Senin, September 14, 2015

Kok, Laki-laki Suka Cabul?

(Ilustrasi, sumber: http://cdn.someecards.com)


Study: Women Have More Sexual Fantasies Than Men – But Men’s Are Raunchier
~Nieves Moyano Muñoz and Juan Carlos Sierra Freire

Sebuah artikel di dunia maya memuat judul demikian. Membaca tulisan itu, saya tersenyum simpul. Dikatakan, laki-laki memiliki pikiran lebih cabul ketimbang perempuan. 

Ya, laki-laki memang lebih sering memikirkan hal-hal cabul ketimbang perempuan. Pasalnya, laki-laki gampang tergoda untuk berpikiran cabul karena lingkungan. Melihat perempuan cantik dan seksi, misalnya. Atau, tak sengaja bersinggungan dengan konten-konten berbau pornografi.

Ternyata, kondisi itu ada alasannya dan bisa diukur secara ilmiah. Sebuah penelitian terkini membuktikannya. Adalah Nieves Moyano Munoz dan Juan Carlo Sierra Freire dari Fakultas Psikologi Universitas Granada, Spanyol yang meneliti kualitas fantasi seksual bagi pria dan wanita.

Sabtu, September 12, 2015

Bon Jovi, Ketika Saya Memutuskan Berjarak!

(Album solo pertama Jon Bon Jovi. Source: www.farm9.staticflickr.com)


"Nonton konser paling anarkis n dramak!!
Tiket palsu..
Rusuh...
Tapi akhirnya bisa masuk di lagu 4
Dan lepas semua...
Kecuali be-kondenya kaki dan emosi"
~ postingan seorang teman di media sosial

Membaca komentar itu, saya bisa membayangkan betapa seru dan hebohnya konser Bon Jovi yang digelar pada Jumat malam, 11 September 2015 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Apalagi, kabarnya jumlah penonton mencapai 40.000 orang. Wow, dengan jumlah penonton sebanyak itu, bisa dipastikan stadion penuh sesak dan GBK berguncang hebat. 

Sementara itu, sepanjang Jumat malam, hampir semua timeline media sosial, mulai dari facebook, twitter hingga path tak putus-putus memberitakan konser Bon Jovi yang kali ini mengambil tajuk "Bon Jovi Live". Jika tidak mengomentari konsernya, maka sebagian besar netizen memposting foto-foto ketika konser berlangsung. Pun, tak sedikit yang share video juga. 

Konser Bon Jovi kali ini terbilang spektakuler. Pasalnya, sudah 20 tahun berselang, ketika ia menyapa penggemarnya di Indonesia. Saat konser pertama digelar, saya masih kuliah dan memang gandrung dengan lagu-lagunya. Apalagi, setahun sebelumnya, yakni pada 10 Oktober 2004, Bon Jovi menelurkan album kelima bertitel "Cross Road" dengan lagu andalan; Always dan Someday I'll be Saturday Night. 

Khusus untuk "Always" telah menjadi lagu terpopuler tidak hanya di dunia namun juga di Indonesia. Seingat saya, lagu itu sempat menempati posisi 4 di Billboard AS, posisi 2 di Mainstream Top 40 dan juga merupakan hit internasional posisi 1 di Australia, posisi 2 di Inggris dan posisi 4 di Jerman. Kebayang kan, betapa cetar membahananya uncle Bon ketika membawakan lagu itu? 

Saat konser Bon Jovi pertama kali di gelar di Jakarta di tahun 1995, hebohnya luar biasa. Tak hanya di ibukota, gaungnya pun menjalar hingga ke daerah-daerah, termasuk Medan. Mengapa Medan? Karena saya seorang warga Medan loh! Saat itu, lagu-lagu Bon Jovi menemukan bentuknya, setelah diputar berulang-ulang. Lagi dan lagi.

Tak hanya itu, sebelum konser digelar, promosinya sangat jor-jor an dan begitu masif. Hampir setiap hari, radio-radio di Medan, memutar jingle konser tersebut. Pojok-pojok kota pun jadi saksi kehebatan grup musik Bon Jovi. Terbukti dengan banyaknya poster yang ditempel di setiap tembok kota.  

Jumat, September 11, 2015

Selamat Jalan, do!

(Berduka untuk Edo. Sumber: http://thumbs.dreamstime.com)


"Pa, Si Edo... Edo meninggal. Aku terkejut. Sedih kali lah!", ujar Mawmaw dengan suara berat sesekali sesegukan.
"Kok bisa", tanyaku.
"Tahunya dari facebook. Banyak kawan-kawannya yang ucapin turut berduka", tuturnya kemudian.
"Ya ampun... ???"

Ya, begitulah sepenggal informasi yang kuterima malam tadi. Informasi yang membuat saya tercekat. Terhenyak dan beku beberapa saat. Gak menyangka! Maklum, Edo, seorang sahabat, meski tak begitu dekat, merupakan tipe anak muda yang tangguh. Dia juga gak gampang menyerah untuk mengejar apa yang diinginkan. Edo yang kalo dilihat selintas, sepertinya baik-baik saja. Maklum dalam pertemuan terakhir, setahun lalu dengan mawmaw, Edo masih terlihat bugar. Senyumnya yang khas juga selalu setia menghiasi. Namun siapa sangka, jika Edo yang setahu kami tidak memiliki riwayat penyakit apapun, kini telah tiada. Dan karenanya, saya sedih. Sedih sekali!

Oh ya, perkenalanku dengan Edo, sebenarnya telah berlangsung lama, tepatnya ketika kuliah dulu. Edo merupakan junioren si 'Mamaw', --perempuan istimewa-- yang ketika itu aktif di teater kampus. Karena memiliki ketertarikan serupa, Edo ikutan bergabung di organisasi kampus itu. Demikianlah, saya mengenal Edo sebagai pribadi yang hangat dan mudah bergaul.

Beberapa tahun kemudian, ketika sudah di Jakarta, saya mendapat kabar kalo Edo ikutan hijrah ke ibukota. Ketertarikannya pada bidang jurnalistik, khususnya dunia hiburan dan selebritas, telah menghantarkannya berkarier di beberapa media cetak di Jakarta. Tak puas dengan media cetak, kabar terakhir menyebutkan, ia juga bergabung dengan salah satu stasiun televisi swasta, sebagai reporter infotainment.

Khusus di karir terakhirnya itu, Edo kerap berbagi pengalaman sebagai reporter muda lewat laman facebook miliknya. Tentang bagaimana ia harus memberitakan seorang artis. Juga tentang bagaimana kelakuan para artis yang kerap menganggap mereka (baca: infotainment) sebagai musuh. Pun tak jarang ia berkeluh kesah perihal usahanya menunggu hingga subuh, demi mendapatkan gambar dan secuil konfirmasi dari para artis. Namun, sebagaimana hidup, meskipun keras, haruslah dijalani. Pun, Edo setia melakoninya.

Kepergian Edo yang tiba-tiba, saya ketahui dari mawmaw. Ia mengabarkan jika Edo meninggal malam tadi di sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta Timur. Edo pergi dengan tenang sekitar pukul 8 malam. Saat kutanya, seperti apa informasi terakhirnya, mawmaw menjelaskan, bahwa jenazahnya akan dibawa malam ini juga ke Siantar, Sumatera Utara oleh abangnya yang memang setia menemani Edo di saat-saat terakhirnya.

Jujur, yang membuat saya sedih adalah kisah perjuangan hidupnya yang gak gampang menyerah. Bayangin aja, di belantara ibukota ini ia hanya sendiri. Setidaknya begitu informasi yang saya terima. Gak punya siapa-siapa, persis seperti saya. Itu sebabnya, saya dapat membayangkan seperti apa susahnya. Sendirian, mengejar impian. Mengejar cita-cita yang belum tentu bisa diraih.

Dan, yang membuat kisah pilu itu seakan berlanjut adalah, Edo ternyata tak lagi memiliki ibu. Ibunya telah meninggal beberapa waktu sebelumnya. Yang tersisa kini hanya seorang bapak. Itu pun sudah sangat tua.

Kondisi itu agak berbeda dengan saya, dimana kedua orang tua saya masih ada. Lengkap. Orang tua, khususnya, emakku yang selalu setia menanyakan kabar, jika saya lama tak berkirim kabar. 

Sementara itu, bagi orang-orang perantauan seperti saya, menerima kabar duka, sungguh pukulan yang mengagetkan. Tidak hanya menyesakkan, juga menyedihkan. Tidak menyangka sama sekali, jika seorang sahabat telah pergi begitu cepat mendahului kami.

Edo yang saya kenal baik, kini telah berpulang. Pergi dengan tenang dan damai, meski masih memendam sebuah keinginan besar. Lewat mawmaw beberapa waktu lalu, Edo sempat curhat, bahwa ia kepingin menjadi seorang presenter televisi. Sebuah keingingan yang hingga akhir hayatnya tak jua terpenuhi.

"Namun gak usah khawatir, do! Sekarang kau tenang disana"
"Disana, semua keinginanmu terpenuhi", ucapku dalam hati!


-end-



note: Turut berduka dalam!




Rabu, September 09, 2015

Berjumpa Pemimpi Yang Terbang Kian Tinggi

(Pengunjung sedang menikmati  karya realis Alfred Leslie saat pameran tahun 1968,  sumber: http://pages.vassar.edu)
"The people must know their history"
- Maxim Gorky

Dalam beberapa waktu terakhir, perhatian saya kerap tertuju pada sesuatu, yang bagi banyak orang gak terlalu penting. Sesuatu yang sifatnya sangat personal dan agak lebay, mungkin. Namun, bagi saya hal itu begitu bermakna dan kesannya sangat mendalam.

Beberapa waktu terakhir, ntah mengapa, rasa ber-sastra saya kembali terusik. Diusik oleh hadirnya untaian kata indah penuh makna. Untaian kata yang seakan tak berujung. Sambung menyambung, bak ombak yang dihempaskan ke pantai, lalu ketika puas, kembali berlari menuju laut. Tak putus-putus, hingga pada gilirannya memunculkan jalinan kisah. Cerita yang menemukan wujudnya dalam bentuk prosa.

Jalinan cerita itu begitu kuat, sampai-sampai pembaca larut di dalamnya. Cerita yang mampu mengaduk-aduk setiap perasaan. Cerita yang membuat lupa. Cerita yang mampu hantarkan pembacanya ke langit ke tujuh, lalu ketika saatnya tiba, kembali menjejak Bumi. Memaksa sadar, bahwa cerita tetaplah cerita, berjarak bagi pembacanya.

Pernah di sebuah kesempatan, tak henti-hentinya saya tersenyum. Bahkan sesekali tergelak tawa. Tersenyum lalu tertawa, begitu awalnya. Hingga tanpa sadar, setiap kembali kesitu, saya selalu tersenyum. Tersenyum karena tidak menyangka, betapa si penulis mampu menghadirkan kisah sederhana menjadi luar biasa. Selintas saya membayangkan betapa menariknya jika kisah itu direkonstruksi di dunia nyata. Di dunia tiga dimensi, dimana setiap elemennya bergerak bebas. Pastinya seru sekali!

Senin, September 07, 2015

*Anonymous

(Topeng Guy Fawkes menjadi inspirasi komunitas Anonymous. Sumber: http://images1.laweekly.com)


“I don't feel that it is necessary to know exactly what I am. The main interest in life and work is to become someone else that you were not in the beginning.” 
― Michel Foucault

Jika betul anda pengguna internet, pastinya tak asing dengan istilah 'Anonymous'? Kata itu sendiri awalnya ditujukan bagi para pengguna internet yang tidak ingin identitasnya diketahui. Salah satu alasannya, demi privasi dan keamanan. Kendati demikian, ada banyak alasan lain, sebenarnya.

Oh ya, sebagai informasi latar belakang, saya ingin berbagi tentang siapa sebenarnya yang dimaksud dengan Anonymous (anonim) sebagai sebuah entitas? Lalu seberapa besar pengaruh mereka? Dan seberapa berbahaya mereka?

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN