Jumat, Juni 07, 2013

3 Jam itu...

.....
seperti apa proses produksi Prime Time edisi baru itu dilakukan?
ya, begini ceritanya...
dimulai dari rapat redaksi siang, berlanjut hingga siaran, dan diakhiri dengan rapat evaluasi malam.
bagaimana rasanya?
ehm..., sulit tuk diungkapkan


note
Foto by: jacko agun
Camera : Pocket Camera G12
Editing : Photoshop
Lokation : 11st floor Berita Satu Plaza





rapat redaksi jam 13.00 WIB

Rundown Prime Time 27 Segmen

Runner sibuk mengecek rundown

begini gaya si bos kalo sedang serius

nah, kalo yang ini, bakal jadi bos besar nantinya

and... show will start, now

style runner kalo sedang pegang show... mantabs

cek monitor...

no comment ah..

standby... camera on.

siap-siap LBP nih, maklum tinggal 2 menit

terpana dengan tampilan layar monitor... 

chief mengecek ulang rundown siaran... moga-moga tak ada yang terlewat

di studio-1

ini studio...

ini dia penampakannya


Sabtu, Januari 12, 2013

Hah, Pengawasan PP Tembakau Diserahkan ke Masyarakat?


(hypnoterapi solusi kecanduan rokok, video by: jacko agun)

Adalah sangat mencengangkan saat membaca berita tentang pelaksanaan PP no. 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, atau dikenal dengan sebutan PP Tembakau. Pasalnya, kemarin (11/1) Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi dalam konferensi pers di Keminfo menyerahkan pengawasan PP ini kepada masyarakat, padahal pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan merupakan pemegang mandat  pelaksana PP ini.

“Oleh karena itu, kami berharap partisipasi aktif adalah masyarakat demi untuk kepentingan masyarakat juga”, ujar  Nafsiah Mboi kepada salah satu media online di Jakarta.

Sebelumnya, PP ini sendiri hampir 3 tahun lamanya terkatung-katung dari satu kementerian ke kementerian yang lain, sebelum akhirnya di ketuk palu oleh presiden secara diam-diam pada 24 Desember 2012 lalu. Dari pemberitaan disebutkan bahwa penghalang terbesar adalah lobi-lobi industri rokok. Jamak diketahui bagaimana industri  rokok memiliki kedekatan dengan pihak istana.

Sabtu, Juli 21, 2012

Rokok Konsumsi Terbesar Setelah Beras



Saat ini konsumsi rokok telah mencapai 265 milyar batang pertahun, menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga terbesar didunia dalam hal mengkonsumsi rokok. Ironisnya, 265 milyar batang tersebut 70% nya dihisap oleh masyarakat kelompok rumah tangga rentan (miskin). Kelompok rentan ini, menurut data Badan Pusat Statistik, lebih rela membelanjakan uangnya untuk membeli rokok ketimbang untuk kesehatan, telor, susu dan pendidikan. Belanja rokok hanya dikalahkan oleh belanja padi-padian.

Di lapangan survey BPS ini terbukti benar. Salah satunya dialami oleh Ruswadi (34), pemulung yang tinggal di bantaran rel di kawasan Tanah Tinggi, Jakarta Pusat.

Kami temui suatu siang di gubuknya, ia tengah bersantai bersama keluarganya. Tak banyak aktivitas yang dilakukan selain duduk sembari mengisap sebatang rokok. Saat itu ia tidak bekerja, karena sedang tidak enak badan.

Politisasi Kasus Anas




Sejak Anas Urbaningrum di periksa beberapa waktu lalu, KPK masih belum mengeluarkan daftar cekal untuk mencegah Anas bepergian ke luar negeri. Sementara statusnya juga belum diputuskan. Rencananya, dalam pekan ini KPK baru akan melakukan gelar perkara untuk menentukan apakah penanganan Hambalang dinaikkan ke tahap penyidikan atau masih perlu pendalaman. Pun, demikian dengan nasib Anas.

KPK juga sudah memegang daftar kekayaan Anas Urbaningrum  yang dinilai fantastis. Hal ini sengaja tidak di bocorkan ke publik, mengingat ini merupakan jurus pamungkas KPK untuk menjerat Anas.

Terkait penyelidikan Hambalang, KPK sendiri telah dua kali memanggil Anas. Pemanggilan pertama untuk mengonfirmasi data yang didapat penyelidik, baik dari keterangan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, maupun dari anggota Komisi II DPR, Ignatius Mulyono. Kepada penyelidik, kedua orang itu menyebut keterlibatan Anas dalam penyelesaian sertifikat tanah Hambalang.

Sementara pada pemanggilan kedua, Anas mengaku ditanya penyidik mengenai apakah pernah mengadakan pertemuan dengan PT Adhi Karya selaku perusahaan rekanan Hambalang atau tidak.

Hingga kini desakan agar KPK menyelidiki indikasi tindak pidana korupsi terkait pembangunan gedung pusat pelatihan olahraga Hambalang yang menelan biaya hingga Rp 1,1 triliun terus bergulir. Pasalnya, penggerusan uang rakyat demi kepentingan partai dan elit partai semakin nyata.

Terkait kasus Hambalang, pembangunan gedung sendiri merupakan satu bagian tersendiri. Padahal jika kita jeli, masih ada persoalan lain, yakni pengadaan barang yang sedang diselidiki juga oleh KPK. Kabarnya disana aroma korupsi kental terasa. So, tinggal menunggu waktu dan skala prioritas saja. 

Skenario Selamatkan Demokrat

Seiring dengan pemeriksaan KPK, dugaan konspirasi untuk menumbangkan Anas mungkin saja terjadi. SBY yang tak ingin tangannya kotor terlihat menghindar dengan menyerahkan kasus ini pada jalur hukum. Sementara bagi rival partai(baca: Golkar), kondisi ini dimanfaatkan untuk menjatuhkan atau setidaknya mencoreng muka Demokrat sebagai partai yang katanya anti korupsi, meski belakangan partai tersebut juga dilanda isu serupa.

Berdasarkan informasi dari lingkungan KPK, lembaga pemberantas korupsi ini sebenarnya telah memiliki 2 alat bukti yang cukup untuk menjerat Anas. Salah satunya berasal dari pengakuan Angie. Pasalnya, Angie merasa partainya tidak berbuat banyak untuk menyelamatkannya.

Meski di dera isu tak sedap, elektabilitas Partai Demokrat ternyata masih cukup baik, berkisar 11 % atau 2 digit. Ini artinya, masyarakat masih melihat kasus Partai Demokrat sebagai sesuatu yang kasuistik. Masyarakat menanggapinya sebagai kesalahan elit partai semata, bukan kebijakan partai secara keseluruhan.

Satu-satunya jalan menyelamatkan partai adalah dengan menyingkirkan Anas. Jika hal itu terjadi, diperkirakan suara demokrat akan balik di angka 15%, dan ini yang sedang diusahakan oleh para pendiri, termasuk SBY.

Jika ternyata Anas tetap melawan, maka SBY akan turun langsung melengserkan Anas dari ketua umum. Pasalnya, data terakhir menyebutkan sekitar 80 % DPP Parta Demokrat setuju langkah ini. Suara yang awalnya mendukung Anas pun mulai berpaling.

Kabarnya SBY mendelegasikan tugas  ini kepada Ibu Ani sebagai pengemban misi untuk meloloskan Anas masuk perangkap KPK. Buktinya, semua gubernur yang berasal dari Partai Demokrat merupakan orang pilihannya bu Ani. Sementara Anas, hanya kebagian menentukan jabatan level Bupati atau Walikota saja.

Kondisi ini yang memungkinkan setiap arahan dari dewan Pembina akan diterima tanpa penolakan. Ketika pucuk pimpinan telah di pegang, maka bawahannya tinggal mengikuti. Ini merupakan cara jitu yang memang telah dipikirkan jauh-jauh hari.

Saat segala bujuk rayu dilakukan demi meloloskan Anas sebagai ketua umum, ternyata hal ini tidak berpengaruh banyak. Faktanya,  kekuatan Anas di daerah mulai dilumpuhkan. Para gubernur yang berasal dari Demokrat diintruksikan untuk menetralkan kekuatan organisasi organisasi, serta wajib mengamankan DPC hingga tingkat PAC agar hanya taat kepada arahan ketua dewan Pembina saja.

Ketika kekuatan Anas tinggal 30% di seluruh daerah, SBY dan elit partai akan mendorong Anas ke KPK. Pun dipastikan Anas tidak akan selamat dari jerat korupsi, apalagi  Anas memang terlibat langsung memimpin penjarahan APBN saat menjadi ketua Fraksi demokrat DPR RI.

Ini sebuah langkah besar, karena jika terus dibiarkan elektabilitas Partai Demokrat bakal anjlok hingga angka 8 %. Dengan begitu kekuatan demokrat akan hancur di 2014. Sementara bagi partai lain ini adalah peluang besar.

Peluang Partai Golkar

Menyikapi peluang yang terjadi, Golkar  ternyata telah merancang strategi yang tak kalah penting jauh sebelumnya. Cara paling ampuh adalah dengan menaikkan elaktibilitas partai dengan memanfaatkan kelemahan pihak lawan. Singkatnya, Golkar menginginkan elaktivilitas demokrat jatuh hingga level 8 % atau 1 digit. Dengan begitu, pilihan masyarakat yang tersisa hanya Golkar.

Disebutkan pula, bahwa sejak lama Golkar telah melakukan operasi siluman untuk mengganjal Demokrat. Setidaknya sejak 5 tahun yg lalu. Pertemuan  elit partai Golkar juga sering dilakukan untuk membahas bagaimana caranya agar Anas tidak buru-buru di ringkus KPK.  Mereka juga menyusun strategi agar Demokrat tersandera oleh kasus korupsi Anas.

Sementara itu dukungan dari partai lain juga mulai terjalin. Salah satu yang sangat nyata adalah sumbangan data dari utusan PKS. Disebutkan PKS ikut menyumbang data elektronik yang bisa digunakan untuk menggulingkan Anas. Dengan data tersebut Anas tidak bisa mengelak.

Di saat seperti ini, Golkar seakan berada di atas angin. Pasca pemeriksaan Anas, secara perlahan elektabilitasnya merambat naik. Ini merupakan sinyalemen positif, dimana masyarakat mulai berpaling dari Demokrat. Masyarakat mendambakan perubahan. Masyarakat benci korupsi. Hal ini diketahui karena Golkar sengaja menyewa lembaga survei untuk memantau elektabilitas partai berlambang beringin ini.

Kabarnya, bagian terhebat dari skenario tersebut akan terjadi pada minggu ini. Akan ada kejutan istimewa, dimana nasib Anas segera ditentukan oleh KPK. Seperti apa gerangan kejutan tersebut, sepertinya akan lebih menarik untuk ditunggu. (jacko agun)

*foto: http://article.wn.com

Sabtu, Maret 24, 2012

Refleksi Kondisi Air Jakarta


Memaknai Hari Air yang diperingati setiap 22 Maret, dimana tema tahun ini adalah Water and Food Security, ijinkan saya menyampaikan salam sejuk dan bening air untuk kita semua.

Kiranya dipundak kita ikut terletakan amanah dan sekaligus harapan dari masyarakat ibukota NKRI ini untuk masa depan pengelolaan yang lebih baik dari sumber daya air yang ada di DKI Jakarta ini. Tantangan yang terbentang dihadapan kita sungguh sangat berat. Mulai dari tingkat ketahanan air yang hanya 2,2 persen, kelangkaan air baku (97,8 persen tergantung suplai dari luar wilayah DKI), rendahnya cakupan layanan air perpipaan (baru sekitar 36 persen), sangat tingginya ekstraksi air tanah dalam (sekitar 0,89 juta m3/hari) sementara kemampuan mengimbuhkannya sangat jauh dari yang diambil yang pada akhirnya telah ikut menyebabkan laju turun muka tanah kita sangat ekstrim sekali (sekitar rata-rata 11 cm/tahun dan sepertinya tertinggi di dunia saat ini setelah Mexico City dan Bangkok pada abad lalu.

Dalam pengelolaan air limbah (baca: air bekas) DKI juga tertinggal jauh dari kota-2 lain di kawasan ASEAN. Kita baru mempunyai sistem sewerage yang baru mampu melayani sekitar 2,8 persen, sehingga tidak mengherankan kalau hampir 78 persen air tanah dangkal kita terkontaminasi bakteri E-Coli dan 13 sungai/kali di ibukota tercemar berat.

Dalam upaya mengendalian banjir, genangan, dan rob kita seakan berpacu dengan waktu. Upaya mengentasan titik genangan dan pembenahan sistem jaringan drainase mikro, makro, dan penghubung memerlukan investasi yang tidak sedikit dan harus berkelanjutan, karena potensi genangan baru dan dampak dari perubahan iklim serta kondisi cuaca ekstrim seakan mengejar kita. Kecenderungan naiknya muka air laut dan dampak dari land subsidence membuat sistem infrastruktur tanggul kita di pantura Jakarta terancam rob permanen pada beberapa titik/kawasan. Kondisi daerah hulu DAS dari 13 sungai yang melewati Jakarta cenderung memburuk sehingga menyisakan debit ekstrim (kecil pada musim kemarau dan sangat besar pada musim hujan) pada hampir semua sungai/kali kita.

Dalam sektor penyediaan air minum (baca: air bersih) tingkat kehilangan atau kebocoran air sangat tinggi (masih rata-rata 46 persen) dengan tarif air rata-rata nomor 3 tertinggi di Asia setelah kota-2 di Jepang dan Singapura. Saudara kita yang tinggal di RW 10 dan 17 di Penjaringan dan Kamal Muara terpaksa membeli air bersih dengan harga termahal di dunia (mencapai hampir Rp. 136.700/m3 atau setara USD 15/m3).

Izinkan saya menyampaikan fakta ini untuk mengingatkan diri kita semua sebagai pemangku kepentingan SDA di ibukota ini bahwa tantangan berat tersebut bukan untuk mematahkan semangat kita untuk berbuat maksimum dan terbaik bagi masyarakat yang harus kita layani, tetapi justru sebaliknya. Jika sejarah tidak akan mencatat kesungguhan kita dalam membenahi masalah SDA di ibukota ini, Sang Maha Pencipta pasti tidak akan luput mencatat dan membalas setiap kebajikan yang kita niat dan lakukan. InsyaAllah.

Siapa yang tidak memimpikan suatu saat kita bisa meniru sukses restorasi Singapore River. Jika pemerintah Kota Seoul dalam waktu kurang dari 6 tahun mampu merevitalisai total Cheonggyecheon River, itu bukan karena mereka punya fiscal capacity yg hebat, tetapi lebih pada komitmen dan spirit untuk mewujudkan masa depan lingkungan kota yang terbaik untuk generasi yang akan datang mereka.

Banyak kisah sukses yang berawal dari komitment yang kuat pemimpin dan warganya. Charles River di Boston, Chicago River di Chicago adalah diantara contoh nyata yang saya pribadi menyaksikan sendiri prosesnya.

Akhir kata, saya pribadi sebagai warga DKI juga memimpikan masa depan lingkungan kota yang lebih baik untuk anak-anak dan cucu-cucu kita. Karena legacy terbaik kita sebagai orang tua disamping memberikan mereka pendidikan terbaik dan ahklak mulia, adalah meninggalkan lingkungan tempat tumbuh, berkembang dan berkarya yang terbaik seperti kakek-nenek dan kedua orang tua kita yang telah berhasil mengantarkan ke-kehidupan yang lebih baik dari yang pernah mereka jalani.

Salam air, salam kehidupan, dan selamat menyambut dan memaknai Hari Air tahun ini. (Firdaus Ali,Indonesia Water Institute)

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN