeda telah menjdi gaya hidup dan sangat lumrah. Namun hanya Utrecht yang memanjakan pengguna sepeda di kotanya. Utrecht kemudian diklaim sebagai kota teramah bagi pengguna sepeda di dunia. Pemerintah kota telah membangun 12.500 fasilitas parkir sepeda yang ditasbihkan sebagai terbesar di dunia.

***
Hari mulai gelap, ketika aku keluar dari apartemenku sore ini. Sengaja aku berangkat lebih awal, karena kulihat, mendung hitam telah bergelayut hebat di ujung sana. Belum lagi, setiap jam channel NOS selalu setia memberitakan update cuaca terkini.

Sore ini, tujuanku adalah Frietwinkel, salah satu restoran yang terkenal murah dan terbaik di Utrecht. Lokasinya tak begitu jauh dari tempat tinggalku. Berjalan kaki 15 menit, aku pasti sampai disana.

Restoran yang terletak di jalan Vinkenburgstraat 10, Utrecht, Belanda itu memang menghadirkan beragam menu yang sesuai dengan lidah orang Indonesia, disamping menu andalannya, kentang goreng. 

Selintas terlihat sepele, cuma kentang goreng. Namun jangan bilang edun, kalo belum mencicipi kentang goreng Frietwinkel. Kentang goreng ditempat ini berbeda dengan di tempat lain. Maklum kentangnya merupakan pilihan yang berasal dari dataran tinggi eropa. Karena itu rasanya pun berbeda. Renyah dan empuk.

Biasanya aku memesan sepiring kentang goreng dipadu kroket dan bitterbalen. Memakannya membuat kenyang semalaman. Lumayan untuk mengganjal perut di musim gugur seperti saat ini.

Untuk urusan makan, aku lebih suka sendiri. Makan sendiri terasa lebih nikmat dan afdol. Gak ada yang menginterupsi. Gak ada yang mengganggu dan gak perlu basa basi. Karenanya, aku lebih bisa menikmati suasana, ketimbang makan bersama orang lain. 

Selain itu, aku tipikal orang yang buruk mannernya ketika makan. Setiap orang yang melihat, pasti berpikiran bahwa aku aneh. Maklum, ketika makan, aku kerap bersuara. Selain itu, selalu tercipta bunyi dari dentingan alat makan yang beradu. Dan terakhir, aku makan bak orang kesetanan. Seakan tanpa jeda. Semua kulahap saat makanan masih hangat. Sehingga jangan heran, untuk urusan makan, aku juaranya. Ketika yang lain baru habis setengah, aku telah menyelesaikannya dengan manis. 

Terkadang, aku suka heran, melihat ada orang yang makan dalam waktu lama. Padahal, makanan dalam keadaan dingin sudah tak menarik untuk dikunyah. Apalagi disini, di negeri 4 musim, dimana setiap masakannya harus dipanaskan terlebih dahulu, membuat banyak orang berburu makanan hangat. Dan, sebisa mungkin, makanan itu segera dikonsumsi.

Duduk di pojokan di bagian teras, jadi lokasi pilihanku. Ditempat itu, aku puas melepas pandang ke sekeliling. Melihat orang berlalu lalang. Menikmati senja di kota yang semakin tua. Lalu, beberapa orang terlihat menggowes sepedanya dengan wajah sumringah.

Sembari menunggu menu, hujan rintik turun perlahan. Lambat laut kian deras. Jalanan yang tadinya ramai sontak berubah sepi. Banyak diantara pejalan kaki yang memilih berteduh di kafe-kafe di sepanjang Vinkenburgstraat. Hal itu mereka lakukan sembari menunggu redanya hujan.

Setiap hujan turun, akalku selalu tertuju pada seseorang. Yup, dialah Rara yang pernah jadi teman seperjalananku. Jadi navigasi ketika hilang arah. Pun jadi pelita ketika hari mulai gelap.

Beberapa waktu lalu, aku selalu menolak hujan. Namun lebih sering aku tak kuasa menahannya. Aku sempat benci hujan, karena hujan memunculkan bayangan itu. Lalu aku mencoba berlari sejauh mungkin, namun yang terjadi justru sebaliknya. Aku rindu dia.

Ada yang bilang membenci hujan hanyalah bentuk lain dari sebuah pelarian. Setelah kupikir-pikir, memang demikian adanya. Aku benci jika teringat Rara. Sebisa mungkin aku melupakannya. Namun, lagi-lagi, aku tak kuasa.

Hujan seakan tak bisa dipisahkan dari sosok Rara. Hujan telah menimbulkan aroma istimewa. Aroma yang hanya muncul ketika ia turun membasahi Bumi. Petrichor istilahnya. Petrichor yang mengingatkanku akan Rara. Maklum, sudah terlalu banyak musim penghujan yang kami lewati. Dan ia yang pertama kali memperkenalkan istilah itu.

Petrichor ia ucapkan, ketika sedang memasak di depan tenda. Hujan yang turun tiba-tiba ternyata otomatis memunculkan Petrichor.  

“Gal, coba lu nikmati aroma ini. Kondisi ini yang disebut Petrichor”, pintanya sembari merujuk pada tanah kering yang telah basah oleh rintik hujan.
“Apa, apa tadi namanya? Aku baru dengar istilah itu”, ujarku.

Sembari memasak, Rara lalu bercerita tentang asal muasal Petrichor. Menurutnya, Petrichor merupakan salah satu bau alami yang tercium ketika hujan turun. Istilah itu merupakan kosakata Yunani yang belakangan dipopulerkan oleh ilmuwan Australia, Isabel Joy Bear dan R. G. Thomas, pada tahun 1964 dalam jurnal ilmiahnya, “Nature of Agrillaceous Odor”. 

Karena banyak baca, pengetahuan Rara sangat berlimpah. Ia lalu melanjutkan bagaimana Petrichor berasal. 

”Lo tau Gal, Petrichor sebenarnya disebabkan oleh beberapa hal. Namun, yang paling berkontribusi terhadap munculnya Petrichor ada beberapa faktor”, ungkapnya bersemangat.

Bak bocah yang baru saja mengetahui sesuatu, demikian aku sangat tertarik dengan ceritanya itu, Aku ingin tahu lebih banyak.

“Emang apa saja faktor penyebabnya?” tanyaku penuh selidik.

Dengan gayanya yang khas, Rara melanjutkan ceritanya. Menurutnya, Petrichor muncul akibat minyak yang menguap dari tumbuhan. Tumbuhan mengeluarkan sejenis minyak yang mudah menguap yang kemudian terkumpul di berbagai permukaan, seperti tanah dan bebatuan. 

“Minyak tersebut bereaksi dengan tetesan air hujan dan dilepaskan sebagai gas ke udara. Lalu muncullah aroma Petrichor”, ungkap Rara mantab.

Kedua, kata Rara, Petrichor disebabkan oleh Geosmin yang dilepaskan oleh mikroba. Pada saat musim kering, tumbuh-tumbuhan tertentu mensekresikan sejenis minyak aromatik ke dalam tanah sebagai upaya adaptif terhadap lingkungan yang relatif kering. Lalu pada saat hujan, senyawa-senyawa ini naik ke udara. Senyawa itu yang disebut Geosmin. Senyawa organik yang berasal dari mikroba yang hidup di tanah, air tawar, dan air laut. Geosmin dilepaskan ketika mikroba mati, dan saat terkena terpaan air hujan.

"Tunggu... tunggu dulu. Bahasa lo ilmiah bangat, nih! Bisa disederhanakan, gak? Kok, aku serasa mendengar pemaparan guru Kimia", ujarku mulai kehilangan semangat.

“Makanya dengerinnya serius! Nah, Geosmin itu terangkat ke udara dan terciptalah aerosol partikel Geosmin dalam udara. Geosmin juga penyebab mengapa ikan air tawar suka berbau tanah”, ujar Rara sembari membetulkan posisi Trangia yang agak miring.

Sambil mengaduk nasi yang masih cair, Rara melanjutkan kuliah singkatnya. Terakhir, berdasarkan buku yang ia baca, senyawa aroma khas hujan itu juga terjadi akibat pelepasan spora dari bakteri actinomycetes yang hidup didalam tanah lembap basah dan akan mati jika tanah itu kering.

”Jadi, kalo lo mau mencium bau hujan yang segar, cari saja spora bakteri actinomycetes. Disitu ia ada. Dan terakhir, menurut data yang pernah kubaca,  senyawa Petrichor sudah ada namanya dalam senyawa kimia loh. Senyawa itu adalah 2-decanone”, papar Rara sambil membenahi beberapa peralatan yang basah akibat terkena tempias hujan.

Mendengar penjelasan itu, aku semakin kagum padanya. Diam-diam kupandangi wajah mungilnya yang lucu.

***
Masih di Frietwinkel, aku lalu teringat tulisan di sebuah laman berita yang pernah kukunjungi seminggu lalu. Web berbahasa belanda itu menyebut begini:

“Banyak yang tak menyadari, jika hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia, me-resonansi ingatan masa lalu. Meskipun belum ada bukti ilmiah, para ilmuan percaya, di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar dan dipahami oleh mereka yg rindu. Hujan sepertinya telah berubah menjadi mesin waktu.”

Yup, benar saja, hujan telah mengingatkanku akan kenangan-kenangan yang sebenarnya tak ingin diingat kembali. Kenangan akan Petrichor. Kenangan terhadap Rara, teman istimewaku. Ya, aku rindu dia.

Sepertinya, hujan sengaja datang menemaniku malam ini. Alasannya, supaya aku tidak merindu sendiri. Tidak larut dalam sedih yang teramat sangat. Supaya aku bisa bertahan.

Lalu tak berapa lama, makanan yang kupesan pun tiba. Masih hangat lengkap dengan saos khas FrietwinkelSaat bersantap, tiba-tiba, sisi lain alam bawah sadar menyeruak keluar. Dalam sepi ia lalu berkata:

“Nikmatilah Petrichormu hari ini. Suasana damai yang menenangkan, udara yang sejuk, ditingkahi sisa tetesan air hujan di dedaunan. Bukankah semua itu terdengar begitu mengasyikkan?”

Lalu kujawab : “Ya, sepertinya memang begitu. Aku dan Petrichorku
--end--

No comments:

Post a Comment

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN