Rabu, Oktober 28, 2015

Tersesat Di Geger Bentang


(Puncak Gn. Pangrango dilihat dari puncak Gn. Gede. Foto: http://1.bp.blogspot.com)

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi.
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada.
Hutanmu adalah misteri segala.
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi kau datang kembali.
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua.
- Soe Hok Gie, Mandalawangi - Pangrango

Kemarin malam, seorang teman di grup whatsapp berceloteh tentang 4 pendaki yang hilang di Gunung Pangrango, Jawa Barat. Teman yang kebetulan anggota Wanadri itu mengabarkan jika dibutuhkan, tim rescue dari Wanadri akan berangkat untuk melakukan pencarian para pendaki itu.

Dari informasi yang beredar, diketahui keempat pendaki asal Jakarta itu ternyata masuk lewat jalur Geger Bentang. Geger Bentang merupakan rute masuk ke Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP) melalui perbukitan Geger Bentang. Posisinya bersebelahan dengan rute resmi memasuki TNGP.

Selain itu, Geger Bentang merupakan salah satu jalur istimewa di kawasan TNGP. Dikatakan istimewa, karena jalur itu biasanya digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu saja, seperti pendidikan dasar pecinta alam atau sekolah mendaki gunung.

Sabtu, Oktober 24, 2015

*and I Love Her


(source: http://buzzghana.com)


She's a whistle on the wind
A feather on the breeze
A ripple on the stream
She is sunlight on the sea
She's a soft summer rain
Falling gently through the trees
And I love her

She's cunning as a fox
Clever as a crow
Solid as a rock
She is stubborn as a stone
Shes a hardheaded woman
And the best one that I know 
And I love her
Yeah well I love her

She's as new as the springtime,
Strong as autumn blows
Warm as the summer
And soft as the snow
She's a thousand miles from here
But she's everywhere I go
Cuz I love her

She loves me like a woman
She looks like a lady
She laughs like a child
And cries like a baby
I think that maybe she's the one that's gonna save me








*Passenger


Jumat, Oktober 23, 2015

What..., Reklamasi di Kepulauan Seribu?



(Rencana Reklamasi Teluk Jakarta. Sumber: http://www.dutchwatersector.com)

Beberapa waktu lalu seorang sahabat mengirimkan link berita tentang Kepulaun Seribu lewat Whatsapp. Link itu berkisah tentang rencana Pemerintah DKI yang ingin menyulap Kepulauan Seribu menjadi salah satu lokasi wisata andalan Jakarta. 

Sebagai seorang pengunjung yang sering bolak balik ke Kepulauan Seribu, link berita itu sangat menggoda. Maklum, saya belum tahu dan belum pernah dengar seperti apa konsep yang ditawarkan oleh Pemprov DKI terkait hal itu. Sementara di sisi lain, para aktivis lingkungan telah melakukan banyak kegiatan di Kepulauan Seribu sebagai bagian dari konservasi sumberdaya alam dan peningkatan kapasitas penduduk yang selama ini terkesan agak terpinggirkan.

Balik lagi, di link berita itu disebutkan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok siap membantu pemerintah pusat agar fokus pada pembangunan destinasi wisata kepulauan. Dan Kepulauan Seribu akan disulap menjadi salah satu destinasi wisata andalan Jakarta. ‎Mirip-mirip Maladewa.

Rabu, Oktober 21, 2015

Ber(jumpa) di Jalan Setapak

(simbol saja, sumber: https://bobchoat.files.wordpress.com)
Lama juga dia tak berkomunikasi dengan makhluk yang satu itu. Lebih dari beberapa waktu. Sejak komunikasi terakhir yang cenderung kisruh, dia memilih menjauh. Mengambil jarak pandang aman dan posisi yang lebih tinggi agar tak terseret arus utama yang tak tentu arah.

Namun hal itu belum seberapa, dibanding kejutan berikutnya. Kejutan yang membuat ia tak bisa lupa. Kejutan di siang bolong, tentang permintaan yang sejatinya tak banyak gunanya, apalagi membantu. Kejutan yang hanya menyisakan shock!

Kejutan itu memintanya segera berjarak. Tidak mengusik, apalagi mengganggu sesosok mahluk yang sejatinya tak ingin diusik. Mahluk yang jika marah bisa lebih sangar dari singa. Namun jika sedang senang hatinya, selembut domba.

Selasa, Oktober 20, 2015

Wow... Provinsi Konservasi Terbentuk

(Guide lokal di Raja Ampat sedang berpose di depan sea fan. Foto: Jacko Agun)

Bagi mereka yang pernah mendatangi wilayah kepala burung Papua, pastinya setuju jika provinsi terbaru papua itu dinobatkan sebagai  kawasan konservasi yang harus dilindungi dan dilestarikan. Bayangin aja, di wilayah perairan laut Papua Barat yang juga dikenal dengan Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) merupakan pusat keanekaragaman hayati laut, yang juga merupakan jantung segitiga karang dunia.

Data terakhir yang dimiliki oleh Provinsi Papua Barat menyebut Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) memiliki keragaman karang tertinggi di dunia, dengan lebih dari 1720 spesies ikan karang dan 600 karang scleractinia (sekitar 75% dari total yang ada dunia).

Di BLKB juga terdapat  habitat penting spesies laut yang terancam punah, termasuk penyu dan cetacea. Potensi daratan di Papua Barat juga tidak kalah menarik. Hutan yang masih alami menjadi tempat tinggal 657 burung, 191 jenis mamalia darat, 130 jenis katak, dan 151 jenis ikan air tawar.

Sebagai   wilayah   yang   dianugerahi   sumberdaya   alam   yang   melimpah, Papua Barat tidak menginginkan kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah lain di Indonesia terjadi di surga Papua. Praktik pengelolaan sumberdaya alam harus dilakukan secara bijak, hati-hati, tidak eksploitaf dan harus dapat memberikan  keadilan  sosial dan   lingkungan  secara  terus menerus.  

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN