Jumat, Oktober 02, 2015

Ketika Nyawa Tak Semahal Tambang


(Poster Pembunuhan Salim Kancil. Sumber; facebook)

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan dengan gambar bertuliskan “DI TANAH KAMI NYAWA TAK SEMAHAL TAMBANG. SALIM KANCIL DIBUNUH”. Beberapa teman tampak mengubah profile picture mereka dengan gambar itu, dan tak sedikit yang mem-postingnya sebagai bentuk dukungan pengungkapan kasus atas terbunuhnya Salim Kancil.

Kekerasan dan pembunuhan terhadap Salim Kancil terjadi pada Sabtu, 26 September 2015. Saat itu bersama temannya, Salim asal Desa Selo Awar-awar, Kab. Lumajang, diculik dan dianiaya saat sedang mempersiapkan aksi damai menolak pertambangan pasir besi. Aksi penculikan dan penganiayaan tersebut dilakukan oleh sekelompok preman yang diduga suruhan Kepala Desa pemilik tambang pasir.

Oh ya, kabar tentang pembunuhan Salim Kancil, seorang petani yang juga aktivis lingkungan itu saya terima lewat seorang kolega yang bekerja di sebuah NGO di Jakarta pada 27 September lalu. Biasanya, bila ada informasi yang berhubungan dengan advokasi tambang, penolakan warga terkait tambang hingga massa aksi, tak segan-segan kawan itu mengabarkannya, dengan harapan media mau memberitakannya.

Begitu mendapat info adanya konpers terkait tewasnya Salim Kancil yang digagas oleh beberapa NGO, seperti JATAM, WALHI, KONTRAS, KPA dan Komnas HAM, segera saya membaginya ke beberapa jaringan yang saya miliki. Namun yang utama, saya memberitahukannya ke kantor, baru kemudian menyebarkannya ke beberapa milis terkait jurnalisme.

Sayangnya, ketika info itu saya bagikan, kantor ternyata tak mengirim orang untuk meliputnya. Alasannya, klasik. Jumlah tim yang terbatas. Hiks... Sedih ajah! Dan kejadian seperti ini bukan yang pertama. Sudah sering terjadi, ketika info-info yang menurut saya layak diliput ternyata dibiarkan menguap begitu saja.

Kamis, September 24, 2015

#RIP Yongki

(Yongki ketika masih hidup bersama Tulus. source: wowkeren.com)

Waktu kecil dulu mereka mengatakan
Mereka panggilku gajah
Kini ku beri tahu puji dalam olokan
Mereka ingatku marah
Jabat tanganku panggil aku gajah

Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus sanggup
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disitu pasti rela jadi tamengku

--
Beberapa hari terakhir, ntah mengapa lagu "Gajah" buah karya penyanyi Tulus terngiang begitu kencang. Di kala senggang, sebagai pengusir sepi, lagu itu selalu saja diputar secara berulang oleh seorang kawan. Saya yang mendengarkan, hanya menyimak saja.

Selintas, lagu Gajah terkesan unik. Pasalnya, lagu bernuansa pop-jazz itu tidak spesifik bercerita tentang sifat dan perilaku satwa terbesar di Bumi yang bobotnya mencapai 6 ton itu.  Lagu itu lebih banyak bercerita tentang pengandaian dan persahabatan. Lagu itu pun, tak lebih dari metafora pergulatan hidup seorang Tulus.

Siapa sangka jika inspirasinya adalah peristiwa masa lampau, ketika Tulus kecil kerap menjadi korban bully. Tulus yang memiliki badan bongsor, sering dipanggil dengan sebutan 'gajah' oleh teman-temannya. Uniknya, hal itu tidak jadi penghambat baginya untuk terus berkarya dan menuntut ilmu. 

Lagu Gajah juga bercerita tentang kekinian, sebuah kondisi dimana Tulus yang sekarang berbeda dengan puluhan tahun silam. Di lagu itu, Tulus menegaskan bahwa dia adalah pribadi yang baru. Tulus yang dulu diangap sebelah mata, kini terbukti berhasil dan layak diperhitungkan.

Melalui lagu, Tulus yang memiliki nama lengkap Muhammad Tulus Rusyidi ingin menginspirasi, bahwa betapapun masa sulit telah terjadi dalam hidup kita, maka kita tak boleh berkecil hati. Bisa jadi, mereka yang dulu mengolok-olok kita, belum tentu lebih sukses dari kita di masa depan.  Oleh sebab itu, tetaplah fokus pada bidang yang dikuasai, karena dari situ terpancar bibit-bibit keberhasilan di masa depan.

Senin, September 21, 2015

*tentang Pewarta


(Ilustrasi: kerja-kerja jurnalistik, Sumber: www.pakistantoday.com.pk)

“Journalism can never be silent: That is its greatest virtue and its greatest fault. It must speak, and speak immediately, while the echoes of wonder, the claims of triumph and the signs of horror are still in the air.”
– Henry Anatole Grunwald

Alfian (28), wartawan sebuah portal berita nasional tak pernah surut dalam bekerja, meski honor bulan kemarin tak kunjung tiba. Sebagai bentuk tanggungjawab terhadap publik, ia selalu rajin mengirimkan laporannya ke kantor pusat di Jakarta.

Biasanya, ketika selesai melakukan wawancara dengan narasumber, ia bergerak menuju warung kopi Sekber Jurnalis, di Banda Aceh. Di warung yang memberikan layanan wifi gratis itu, Alfian bersama jurnalis --yang kurang beruntung-- akan menyelesaikan kerja-kerja jurnalistik mereka. Kurang beruntung, karena mereka tidak dibekali dengan modem wifi, seperti kebanyakan wartawan media-media besar lainnya.

Sembilan tahun menjadi wartawan, ternyata tak jadi jaminan memperoleh penghasilan yang lebih baik. Pasalnya, karir jurnalistiknya banyak dilalui tanpa ikatan kontrak yang jelas. 

Kamis, September 17, 2015

Don't You Remember?

(Source: http://data.whicdn.com)


"Tommy terbaring di ranjang sepertinya sedang tidur. Mamanya, Tante Elza, menangis sambil menggenggam tangan Tommy. Sementara papanya, Om Beno, memeluk pundak Tante Elza, sambil menangis juga."

Tulisan diatas membuat sedih itu begitu nyata. Merampas seluruh akal sehat. Larut, menyatu dalam alunan pilu tiada henti. Memaksa beku, tak mampu beranjak. Jika pun bergerak, butuh waktu lama. Pedih itu tak lantas lenyap. Ia mengendap lama. Lama sekali.

Sementara itu, membacanya lagi, hanya sisakan tanya, mengapa si penulis begitu tega? Tega mengoyak-ngoyak rasa yang tersisa. Mengaduk-aduk rasa dalam sastra. Akankan ia sadar? Kata-kata indahnya telah rontokkan tembok tebal itu. Hancurkan setiap penghalang, antara akal sehat dan terima kenyataan. Kenyataan bahwa Tommy telah mati.

Selasa, September 15, 2015

Mengapa Harus "Kiri"?

(Simbol "kiri". Sumber: syahwatvirtual.blogspot.com)
“Man is above all else mind, consciousness -- that is, he is a product of history, not of nature.” 
― Antonio Gramsci

Antonio Gramsci, filsuf kebangsaan Italia, penulis dan teoritikus politik merupakan salah satu intelektual kiri yang karya-karyanya paling laris dibaca dan ditafsirkan pada abad ke-20. Sejarawan kondang Eric Hobsbawn sangat mengapresiasi pemikiran Gramsci. Hobsbawn menilai, Gramsci merupakan intelektual Italia yang paling terkenal dan terkemuka sepanjang masa, yang karya-karyanya patut dikategorikan sebagai karya klasik. 

Sementara menurut Joseph A. Buttigieg, salah satu pemikir Gramsci terkemuka saat ini, Gramsci adalah ilmuwan politik dan kritikus budaya yang sangat sering dikutip dan karyanya paling banyak diterjemahkan.

Antonio Gramsci yang lahir di Ales, Italia pada 22 Januari 1891, dalam perjalanan hidupnya mengalami masa-masa suram, ketika harus mendekam di balik jeruji besi untuk waktu lama (baca: 20 tahun) di masa pemerintahan rejim fasis Benito Mussolini. Saat itu, ia dianggap sebagai orang yang berbahaya dan berseberangan dengan pemerintah.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN