Wednesday, July 31, 2013

Mengintip Keindahan Pulau Pari

...
Dari kejauhan mulai tampak bentuk pulau itu. Luasnya kurang lebih 42 Hektar, dengan jumlah penduduk hanya 700 jiwa. Bagian terluar pulau dipenuhi dengan pepohon seperti cemara dan kelapa, sementara diantaranya tampak rumah-rumah mungil penduduk. Tak heran jika dari jauh, pulau ini terlihat hijau.

Foto bersama di depan gapura P. Pari
Semakin dekat, sebentuk benda panjang menjorok kelaut segera menyapa. Benda itu adalah dermaga Pulau Pari dengan panjang kurang lebih 100 m. Tak jauh dari dermaga itu terdapat gapura yang bertuliskan “Selamat Datang di Pulau Pari”.  Pertanda bahwa kami telah tiba di Pulau Pari, salah satu pulau berpenghuni di gugusan Kepulauan Seribu.

Sekeliling tampak riuh siang itu. Ratusan penumpang berebut turun dari kapal KM. Krapu yang kami tumpangi dari Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara. Maklum, teriknya mentari yang seakan membakar kulit, membuat banyak orang enggan berlama-lama di dalam kapal.

Setidaknya dua jam sudah kami terombang-ambing dihempas ombak, sejak melepas sauh dari teluk Jakarta pagi tadi. Laju kapal yang kami tumpangi pun relatif lambat. Maklum kapal kayu, membuat jarak terasa jauh. Kondisi itu tentu berbeda jika memilih menggunakan kapal cepat dari Marina Ancol.

Begitu kapal merapat, para wisatawan yang kebanyakan terdiri dari grup/kelompok kecil segera bertemu dengan pemandu lokalnya. Nantinya, pemandu lokal itu yang akan menemani mereka selama berada di Pulau Pari.

Kini, sektor pariwisata telah menjadi primadona Kepulauan Seribu. Perkembangannya pun cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu mencatat jumlah wisatawan melonjak dari 217.524 orang pada tahun 2010 menjadi 558.908 orang tahun 2011. Jumlah ini pun akan terus bertambah. Salah satunya jumlah wisatawan ke Pulau Pari.

Sejurus berlalu, kami pun bertemu Samsuddin, seorang pemandu lokal yang akan bersama kami untuk dua hari kedepan. Kepiawaian dan keramahannya dalam menjamu kami, membuat keakraban langsung tercipta.

“ya, mas, mbak… Selamat datang di Pulau Pari”, ujarnya sebagai pembuka pembicaraan siang itu.

“Setelah ini kita langsung ke penginapan, tapi untuk kesana, mas dan mbak silahkan naik sepeda”, paparnya sembari menunjukkan deretan sepeda yang bisa kami gunakan.

Sepeda yang dipinjamkan selama menginap di P. Pari

Di pulau yang tak terlalu luas itu, sarana transportasi utama kebanyakan menggunakan sepeda. Tak ayal, sepeda pun menjadi salah satu ikon transportasi Pulau Pari.

Uniknya, meski jumlah sepeda terbilang banyak, peristiwa pencurian merupakan kejadian yang jarang terjadi. Sementara itu, untuk menghindari sepeda tertukar atau dicuri orang, setiap sepeda diberi tanda khusus. Hanya pemilik yang mengetahui keberadaan tanda itu.

“Rasanya, jarang saya mendengar ada sepeda yang hilang. Kalaupun ada yang tertinggal, pasti akan dikembalikan warga kepada pemiliknya”, ungkap Samsuddin.

Tak sampai lima menit bersepeda, kami pun tiba di penginapan. Penginapan disini merupakan rumah sederhana yang di sewa dengan dua kamar. Sehari-hari rumah itu memang jarang ditempati. Murni hanya untuk disewakan kepada pengunjung.

Untuk mendapatkan penginapan itu, pengunjung harus pesan jauh-jauh hari. Pasalnya, sejak banyak yang berkunjung, mendapatkan penginapan susah-susah gampang. Penduduk pun membandrol harga sewa seharga Rp.700.000 per malam.

Berbeda dengan penginapan pada umumnya, di penginapan itu tidak ada batasan jumlah orang untuk menginap. Artinya, selama rumah itu bisa menampung banyak orang, tidak akan menjadi masalah. Persis, seperti yang kami alami saat itu. Berenam belas orang dalam satu rombongan, kami pun bisa nyaman tinggal di rumah itu.

Di penginapan, beragam fasilitas penunjang juga tersedia, mulai dari tempat tidur, televisi, air minum, pendingin ruangan hingga toilet. Pengunjung bisa menggunakannya sesuka hati. Hanya saja untuk keperluan air mandi, memang perlu berhemat. Pasalnya, air tidak setiap saat menyala. Ada waktu-waktu tertentu, dimana pengunjung harus memanfaatkannya dengan bijak.

Sebuah Pengalaman Baru
Usai rehat dan makan siang di penginapan, petualangan sesungguhnya segera menanti. Samsuddin pun mengingatkan kami untuk mempersiapkan diri dengan pakaian berenang dan baju ganti. Tentu saja, karena tujuan selanjutnya adalah laut.

Penginapan tempat kami bermalam
Dari penginapan kami kembali mengayuh sepeda menuju pelabuhan. Di sana telah menanti sebuah kapal kayu milik nelayan yang siap menghantarkan kami ke lokasi tujuan. 

Jika tadi kapal kayu yang kami gunakan berukuran besar (mampu mengangkut 250 orang), kapal kayu kali ini ukurannya terbilang kecil. Hanya muat untuk rombongan 10 – 20 orang saja.

Saat menaiki kapal, pengunjung juga harus waspada, jangan sampai salah kapal. Pasalnya, sekilas setiap kapal tampak sama.  Kondisi terburuk, kita akan terpisah dari rombongan. Belum lagi, tujuan masing-masing kapal kadang berbeda. Itu sebabnya,  selalu berada di dalam rombongan menjadi pilihan tepat.

Dari pelabuhan tujuan selanjutnya adalah spot “Karang Kapal” berjarak 20 menit kearah selatan. Di katakan Karang kapal, karena di tempat itu ditemukan banyak karang pada kedalaman 7 – 10 meter. Dan biasanya, kapal-kapal kecil melepas jangkar disitu untuk menikmati keindahan bawah lautnya.

Begitu sampai, masing-masing pengunjung dibagikan seperangkat alat snorkeling, mulai dari masker, snorkel, pelampung hingga fins. Pemilik kapal juga akan memperagakan penggunaan alat-alat tersebut. Bagi pengunjung pemula, menggunakan alat-alat itu agak merepotkan karena tidak terbiasa. Pasalnya, saat memakai masker, kita bernafas hanya dengan mulut, tidak menggunakan hidung seperti dalam keadaan normal.

Belum lagi, saat snorkeling di permukaan air, masker kerap berembun mengakibatkan pemandangan jadi terganggu. Beruntung, pemilik kapal memberikan tips mengatasi hal itu. Mask clearing istilahnya.

Bagi pengunjung yang tak terbiasa, lebih baik menggunakan pelampung. Sementara bagi yang sudah mahir, menggunakan pelampung kadang menyulitkan dalam bergerak di air.

Di tempat itu, saya melihat aneka jenis karang, baik soft coral maupun hard coral. Juga berbagai jenis ikan dalam ukuran kecil. “Indah benar”, gumanku membathin. Bersyukur masih bisa menemukan lokasi seperti ini, tak jauh dari Jakarta. Padahal sebelumnya, image yang tertanam di kepala tentang laut Kepulauan Seribu adalah laut yang kotor, bau dan penuh oli, seperti di pantai Muara Angke.

Biasanya jika sudah menemukan keindahan seperti itu, pengunjung akan lupa waktu. Mereka akan bergerak kesana-kemari untuk menikmati keindahan laut Kepulauan Seribu. Selain itu, tak sedikit dari mereka yang mengabadikannya dalam bentuk foto.

Bermain di pantai P. Tikus yang berpasir putih

Puas snorkeling selama 30 menit, tujuan berikutnya adalah Pulau Tikus. Letaknya tak begitu jauh dari spot “Karang Kapal”, hanya berjarak 15 menit naik kapal. Pulau Tikus merupakan salah satu gugusan pulau kecil di Kepulauan Seribu yang tidak berpenghuni.

Akibatnya, setiap pengunjung bebas untuk mengelilinginya. Wilayahnya pun tidak begitu luas. Begitu sampai, beberapa orang langsung berjalan mengitari pulau itu. Tak sampai 15 menit mereka telah tiba di lokasi semula.

Salah satu kelebihan pulau ini adalah pasirnya yang putih, membuat pengunjung rela berlama-lama menghabiskan waktu dengan bermain pasir, sembari berjemur di pinggir pantai. Itu sebabnya, waktu berkunjung yang direncanakan selama 30 menit harus molor hingga 1 jam setengah.

Biasanya, setelah lelah snorkeling, Pulau Tikus menjadi pilihan yang pas untuk mengisi perut. Maklum, beraktivitas di dalam air membutuhkan energi yang tidak sedikit. Di tempat itu, Samsuddin menjadi orang yang paling sibuk. Dia harus memastikan jumlah anggota rombongan agar tidak ada yang tertinggal.

“dulu pernah ada yang tertinggal, karena masing-masing orang sibuk sendiri, mereka lupa dengan temannya. Pas di hitung ternyata ada yang kurang. Akhirnya kembali lagi ke Pulau Tikus. Untung temannya itu masih nunggu disana”, ujarnya.

Selain itu, tak jelas mengapa namanya disebut Pulau Tikus. Menurut Samsuddin, bentuknya yang kecil seperti tikus bisa jadi alasan pemberian namanya.

“berarti, bukan karena disitu banyak tikus, kan?” tanyaku.

Mendengar itu ia pun mengernyit sembari mengangkat bahu, pertanda segala hal mungkin terjadi.

Selanjutnya, kami bergerak ke spot “Bintang Rama” agak ke utara yang bisa dicapai dalam 30 menit perjalanan. Sebuah kawasan yang kaya dengan aneka jenis biota laut, mulai dari ikan, tumbuhan hingga aneka jenis karang. Lagi-lagi Samsuddin tak bisa menjelaskan  mengapa lokasi itu disebut “Bintang Rama”

“Yang pasti, orang-orang disini menyebutnya begitu, bahkan dari sejak dulu”, ungkap Samsuddin.

Saat itu, banyak teman-teman yang mulai terlihat lelah, sehingga ketika ada tawaran untuk masuk lagi ke laut, hanya sedikit orang yang tertarik. Sedang sisanya lebih memilih berdiam di atas kapal.

Dari Bintang Rama, tujuan terakhir adalah APL (Area Perlindungan Laut). Sebuah areal yang ditetapkan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kehutanan karena kekayaan kenekaragaman hayatinya yang berlimpah.

APL menjadi semacam kawasan konservasi laut yang terisolir dari dunia luar. Di tempat itu pengunjung diperbolehkan untuk melihat dari dekat aneka jenis biota laut, namun untuk menyentuhnya apalagi mengambil ikannya merupakan kegiatan terlarang.

Sayangnya, pilihan untuk melihat APL harus kami relakan karena waktu yang tidak memungkinkan. Sebagai gantinya, kami pun ditawari untuk melihat ‘sunset’  dari Pulau Pari, tepatnya di samping Unit Pelaksana Teknis Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi Pulau Pari - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Warga sekitar menyebutnya  UPT LIPI.

Menikmati Sunset
Bagi teman-teman, menikmat matahari terbenam merupakan sebuah pengalaman baru. Tentu saja, tenggelamnya matahari tak bisa kami nikmati setiap saat di Jakarta, karena warna langitnya yang kelabu. Maklum langit Jakarta telah tercemar berbagai polutan, berbeda dengan langit di Kepulauan Seribu yang masih terbilang bersih, sehingga terlihat biru.

Menanti matahari terbenam di UPT LIPI

Sejurus kemudian, kami pun bergegas mengayuh sepeda menuju UPT LIPI. Letaknya berjarak 7 menit ke arah barat daya dari pelabuhan. Lokasinya yang berada persis di ujung pulau merupakan tempat yang pas untuk menikmati tenggelamnya sang surya.

Waktu sudah merujuk pukul 17.50 WIB ketika kami tiba di UPT LIPI. Sekeliling masih terlihat terang. Lambat laun perubahan pun terjadi. Matahari yang tadinya terlihat penuh, secara perlahan hilang di telan Bumi.

Saat itu, lagi-lagi kami kurang beruntung. Pasalnya, awan menutupi pandangan tepat di depan tenggelamnya matahari. Yang tersisa hanya semburat jingganya saja. Meski demikian, kami tetap bersyukur masih bisa menikmati kemegahan karya sang Maestro alam.

Ketika semuanya mulai berubah gelap, secara beriringan kami pun beranjak pulang ke penginapan.

Keunikan Pulau Pari
Tak banyak yang mengetahui jika Pulau Pari ternyata memiliki beberapa keunikan. Salah satu diantaranya adalah kekayaan  vegetasi. Vegetasi di pulau itu berbeda dengan keseluruhan pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Menurut hasil penelitian Pusat Pengembangan Oseanografi (P2O) LIPI, keberagaman vegetasi itu disebabkan oleh adanya cekungan yang mampu menampung serapan air hujan yang jatuh ke permukaan.

Itu sebabnya, air di Pulau Pari tidak berasa asin, berbeda dengan pulau lain yang kebanyakan merupakan air payau. Cekungan itu berfungsi sebagai “catchment area” (baca: daerah penampungan air). Tak heran, jika beberapa tumbuhan, seperti pohon pisang, pinus, cemara, buah naga, mangga, jambu air, petai cina, palem, srikaya, jamblang dan sebagainya yang bukan merupakan khas vegetasi wilayah pesisir mampu tumbuh dengan baik di Pulau itu.

Pengunjung bermain di pantai P. Pari

Dan masih berdasarkan hasil penelitian P2O LIPI, beragam jenis tanaman di Pulau Pari memiliki potensi tumbuh dan berkembang lebih besar di banding di pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu. Pasalnya, kebanyakan pulau-pulau di Kepulauan Seribu didomiansi oleh tumbuhan mangrove dan pohon kelapa.

“ya, mas, di tempat ini persis seperti daratan di tempat lain. Bermacam macam tumbuhan tumbuh dengan subur”, papar Samsuddin.

Secara umum, wilayah Pulau Pari terdiri dua wilayah, yakni wilayah timur dan barat. Wilayah timur terdiri dari bagian kepala atau bagian timur pulau, sementara bagian barat merupakan bagian ekor.

Bagian barat Pulau Pari lebih banyak digunakan sebagai lokasi pemukiman. Besar kemungkinan, karena posisi cekungan berada di posisi tersebut. Itu sebabnya, geliat ekonomi masyarakat juga lebih banyak di bagian barat, ketimbang di bagian timur.

Sedangkan di bagian timur atau bagian kepala di dominasi oleh wilayah pantai yang luas. Untuk waktu-waktu tertentu, seperti saat surut, wilayah itu bisa dilalui dengan berjalan kaki. Selain itu, bagian timur merupakan wilayah yang diperuntukkan sebagai penahan abrasi pantai, mengingat ombak di kawasan ini terbilang besar dibanding sebelah barat.

Dan, sejak kunjungan wisatawan bertambah banyak ke Pulau Pari, bagian timur pulau itu pun disulap sebagai lokasi wisata. Masyarakat setempat menyebutnya dengan “Pantai Pasir Perawan”. Di tempat itu, pengunjung bisa menikmati matahari terbit. Sehingga, bagi pengunjung tidak bisa menikmati matahari tenggelam, sebagai gantinya bisa melihat matahari terbit dari pantai ini.

Karena kekayaan sumber daya alamnya, baik di laut maupun di darat, sejak tahun 1997 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendirikan Unit Pelaksana Teknis di Pulau Pari. Namanya Unit Pelaksana Teknis Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi Pulau Pari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia disingkat UPTLPKSDMOPPLIPI.

UPT LIPI itu berpotensi besar dalam pengembangan pendidikan, pelatihan, public awareness, konservasi, dan pariwisata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masayarakat luas. Bukan sekedar pengembangan Kompetensi SDM Oseanografi saja.

“dulu,  orang-orang LIPI juga ngasih pembelajaran kepada kami, misalnya tentang bercocok tanam rumput laut” ungkap Samsuddin.

Selain itu, laboraturium UPT LIPI juga memiliki beragam jenis koleksi biota laut yag ada di perairan Pari dan sekitarnya, serta beberapa koleksi spesies hewan dan tumbuhan, baik yang ada di permukaan maupun bawah laut.

Sayangnya, seiring dengan meningkatnya kunjungan wisata, kondisi itu berdampak buruk pada UPT LIPI. Misalnya, tidak adanya tanda batas untuk kawasan UPT LIPI, juga tak adanya gerbang sebagai pertanda pintu masuk. Kondisi itu memungkinkan UPT sangat terbuka dan gampang dimasuki siapa saja. Padahal kawasan riset harusnya tertutup dan tidak sembarang orang bisa masuk.

“Tak adanya tanda atau rambu yang menyatakan wilayah batas UPT, membuat banyak orang datang begitu saja, bahkan sampai ke sela-sela bangunan dan laboratorium”, ujar Samsuddin.

Rumput Laut dan Tumpahan Minyak
Peta P. Pari (sumber: internet)
Selain sebagai kawasan tangkapan air tawar, dulunya Pulau Pari juga merupakan salah satu penghasil rumput laut terbaik di Kepulauan seribu. Konon, produksi terbesar berasal dari pulau ini. Namun sayang, sejak tumpahan minyak  kerap terjadi, rumput lautnya banyak yang mati. Belum lagi, kondisi itu diperparah dengan banyaknya sampah warga Jakarta yang hanyut sampai ke pulau ini.

“untuk bulan-bulan tertentu, kondisi laut disini sangat buruk. Sampah-sampah plastik dari Jakarta hanyut sampai kesini dan membuat pantai menjadi kotor”, ujar Samsuddin.

Jika dahulu sebagian besar penduduk berjaya dengan kegiatan budidaya rumput laut, kini tidak lagi. Budidaya rumput laut telah hilang, setidaknya sejak lima tahun terakhir. Dan, kalau pun ada yang bertani rumput laut pastinya hanya segelintir orang. Itu pun lokasinya jauh ke pulau-pulau yang dekat dengan Pulau Pari.

“dulu hampir semua orang terlibat budidaya rumput laut, tapi sejak terjadinya limbah, rumput laut disini menjadi kecil dan banyak yang mati”, papar Samsuddin.

Kejadian terparah terjadi pada 16 Oktober 2008 silam. Saat itu sekitar 6000 kilogram minyak harus diangkat dari perairan di Pulau Pari. Menurut penduduk, tumpahan minyak terjadi akibat karamnya kapal tanker pembawa minyak di sebelah timur Pulau Pari.

 “Dalam sehari penduduk bisa mengumpulkan sekitar 400 kantung minyak, dengan berat masing-masing 15 kilogram,” ujar Samsuddin.

Genangan minyak itu dapat ditemui disepanjang gugusan pulau Pari. Menempel pada batu-baru karang dan tumbuhan mangrove yang ada disana. Lama kelamaan jika tidak diangkat akan mengganggu ekosistem laut. Mulai dari matinya plankton, rusaknya terumbu karang,  hingga matinya aneka jenis ikan.

“Genangan minyak menyebabkan matahari tak bisa tembus ke bagian bawah lautan. Kalo sudah begitu,  plankton sebagai sumber makanan ikan akan mati,” urai Samsuddin.

Akibat peristiwa itu, kerugian diperkirakan mencapai Rp. 1,3 milyar. Angka itu berasal dari perhitungan kerugian akibat matinya rumput laut yang dibudidaya masyarakat.

“Ada 250 KK yang berusaha rumput laut sekarang di pulau Pari, dan semuanya bisa rugi minimal Rp. 5 juta perkepala,” ujar Samsuddin.

Dulu, sewaktu masih  banyak, rumput laut Pulau Pari di jual ke berbagai daerah di Indonesia. Biasanya warga menjualnya dalam bentuk kering dan dalam jumlah besar. Rumput laut yang di panen adalah rumput laut yang telah berusia 2 bulan.

"Rumput laut dari Pulau Pari, biasanya kami jual ke Pasar Jatinegara, Tanah Abang (Jakarta), Cirebon, hingga Padang. Sekali mengirim bisa mencapai 4 hingga 5 kuintal” tambahnya.

Saat itu, harga rumput laut juga cukup baik, bisa mencapai Rp. 25.000/kg. Tak heran jika penghidupan masyarakat terangkat dengan budidaya rumput laut

“Kalau sudah panen, penghasilan yang saya dapatkan lumayan besar waktu itu," ujar Samsuddin.

Kini, seiring dengan menurunya produksi, masyarakat Pulau Pari tidak lagi menjual rumput laut dalam jumlah besar. Sebagai gantinya, mereka mengolahnya menjadi aneka jenis makanan. Salah satunya adalah “dodol rumput laut”

Belakangan, dodol mereka cukup diminati pengunjung. Banyak yang membelinya sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang. Dengan harga antara Rp. 6.000 hingga Rp. 10.000 berbagai bentuk ukuran dodol rumput laut ditawarkan oleh industri rumahan yang tersebar di Pulau Pari.

Sejak kunjungan wisatawan ke Kepulauan Seribu meningkat dalam beberapa tahun terakhir, penduduk Pulau Pari ikut berbenah.  Mereka banyak bercermin dari tata kelola yang dilakukan oleh masyarakat Pulau Tidung, tetangga pulau sebelah. Saat itu, kunjungan tamu telah lebih dahulu ada di Pulau Tidung, sementara Pulau Pari relatif tertutup.

Akhirnya secara swasembada masyarakat mulai berpikir tentang konsep ekowista, sebuah konsep wisata yang sedang popular akhir-akhir ini. Secara perlahan, masyarakat pun membangun rumah-rumah sederhana yang bisa digunakan sebagai penginapan. Selain itu, masyarakat juga menyiapkan makanan bagi  para tamu. Dengan demikian pelibatan masyarakat setempat sangat besar.

Kapal yang berangkat dari Pelabuhan Muara Angke
Selain itu, mereka juga menyiapkan paket-paket wisata murah yang terjangkau oleh wisatawan lokal, khususnya warga ibukota. Dan hebatnya, meski tanpa promosi yan gila-gilaan, kunjungan ke pulau ini terus bertambah. Semua itu ternyata tak lebih dari bentuk promosi mulut ke mulut. Ketika satu orang menceritakan keindahan Pulau Pari kepada temannya, maka temannya itu akan melakukan yang sama kepada temannya yang lain. Demikian seterusnya.

Akhirnya, tak sampai lima tahun, jumlah wisatawan, baik lokal maupun mancanegara  yang datang berkunjung ke Pulau Pari telah mencapai ribuan orang. Masyarakat yang tadinya menggantungkan hidupnya dari budidaya rumput laut, kini beralih ke sektor wisata. Penghasilan yang mereka dapatkan pun jauh lebih besar ketimbang dari hasil melaut ataupun budidaya rumput laut.

”Sekarang, satu nelayan bisa memperoleh Rp 150.000 sehari hanya dari jasa perahu pada musim liburan. Ini lebih tinggi dibanding melaut yang rata-rata Rp 100.000 per hari. Belum lagi, kalau mereka punya penginapan, jumlahnya pasti lebih besar” pungkas Samsuddin sembari menghantarkan kami ke  pelabuhan siang itu.

*note: foto by Jekson Simanjuntak
--end--






No comments:

Post a Comment

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN