 |
| (source: http://www.normalityfactor.com) |
Meski telah merdeka selama 70 tahun, kemiskinan masih menjadi persoalan besar yang dihadapi oleh emerging country seperti Indonesia. Ketika banyak ahli ekonomi yang menyebut Indonesia sebagai kekuatan baru di Asia, namun kenyataannya tidak semudah itu.
Kemiskinan telah begitu nyata. Faktanya dapat dilihat di sekeliling kita. Secara sederhana ditemukan, bahwa dari 10 orang yang kita temui, baik di jalanan, pasar atau tempat-tempat umum, maka setengah diantaranya merupakan golongan ekonomi lemah. Itu artinya, perbaikan kesejahteraan masyarakat seperti yang dicita-citakan belum terwujud.
Fakta itu seakan membenarkan survei yang dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) yang menyebutkan, jumlah orang miskin di Indonesia menembus angka 27,73 juta jiwa pada tahun 2014. Dari jumlah itu, sekitar 10,36 juta jiwa di wilayah perkotaan dan 17,37 juta jiwa ada di pedesaan. Bahkan, tahun ini, angka kemiskinan diprediksi naik mencapai 30,25 juta jiwa alias 12,25 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
Sementara itu, indeks gini rasio telah mencapai 0,42. Artinya, jurang ketimpangan orang kaya dan miskin makin lebar. Ironisnya, kemiskinan sebagai masalah utama bangsa tetap belum tuntas meskipun beragam langkah telah ditawarkan pemerintah.
Belum lagi, kondisi itu didukung oleh perlambatan ekonomi nasional, anjloknya harga komoditas, tingginya harga kebutuhan bahan pokok, anjloknya rupiah mendekati Rp 14.000 per dollar AS hingga Indeks Harga Saham Gabungan yang menyentuh level 4.400-an.
Kondisi itu menunjukkan telah tercipta jurang yang sangat lebar, antara si kaya, --yang kebanyakan adalah pemilik modal-- dan si miskin, --yang kebanyakan kaum buruh--. Benarkah gap kemiskinan tercipta semata-mata akibat pertarungan kelas yang tidak seimbang, ataukah karena faktor lain?