Sabtu, Agustus 29, 2015

Rupah Anjlok, Mengapa?

(Ilustrasi Dolar AS begitu kuat terhadap banyak mata uang. Source: app.hedgeye.com)
...
Lama saya menahan diri untuk tidak berkomentar tentang anjloknya nilai tukar rupiah ke level terendah, yang oleh beberapa kalangan disebut sebagai yang terburuk sejak 1998.

Uniknya, banyak yang menyebut kondisi ini sebagai perwujudan dari buruknya manajemen tim ekonomi Presiden Jokowi dalam mengelola sektor keuangan dan makro ekonomi lainnya. Menurut mereka, jika Prabowo yang jadi presiden, maka kondisi itu tak akan terjadi.

Membaca itu, saya hanya geleng-geleng kepala. Masa ya, kalo presidennya Prabowo, gak bakal mengalami pelambatan ekonomi dan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kemungkinan besar, mereka tidak paham dan tidak tahu, kondisi yang sebenarnya.

Selasa, Agustus 25, 2015

Era Indonesia X

(Massive Open Online Course. Source:en.wikipedia.org)
Pernahkah kita membayangkan, jika banyak kampus di Indonesia sedang terdesak di titik nadir? Di seluruh dunia, seperti halnya surat kabar yang kesulitan menghadapi gempuran media online, kampus–kampus juga mengalami hal serupa.

Yang mengejutkan, akhir-akhir ini, gelar akademis mulai ditinggalkan kaum terpelajar. Pasalnya, dunia kerja mulai melirik mereka–mereka yang tak bergelar. Dari "siapa kamu" atau "apa gelar akademismu", beralih menjadi "apa yang sudah kamu lakukan", atau "apa yang bisa kamu lakukan". Kini, pasar tenaga kerja global mulai mengakomodir mereka. Hal-hal yang bisa diterapkan di dunia kerja, bukan lagi merupakan output rangkaian mata kuliah racikan kampus. 

Selain itu, mari kita intip bagaimana para pemimpin perusahaan besar itu berkiprah. Kebanyakan di kartu nama mereka, tak lagi mencantumkan gelar akademis. Ini artinya, gelar akademis (formal) tidak lagi menjadi acuan, namun lebih kepada skil tertentu yang tidak dimiliki orang lain.

Minggu, Agustus 23, 2015

Memandang Kemiskinan Dari Teori Marx

(source: http://www.normalityfactor.com)


Meski telah merdeka selama 70 tahun, kemiskinan masih menjadi persoalan besar yang dihadapi oleh emerging country seperti Indonesia. Ketika banyak ahli ekonomi yang menyebut Indonesia sebagai kekuatan baru di Asia, namun kenyataannya tidak semudah itu.

Kemiskinan telah begitu nyata. Faktanya dapat dilihat di sekeliling kita. Secara sederhana ditemukan, bahwa dari 10 orang yang kita temui, baik di jalanan, pasar atau tempat-tempat umum, maka setengah diantaranya merupakan golongan ekonomi lemah. Itu artinya, perbaikan kesejahteraan masyarakat seperti yang dicita-citakan belum terwujud.

Fakta itu seakan membenarkan survei yang dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) yang menyebutkan, jumlah orang miskin di Indonesia menembus angka 27,73 juta jiwa pada tahun 2014. Dari jumlah itu, sekitar 10,36 juta jiwa di wilayah perkotaan dan 17,37 juta jiwa ada di pedesaan. Bahkan, tahun ini, angka kemiskinan diprediksi naik mencapai 30,25 juta jiwa alias 12,25 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Sementara itu, indeks gini rasio telah mencapai 0,42. Artinya, jurang ketimpangan orang kaya dan miskin makin lebar. Ironisnya, kemiskinan sebagai masalah utama bangsa tetap belum tuntas meskipun beragam langkah telah ditawarkan pemerintah.

Belum lagi, kondisi itu didukung oleh perlambatan ekonomi nasional, anjloknya harga komoditas, tingginya harga kebutuhan bahan pokok, anjloknya rupiah mendekati Rp 14.000 per dollar AS hingga Indeks Harga Saham Gabungan yang menyentuh level 4.400-an.

Kondisi itu menunjukkan telah tercipta jurang yang sangat lebar, antara si kaya, --yang kebanyakan adalah pemilik modal-- dan si miskin, --yang kebanyakan kaum buruh--. Benarkah gap kemiskinan tercipta semata-mata akibat pertarungan kelas yang tidak seimbang, ataukah karena faktor lain? 

Sabtu, Agustus 22, 2015

Yang Tersisa...

(source: http://www.videojug.com)
...

"Kamu jemput aku 30 menit lagi ya!", pinta seorang perempuan di sebarang sana 
"Ya... Tunggu disitu!", jawabnya.

Mendapat panggilan seperti itu, membuatnya tak bisa berbuat banyak. Maklum, membahagiakan wanita pujaan jadi keinginan terbesarnya. Pun, ia tak ingin mengecewakannya. Tentu saja, karena dia sangat mengasihi perempuan yang dikenalnya lebih dari 5 tahun lalu itu, lebih dari siapapun. Dan, perempuan itu jadi satu-satunya tempat berkeluh kesah, untuk semua perjalanan panjang yang telah dilalui. Pasalnya, di ibukota ini ia memang sendiri.

Ketika pesan singkat muncul, kerjaan di kantor memang telah selesai, setidaknya sejak 15 menit lalu. Sambil membunuh waktu, dia lalu tertarik membaca artikel  yang linknya dikirim lewat imel. Artikel itu berkisah tentang Jimmy Chin, seorang fotografer cum videografer National Geographic (NG) yang baru saja menyelesaikan pendakiannya ke Meru, puncak tertinggi di India Utara. Lewat beberapa foto dan video yang bisa diakses di web tersebut, ia mengetahui bahwa petualangan Jimmy kali ini cukup menantang.

Jumat, Agustus 21, 2015

Sayangku!

(sumber : youtube.com)


...
Pagi tlah menjelang,
di kala kau masih terlelap, sayangku.
Senyap dalam segala lakumu.
Sementara aku telah berpeluh, lawan waktu!
Menantang zaman yang tak ramah.
Mencari peruntungan, diantara serpihan yang tersisa.
Mengumpulkan lagi remahan gairah masa lalu.
Sembari berharap datangnya hari itu.
Hari dimana kita mampu tebarkan, aroma semerbak cinta.
Cinta yang memerdekakan.
Cinta yang menyatukan,
dan cinta yang membuat kau dan aku jadi manusia seutuhnya.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN