Saturday, July 21, 2012

Rokok Konsumsi Terbesar Setelah Beras



Saat ini konsumsi rokok telah mencapai 265 milyar batang pertahun, menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga terbesar didunia dalam hal mengkonsumsi rokok. Ironisnya, 265 milyar batang tersebut 70% nya dihisap oleh masyarakat kelompok rumah tangga rentan (miskin). Kelompok rentan ini, menurut data Badan Pusat Statistik, lebih rela membelanjakan uangnya untuk membeli rokok ketimbang untuk kesehatan, telor, susu dan pendidikan. Belanja rokok hanya dikalahkan oleh belanja padi-padian.

Di lapangan survey BPS ini terbukti benar. Salah satunya dialami oleh Ruswadi (34), pemulung yang tinggal di bantaran rel di kawasan Tanah Tinggi, Jakarta Pusat.

Kami temui suatu siang di gubuknya, ia tengah bersantai bersama keluarganya. Tak banyak aktivitas yang dilakukan selain duduk sembari mengisap sebatang rokok. Saat itu ia tidak bekerja, karena sedang tidak enak badan.

Biasanya, setiap hari ia berangkat mulung dari gubuknya di Jakarta Pusat hingga ke kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Sedikitnya lebih dari 10 Km. Ia akan memungut sampah rumah tangga dan barang buangan gedung perkantoran  yang mungkin masih bisa di jual kembali.

Kegiatan mulung ini pun ia lakoni sejak subuh menjelang. Alasannya, agar tidak ketinggalan rejeki. Bagi sesama pemulung, kegiatan mulung di pagi buta memang telah menjadi semacam aturan tidak tertulis. Tiap pemulung punya wilayah teresterial tersendiri yang tidak boleh di jamah oleh pemulung lain. Itu sebabnya Ruswadi rela berjalan puluhan kilometer.

“disana (Pulo Gadung) masih banyak barang yang bisa di ambil” ujarnya sumringah.

Biasanya jika barang yang di kumpulkan cukup banyak, ia pun bergegas pulang. Sementara jika barang yang dikumpulkan belum cukup, ia akan memilih menginap di jalan, sembari mengumpulkan barang-barang dari tempat lain.

“ya, kalo barangnya belum banyak, saya milih nginap di jalan. Abis, kasihan, kalo barang di gerobak belum penuh, uang yang dikumpulkan jadinya tidak banyak”, ujarnya.

Sehari rata-rata penghasilan Ruswadi Cuma Rp.30.000. Namun, jika sedang apes tak jarang penjualan barang bekas miliknya hanya laku Rp.10.000 – Rp.15.000 saja. Jumlah ini tentu tidak cukup untuk menghidupi ke lima anaknya.

Dari jumlah tersebut sepertiganya ia habiskan untuk membeli rokok. Sehari sedikitnya ia menghabiskan 1 bungkus rokok. Demikian informasi yang berhasil kami kumpulkan dari Karwati, istrinya.

Kisah Ruswadi jadi bukti nyata, bahwa dengan 1 bungkus rokok perhari (misalnya harga Rp 9.000 perbungkus) berarti dalam sebulan telah menyedot anggaran belanja rumah tangga sebesar 270.000. Sebuah angka yang cukup besar bagi keluarga miskin.

Sebuah ironi saat pemerintah mendapatkan dana cukai Rp 65 trilyun, plus ratusan ribu buruh/petani yang terserap oleh industri nikotin ini. Namun pada saat bersamaan pemerintah dan masyarakat Indonesia justru menggelontorkan dana empat kali lipat untuk menanggulangi penyakit akibat merokok.

Data yang sama dirilis oleh BPS beberapa waktu lalu lalu (2/1) menunjukkan kontribusi rokok terhadap pembentukan garis kemiskinan menempati posisi kedua setelah beras, yakni sebesar 8,31 persen di perkotaan dan 7,11 persen di perdesaan. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan penduduk miskin, selain dialokasikan untuk membeli beras, juga dialokasikan untuk membeli rokok.
 
Padahal, dengan mengkonsumsi rokok tidak ada sama sekali kalori yang diperoleh, dan tentu akan lebih bermanfaat jika pendapatan yang digunakan untuk membeli rokok dialokasikan untuk hal lain yang lebih bermanfaat, misalnya, untuk pemenuhan protein atau untuk biaya pendidikan dan kesehatan.
 
Tingginya konsumsi rokok di kalangan penduduk miskin menjadi sebuah ironi jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa mereka yang terkaya di negeri ini justru adalah para penggiat industri racun ini, para pemilik pabrik-pabrik rokok.
 
Sebagaimana diberitakan dalam majalah Forbes beberapa waktu yang lalu (23/11/2011). Orang terkaya di Indonesia adalah dua bersaudara Budi Hartono dan Michael Hartono dengan nilai kekayaan mencapau 14 milai dollar AS atau setara dengan 127 triliun rupiah, disusul oleh Susilo Wonowijoyo di posisi kedua dengan nilai kekayaan mencapai 10 miliar dollar AS atau sekitar 91 triliun rupiah. Hartono bersaudara adalah pemilik PT. Djarum, begitupula dengan Susilo Wonowijoyo adalah pemilik PT.Gudang Garam.
 
Pada tahun ini, produksi rokok nasional diperkirakan akan mencapai 268,4 miliar batang. Jumlah yang sudah barang tentu tidak sedikit jika dirupiahkan. Jika diasumsikan harga satu batang rokok Rp500,- rupiah saja, itu artinya nilai produksi rokok tahun ini bisa mencapai Rp134,2 triliun rupiah.
 
Angka yang sangat fantastis, dan tentu bisa dipastikan siapa yang bakal diuntungkan dan menjadi lebih kaya dengan nilai produksi sebesar itu. Mereka tidak lain adalah produsen rokok seperti  nama-nama yang telah disebutkan di atas. Terus bagaimana nasib perokok miskin di negeri ini, apakah mereka juga bakal diuntungkan? Apapun jawabannya, yang pasti mereka sama sekali tidak mendapatkan manfaat dan keuntungan dari setiap batang rokok yang mereka hisap. Yang terjadi adalah mereka semakin terikat dan tidak bisa keluar dari jerat tembakau tersebut. (Jacko Agun)

1 comment:

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN