Minggu, Desember 25, 2016

Ketika Natal menjadi...

(source: http://www.thecultureconcept.com)

Perkecillah dirimu,
Maka kau akan tumbuh lebih besar dari dunia.
Tiadakan dirimu,
Maka jatidirimu akan terungkap tanpa kata-kata
--Jalaludin Rumi


Natal!
Natal kali ini agak berbeda, karena tiba-tiba saja, duo folk “Banda Neira” akhirnya sepakat bubar, bertepatan dengan momen Natal. Edan gak tuh??? Mendengar itu saya sedih. Sesuatu yang tidak saya suka, karena Banda Neira, salah satu grup indie-folk kesukaan saya. Favorit abis! Gaya bermusik dan lirik-lirik mereka sungguh luar biasa, demikian pandangan personal saya. Maaf, jika agak lebay. *Hiks...

Kamis, Desember 08, 2016

*Selalu Ada|

 
(source: http://wefollowpics.com)
Ajari aku membaca hujan,
agar aku mampu membaca air.
Ajari Aku mendengar angin,
agar aku sanggup mendengar.
Lirih cerita dibalik bahana,
Suaramu!

*** 
“Ya, aku tahu jika aku selalu ada”

Sebagaimana yang pernah kau ungkapkan. Saat itu, di minggu pagi yang mendung. Tepat ketika hujan telah berhenti dan semburat merah menyeruak di ufuk timur. Begitu bangun, aku membuatkan minuman hangat. Coklat panas kesukaanmu.

“Ruy, bangun!”
“Nih, minumanmu sudah siap. Minumlah, mumpung masih hangat”, seruku.

Minggu, November 20, 2016

Riau Bosan Kabut Asap & Kebakaran

(Kebakaran hutan/lahan di Riau. Sumber: http://blog.act.id)
Tahun 2015 menjadi tahun yang sangat memprihatinkan bagi bangsa Indonesia. Beberapa provinsi dilanda kebakaran hutan dan lahan. Dampaknya sangat luar biasa. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) akhirnya menjadi perhatian, tidak saja oleh pemerintah namun juga dunia internasional.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut luas area kebakaran huan dan lahan pada tahun 2015 setara dengan 32 kali wilayah Provinsi DKI Jakarta atau 4 kali Pulau Bali. Tak hanya itu, data satelit Terra Modis per 20 Oktober lalu memperlihatkan total hutan dan lahan yang terbakar sudah mencapai 2.089.911 hektare.

Sejauh ini, Riau menjadi provinsi yang dilanda Karhutla setiap tahunnya. Saking seringnya, tahun 2015, provinsi itu merayakan ulang tahun ke-18 terjadinya bencana Karhutla dan bencana kabut asap. Pada tahap ini, kondisinya sudah sangat menghkhawatirkan.

Senin, Oktober 17, 2016

Ahok diantara jerat panjang nan berduri

(Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Sumber: http://seword.com)

"Menyalahkan orang lain atas ketidak bahagiaan yang kau ciptakan sendiri ialah selemah-lemahnya iman..."
~Mpok Juleha, 27 tahun, sosialita legging macan

Beberapa waktu lalu, Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok" Tjahaja Purnama akhirnya meminta maaf terkait pernyataannya soal Surat Al Maidah ayat 51. Permintaan maaf itu ia sampaikan di hadapan sejumlah wartawan yang telah mununggunya di Balai Kota, pasca berkembangnya polemik yang dianggap membuat gaduh umat Islam. 

Belakangan banyak yang menyebut upaya minta maaf itu, tak lain atas usulan Megawati Soekarnoputri (Ketua Umum PDIP) dan Presiden Jokowi. Kendati demikian, hanya Ahok dan Tuhan yang tahu. Dan yang pasti Ahok sudah meminta maaf.

Minggu, Oktober 09, 2016

Ramanujan dan cinta yang bergelora

(Srinivasa Ramanujan, ahli matematika asal India. Sumber: www.ramanujanitcity.com)
While asleep, I had an unusual experience. There was a red screen formed by flowing blood, as it were. I was observing it. Suddenly a hand began to write on the screen. I became all attention. That hand wrote a number of elliptic integrals. They stuck to my mind. As soon as I woke up, I committed them to writing.
-Srinivasa Ramanujan

Kemarin malam, disela-sela waktu yang terbatas, saya menyempatkan diri menonton The Man Who Knew Infinity di internet. Selidik punya selidik, film berdurasi 1 jam 48 menit itu ternyata baru dirilis pada 29 April lalu. Artinya, film tersebut masuk kategori fresh alias film baru, demikian akal sehat saya membagi sebuah film berdasarkan waktu rilisnya.

Bagi sutradara, Matthew Brown, film The Man Who Knew Infinity merupakan “biopic” tentang tokoh bernama Srinivasa Ramanujan, ahli matematika asal Madras, India yang akhirnya bergabung dengan Trinity College Cambridge pada Perang Dunia I, lewat anjuran GH Hardy, seorang berpengaruh di universitas itu.

ANTARA - Lingkungan

Climate Change News - ENN