Rabu, September 09, 2015

Berjumpa Pemimpi Yang Terbang Kian Tinggi

(Pengunjung sedang menikmati  karya realis Alfred Leslie saat pameran tahun 1968,  sumber: http://pages.vassar.edu)
"The people must know their history"
- Maxim Gorky

Dalam beberapa waktu terakhir, perhatian saya kerap tertuju pada sesuatu, yang bagi banyak orang gak terlalu penting. Sesuatu yang sifatnya sangat personal dan agak lebay, mungkin. Namun, bagi saya hal itu begitu bermakna dan kesannya sangat mendalam.

Beberapa waktu terakhir, ntah mengapa, rasa ber-sastra saya kembali terusik. Diusik oleh hadirnya untaian kata indah penuh makna. Untaian kata yang seakan tak berujung. Sambung menyambung, bak ombak yang dihempaskan ke pantai, lalu ketika puas, kembali berlari menuju laut. Tak putus-putus, hingga pada gilirannya memunculkan jalinan kisah. Cerita yang menemukan wujudnya dalam bentuk prosa.

Jalinan cerita itu begitu kuat, sampai-sampai pembaca larut di dalamnya. Cerita yang mampu mengaduk-aduk setiap perasaan. Cerita yang membuat lupa. Cerita yang mampu hantarkan pembacanya ke langit ke tujuh, lalu ketika saatnya tiba, kembali menjejak Bumi. Memaksa sadar, bahwa cerita tetaplah cerita, berjarak bagi pembacanya.

Pernah di sebuah kesempatan, tak henti-hentinya saya tersenyum. Bahkan sesekali tergelak tawa. Tersenyum lalu tertawa, begitu awalnya. Hingga tanpa sadar, setiap kembali kesitu, saya selalu tersenyum. Tersenyum karena tidak menyangka, betapa si penulis mampu menghadirkan kisah sederhana menjadi luar biasa. Selintas saya membayangkan betapa menariknya jika kisah itu direkonstruksi di dunia nyata. Di dunia tiga dimensi, dimana setiap elemennya bergerak bebas. Pastinya seru sekali!

Senin, September 07, 2015

*Anonymous

(Topeng Guy Fawkes menjadi inspirasi komunitas Anonymous. Sumber: http://images1.laweekly.com)


“I don't feel that it is necessary to know exactly what I am. The main interest in life and work is to become someone else that you were not in the beginning.” 
― Michel Foucault

Jika betul anda pengguna internet, pastinya tak asing dengan istilah 'Anonymous'? Kata itu sendiri awalnya ditujukan bagi para pengguna internet yang tidak ingin identitasnya diketahui. Salah satu alasannya, demi privasi dan keamanan. Kendati demikian, ada banyak alasan lain, sebenarnya.

Oh ya, sebagai informasi latar belakang, saya ingin berbagi tentang siapa sebenarnya yang dimaksud dengan Anonymous (anonim) sebagai sebuah entitas? Lalu seberapa besar pengaruh mereka? Dan seberapa berbahaya mereka?

Sabtu, September 05, 2015

Ketika Air Tanah Kian Langka


(Bang Nur sedang memperbaiki mesin pompa yang rusak. Foto: jacko agun)
...
“Pa, air mati lagi”, teriak mawmau setengah menjerit
Lalu, teriakan yang sama juga dilontarkan oleh Kelana.
“Cepat pa, airnya mati, abang mau pipis, nih!” ujarnya.

Saat itu, saya yang sedang menonton televisi segera bergegas ke kamar mandi memeriksa kebenarannya. Selanjutnya menuju teras, karena disana lah mesin pompa itu berada.

Jika pompa berfungsi normal, maka akan mengeluarkan suara. Namun malam itu, mesinnya mati. Tak terdengar suara apapun. Selintas, saya berpikir, pasti ada yang salah dengan sambungan listriknya. Maklum, kejadian seperti itu bukan yang pertama.

Jika demikian, tak ada cara lain, selain menghubungi ahlinya. Yup, dialah Bang Nur! Nurcahyo, nama lengkapnya. Lelaki paruh baya yang tinggal tak jauh dari kontrakan kami. Sehari-harinya ia bergelut dengan air. Tak heran jika tetangga menyebutnya “Bang Nur si tukang air”.

Biasanya jika sedang tak ada kerjaan, Bang Nur gampang dimintain tolong. Dengan peralatan lengkap, ia akan membantu siapapun yang mengalami kesulitan air. Persis seperti yang saya alami malam itu.

Jumat, September 04, 2015

Perjuangan Melawan Lupa!

(Milan Kundera, penulis novel The Book of Laugher and Forgetting. Source: carolinemcooper.wordpress.com)

Sejak novel pertamanya terbit 48 tahun silam, Milan Kundera menjadikan totalitarian komunisme sebagai sumber inspirasi. Inspirasi yang menunjukkan bahwa sistem komunisme memiliki banyak kelemahan, dan berpotensi korup. Semasa mudanya Milan Kundera terinspirasi oleh karya Robert Musil dan pemikiran Nietzsche. Tak hanya itu, ia juga tertarik dengan ide tokoh-tokoh renaisans, seperti Giovanni Boccaccio, Laurence Sterne, hingga Henry Fielding.

“Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa!”, demikian kutipan dialog Mirek, tokoh utama dalam The Book of Laugher and Forgetting, karya penulis terkenal Cekoslowakia, Milan Kundera. Dalam buku itu, Mirek mengucapkannya pada tahun 1971. 

Namun sejatinya, apa yang dilukiskan Kundera merujuk pada peristiwa 30 tahun sebelumnya, tepatnya di bulan Februari 1948, ketika istana Praha dikuasai Gottwald, pemimpin komunis. Saat itu, Kundera ingin mengingatkan masyarakat Ceko, pentingnya melawan lupa, tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada Clementis, Menteri Luar Negeri Ceko yang berujung pada tiang gantungan.

Secara lugas, Kundera tidak lantas menangisi kematian tragis Clementis. Pun, tak mengutuki Gottwald (baca: pemimpin Partai Komunis Ceko) sebagai figur yang kejam, karena menggantung sahabat terbaiknya. Sahabat yang telah memberinya topi bulu untuk melindungi dari dinginnya salju. 

Kundera juga tidak terlalu ngotot mengkisahkan betapa besar jasa seorang Clementis yang telah melahirkan negara Komunis Cekoslowakia. Ia, malah memilih membuat plot tersendiri sembari berkaca dari adegan besar itu.

Dalam novelnya The Book of Laugher and Forgetting yang terjemahan bebasnya menjadi “Kitab Lupa dan Gelak tawa” Kundera memang tak ingin terjebak antara perseteruan Clementis dan Gottwald. Ia ingin mendudukkan persoalan, bahwa semua yang terjadi bukan semata-mata tentang kekuasaan, tentang komunisme. Pun bukan tentang mengerikannya invasi Rusia ke Ceko atau betapa tak terelakkannya kapitalisme.

Dalam novelnya, Milan Kundera ingin mengingatkan akan 2 hal sederhana yang selalu bertolak belakang, seperti ingatan dan lupa, sejarah dan kekinian, hingga demokrasi dan anarki.

Gagasan itulah yang ia sematkan dalam tokoh rekaan bernama Mirek. Di novelnya, Kundera tidak memberitahu siapa Mirek sebenarnya. Ini unik, seunik kata “Mirek” itu sendiri. Dan justru disinilah sisi pemikat sebuah karya sastra  hadir. Mirek pun bermetamorfosa dalam kekiniannya yang tak sempurna.

Senin, Agustus 31, 2015

Penunggang Malam Menanti Keajaiban!

(Dia sedang berada di kubikalnya, berkutat dengan pekerjaan tanpa henti. Source: www.thomasnet.com)


***
Malam itu, seperti juga malam-malam sebelumnya, tak banyak yang berubah.  Laki-laki itu masih sendiri di kubikalnya, ditemani secangkir coklat hangat plus komputer butut yang terus meraung tanpa henti. Sejatinya ia mendamba perubahan. Perubahan yang akan membawa dampak besar. Namun sayang, semua berjalan lambat, bak putaran roda pedati. Teratur, monoton, normatif dan sangat membosankan. 

Oh ya, ini merupakan hari keempat, baginya bekerja. Dan sehari lagi, aura libur telah bersiap memanggil. Jika bagi banyak orang, bekerja merupakan keharusan, tidak demikian bagi pria paruh baya itu.

Baginya, bekerja lebih dari sekedar kebutuhan. Sementara bagi kebanyakan orang, bekerja adalah memenuhi kebutuhan. Sayangnya, banyak pekerja (baca: level bawah - menengah) tak menyadari, bahwa bekerja bak deret hitung, dan kebutuhan adalah deret ukurnya. Selalu saja, gaji tak kan mampu mencukupi semua kebutuhan yang diinginkan. Kebutuhan selalu berlari lebih cepat, ketimbang gaji yang dikumpulkan.

Karena itulah, ia sadar diri. Baginya kebutuhan jadi refleksi dari hasil kerja keras selama sebulan. Artinya, kebutuhan harus mengikuti gaji, agar tak ketinggian pasak daripada tiang.

Tak hanya itu, menurutnya, bekerja tak lebih dari kemampuan menjual diri. Mirip-mirip pola pekerja seks komersial (PSK) dalam menjaring mangsanya. Jika ada yang booking, pertanda ia masih dibutuhkan. Sedangkan, jika sepi, itu artinya harus introspeksi, sembari mempercantik diri, lewat beragam cara.

Sehingga tak heran, ketika ia bosan dengan lingkungan kerja yang model-nya begitu-begitu aja, itu artinya ia harus bersiap hengkang untuk lompatan yang lebih tinggi. Biarlah kantor itu tenggelam dalam segala kebodohan para punggawanya.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN