Kamis, September 17, 2015

Don't You Remember?

(Source: http://data.whicdn.com)


"Tommy terbaring di ranjang sepertinya sedang tidur. Mamanya, Tante Elza, menangis sambil menggenggam tangan Tommy. Sementara papanya, Om Beno, memeluk pundak Tante Elza, sambil menangis juga."

Tulisan diatas membuat sedih itu begitu nyata. Merampas seluruh akal sehat. Larut, menyatu dalam alunan pilu tiada henti. Memaksa beku, tak mampu beranjak. Jika pun bergerak, butuh waktu lama. Pedih itu tak lantas lenyap. Ia mengendap lama. Lama sekali.

Sementara itu, membacanya lagi, hanya sisakan tanya, mengapa si penulis begitu tega? Tega mengoyak-ngoyak rasa yang tersisa. Mengaduk-aduk rasa dalam sastra. Akankan ia sadar? Kata-kata indahnya telah rontokkan tembok tebal itu. Hancurkan setiap penghalang, antara akal sehat dan terima kenyataan. Kenyataan bahwa Tommy telah mati.

Selasa, September 15, 2015

Mengapa Harus "Kiri"?

(Simbol "kiri". Sumber: syahwatvirtual.blogspot.com)
“Man is above all else mind, consciousness -- that is, he is a product of history, not of nature.” 
― Antonio Gramsci

Antonio Gramsci, filsuf kebangsaan Italia, penulis dan teoritikus politik merupakan salah satu intelektual kiri yang karya-karyanya paling laris dibaca dan ditafsirkan pada abad ke-20. Sejarawan kondang Eric Hobsbawn sangat mengapresiasi pemikiran Gramsci. Hobsbawn menilai, Gramsci merupakan intelektual Italia yang paling terkenal dan terkemuka sepanjang masa, yang karya-karyanya patut dikategorikan sebagai karya klasik. 

Sementara menurut Joseph A. Buttigieg, salah satu pemikir Gramsci terkemuka saat ini, Gramsci adalah ilmuwan politik dan kritikus budaya yang sangat sering dikutip dan karyanya paling banyak diterjemahkan.

Antonio Gramsci yang lahir di Ales, Italia pada 22 Januari 1891, dalam perjalanan hidupnya mengalami masa-masa suram, ketika harus mendekam di balik jeruji besi untuk waktu lama (baca: 20 tahun) di masa pemerintahan rejim fasis Benito Mussolini. Saat itu, ia dianggap sebagai orang yang berbahaya dan berseberangan dengan pemerintah.

Senin, September 14, 2015

Kok, Laki-laki Suka Cabul?

(Ilustrasi, sumber: http://cdn.someecards.com)


Study: Women Have More Sexual Fantasies Than Men – But Men’s Are Raunchier
~Nieves Moyano Muñoz and Juan Carlos Sierra Freire

Sebuah artikel di dunia maya memuat judul demikian. Membaca tulisan itu, saya tersenyum simpul. Dikatakan, laki-laki memiliki pikiran lebih cabul ketimbang perempuan. 

Ya, laki-laki memang lebih sering memikirkan hal-hal cabul ketimbang perempuan. Pasalnya, laki-laki gampang tergoda untuk berpikiran cabul karena lingkungan. Melihat perempuan cantik dan seksi, misalnya. Atau, tak sengaja bersinggungan dengan konten-konten berbau pornografi.

Ternyata, kondisi itu ada alasannya dan bisa diukur secara ilmiah. Sebuah penelitian terkini membuktikannya. Adalah Nieves Moyano Munoz dan Juan Carlo Sierra Freire dari Fakultas Psikologi Universitas Granada, Spanyol yang meneliti kualitas fantasi seksual bagi pria dan wanita.

Sabtu, September 12, 2015

Bon Jovi, Ketika Saya Memutuskan Berjarak!

(Album solo pertama Jon Bon Jovi. Source: www.farm9.staticflickr.com)


"Nonton konser paling anarkis n dramak!!
Tiket palsu..
Rusuh...
Tapi akhirnya bisa masuk di lagu 4
Dan lepas semua...
Kecuali be-kondenya kaki dan emosi"
~ postingan seorang teman di media sosial

Membaca komentar itu, saya bisa membayangkan betapa seru dan hebohnya konser Bon Jovi yang digelar pada Jumat malam, 11 September 2015 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Apalagi, kabarnya jumlah penonton mencapai 40.000 orang. Wow, dengan jumlah penonton sebanyak itu, bisa dipastikan stadion penuh sesak dan GBK berguncang hebat. 

Sementara itu, sepanjang Jumat malam, hampir semua timeline media sosial, mulai dari facebook, twitter hingga path tak putus-putus memberitakan konser Bon Jovi yang kali ini mengambil tajuk "Bon Jovi Live". Jika tidak mengomentari konsernya, maka sebagian besar netizen memposting foto-foto ketika konser berlangsung. Pun, tak sedikit yang share video juga. 

Konser Bon Jovi kali ini terbilang spektakuler. Pasalnya, sudah 20 tahun berselang, ketika ia menyapa penggemarnya di Indonesia. Saat konser pertama digelar, saya masih kuliah dan memang gandrung dengan lagu-lagunya. Apalagi, setahun sebelumnya, yakni pada 10 Oktober 2004, Bon Jovi menelurkan album kelima bertitel "Cross Road" dengan lagu andalan; Always dan Someday I'll be Saturday Night. 

Khusus untuk "Always" telah menjadi lagu terpopuler tidak hanya di dunia namun juga di Indonesia. Seingat saya, lagu itu sempat menempati posisi 4 di Billboard AS, posisi 2 di Mainstream Top 40 dan juga merupakan hit internasional posisi 1 di Australia, posisi 2 di Inggris dan posisi 4 di Jerman. Kebayang kan, betapa cetar membahananya uncle Bon ketika membawakan lagu itu? 

Saat konser Bon Jovi pertama kali di gelar di Jakarta di tahun 1995, hebohnya luar biasa. Tak hanya di ibukota, gaungnya pun menjalar hingga ke daerah-daerah, termasuk Medan. Mengapa Medan? Karena saya seorang warga Medan loh! Saat itu, lagu-lagu Bon Jovi menemukan bentuknya, setelah diputar berulang-ulang. Lagi dan lagi.

Tak hanya itu, sebelum konser digelar, promosinya sangat jor-jor an dan begitu masif. Hampir setiap hari, radio-radio di Medan, memutar jingle konser tersebut. Pojok-pojok kota pun jadi saksi kehebatan grup musik Bon Jovi. Terbukti dengan banyaknya poster yang ditempel di setiap tembok kota.  

Jumat, September 11, 2015

Selamat Jalan, do!

(Berduka untuk Edo. Sumber: http://thumbs.dreamstime.com)


"Pa, Si Edo... Edo meninggal. Aku terkejut. Sedih kali lah!", ujar Mawmaw dengan suara berat sesekali sesegukan.
"Kok bisa", tanyaku.
"Tahunya dari facebook. Banyak kawan-kawannya yang ucapin turut berduka", tuturnya kemudian.
"Ya ampun... ???"

Ya, begitulah sepenggal informasi yang kuterima malam tadi. Informasi yang membuat saya tercekat. Terhenyak dan beku beberapa saat. Gak menyangka! Maklum, Edo, seorang sahabat, meski tak begitu dekat, merupakan tipe anak muda yang tangguh. Dia juga gak gampang menyerah untuk mengejar apa yang diinginkan. Edo yang kalo dilihat selintas, sepertinya baik-baik saja. Maklum dalam pertemuan terakhir, setahun lalu dengan mawmaw, Edo masih terlihat bugar. Senyumnya yang khas juga selalu setia menghiasi. Namun siapa sangka, jika Edo yang setahu kami tidak memiliki riwayat penyakit apapun, kini telah tiada. Dan karenanya, saya sedih. Sedih sekali!

Oh ya, perkenalanku dengan Edo, sebenarnya telah berlangsung lama, tepatnya ketika kuliah dulu. Edo merupakan junioren si 'Mamaw', --perempuan istimewa-- yang ketika itu aktif di teater kampus. Karena memiliki ketertarikan serupa, Edo ikutan bergabung di organisasi kampus itu. Demikianlah, saya mengenal Edo sebagai pribadi yang hangat dan mudah bergaul.

Beberapa tahun kemudian, ketika sudah di Jakarta, saya mendapat kabar kalo Edo ikutan hijrah ke ibukota. Ketertarikannya pada bidang jurnalistik, khususnya dunia hiburan dan selebritas, telah menghantarkannya berkarier di beberapa media cetak di Jakarta. Tak puas dengan media cetak, kabar terakhir menyebutkan, ia juga bergabung dengan salah satu stasiun televisi swasta, sebagai reporter infotainment.

Khusus di karir terakhirnya itu, Edo kerap berbagi pengalaman sebagai reporter muda lewat laman facebook miliknya. Tentang bagaimana ia harus memberitakan seorang artis. Juga tentang bagaimana kelakuan para artis yang kerap menganggap mereka (baca: infotainment) sebagai musuh. Pun tak jarang ia berkeluh kesah perihal usahanya menunggu hingga subuh, demi mendapatkan gambar dan secuil konfirmasi dari para artis. Namun, sebagaimana hidup, meskipun keras, haruslah dijalani. Pun, Edo setia melakoninya.

Kepergian Edo yang tiba-tiba, saya ketahui dari mawmaw. Ia mengabarkan jika Edo meninggal malam tadi di sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta Timur. Edo pergi dengan tenang sekitar pukul 8 malam. Saat kutanya, seperti apa informasi terakhirnya, mawmaw menjelaskan, bahwa jenazahnya akan dibawa malam ini juga ke Siantar, Sumatera Utara oleh abangnya yang memang setia menemani Edo di saat-saat terakhirnya.

Jujur, yang membuat saya sedih adalah kisah perjuangan hidupnya yang gak gampang menyerah. Bayangin aja, di belantara ibukota ini ia hanya sendiri. Setidaknya begitu informasi yang saya terima. Gak punya siapa-siapa, persis seperti saya. Itu sebabnya, saya dapat membayangkan seperti apa susahnya. Sendirian, mengejar impian. Mengejar cita-cita yang belum tentu bisa diraih.

Dan, yang membuat kisah pilu itu seakan berlanjut adalah, Edo ternyata tak lagi memiliki ibu. Ibunya telah meninggal beberapa waktu sebelumnya. Yang tersisa kini hanya seorang bapak. Itu pun sudah sangat tua.

Kondisi itu agak berbeda dengan saya, dimana kedua orang tua saya masih ada. Lengkap. Orang tua, khususnya, emakku yang selalu setia menanyakan kabar, jika saya lama tak berkirim kabar. 

Sementara itu, bagi orang-orang perantauan seperti saya, menerima kabar duka, sungguh pukulan yang mengagetkan. Tidak hanya menyesakkan, juga menyedihkan. Tidak menyangka sama sekali, jika seorang sahabat telah pergi begitu cepat mendahului kami.

Edo yang saya kenal baik, kini telah berpulang. Pergi dengan tenang dan damai, meski masih memendam sebuah keinginan besar. Lewat mawmaw beberapa waktu lalu, Edo sempat curhat, bahwa ia kepingin menjadi seorang presenter televisi. Sebuah keingingan yang hingga akhir hayatnya tak jua terpenuhi.

"Namun gak usah khawatir, do! Sekarang kau tenang disana"
"Disana, semua keinginanmu terpenuhi", ucapku dalam hati!


-end-



note: Turut berduka dalam!




ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN