Minggu, Mei 17, 2020

Selayang Pandang Coronavirus

16 Mei 2020, virus corona telah menginfeksi 4,705,668 penduduk dunia dan menewaskan 311,877 orang. Source: https://phmovement.org/
Association of Health Care Journalists (AHCJ) menegaskan coronavirus merupakan keluarga virus, beberapa di antaranya menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia. Virus itu memperlihatkan halo seperti mahkota, ketika dilihat di bawah mikroskop elektron, dan karena itulah ia disebut Coronavirus.

Saat ini, coronavirus telah ditemukan di tubuh hewan, seperti unta, kucing dan kelelawar. Beberapa diantaranya telah melompat ke manusia, penyebaran yang didefinisikan oleh para ahli epidemiologi sebagai "zoonosis."

Sebelum Desember 2019, diketahui ada enam jenis coronavirus yang menyebar di antara orang-orang. Empat jenis diantaranya menyebabkan pilek (flu). Satu jenis coronavirus menyebabkan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS), penyakit yang muncul di Cina pada tahun 2002, dan sisanya menyebabkan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS).

Sabtu, Mei 16, 2020

4 Jenis Burung Air Ditemukan Di Ecopark Ancol



(Peserta Asian Waterbird Census (AWC) 2020 sebelum melakukan mendata jenis-jenis burung air. Credit: Jacko Agun)


The Asian Waterbird Census (AWC) is part of the global International Waterbird Census (IWC). This citizen-science programme is supporting the conservation and management of wetlands and waterbirds worldwide.

Ecopark di Kawasan Ancol Taman Impian dipilih menjadi lokasi kegiatan sensus burung air atau Asian Waterbird Census (AWC) 2020. Ecopark dipilih karena lokasinya berada di pesisir Jakarta dan merupakan habitat bagi beragam jenis burung.

Sensus dilakukan oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) dibantu Biodiversity Warriors (BW) Yayasan KEHATI, pada 17 Januari lalu, untuk mendata jenis-jenis burung air yang ada di kawasan Ancol.

Minggu, Desember 15, 2019

Mengintip TWA Angke Kapuk


Hutan mangrove di TWA Angke Kapuk, tempat yang tepat untuk melepas lelah
sembari menghirup udara segar. (foto: jacko agun)

Mangrove forests stabilize the coastline, reducing erosion from storm surges, currents, waves, and tides. The intricate root system of mangroves also makes these forests attractive to fish and other organisms seeking food and shelter from predators.

Sejak pagi, Gilang telah bersiap. Bocah berusia 10 tahun itu begitu bersemangat saat diajak mengunjungi Taman Wisata Alam (TWA) Mangrove Angke Kapuk, yang jaraknya 16 Km dari rumahnya.

Dari internet, Gilang tahu jika Taman Wisata Alam Mangrove berada di Kamal Muara, tepatnya di Jalan Garden House RT.8/RW.1, Penjaringan, Jakarta Utara. Jam bukanya mulai pukul 07.00 - 18.00 WIB. Sementara untuk tiket masuk, Rp25.000, bagi pengunjung lokal dan Rp250.000 untuk turis asing.

Ini merupakan pengalaman pertama Gilang mengunjungi hutan mangrove. Selama perjalanan menuju lokasi, tak henti-hentinya Gilang bertanya soal bentuk mangrove dan apa manfaatnya.

“Ma, hutan mangrove itu kayak apa sih? Betul-betul hutan?”, tanya Gilang.

TWA Mangrove sengaja dipilih, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh, namun memberikan pengalaman yang berbeda dari wisata alam biasa. Belum lagi, dalam beberapa tahun terakhir, TWA Mangrove Angke Kapuk ramai diperbincangkan di sosial media, karena menghadirkan spot foto menarik.

Khusus terkait aturan memotret di TWA Mangrove Angke memang berbeda dengan lokasi wisata lainnya. Disini, pengunjung dikenakan biaya Rp150.000/ kamera, memotret dengan kamera packet, gopro, atau polaroid. Sementara jika menggunakan DSLR akan ditagih Rp300.000/ Kamera.

Selasa, Desember 03, 2019

Merawat SIEJ Demi Bumi

RUA SIEJ 2019, forum tertinggi organisasi. Foto: Nonie Arnee
[Catatan dari Rapat Umum Anggota Society of Indonesian Environmental Journalists, 1 Desember 2019]

Pesimisme terhadap masa depan organisasi  Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) meruak selama berpekan-pekan.  Puncaknya beberapa hari menjelang Rapat Umum Anggota (RUA) yang diadakan di Hotel Amaris, Tebet, Jakarta Selatan pada Ahad, 1 Desember 2019.  “Revolusi atau bubarkan SIEJ sajalah pilihannya,”  tulis seorang kawan dari simpul di Sumatera pada WhatsApp grup SIEJ. Beberapa kawan yang emosional meng-amininya.  

Rabu, November 07, 2018

Sumpah Pemuda, Spirit Yang Memaknai Konteks

(Alumni FP USU memperingati Sumpah Pemuda di puncak Gunung Gede, 2958 mdpl. Foto: ist)



"Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie."
Moehammad Yamin

Mungkin banyak yang bertanya seperti apa bentuk spirit atau semangat yang terkandung di Sumpah Pemuda yang pernah digelorakan 90 tahun silam. Mampukah spirit itu bertahan di era millenials? Atau, jika di challenge, seberapa kuat semangat Kongres Pemuda Kedua yang digelar pada 27-28 Oktober 1928, mampu mempengaruhi para pola pikir dan gerak langkah pemuda zaman Now.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN