Kamis, Februari 07, 2008

Tahun Baru Imlek Setara Dengan Thanksgiving Day


Tak banyak orang yang tahu, kalau Tahun Baru Imlek bukan merupakan hari raya agama, seperti Idul Fitri ataupun Natal. Perayaan yang setiap tahunnya diperingati oleh semua etnis Tionghoa di seluruh dunia, tak lebih dari sekedar perayaan ucapan syukur, seperti Thanksgiving Day di Amerika.

Tahun Baru Imlek adalah salah satu hari raya Tionghoa tradisional, yang dirayakan pada hari pertama dalam bulan pertama kalender Tionghoa, jatuh pada hari terjadinya bulan baru kedua setelah hari terjadinya hari terpendek musim dingin (Latin: solstitium => bahasa Inggris: solstice). Namun, jika ada bulan kabisat kesebelas atau kedua belas menuju tahun baru, tahun baru Imlek akan jatuh pada bulan ketiga setelah hari terpendek. Hari raya ini juga dikenal sebagai 春節 Chun1jie2 (Festival Musim Semi), 農曆新年 Nong2li4 Xin1nián (Tahun Baru), atau 過年 Guo4nián.

Imlek dirayakan di seluruh dunia, termasuk di Pecinan di berbagai negara, dan merupakan hari raya terpenting bagi bangsa Tionghoa, dan banyak bangsa Asia Timur seperti bangsa Korea dan Vietnam (Tết) yang memiliki hari raya yang jatuh pada hari yang sama. Sekitar masa tahun baru orang-orang memberi selamat satu sama lain dengan kalimat: Aksara Tionghoa Sederhana: 恭喜发财 - Aksara Tionghoa Tradisional: 恭喜發財 = "selamat dan semoga banyak rejeki", dibaca: "Gōngxǐ fācái" (bahasa Mandarin), "Kung hei fat choi" (bahasa Kantonis), "Kiong hi huat cai" (bahasa Hokkien).

Tahun Baru Imlek di Indonesia

Di Indonesia, selama 1965-1998, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Alm. Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika mantan Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Megawati Soekarnoputri menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional. Mulai 2003, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional.

Bagi etnis Tionghoa adalah suatu keharusan untuk melaksanakan pemujaan kepada leluhur, seperti, dalam upacara kematian, memelihara meja abu atau lingwei (lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur), bersembahyang leluhur pada hari Ceng Beng (hari khusus untuk berziarah dan membersihkan kuburan leluhur) dan Hari Raya Imlek.

Oleh sebab itu, pada Hari Raya Imlek anggota keluarga akan mengunjungi rumah anggota keluarga yang memelihara lingwei (meja abu) le- luhur untuk bersembahyang. Atau mengunjungi rumah abu tempat penitipan ling- wei leluhur untuk bersem- bahyang.
Di Jakarta terdapat banyak Rumah Abu tempat penitipan abu leluhur yang dikremasi atau lingwei dari leluhur yang sudah dimakamkan. Pemujaan terhadap leluhur merupakan salah satu bagian penting dari kebudayaan etnis Tionghoa. Banyak etnis Tionghoa yang percaya bahwa alam semesta adalah Chi (energi).

Ketika manusia meninggal dunia maka jasadnya turun ke bumi, sedangkan rohnya hidup terus di langit sebagai Chi. Hal ini memungkinkan orang yang masih hidup untuk berhubungan dengan leluhur mereka yang sudah meninggal dunia melalui pemujaan, ritual, dan upacara.

Angpao

Angpao (Hanzi: 紅包, hanyu pinyin: hong bao) adalah bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek.

Sejak lama, warna merah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa nasib baik.

Angpao sendiri adalah dialek Hokkian, arti harfiahnya adalah bungkusan/amplop merah. Namun angpao sebenarnya bukan hanya monopoli perayaan tahun baru Imlek semata karena angpao melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik, sehingga angpao juga ada di dalam beberapa perhelatan penting seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain-lain yang bersifat suka cita.

Angpao pada tahun baru Imlek mempunyai istilah khusus yaitu "Ya Sui", yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak2 berkaitan dengan pertambahan umur/pergantian tahun. Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan, bonbon dan makanan. Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dan membiarkan anak2 memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli. Tradisi memberikan uang sebagai hadiah Ya Sui ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam satu literatur mengenai Ya Sui Qian dituliskan bahwa anak2 menggunakan uang untuk membeli petasan, manisan. Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.

Uang kertas pertama kali digunakan di Tiongkok pada zaman Dinasti Song, namun baru benar2 resmi digunakan secara luas di zaman Dinasti Ming. Walaupun telah ada uang kertas, namun karena uang kertas nominalnya biasanya sangat besar sehingga jarang digunakan sebagai hadiah Ya Sui kepada anak2.

Di zaman dulu, karena nominal terkecil uang yang beredar di Tiongkok adalah keping perunggu (wen atau tongbao). Keping perunggu ini biasanya berlubang segi empat di tengahnya. Bagian tengah ini diikatkan menjadi untaian uang dengan tali merah. Keluarga kaya biasanya mengikatkan 100 keping perunggu buat Ya Sui orang tua mereka dengan harapan mereka akan berumur panjang.

Jadi, dari sini dapat kita ketahui bahwa bungkusan kertas merah (angpao) yang berisikan uang belum populer di zaman dulu.

Imlek Bukan Hari Raya Agama

Saat ini masyarakat keturunan Tionghoa merayakan Hari Raya Imlek. Imlek adalah hari raya tahun baru berdasarkan penanggalan Imlek yang dirayakan setiap tanggal 1 bulan pertama kalender Imlek. Maka perayaan Imlek disebut Sin Cia (tahun baru).
Kalender Imlek adalah penanggalan yang menganut perhitungan berdasarkan peredaran bulan (lunar calendar). Tidak seperti kalender masehi (kalender Gregorian) yang berdasarkan peredaran matahari (solar calendar).

Perayaan Imlek juga disebut Chun Cie (pesta musim semi). Hal itu erat kaitannya dengan keadaan musim di Tiongkok, di mana penduduk mengalami perubahan dari musim dingin yang suram dan dingin menjadi musim semi yang cerah dan sejuk, serta penuh dengan kehidupan baru dari flora dan fauna. Maka kedatangan musim semi sangat disyukuri dan dirasakan patut dirayakan dengan penuh sukacita.

Pada Hari Raya Imlek, wihara dan kelenteng penuh sesak oleh orang-orang yang datang untuk sembahyang. Oleh sebab itu, banyak orang yang bukan etnis Tionghoa dan bukan beragama Buddha mengira Imlek adalah hari raya agama Buddha sebab wihara adalah tempat beribadat umat Buddha.

Imlek bukan hari raya agama Buddha. Hari raya agama Buddha adalah Tri Suci Waisak yang memperingati tiga peristiwa penting, yaitu hari lahir Pangeran Sidharta Gautama, hari Pangeran Sidharta Gautama menjadi Buddha dengan dicapainya penerangan sempurna, dan hari wafatnya Sang Buddha dan masuk Pari Nirwana.

Imlek juga bukan hari raya agama Konghucu. Hari raya agama Konghucu adalah hari lahir Nabi Konghucu, hari wafatnya Nabi Konghucu dan Hari Genta Rohani (Hari Nabi Konghucu meninggalkan jabatan pemerintah dan mengembara ke dalam dunia spiritual).
Hari Raya Imlek adalah pesta rakyat yang paling utama dalam almanak Tionghoa, yang dirayakan dari tanggal satu bulan satu Imlek sampai dengan tanggal 15 bulan satu Imlek (Cap Go Me), selama 15 hari.

Etnis Tionghoa merayakan Imlek di wihara dan kelenteng bukan hanya menyembah Buddha, tetapi juga untuk menyembah dewa-dewa dan orang suci untuk menyatakan rasa syukur, berterima kasih, serta memohon perlindungan dan kebaikan bagi keluarganya di tahun-tahun yang akan datang.

Sejak ribuan tahun lalu, di negeri Tiongkok banyak orang sekaligus menganut tiga agama, Buddha, Tao, dan Konghucu, sehingga dapat disebut sebagai agama Sam Kao atau Tri Dharma. Ciri agama orang Tionghoa sampai sekarang masih banyak yang bercorak agama majemuk. Dalam hal kepercayaan, orang Tionghoa umumnya tidak mutlak percaya pada satu agama, melainkan mengambil unsur-unsur tertentu dari berbagai agama masing-masing. Banyak etnis Tionghoa di Indonesia yang juga menyembah dewa-dewa majemuk.

Prof Kong Yuanzhi, Guru Besar Bahasa dan Kebudayaan Indonesia, Fakultas Studi Ketimuran (Oriental Studies), Universitas Peking, dalam bukunya Silang Budaya Tiongkok Indonesia, menyatakan, di Jakarta selama 1650 - 1975, berturut-turut telah dibangun 72 wihara dan kelenteng. Dewa-dewa dan orang suci yang dipajang di dalam 72 wihara dan kelenteng itu seluruhnya berjumlah 115 macam.

Jadi, di wihara atau kelenteng tidak hanya ada patung Buddha, tetapi juga banyak patung lainnya. Antara lain, Kwan Im, Kwan Kong, Konghucu, Toa Pekong, Dewi Langit, Dewi Samudra, Dewa Tanah, dan Delapan Dewa.

Sebagai contoh, di Wihara Dharma Bakti (Kelenteng Kim Tek Yan) yang dibangun sekitar 1650 di Jalan Toa Se Bio, Glodok, Jakarta, dipajang patung-patung: Bodhisatwa Kwan Im, Bodhisatwa Ksitigarbha, Zhao Gongming, Kwan Kong, Dewa Tanah, Dewi Tian Hou, dan lain-lain.

Setara dengan Thanksgiving Day

Perayaan Imlek mempunyai makna pengucapan syukur atas berkat dan kelimpahan yang sudah diterima pada tahun yang baru lalu dan permohonan berkat dan pertolongan baik dari Thian (Tuhan), dewa-dewa, maupun leluhur pada tahun yang akan datang.
Di Amerika Serikat diselenggarakan pesta rakyat "Thanksgiving Day" yang dirayakan pada hari Kamis kedua bulan November. "Thanksgiving Day" bermula dari tradisi pesta panen masyarakat pertanian yang sudah dirayakan sejak masa kejayaan Yunani dan Romawi. "Thanksgiving' dirayakan sebagai tanda terima kasih pada Tuhan atas keberhasilan panen pada musim itu.

Di Amerika Serikat sejak 1863, "Thanksgiving Day" ditetapkan sebagai Hari Raya Nasional. "Thanksgiving Day" menjadi pesta rakyat yang tidak terkait dengan suatu agama, sehingga segenap warga negara Amerika Serikat merayakannya dengan sepenuh hati.

Seperti halnya "Thanksgiving Day" Imlek juga bukan hari raya keagamaan. Imlek adalah pesta rakyat yang dirayakan secara tradisional oleh etnis Tionghoa dari segala macam agama di seluruh dunia. Dan mereka merayakannya dengan penuh suka cita dan mengucap syukur sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Rabu, Januari 16, 2008

Mengunjungi Kahyangan di Tanah Jawa


Mengunjungi situs-situs bersejarah, tentunya mengasyikkan. Apalagi jika lokasinya berada di dataran tinggi yang merupakan sisa gunung berapi masa lalu. Masyarakat sekitar pun menyebutnya sebagai kahyangan, tempat berkumpulnya para dewa.

Kali ini saya mencoba menyambangi, suatu kawasan yang berada di Kabupaten Banjarnegara, berjarak 26 KM dari ibukota Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah. Secara keseluruhan, kawasan ini mencakup 5 kabupaten, yakni; Batang, Kendal, Temanggung, Wonosobo dan Banjarnegra dengan areal 619,846 hektar. Sungguh luas, bukan?

Sekeliling sangat gelap, sewaktu kami memulainya hari itu. Jam merujuk pukul 02.00 WIB dini hari. Dengan berat hati, terpaksa saya harus bangun dari tidur yang singkat, jika tak ingin terlambat tiba disana. Kalau di hitung-hitung, paling-paling 2 jam mata ini sempat terpenjam.

Menggunakan kendaraan roda empat bertenaga 1300cc, kami pun beranjak meninggalkan kota bersejarah Jogyakarta melewati Magelang menuju Kabupaten Banjarnegara, tempat kawasan itu berada. Saat itu, hanya kegelapan yang bisa dinikmati. Hingga tak terasa, kami pun tiba di lokasi yang bernama “Menara Pandang” pada ketinggian 1700 mdpl. Menara ini disebut demikian, karena (kabarnya) dari tempat ini kita bisa menyaksikan matahari terbit di balik Gunung Sinduro yang menglilingi kawasan ini pada pukul 6 pagi.

Berhubung saat itu masuk musim penghujan, rencana menikmati sunrise harus direlakan dengan perasaan kecewa. Pasalnya, matahari yang ditunggu-tunggu tak kunjung muncul. Hanya mega-mega bewarna keemasan berbaur dengan awan yang memancar di ufuk timur. Sampai akhirnya, secara perlahan sekeliling mulai terang, pertanda kami harus melanjutkan perjalanan.

Secara geografis, kawasan ini terletak antara 7º,20' Lintang Selatan hingga 109º,92' Bujur Timur yang menurut pembacaan Google Earth berada pada Latitude: -7,20 dan Longitude: +109,92, dengan ketinggian 2.000-an m. Dari beberapa literatur yang saya baca, ketinggian tempat ini memiliki banyak versi. Mulai dari 2.093 hingga 2.565 m dari permukaan laut. Ntah lah, mana yang betul. Pasalnya, saat kesana, saya tidak bisa mengukurnya, karena ketiadaan alat (baca: altimeter).

Tentu anda sudah tak sabar ingin mengetahui apa nama kawasan tersebut, bukan? Bagi anda yang pernah kesana, ataupun berasal dari kawasan ini, namanya tentu sudah tak asing lagi. Yup.. anda benar. Dataran Tinggi Dieng-lah namanya, yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Dieng Plateau.

Dengan suhu rata-rata 13ºC-17ºC di siang hari dan 10ºC di malam hari, menjadikan kawasan ini berhawa sejuk dan sangat cocok ditanami aneka jenis tanaman. Namun, di waktu-waktu tertentu, seperti Juli – Agustus, kita perlu waspada, karena suhunya bisa mencapai 0ºC. Suhu ekstrim ini sangat di khawatirkan masyarakat, sebab bisa membuat kerusakan pada tanaman pertanian. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai bun upas, artinya embun racun.

Berdasarkan etimologinya, Dieng berasal dari bahasa Indonesia Purba (sebelum bahasa Kawi) atau mungkin bahasa Sunda Kuna (baca; bukan bahasa Sansekerta); “Di” dan “Hyang” yang berarti Kediaman Para Dewa (kahyangan).

Dari kawasan ini, sumber mata air Sungai Serayu berada. Sungai Serayu merupakan sungai yang mengalir di Jawa Tengah bagian Selatan, bermuara di Cilacap. Sumber mata air ini disebut dengan Tuk Bimo Lukar (Mata-air Bimo Lukar). Tuk Bimo Lukar selain sebagai mata air Sungai Serayu, konon juga dipercayai dapat membuat awet muda.

Menikmati Pesona Candi Arjuna

Dahulunya dataran tinggi Dieng tempat pemujaan dan asrama pendidikan Hindu tertua di Indonesia. Sebagai buktinya, bangunan suci tersebut masih bisa kita temui sampai sekarang. Sedikitnya, dapat kita saksikan 8 buah candi dengan lokasi yang tak terlalu jauh.

Pada kesempatan ini, hanya kawasan Candi Arjuna yang bisa kami nikmati dari dekat. Pasalnya, waktu yang tersedia dengan lokasi wilayah yang sangat luas membuat kami harus memilih. Sejatinya, di kawasan ini terdapat beberapa kompleks candi, seperti Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Dwarawati dan Candi Parikesit.

Dieng merupakan tempat suci yang memiliki kekuatan magis, karena dianggap sebagai tempat bersemayamnya arwah para leluhur. Di tempat ini pula terdapat beberapa komplek candi yang diperkirakan di bangun pada masa Dinasty Sanjaya, abad ke 8, awal peradaban Hindu, dengan peninggalan beberapa arca, seperti Siwa,Wisnu, Agastya, Ganesha dan lain-lain.

Gugusan Candi Arjuna konon untuk memuja Dewa Syiwa. Kawasan candi ini terdiri dari dua deret. Deret sebelah timur terdiri dari empat candi yang menghadap ke barat; candi Arjuna, candi Srikandi, candi Puntadewa dan candi Sembadra. Deret sebelah barat menghadap ke timur yaitu candi Semar yang berhadapan dengan candi Arjuna.

Penamaan candi-candi itu dipercaya baru dimulai pada abad ke-19 berkaitan dengan cerita wayang Purwa dalam lakon Mahabharata. Hal ini ditunjukkan dengan adanya relief-relief pada dindingnya. Penamaan candi juga tidak ada kaitannya dengan fungsi bangunan dan diperkirakan diberikan setelah bangunan candi ditinggalkan atau tidak digunakan lagi. Siapa tokoh yang membangun candi tersebut belum bisa dipastikan, karena informasi yang terdapat di 12 prasasti batu tidak menyebutkan siapa tokoh yang membangun.

Dari prasasti batu hanya ditemukan angka tahun 731 saka (809 Masehi) dan 1210 Masehi. Informasi ini digunakan sebagai petunjuk bahwa tempat ini digunakan selama 4 abad. Dari sisi arsitekturnya, candi-candi ini agak berbeda dengan candi kebanyakan di Pulau Jawa. Candi-candi tersebut dibangun dengan menggunakan konstruksi batu Andesit yang berasal dari Gunung Pakuwaja yang berada di Selatan komplek Candi Dieng.

Sejarah Geologi

Dataran tinggi Dieng merupakan dataran yang terbentuk oleh kawah gunung berapi yang telah mati. Bentuk kawah jelas terlihat dari dataran yang terletak di tengah dengan dikelilingi oleh bukit-bukit.

Dataran tinggi Dieng (Dieng Plateau) merupakan sebuah komplek gunung berapi. Sebuah kumpulan komplek gunung berapi yg luas dan mempunyai kemiripan hubungan gunung mayor dan minor dengan gabungan aliran lava dan batuan piroklastik (Francis, 1994). Komplek Dieng berbentuk dataran luas dengan panjang kurang lebih 9 mil (14 km) dan lebar 4 mil (6 km) dan memanjang dari arah barat daya - tenggara.

Struktur yg luas ini mungkin gabungan kaldera dengan peninggalan dua atau lebih stratovolkano. Bagaimana pun, tidak ada deposit yang besar dari gabungan pembentukan kaldera yang teridentifikasi. Sebuah kaldera tersebut usianya lebih dari 16.000 tahun. Sketsa peta Dieng Plateau dan kaldera sempat dibuat oleh Newhall dan Dzurisin (1988) yang dimodifikasi dari Delarue (1980).

Dieng yang berasal dari gunung api tua mengalami penurunan drastis (dislokasi), oleh patahan arah barat laut dan tenggara. Gunung api tua itu adalah Gunung Prau. Pada bagian yang amblas muncul gunung-gunung kecil yaitu: Gunung Alang, Gunung Nagasari, Gunung Panglimunan, Gunung Pangonan, Gunung Gajahmungkur dan Gunung Pakuwaja.

Beberapa aktivitasnya masih menimbulkan karakteristik yang khas. Seperti magma yang timbul tidak terlalu kuat, layaknya gunung merapi. Sedangkan letupan-letupan yang terjadi lebih karena tekanan air bawah tanah oleh magma yang menyebabkan munculnya beberapa gelembung-gelembung lumpur panas. Fenomena ini antara lain dapat dilihat pada Kawah Sikidang atau Kawah Candradimuka.

Sehingga jika ada yang mengatakan tempat ini merupakan bekas danau besar yang dikelilingi oleh gunung-gunung, sepertinya agak susah diterima akal. Akan lebih tepat, jika dikatakan kawasan ini merupakan bekas kawah akibat letusan gunung purba yang lama kelamaan digenangi air. Kawasan tergenang ini pula yang menyebabkan timbulnya telaga tadi.

Kawah aktif

Selain candi, Dieng juga menyimpan banyak kawah yang masih aktif mengeluarkan asap putih tebal. Beberapa di antaranya dinamai sesuai legenda Mahabarata, seperti Kawah Candradimuka dan Sumur Jalatundha. Candradimuka adalah nama kawah tempat menempa bayi Tetuko yang kelak menjadi ksatria gagah berani Gatotkaca.

Salah satu kawah di Dieng, yakni Kawah Sinila, sempat terkenal pada akhir 1970–an lalu karena mengeluarkan gas beracun yang menewaskan ratusan penduduk di sekitarnya. Kini, uap panas yang keluar dari kawah–kawah aktif tersebut dimanfaatkan untuk memutar turbin pada pembangkit listrik energi panas bumi yang mampu menghasilkan tenaga listrik sebesar 60 MW (2001).

Salah satu kawah yang dibuka sebagai objek wisata untuk umum adalah Kawah Sikidang. Kawah yang dari jauh sudah terlihat mengepulkan asap putih tebal tersebut, setelah didekati ternyata berbentuk kolam seluas sekitar 100 meter persegi yang berisi cairan kental abu–abu gelap yang mendidih bergumpal–gumpal.

Kawah ini pun sering berpindah-pindah letaknya, seiring dengan perbedaan tekanan di bawahnya. Jika pada tahun lalu, kawah aktifnya berjarak tidak terlalu jauh dari pintu masuk, kini lokasinya agak jauh ke tengah. Suara menggelegak dan desis uap air yang terbentuk dari kawah berwarna coklat kehitaman itu menimbulkan nuansa mistis yang khas.

Untuk mencapainya, kita harus hati-hati karena di sekitarnya banyak tumpukan lumpur kelabu yang berbau menyengat. Lumpur yang tampaknya padat dan sudah mengering tersebut sebenarnya adalah lumpur basah yang lembek dan sangat panas. Jika tidak waspada, kaki kita bisa terperosok ke dalamnya.

Indahnya Telaga Warna

Saat berkunjung ke kawasan ini, yang jangan dilewatkan adalah menikmati telaga alamnya, seperti telaga Merdada, Sumurup, Pengilon dan Telaga Warna. Dua telaga terakhir merupakan tempat menarik dan paling sering dikunjungi wisatawan, karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari jalan raya.

Cukup dengan membayar Rp. 3000/ orang kita sudah bisa memasuki kawasan Telaga Warna. Telaga ini menjadi lokasi favorit pengunjung, karena keasrian dan akses jalannya. Berbeda dengan telaga di tempat lain, di tempat ini pengunjung dimanjakan dengan jalan betonnya yang tertata rapi. Sehingga pengunjung akan melenggang dengan aman, tanpa harus takut terpeleset akibat licinnya jalan. Selain itu, di beberapa titik disediakan lokasi peristirahatan berupa bangku beton, tempat pengunjung melepas lelah sembari menikmati indahnya telaga.

Di telaga Warna ini kita juga bisa melihat 3 warna telag, yakni; biru, hijau dan cokelat untuk waktu-waktu tertentu. Sedangkan di musim penghujan seperti sekarang ini, warna telaga lebih di dominasi warna hijau.

Telaga Warna merupakan danau di dalam kawah dengan relief yang rendah dengan luas 20 Ha. Kedalamannya antara 10 – 20 m. Gelembung gas sering tampak di permukaan telaga dan udaranya menjadi berbau belerang. Gelembung ini terjadi akibat aktivitas vulkanologi jauh di dalam bumi, yang di dominasi oleh gas seperti, belerang.

Dengan kondisi topografi, pemandangan alam yang indah serta situs-situs purbakala berupa candi, terasa pas mengidentikkannya sebagai khayangan di Bumi Jawa. Sebuah tempat yang sangat sayang tuk lewatkan begitu saja. Setidaknya, menikmati kesan magis yang masih tersisa.

Rabu, Januari 02, 2008

Tarif SMS di Indonesia Masih Mahal


Siapa yang menyangka, kalo tarif SMS di Indonesia masih terbilang mahal, jika di banding dengan tarif sejenis di negara-negara lain di ASEAN. Kejadian ini ditengarai sebagai ulah perusahaan asal Singapura –Temasek Holding- dalam melakukan monopoli penentuan tarif per SMS.

Kejadian ini terungkap, ketika Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan perusahaan asal Singapura; Temasek Holding, bersalah karena melakukan kepemilkan silang di dua perusahaan telekomunikasi terbesar yang beroperasi di Indonesia; Indosat dan Telkomsel. Hal ini dianggap bersalah, karena secara sadar perusahaan tersebut telah menetapkan tarif per SMS yang relatif mahal.

Kecurangan mulai tercium, saat Singapore Technologies Telemedia (STT) dan Singapore Telecomunications (Sing-Tel) memiliki sebagian besar saham perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia (baca; Indosat dan Telkomsel). Ternyata kedua perusahaan tersebut merupakan anak perusahaan Temasek Holding, sebuah perusahaan raksasa yang berbasis di Singapura.

Dengan kepemilikan silang Temasek, terjadi price leadership. Telkomsel yang saat ini sebagai pemimpin pasar karena jangkauannya yang luas, bisa menetapkan tarif seluler seenaknya. Jika di biarkan hal ini bisa berakibat pada kerugian konsumen (consumer loss).

Padahal jika kita mengacu pada perhitungan KPPU saja, selama tahun 2003 – 2006 diperkirakan konsumen mengalami kerugian mencapai Rp. 30,8 triliun. Kerugian ini terjadi akibat biaya yang dikeluarkan untuk belanja sektor komunikasi.

Ikhwal masalah

Di tahun 2001 lalu, pemerintah melakukan tukar guling antara Telkom dengan Indosat. Alternatif ini di pilih sebagai solusi untuk meningkatkan valuasi (baca; nilai tambah) perusahaan dan menciptakan persaingan yang sehat di industri telekomunikasi di Indonesia.

Sayangnya, hal ini tidak berjalan seperti yang di rencanakan. Akibat terpuruknya nilai tukar rupiah dan keterbatasan dana di APBN untuk bidang ini, pemerintah akhirnya menjual beberapa aset (baca: BUMN) yang dianggap merugi, akibat kredit macat.

Akhirnya, banyak BUMN yang sebenarnya memiliki arti penting bagi bangsa ini, harus di relakan berpindah tangan ke tempat lain, hanya demi dalih pengelolaan yang profesional dan pemasukan bagi kas negara yang rencananya mencapai 6,5 triliun/ tahun kala itu.

Padahal dalam UUD 1945 disebutkan, bahwa cabang-cabang produksi penting yang menguasai hajat hidup orang banyak, dikuasai oleh negara, yang dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat. Jika dilihat dari prakteknya, jelas telah terjadi kesalahan prosedur yang di sengaja. Ini yang mengakibatkan bangsa ini semakin merugi

Jaringan yang Meresahkan

Ketika komunikasi telah menjadi kebutuhan, maka segala cara dilakukan manusia guna memenuhi kebutuhan tersebut. Sama halnya ketika industri telekomunikasi mulai merasuki sendi-sendi kehidupan. Hadirnya beberapa operator dengan tarif SMS yang relatif tinggi, tak membuat masyarakat jera. Berapa pun tarif yang di tawarkan, pasti akan habis di lahap konsumen.

Sehingga jangan heran, jika bisnis ini menjadi mesin pencetak uang bagi para pemain di industri ini. Lebih jauh, para pemain tadi akhirnya membuat jaringan yang kuat untuk bersepakat dalam menentukan tarif per SMS yang harus di bayar konsumen.

Dugaan inilah yang menguatkan kecurigaan KPPU, ketika tarif SMS yang dikeluarkan oleh delapan perusahaan seluler di Indonesia (Indosat, Telkomsel, XL, Bakrie Telecom, Mobile-8, Telkom, Smart Telecom, Hutchison) relatif sama.

Ternyata, tarif SMS di Indonesia terbilang mahal jika dibandingkan dengan di negara-negara ASEAN yang lain. Padahal batasan yang ditetapkan Badab Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) hanya berkisar antara Rp. 73 – Rp. 75 per SMS.

Saat ini, tarif SMS untuk pascabayar adalah Rp. 250 dan pra bayar Rp. 350. Lagi-lagi, pendapatan atas SMS ini menjadi milik operator pengirim.

Rakyat dirugikan

Jika sudah begini, operator mengambil margin keuntungan yang sangat tinggi mencapai 200% -300%. Lebih kecil dari biaya produksi yang dikeluarkan. Keuntungan mereka bertambah besar jika SMS di kirimkan ke pelanggan lain dalam operator yang sama, mengingat pengiriman SMS sesama operator jauh lebih murah, karena menggunakan jaringan sendiri. Berbeda halnya jika mengirim ke oprator yang berlainan. Dengan begitu, biaya produksi benar-benar minim.

Secara sederhana bisa dianalogikan seperti ini; misalkan dalam sehari SMS yang di kirim dari operator seperti Telkomsel mencapai 230 juta SMS per harinya. Tinggal di kalikan dengan tarif SMS (misal: Rp. 350). Sedikitnya, pendapatan mencapai Rp. 80 miliar masuk ke rekening Telkomsel per harinya. Coba bandingkan jika dikalikan dalan setahun. Pendapatan bisa merujuk angka Rp. 29 triliun. Sebuah angka yang fantastik, bukan?

Itu baru Telkomsel. Bagaimana dengan operator lain? Tentu mencapai hasil yang besar juga. Jika saja market share operator terbesar tanah air sekitar 53%, maka pendapatan SMS yang dapat di kumpulkan seluruh operator dalam setahun bisa mencapai Rp. 50 triliun.

Sehingga jangan heran, ketika operator tak akan rela melepas keuntungan yang begitu gampang mereka raih, di porak-poranda oleh kebijakan pemerintah yang dianggap menghambat. Apalagi kebanyakan dari mereka sudah merintis usaha ini sejak tahun 1999.

Ada dugaan, para operator ini tidak jujur dalam menyampaikan data komponen dan biaya produksi kepada BRTI -notabene perpanjangan tangan pemerintah- sebagai upaya penyusunan tarif dasar SMS.

Jika sudah begini, hanya campur tangan pemerintah yang sanggup untuk meredakannya. BRTI sebagai satu-satunya regulator telekomunikasi di Indonesia, hendaknya mampu menyusun dan mengawasi batasan harga yang telah ditetapkan. Jangan sampai terjadi penetapan sepihak dilakukan oleh operator-operator tersebut.

Cara ini dianggap mampu melindungi kepentingan publik dari praktek-praktek yang merugikan masyarakat demi memperkaya segelintir orang, apalagi memperkaya negara lain.(berbagai sumber)

Selasa, November 27, 2007

....%^%$@*&...



Akhirnya, semua akan tiba pada suatu hari yang biasa.
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui...
Apakah kau masih selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap,
sambil membenarkan letak leher kemejaku.
Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih,...
Lembah Mandalawangi.
Kau dan aku tegak berdiri.
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram.
Meresapi belaian angin yang mejadi dingin....
Apakakah kau masih membelaiku semesra dahulu.
Ketika ku dekap, kau dekaplah lebih mesra,lebih dekat.
Apakah kau masih akan berkata;ku dengar detak jantungmu.
Kita begitu berbeda dalam semua,
kecuali dalam cinta

(OST GIE)

Jumat, November 23, 2007

Menjelajahi Taman Nasional Laut Kep. Seribu



Sejarah mencatat, keindahan, keanekaragaman dan keunikan alam di Kepulauan Seribu menjadi potensi besar bagi keberlangsungan ekosistem. Sejak kawasan ini di tetapkan pemerintah sebagai Taman Nasional Laut di tahun 2002 lalu, berbagai pembenahan dilakukan guna mendukung pelestarian dan pengembangan objek wisata bahari di kepaulauan yang terkenal dengan gugusan pulau-pulau kecil dan perairan laut dangkalnya.

Pagi itu, suasana sepi diantara belasan kapal cepat yang berjejer rapi di pantai Marina - Ancol, berubah riuh saat serombongan orang mulai berbenah menuju kapal, sembari menunggu teman-teman lain yang belum datang. Yup, itulah kami, para jurnalis yang berkesempatan mengikuti fieldtrip yang diadakan Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, selama 2 hari ke depan.

Terbentang hingga 100 mil ke arah utara dari teluk Jakarta, kawasan Kepulauan Seribu seolah menyeruak bak pecahan partikel yang jatuh ke Bumi. Lukisan alam di kawasan tropis ini hadir menjadi harmoni perairan laut dengan sebaran pulau yang jumlahnya mencapai 110 buah, serta disarati ornamen alam berupa terumbu karang, pasir serta aneka biota laut yang sungguh kaya warna.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN