Rabu, Oktober 21, 2015

Ber(jumpa) di Jalan Setapak

(simbol saja, sumber: https://bobchoat.files.wordpress.com)
Lama juga dia tak berkomunikasi dengan makhluk yang satu itu. Lebih dari beberapa waktu. Sejak komunikasi terakhir yang cenderung kisruh, dia memilih menjauh. Mengambil jarak pandang aman dan posisi yang lebih tinggi agar tak terseret arus utama yang tak tentu arah.

Namun hal itu belum seberapa, dibanding kejutan berikutnya. Kejutan yang membuat ia tak bisa lupa. Kejutan di siang bolong, tentang permintaan yang sejatinya tak banyak gunanya, apalagi membantu. Kejutan yang hanya menyisakan shock!

Kejutan itu memintanya segera berjarak. Tidak mengusik, apalagi mengganggu sesosok mahluk yang sejatinya tak ingin diusik. Mahluk yang jika marah bisa lebih sangar dari singa. Namun jika sedang senang hatinya, selembut domba.

Selasa, Oktober 20, 2015

Wow... Provinsi Konservasi Terbentuk

(Guide lokal di Raja Ampat sedang berpose di depan sea fan. Foto: Jacko Agun)

Bagi mereka yang pernah mendatangi wilayah kepala burung Papua, pastinya setuju jika provinsi terbaru papua itu dinobatkan sebagai  kawasan konservasi yang harus dilindungi dan dilestarikan. Bayangin aja, di wilayah perairan laut Papua Barat yang juga dikenal dengan Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) merupakan pusat keanekaragaman hayati laut, yang juga merupakan jantung segitiga karang dunia.

Data terakhir yang dimiliki oleh Provinsi Papua Barat menyebut Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) memiliki keragaman karang tertinggi di dunia, dengan lebih dari 1720 spesies ikan karang dan 600 karang scleractinia (sekitar 75% dari total yang ada dunia).

Di BLKB juga terdapat  habitat penting spesies laut yang terancam punah, termasuk penyu dan cetacea. Potensi daratan di Papua Barat juga tidak kalah menarik. Hutan yang masih alami menjadi tempat tinggal 657 burung, 191 jenis mamalia darat, 130 jenis katak, dan 151 jenis ikan air tawar.

Sebagai   wilayah   yang   dianugerahi   sumberdaya   alam   yang   melimpah, Papua Barat tidak menginginkan kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah lain di Indonesia terjadi di surga Papua. Praktik pengelolaan sumberdaya alam harus dilakukan secara bijak, hati-hati, tidak eksploitaf dan harus dapat memberikan  keadilan  sosial dan   lingkungan  secara  terus menerus.  

Kamis, Oktober 15, 2015

Pengelolaan TN Laut Butuh SDM Profesional


(Peta Kep. Seribu. Sumber: http://pulauseribupulau.com)               

Eco Diver Journalists (EDJ) mendukung pengelolaan taman nasional (TN) laut yang profesional. Pengelolaan yang profesional hanya mungkin jika didukung oleh sumber daya manusia yang profesional, sehingga pengelolaan wisata selam di tanah air bisa berkembang dengan memperhatikan kaidah-kaidah konservasi.

Eco Diver Journalists yang diwakili oleh Sugiharto Budiman menyambut baik upaya yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam kegiatan Pelatihan bagi Pemandu dan Teknisi Peralatan Selam di Pulau Pramuka, TN Laut Kepulauan Seribu pada 15-18 Mei 2015. Kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilakukan dari semua taman nasional laut yang ada.

“Peningkatan kapasitas pemandu di Taman Nasional Laut Kep. Seribu sangat diperlukan mengingat kunjungan wisatawan minat khusus (menyelam), baik lokal maupun mancanegara setiap minggunya cukup banyak. Sudah seharusnya ada pembinaan yang menyeluruh, mengingat mereka adalah ujung tombak kegiatan selam di Kep. Seribu”, ujar Sugiharto Budiman, yang juga Sekjen Eco Diver Journalists.

Senin, Oktober 12, 2015

Yuk, Belajar Mengenal Karang Dan Pemanfaatannya!

(Pelatihan Coral Finder di TNKS. foto: jacko agun)
Dulu, hanya peneliti yang mampu mengidentifikasi jenis-jenis terumbu karang di dasar lautan. Jumlahnya pun tak banyak. Kini, seiring perkembangan ilmu pengetahuan, seorang pemula sekalipun akan mampu mengidentifikasi jenis-jenis karang dengan menggunakan Coral Finder.

Data LIPI pada 2009 lalu menyebutkan, sebanyak 4% terumbu karang di Indonesia dalam kondisi kritis, 46% diantaranya telah mengalami kerusakan, 33% kondisinya masih bagus dan kira-kira hanya 7 % yang kondisinya sangat bagus. Bertambahnya berbagai aktivitas manusia yarng berorientasi di daerah terumbu karang ternyata memberi dampak pada penurunan kualitas terumbu karang. Jika kegiatan yang berhubungan dengan terumbu karang tidak segera dihentikan maka persentase terumbu karang dengan kriteria kritis akan bertambah dengan cepat.

Saat ini perhatian terhadap ekosistem terumbu karang mulai banyak dilakukan. Hanya saja, jika dibandingkan dengan laju kerusakan yang terjadi, kerja-kerja cepat memang sangat dibutuhkan, agar terumbu karang sehat yang tersisi tidak semakin rusak.

Minggu, Oktober 11, 2015

Jurnalis Ditodong Senjata

 
(ilustrasi kekerasan terhadap jurnalis. sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia)

Kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi di Papua. Kali ini menimpa jurnalis tabloidjubi.com dan Koran Jubi di Jayapura, Abraham You yang akrab dipanggil Abeth You.

Menyikapi aksi itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura, mengutuk keras sikap arogan polisi terhadap jurnalis. Kejadian itu bukan yang pertama dan kasus kekerasan terhadap terhadap jurnalis selalu berulang karena negara melalui aparat penegak hukum, terutama kepolisian, terus melakukan praktik impunitas yang membuat para pelaku tidak tersentuh hukum.

Saat kejadian, Abeth dicekik dan dipaksa naik ke truk polisi (Dalmas) karena memotret penganiayaan yang dilakukan anggota Polres Kota Jayapura terhadap aksi rohaniawan Katolik yang berdemonstrasi menuntut pengungkapan kasus “Paniai Berdarah” yang menewaskan 4 siswa di lapangan karel Gobay, Enarotali akhir Desember 2014. Aksi demonstrasi para rohaniawan itu dilakukan pada hari Kamis (8/10/2015).

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN