Senin, Agustus 17, 2015

Redemption Song, Merdekakan Pikiran Dari Perbudakan!

(source : www.pinterest.com)

“Won't you help to sing
These songs of  freedom?
'Cause all I ever have
Redemption songs
All I ever had
Redemption songs”
~ Bob Marley

Sebagai penggemar reggae, tak salah jika lagu “Redemption Song” milik Robert Nesta "Bob" Marley, penyanyi, penulis lagu sekaligus musisi Jamaika menjadi pilihan yang pas dalam menikmati momen istimewa seperti HUT Kemerdekaan RI ke 70. 

Bob Marley, begitu ia dikenal, merupakan satu dari sekian banyak penyanyi Jamaika yang sangat melegenda. Bob yang mengawali karirnya di musik reggae pada tahun 1963 ketika bergabung dengan grup “The Wailers” akhirnya berhasil mencapai ketenarannya. Lagu-lagunya yang begitu karismatik dan sangat sederhana telah memikat, tidak saja masyarakat Jamaika, namun juga seluruh penduduk dunia. 

Rabu, Agustus 12, 2015

Hi...



(Memberi tanda tidaklah mudah. Source: play.google.com)

Lama ia berpikir untuk mengetikkan kata itu.
Lama ia tertegun, hanya tuk pastikan bahwa pilihannya sudah tepat.
Pilihan yang secara hitung-hitungan logika bisa berimplikasi buruk. 
Bisa juga tidak!
Bahkan secara tidak langsung, produk ikutannya juga panjang
Ia hanya berharap apa yang dilakukan, tidak merusak tatanan yang telah tercipta, 
tidak merusak jalinan yang terpilin indah.
Sungguh, ia tak ingin hal buruk terjadi, 
karena ia mendamba kedamaian, ketenangan dan saling berbagi.

Sabtu, Agustus 08, 2015

(Salah satu slogan AJI, Perjuangkan Upah Layak Jurnalis)
7 Agustus 2015, tepatnya 21 tahun silam, di Desa Sirnagalih, Bogor, organisasi jurnalis independen pertama berdiri di Indonesia. Kehadirannya merupakan bentuk pemberontakan dan perlawanan terhadap rejim Orba yang otoriter. Saat itu, beberapa pendiri AJI (Aliansi Jurnalis Independen) bahkan harus merasakan dinginnya jeruji besi, karena dianggap berseberangan dengan pemerintah dan dituding melakukan kegiatan subversif. Tabloit "Suara Independen" yang jadi produk unggulan jurnalistik AJI pun dilarang beredar. Maklum isinya memang kebanyakan mengkritik pemerintah. Tabloit itu akhirnya beredar hanya dikalangan terbatas (jurnalis, aktivis, mahasiswa) secara klandestin.

Seiring bergulirnya waktu, perjuangan AJI kian menemukan bentuknya. 3 pilar utama AJI, yakni kebebasan pers, profesionalisme jurnalis dan kesejahteraan jurnalis menjadi PR besar yang dihadapi pers masa kini. Dan AJI berdiri di garda paling depan untuk memperjuangkannya. Meski, belum menunjukkan hasil yang maksimal, kampanye-kampanye yang didengungkan AJI, sedikit banyak mendapat respon positif. Sebut saja, kampanye Tolak Kekerasan Terhadap Jurnalis, Kebebasan Berekspresi, Upah Layak Jurnalis, Pers Harus Berserikat, hingga Tolak Suap jadi slogan penanda AJI. Selain itu, AJI juga merupakan organisasi jurnalis satu-satunya  yang diakui dan diijinkan bergabung dengan IFJ (International Federation Of Journalists), lembaga organisasi jurnalis dunia.

Di usia yang tak lagi muda, tantangan yang dihadapi AJI semakin kompleks. Jika dulu, musuh bersamanya adalah pemerintah yang otoriter, kini musuh utamanya adalah para pemilik modal yg memanfaatkan medianya untuk kepentingan pribadi/ kelompok tertentu. Selain itu, pola-pola kekerasan yang dilakukan terhadap jurnalis juga masih menyisakan beban berat bagi AJI. 

Di hari jadi yang ke 21 ini, AJI berjanji untuk terus berjuang menjaga kebebasan pers, bekerja profesional, tetap independen, berintegritas dan bermanfaat bagi kehidupan pers di Indonesia.

Met ultah AJI!



note: mulai bergabung dengan AJI di tahun 2005, tapi kenal AJI sejak masih di kampus tahun 99. Karena gerakannya yang sangat progresif, tak heran jika kebanyakan anggota AJI memiliki background aktivisme yang kuat. Pun, tak sedikit yang berlatar belakang gerakan kiri.

Rabu, Agustus 05, 2015

Memberi Warna!

(warna itu membuat hidup lebih hidup. source: www. dezignhd.com)
...
Memberi warna, yup, itu yang pernah diucapkan senior kampusku dulu.
Puluhan tahun silam, tepatnya.
Memberi warna berbicara tentang "berbeda".
Berbeda dengan kalian, berbeda dengan yang lain.
Berbeda lalu dianggap aneh?
Kerap.

Memberi warna juga bercerita tentang kehadiran.
Kehadiran yang disadari atau tidak, ternyata dirindukan.
Kehadiran yang tak bisa diacuhkan.
Ketika ia ada, auranya begitu lekat, memberi rasa.
Lagi-lagi, rasa yang berbeda.

Minggu, Juli 19, 2015

Ketika ia berbicara kepadaku...

(source: https://communicationvisually.files.wordpress.com/2011/09/self-portrait-with-pencil2.jpg)

...
Malam menjelang subuh, ketika ia  sibuk berselancar di dunia maya. Itu pun dengan kuota internet yang cenderung mbyar pet. Pertanda, harus bijak  memilih laman yang akan dikunjungi. Dari begitu banyak situs, hanya satu yang menarik hatinya. Itupun bukan situs berita, media sosial apalagi situs porno. Tidak. Kali ini pilihannya jatuh pada sebuah blog.

Sebuah blog yang begitu sederhana. Saat membaca sekilas, terkesan jika postingan-postingan itu berawal dari ide dan pola pikir yang begitu matang. Hanya sayang, ternyata cukup lama penulisnya  tidak lagi menorehkan uneg-unegnya di blog itu. Kayaknya lebih dari 6 bulan, atau jangan-jangan lebih. Tapi sudahlah, hal itu gak terlalu penting.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN