Jumat, Oktober 09, 2015

Rob Hall, Penjaga Chomolungma


(Rob Hall di puncak Everest di tahun 1990. Foto;www. theaustralian.com.au)
“You my friends are following in the very footsteps of history, something beyond the power of words to describe. Human beings simply aren’t built to function at the cruising altitude of a 747. Our bodies will be literally dying. Everest is another beast altogether.”
―Rob Hall

Rob Hall kini tenang disana. Ia telah lelap ditemani salju abadi Chomolungma (bahasa Tibet; Ibu Alam Semesta) dibalut badai khas puncak yang membekukan tulang.

Ia pergi dalam diam, ketika melakukan pendakian terakhirnya ke Sagarmatha (baca; Everest dalam bahasa Nepal), tepatnya di saat musim pendakian paling kelam terjadi di tahun 1996. Saat itu belasan pendaki meninggal, usai berhasil menggapai puncak sejati Everest.

Rob Hall, pendaki asal Selandia Baru yang merupakan pimpinan ekspedisi Everest 1996 meninggalkan seorang istri yang cantik, ketika berangkat memandu dan mengantarkan wisatawan (baca: non pendaki) ke puncak Everest. Saat itu ia dan beberapa temannya, seperti Scott Fischer sedang getol mempopulerkan kegiatan komersialisasi pendakian gunung es.

Kamis, Oktober 08, 2015

Diver (kembali) Berduka!

(Peta spot menyelam di kawasan Taman Nasional Laut Komodo. Source;http://seaundersea.com/indonesia/komodo) 
Kembali, dunia petualangan bawah air berduka. Diver asal negeri tirai bambu dikabarkan hilang saat menyelam di perairan Gili Lawa, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur pada Minggu (4/10/2015) pagi.

Selasa, 6 Oktober pagi saya dikejutkan dengan berita adanya penyelam yang hilang di Taman Nasional Laut Komodo, NTT. Info itu saya dapatkan dari grup whatsapp komunitas penyelam.

Disebutkan, hingga hari kedua hilangnya turis asal Tiongkok itu, Tim SAR Kabupaten Manggarai Barat, terus melakukan pencarian seorang wisatawan yang gemar menyelam, diketahui bernama Chuang Binhto.

Chuang Binhto (30 tahun) dikabarkan hilang saat menyelam di spot Gili Lawa Laut, yang memang terkenal dengan arus yang kuat. Disebutkan, arus di kawasan itu tidak saja horizontal namun juga vertical, biasa disebut down current.

Jumat, Oktober 02, 2015

Ketika Nyawa Tak Semahal Tambang


(Poster Pembunuhan Salim Kancil. Sumber; facebook)

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan dengan gambar bertuliskan “DI TANAH KAMI NYAWA TAK SEMAHAL TAMBANG. SALIM KANCIL DIBUNUH”. Beberapa teman tampak mengubah profile picture mereka dengan gambar itu, dan tak sedikit yang mem-postingnya sebagai bentuk dukungan pengungkapan kasus atas terbunuhnya Salim Kancil.

Kekerasan dan pembunuhan terhadap Salim Kancil terjadi pada Sabtu, 26 September 2015. Saat itu bersama temannya, Salim asal Desa Selo Awar-awar, Kab. Lumajang, diculik dan dianiaya saat sedang mempersiapkan aksi damai menolak pertambangan pasir besi. Aksi penculikan dan penganiayaan tersebut dilakukan oleh sekelompok preman yang diduga suruhan Kepala Desa pemilik tambang pasir.

Oh ya, kabar tentang pembunuhan Salim Kancil, seorang petani yang juga aktivis lingkungan itu saya terima lewat seorang kolega yang bekerja di sebuah NGO di Jakarta pada 27 September lalu. Biasanya, bila ada informasi yang berhubungan dengan advokasi tambang, penolakan warga terkait tambang hingga massa aksi, tak segan-segan kawan itu mengabarkannya, dengan harapan media mau memberitakannya.

Begitu mendapat info adanya konpers terkait tewasnya Salim Kancil yang digagas oleh beberapa NGO, seperti JATAM, WALHI, KONTRAS, KPA dan Komnas HAM, segera saya membaginya ke beberapa jaringan yang saya miliki. Namun yang utama, saya memberitahukannya ke kantor, baru kemudian menyebarkannya ke beberapa milis terkait jurnalisme.

Sayangnya, ketika info itu saya bagikan, kantor ternyata tak mengirim orang untuk meliputnya. Alasannya, klasik. Jumlah tim yang terbatas. Hiks... Sedih ajah! Dan kejadian seperti ini bukan yang pertama. Sudah sering terjadi, ketika info-info yang menurut saya layak diliput ternyata dibiarkan menguap begitu saja.

Kamis, September 24, 2015

#RIP Yongki

(Yongki ketika masih hidup bersama Tulus. source: wowkeren.com)

Waktu kecil dulu mereka mengatakan
Mereka panggilku gajah
Kini ku beri tahu puji dalam olokan
Mereka ingatku marah
Jabat tanganku panggil aku gajah

Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus sanggup
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disitu pasti rela jadi tamengku

--
Beberapa hari terakhir, ntah mengapa lagu "Gajah" buah karya penyanyi Tulus terngiang begitu kencang. Di kala senggang, sebagai pengusir sepi, lagu itu selalu saja diputar secara berulang oleh seorang kawan. Saya yang mendengarkan, hanya menyimak saja.

Selintas, lagu Gajah terkesan unik. Pasalnya, lagu bernuansa pop-jazz itu tidak spesifik bercerita tentang sifat dan perilaku satwa terbesar di Bumi yang bobotnya mencapai 6 ton itu.  Lagu itu lebih banyak bercerita tentang pengandaian dan persahabatan. Lagu itu pun, tak lebih dari metafora pergulatan hidup seorang Tulus.

Siapa sangka jika inspirasinya adalah peristiwa masa lampau, ketika Tulus kecil kerap menjadi korban bully. Tulus yang memiliki badan bongsor, sering dipanggil dengan sebutan 'gajah' oleh teman-temannya. Uniknya, hal itu tidak jadi penghambat baginya untuk terus berkarya dan menuntut ilmu. 

Lagu Gajah juga bercerita tentang kekinian, sebuah kondisi dimana Tulus yang sekarang berbeda dengan puluhan tahun silam. Di lagu itu, Tulus menegaskan bahwa dia adalah pribadi yang baru. Tulus yang dulu diangap sebelah mata, kini terbukti berhasil dan layak diperhitungkan.

Melalui lagu, Tulus yang memiliki nama lengkap Muhammad Tulus Rusyidi ingin menginspirasi, bahwa betapapun masa sulit telah terjadi dalam hidup kita, maka kita tak boleh berkecil hati. Bisa jadi, mereka yang dulu mengolok-olok kita, belum tentu lebih sukses dari kita di masa depan.  Oleh sebab itu, tetaplah fokus pada bidang yang dikuasai, karena dari situ terpancar bibit-bibit keberhasilan di masa depan.

Senin, September 21, 2015

*tentang Pewarta


(Ilustrasi: kerja-kerja jurnalistik, Sumber: www.pakistantoday.com.pk)

“Journalism can never be silent: That is its greatest virtue and its greatest fault. It must speak, and speak immediately, while the echoes of wonder, the claims of triumph and the signs of horror are still in the air.”
– Henry Anatole Grunwald

Alfian (28), wartawan sebuah portal berita nasional tak pernah surut dalam bekerja, meski honor bulan kemarin tak kunjung tiba. Sebagai bentuk tanggungjawab terhadap publik, ia selalu rajin mengirimkan laporannya ke kantor pusat di Jakarta.

Biasanya, ketika selesai melakukan wawancara dengan narasumber, ia bergerak menuju warung kopi Sekber Jurnalis, di Banda Aceh. Di warung yang memberikan layanan wifi gratis itu, Alfian bersama jurnalis --yang kurang beruntung-- akan menyelesaikan kerja-kerja jurnalistik mereka. Kurang beruntung, karena mereka tidak dibekali dengan modem wifi, seperti kebanyakan wartawan media-media besar lainnya.

Sembilan tahun menjadi wartawan, ternyata tak jadi jaminan memperoleh penghasilan yang lebih baik. Pasalnya, karir jurnalistiknya banyak dilalui tanpa ikatan kontrak yang jelas. 

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN